May 25, 2010

Karangan Bunga Bela Sungkawa

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:43 am

Hari Sabtu (22/05)  menyengajakan diri ke kampus untuk beres-beres ruang kerja. Pada waktu membuka internet, ada informasi, Ibu Hasri Ainun Habibie, dalam keadaan kritis di rumah sakit di Jerman. Dengan teman-teman di kantor berkelakar, harus segera pesan bunga untuk ucapan bela sungkawa. Rupanya ada yang menanggapi serius sampai ada yang menanyakan dimana alamat rumahnya, supaya dapat segera mengirimkan karangan bunga. Seorang teman “nyeletuk”,  pesennya di toko bunga Jerman sana, supaya dapat segera sampai. Rupanya teman yang satu ini kurang informasi, dia pikir sudah meninggal dan berada di Indonesia.

Ketika hari Senin (24/05) masuk kantor, informasi tentang wafatnya almarhumah sudah menjadi pembicaraan orang. Timbul masalah bagi orang Humas, apakah harus mengirimkan karangan bunga atau tidak. Soalnya ada informasi dari yang mewakili pihak keluarga  Habibie, supaya ucapan bela sungkawa tidak usah dalam bentuk karangan bunga,  sangat dianjurkan  biaya  untuk membeli karangan bunga dikirimkan ke rekening yayasan sosial yang dipimpin almarhumah Ibu Hasri Ainun Habibie. Repotnya di  lingkaran kecil pimpinan UI banyak orang yang merasa mempunyai kewenangan untuk menentukan satu kebijakan, tetapi tanpa dilandasi informasi yang lengkap mengenai suatu persoalan serta tidak tahu  dimana sebetulnya tugas dan kewenangannya. Akhirnya diputuskan mengirimkan  karangan bunga dan juga mengirimkan uang ke yayasan Sosial.  Ada berita di media, karangan bunga yang dikirimkan oleh Wakil Presiden RI, hanya diletakkan di halaman luar dekat pagar rumah. Ini menunjukkan, contoh kecil saja dalam waktu yang singkat bagaimana seharusnya suatu kebijakan diambil supaya tidak mubazir tetapi berdaya guna yang positif.

Lain lagi pengalaman waktu Ibu Tien Soeharto meninggal puluhan tahun lalu (28 April 1996). Saat itu masih   aktif mengelola media kampus. Waktu itu memang dalam suasana libur Idul Adha. Jadi memang banyak waktu untuk mengambil suatu kebijakan. Lagi pula media kampus terbitnya dua mingguan. Sebetulnya media kampus penyebarannya hanya terbatas di lingkungan kampus dan warga kampus, berbeda dengan media umum. Tetapi seorang teman pengurus media kampus berpendapat, tidak ada salahnya kalau media kampus memuat ucapan bela sungkawa. Apalagi ini menyangkut seorang Ibu negara. Tetapi siapa yang mau memasang ucapan bela sungkawa? Akhirnya menawarkan kepada para dekan fakultas. Ternyata responnya positip, semua dekan ingin membuat ucapan bela sungkawa. Maka dibuatlah penerbitan kampus edisi khusus yang berisikan ucapan bela sungkawa. Biaya cetaknya? Ditanggung oleh para pemasang ucapan bela sungkawa. Itulah satu-satunya penerbitan kampus tanpa dibiayai sepeserpun oleh pihak rektorat.

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment