May 25, 2010

Famili Seribu

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:38 am

Hari Senin sore (24/05), pada saat berkunjung ke kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Kampus Depok, secara tidak sengaja bertemu dengan salah seorang dosen senior salah satu satu departemen. Memang sudah hampir dua tahun tidak bertemu dengannya. Padahal biasanya kalau ada acara di lingkungan UI, terutama saat kegiatan gerak jalan santai Dies Natalis, dia tidak pernah absen. Waktu diceritakan, apakah dia masih ingat pada tahun 1987 ketika itu UI mengadakan kegiatan gerak jalan Salemba-Rawamangun, lalu dia memimpin undian pemberian hadiah di Gedung Sarwahita depan Asrama Daksinapati Rawamangun, dia hanya tertawa saja.

 

Menurut penuturannya, sudah sembilan bulan mendapat kepercayaan memimpin satu fakultas  perguruan tinggi negeri di salah satu Propinsi Kepulauan di Sumatera. Jadi dia jarang sekali ke Kampus Depok, kalau tidak ada keperluan yang mendesak. Perguruan tinggi negeri, dimana dia sekarang mengabdi sebetulnya baru berdiri selama dua tahun. Jadi masih serba baru, orang-orang yang mengelolanya pun masih baru, belum berpengalaman. Dari pengamatan sepintas saja sudah terlihat para pegawai yang didominasi oleh etnis tertentu itu, kinerjanya sangat rendah dan kurang profesional. Sebagai contoh, wakil dekan yang seharusnya mempunyai latar belakang pengetahuan tentang akuntansi, SDM dan administrasi, yang terjadi jabatan tersebut diduduki seorang yang berlatar belakang sosiologi dan tidak mengerti sama sekali tentang keuangan. Dan yang lebih memusingkan lagi, hampir semua pegawai yang bekerja merupakan famili seribu (bukan lagi famili seratus). Barangkali inilah salah satu karakteristik kelemahan institusi di daerah, banyak diisi orang-orang yang bukan didasarkan kepada kecakapan dan ketrampilan bekerja, tetapi atas dasar jasa-jasa seseroang, kedekatan dan hubungan kekeluargaan. Hal ini merupakan bibit-bibit tumbuhnya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

 

Jangankan di daerah, di pusat pemerintahan pun hal tersebut di atas masih saja terjadi. Saya jadi ingat  seorang teman baru-baru ini yang mengirimkan email transkrip isi ceramah Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan, di Hotel Ritz Carlton. Seorang pengusaha yang diangkat menjadi seorang birokrat dalam pemerintahan, dia mengatakan sudah tidak berbisnis lagi. Tetapi anak istri dan saudara-saudaranya masih menjadi pengusaha. Ketika sang birokrat (pengusaha tadi) mengeluarkan kebijakan, ternyata yang banyak diuntungkan adalah perusahaan isti dan anak birokrat tersebut.

 

Dahulu sempat berdiskusi  bagaimana memberdayakan lembaga-lembaga yang ada di daerah. Salah satu caranya dengan menyekolahkan orang-orang daerah di perguruan tinggi yang terkenal dari segi mutunya di kota-kota besar. Ketika mereka pulang bisa menularkan kepintaran dan pengalamannya selama menimba ilmu kepada lingkungan kerjanya di daerah. Tetapi  ada kelemahannya, ketika sudah dapat menikmati kehidupan di kota, enggan untuk pulang lagi ke kampungnya. Ada lagi pola lain, yaitu orang-orang pintar dari kota didatangkan ke daerah dan menularkan kepintarannya kepada orang daerah, tentunya dengan fasilitas dan imbalan yang sangat baik. Hal ini sempat dilakukan pada jaman Orde Baru, yaitu program Sarjana Masuk Desa, Tenaga Kerja Sarjana(TKS). Tetapi hal ini pun tidak terlalu berhasil. Pola yang dilakukan dosen senior di atas tadi, agak berbeda. Dia ditugaskan untuk mengelola institusi pendidikan tinggi di daerah, berdasarkan  pengalaman dan keahliannya selama di UI. Dalam jangka waktu tertentu diharapkan dapat berhasil membina dan mengembangkan perguruan tinggi daerah sejajar dengan perguruan tinggi di kota besar.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment