May 27, 2010

Enampuluh Puluh Menit

Filed under: Kampusiana — rani @ 5:57 pm

Masih ingat salah satu lagu grup band jambrut  yang dinyanyikan oleh SBY waktu kampanye Pemilihan Presiden tahun 2004? Lagu yang berjudul “Pelangi di matamu” itu syairnya  berbunyi “tigapuluh menit kita disini/tanpa suara/ dan aku resah/ harus menunggu lama/ kata darimu//. Mungkin butuh kursus/ merangkai kata/ untuk bicara/ Dan  aku benci/ harus jujur padamu/ tentang semua ini//.” Syair itu sangat bertentangan dengan apa yang terjadi dengan peristiwa yang berlangsung Rabu pagi (26/05) di Ruang Rapat Senat Fakultas Kedokteran UI Kampus Salemba Jakarta, saat Menteri Perdagangan Amerika Serikat Gary F. Locke,  memberikan ceramah ‘energi bersih’ dihadapan sivitas akademika UI.

Hanya kurang dari 10 menit Locke memaparkan tentang energi bersih, limapuluh menit berikutnya diisi dengan tanya jawab dengan para hadirin. Sungguh tidak membosankan dan harus jujur mengatakan, baru kali ini seorang pembicara begitu singkat tetapi banyak waktu diberikan untuk tanya jawab. Bicaranya tidak membosankan, jawaban yang diberikan sangat lancar seperti air mengalir, tidak terlihat para pendengarnya duduk resah, melainkan duduk tanpa suara karena terpesona. Tidak harus menunggu lama kata jawaban darinya. Gaya bicaranya yang langsung menatap kepada penanya dengan ekspresi penuh percaya diri sangat memesona. Justru beberapa penanya perlu kursus khusus merangkai kata untuk bicara.para penanyalah yang harus merangkai kata untuk bicara.

Dari seratusan hadirin yang kebanyakan para mahasiswa itu, ada duapuluh lima pertanyaan yang diajukan. Empat diantaranya menjawab pertanyaan dari twitter yang diberikan staf kedubes Amerika Serikat yang terus memantau di lap top yang berada di belakang hadirin. Memang sesi itu diperuntukkan buat para mahasiswa. Hanya ada dua penanya dari staf pengajar. Dekan FKUI mendapat giliran penanya yang ke-23. Kalau saja ada orang dari Musium Rekor Indonesia (MURI), kiranya patut dicatat diskusi tersebut merupakan diskusi yang waktunya relatif singkat dengan penanya yang cukup banyak.  Konon katanya acara itu disiarkan langsung melalui TV kompas, Republika Online dan Website UI menayangkan ulang acara ceramah itu. Tetapi mereka mengambilnya dari bagian belakang, sehingga tidak kelihatan muka dan ekspresi dari para penanya. Ingin tahu lebih lengkap dan eksklusif tentang acara tersebut? Jawabannya hanya ada pada  REPLIKA (Rekaman Peristiwa Selintas Kampus).

 

Nasi Goreng Kambing

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:41 pm

Pagi kemarin (26/05) membuat sarapan pagi untuk anak-anak yang akan berangkat sekolah. Walaupun hampir setiap pagi menyedikan makan, tetapi pagi itu agak istimewa  lain dari biasanya. Sengaja membuat nasi goreng kambing, yang kebetulan malam sebelumnya makan sate kambing tetapi masih sisa delapan tusuk lagi. Nasi goreng adalah salah satu makanan favorit dan nasi goreng kambing mengingatkan kepada pengalaman 25 tahun waktu jaman masih mahasiswa.

Sebagai salah seorang pengelola media kampus, sudah biasa kalau mengerjakan hasil liputan dan  melakukan lay out terakhir sebelum diserahkan ke percetakan (Harian Pos Kota di Kawasan Industri Pulo Gadung) dikerjakan sampai malam di kantor redaksi. Waktu itu kantor redaksi masih di Kampus Salemba, tepat di belakang mesjid ARH. Kalau mau ke toilet tinggal ke mesjid ARH, tetapi untuk urusan makan, maka harus jalan ke depan kampus menyebrangi jalan. Di sana berderet warung kaki lima ataupun warung yang menyediakan aneka makanan. Ada toko Mio Seng yang dibelakangnya tersedia warung makan masakan china. Toko ini bersebelahan dengan Apotik Tunggal (mungkin sekarang sudah tidak ada) yang  terletak di ujung jalan Bluntas  (persis di depan kampus Salemba) ini ternyata punya nilai sejarah penting, karena dalam film Pengkhianatan G30S/PKI arahan sutradara Arifin C. Noer   menjadi latar belakang salah satu sekuen filmnya. Tetapi kalau kita mengarah ke jalan Paseban (seberang mesjid ARH), kalau malam, di halaman depan pasar Paseban digelar warung kaki lima, antara lain ada nasi goreng, roti bakar, nasi uduk dan sate kambing betawi yang juga menyediakan nasi goreng kambing.

Dalam suatu kesempatan, mencoba untuk makan nasi goreng kambing, dan ternyata ‘maknyus’ sesuai selera. Sejak itu, kalau lembur menyelesaikan  tugas redaksi selalu menyempatkan diri  makan nasi goreng kambing. Penasaran bagaimana cara membuatnya, maka setiap kali makan selalu melihat si abang membuat nasi goreng kambing. Mula-mula daging kambing digoreng dengan api yang tidak terlalu besar, minyak sayur diberi mentega dan kecap, supaya bisa meresap ke daging. Kemudian barulah bumbu nasi goreng racikan sendiri dimasukkan ke wajan penggorengan, terakhir memasukkan nasi tambah merica. Nasi goreng yang telah ada di piring diberi bawang goreng dan emping yang cukup banyak.

Di rumah dicoba untuk mempraktekkan membuat nasi goreng kambing. Dalam tahap uji coba, ternyata bumbu sambal yang cocok adalah bumbu nasi goreng kokita (sebelum tejadi penarikan bumbu kokita dari peredaran karena kasus bahan pengawet). Uji coba berikutnya dibuat nasi goreng untuk konsumsi para mahasiswa. Dan ternyata mereka menyukainya. Sejak itu, kalau ada kesempatan pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, maka dibuat khusus nasi goreng kambing ala betawi. Terakhir kali membuat nasi goreng adalah waktu pertemuan dengan teman mahasiswa asrama daksinapati. Kali ini karena yang makan sudah cukup umur, daging kambingnya diganti dengan daging sapi dan komenar teman-teman berkomentar rasanya ‘maknyus’.  Itulah terakhir kali membuat nasi goreng ala betawi di rumah pribadi dekan FISIP sebelum menjadi Rektor.

Suka Duka Membimbing Calon Doktor

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:03 am

Pagi ini (27/05) ketika akan masuk kantin Prima kampus Depok, di salah satu meja terlihat ada tiga orang sedang asyik bicara. Rupanya sedang membicarakan topik tentang yang berkaitan dengan kendaraan, karena salah seorang diantaranya adalah pegawai UI yang bertanggung jawab mengurus kendaraan operasional UI. Tapi yang satu orang lagi, ternyata seorang Guru Besar salah satu Fakultas di lingkungan Salemba. Orang tidak akan menyangka kalau dia seorang professor dan pernah diserahi tugas sebagai Ketua Senat Akademik Unviersitas (SAU), dalam suatu acara Wisuda lulusan UI.

Kemarin (26/05)di Kampus Salemba, sudah bertemu dengan  profesor ini, kebetulan dia baru saja selesai memimpin sidang seorang doktor, yang menghasilkan yudisium sangat memuaskan. Dikenal sebagai  staf pengajar yang ramah dan rendah hati serta sangat low profile sekali dan itu ternyata tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Saya mengetahui dia melanjutkan S2 dan S3 di FKM, lalu mencapai Guru Besar tahun 2001. Setelah menjadi guru besar, aktif di institusi Senat akademik universitas, banyak berinteraksi dengan para guru besar dari fakultas lain. Banyak informasi yang bisa didapat dari dia dan tidak sungkan untuk menceritakannya, karena  sudah saling mengenal  sejak 25 tahun lalu. Setelah menjadi profesor hingga kemarin sudah mempromotori 9 orang doktor (Kedokteran Gigi dan Kesehatan Masyarakat) , empat diantaranya lulus dengan yudisium cum laude. Selain itu, tidak kurang dari 50 mahasiswa telah dibimbingnya menyelesaikan program magister bidang kedokteran gigi, kesehatan mayarakat dan ilmu keperawatan.

Dari pengalamannya membimbing calon doktor, dia sudah dapat mengetahui apakah seorang doktor bisa lulus biasa-biasa saja atau cum laude, dilihat dari usaha dan kerja kerasnya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Diakuinya, yang paling utama dilakukan banyak memotivasi para mahasiswanya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Dari pembimbingan ini, hubungan dengan mahasiswa bimbingannya menjadi semakin akrab dan dekat, tetapi bukan lantas memberikan nilai dengan mudah. Ada yang kemudian keakraban itu menjadi seperti hubungan anak dengan bapak. Bahkan tidak segan membantu mengongkosi biaya foto copy disertasi calon doktor. Yang paling agak merepotkan pada waktu membimbing para seniornya sendiri di fakultas. Ada saran-sarannya yang tidak pernah digubris dan bahkan cenderung agak memerintah.

Suatu saat mendapat bimbingan calon doktor dari luar daerah. Rupanya dia mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada) di salah satu kabupaten di pulau Sumatera. Calon doktor ini mintan saran bagaimana caranya dalam melakukan kampanye pilkada. Susah juga, bidang ilmu dan pengetahuan yang dipunyai tidak berkaitan dengan ilmu politik. Tetapi untuk tidak mengecewakan calon doktor, dia memberikan arahan supaya topik kampanye menekankan kepada aspek pendidikan, agama dan budaya. Hasilnya? Calon doktor itu tidak terpilih. Selidik punya selidik, ternyata pesaingnya itu telah bergelar S3, diyakini faktor ini yang menghantarkan menjadi kepala daerah. Dari peristiwa itu, sang calon doktor bersemangat untuk segera menyelesaikan doktornya, bekal untuk pilkada yang akan datang.