May 27, 2010

Nasi Goreng Kambing

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:41 pm

Pagi kemarin (26/05) membuat sarapan pagi untuk anak-anak yang akan berangkat sekolah. Walaupun hampir setiap pagi menyedikan makan, tetapi pagi itu agak istimewa  lain dari biasanya. Sengaja membuat nasi goreng kambing, yang kebetulan malam sebelumnya makan sate kambing tetapi masih sisa delapan tusuk lagi. Nasi goreng adalah salah satu makanan favorit dan nasi goreng kambing mengingatkan kepada pengalaman 25 tahun waktu jaman masih mahasiswa.

Sebagai salah seorang pengelola media kampus, sudah biasa kalau mengerjakan hasil liputan dan  melakukan lay out terakhir sebelum diserahkan ke percetakan (Harian Pos Kota di Kawasan Industri Pulo Gadung) dikerjakan sampai malam di kantor redaksi. Waktu itu kantor redaksi masih di Kampus Salemba, tepat di belakang mesjid ARH. Kalau mau ke toilet tinggal ke mesjid ARH, tetapi untuk urusan makan, maka harus jalan ke depan kampus menyebrangi jalan. Di sana berderet warung kaki lima ataupun warung yang menyediakan aneka makanan. Ada toko Mio Seng yang dibelakangnya tersedia warung makan masakan china. Toko ini bersebelahan dengan Apotik Tunggal (mungkin sekarang sudah tidak ada) yang  terletak di ujung jalan Bluntas  (persis di depan kampus Salemba) ini ternyata punya nilai sejarah penting, karena dalam film Pengkhianatan G30S/PKI arahan sutradara Arifin C. Noer   menjadi latar belakang salah satu sekuen filmnya. Tetapi kalau kita mengarah ke jalan Paseban (seberang mesjid ARH), kalau malam, di halaman depan pasar Paseban digelar warung kaki lima, antara lain ada nasi goreng, roti bakar, nasi uduk dan sate kambing betawi yang juga menyediakan nasi goreng kambing.

Dalam suatu kesempatan, mencoba untuk makan nasi goreng kambing, dan ternyata ‘maknyus’ sesuai selera. Sejak itu, kalau lembur menyelesaikan  tugas redaksi selalu menyempatkan diri  makan nasi goreng kambing. Penasaran bagaimana cara membuatnya, maka setiap kali makan selalu melihat si abang membuat nasi goreng kambing. Mula-mula daging kambing digoreng dengan api yang tidak terlalu besar, minyak sayur diberi mentega dan kecap, supaya bisa meresap ke daging. Kemudian barulah bumbu nasi goreng racikan sendiri dimasukkan ke wajan penggorengan, terakhir memasukkan nasi tambah merica. Nasi goreng yang telah ada di piring diberi bawang goreng dan emping yang cukup banyak.

Di rumah dicoba untuk mempraktekkan membuat nasi goreng kambing. Dalam tahap uji coba, ternyata bumbu sambal yang cocok adalah bumbu nasi goreng kokita (sebelum tejadi penarikan bumbu kokita dari peredaran karena kasus bahan pengawet). Uji coba berikutnya dibuat nasi goreng untuk konsumsi para mahasiswa. Dan ternyata mereka menyukainya. Sejak itu, kalau ada kesempatan pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, maka dibuat khusus nasi goreng kambing ala betawi. Terakhir kali membuat nasi goreng adalah waktu pertemuan dengan teman mahasiswa asrama daksinapati. Kali ini karena yang makan sudah cukup umur, daging kambingnya diganti dengan daging sapi dan komenar teman-teman berkomentar rasanya ‘maknyus’.  Itulah terakhir kali membuat nasi goreng ala betawi di rumah pribadi dekan FISIP sebelum menjadi Rektor.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment