May 25, 2010

Kerjasama dengan Universitas Daerah

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:37 pm

Hari Selasa siang ini (25/05), Universitas Indonesia (UI) menjalin hubungan dengan Universitas Cenderawasih  (Uncen) Papua dengan melakukan penandatanganan kerjasama yang ditandatangani langsung kedua Rektor perguruan tinggi tersebut, disaksikan Dekan FISIP UI dan Dekan FISIP Uncen. Sejatinya kerjasama ini  antara FISIP UI dengan FISIP Uncen,  dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, kerjasama di tingkat universitas hanya sebagai payung untuk memudahkan kegiatan di tingkat fakultas. Sudah banyak orang dosen Uncen menggondol magister dan doktor dari FISIP UI. Kerjasama kali ini lebih merupakan memperbaharui kerjasama yang sudah terjalin sebelumnya.

 

Kerjasama yang dijalin ini merupakan sebagai tindak lanjut dari komitmen FISIP UI, tatkala merayakan Dies Natalisnya yang ke-42  Februari lalu yang ingin membantu memberdayakan perguruan tinggi daerah.  Setelah mengadakan seminar Papua beberapa waktu yang  lalu di FISIP UI, dimana dihadiri para sivitas akademika Uncen, dan sambutan mereka pun sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, maka nanti akan tiba gilirannya seminar di Papua yang diharapkan akan banyak  dihadiri para sivitas akademika FISIP UI.

 

Bagi perguruan tinggi daerah bekerjasama dengan UI mempunyai suatu prestise tersendiri karena banyak aspek positif yang didapat. Misalnya pertukaran mahasiswa dan dosen, melakukan kegiatan penelitian bersama yang nantinya dapat menumbuhkan berbagi pengetahuan dan ketrampilan diantara kedua belah pihak serta memupuk rasa percaya diri. Di samping itu ada aspek lain yang mungkin tidak disadari oleh kita. Kerjasama ini juga  sebetulnya mempunyai aspek sebagai salah satu alat pertahanan keamanan nasional. Bagaimana bisa?

 

Tahun lalu UI menjalin kerjasama dengan Universitas Borneo Tarakan Kalimantan Timur, salah satu perguruan tinggi swasta yang didirikan pemerintah daerah tahun 1999 terletak di  wilayah yang berbatasan dengan Sabah Malaysia Timur. Prof. Dr. Dorojatun Kuntjoro Jakti, mantan Dekan FEUI dan mantan Menteri Perekonomian RI secara rutin sering memberikan kuliah di Universitas Borneo. Menurut Rektornya,  Abdul Jabarsyah, Ph.D lulusan doktor dari Jepang,  banyak penduduk Kaltim yang bekerja dan tinggal di Sabah, ketika anak-anaknya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi  tidak diperbolehkan dengan alasan bukan penduduk asli Sabah. Bahkan beberapa peninggalan sejarah yang ada di wilayah Kalimantan Timur dengan seenaknya mereka beli dari penduduk dan diklaim sebagai peninggalan sejarah mereka, lalu disimpan di musium negara.Dengan adanya kerjasama bersama UI, diharapkan tidak memandang sebelah mata kepada Universitas Borneo dan tidak berlaku semena-mena. Kalau tidak ada aral melintang, bulan Juli ini, para mahasiswa UI akan melakukan kuliah kerja nyata di wilayah perbatasan, termasuk juga di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Inilah salah satu bentuk nyata partisipasi dalam menjaga pertahanan dan keamanan nasional dari institusi pendidikan tinggi.

Karangan Bunga Bela Sungkawa

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:43 am

Hari Sabtu (22/05)  menyengajakan diri ke kampus untuk beres-beres ruang kerja. Pada waktu membuka internet, ada informasi, Ibu Hasri Ainun Habibie, dalam keadaan kritis di rumah sakit di Jerman. Dengan teman-teman di kantor berkelakar, harus segera pesan bunga untuk ucapan bela sungkawa. Rupanya ada yang menanggapi serius sampai ada yang menanyakan dimana alamat rumahnya, supaya dapat segera mengirimkan karangan bunga. Seorang teman “nyeletuk”,  pesennya di toko bunga Jerman sana, supaya dapat segera sampai. Rupanya teman yang satu ini kurang informasi, dia pikir sudah meninggal dan berada di Indonesia.

Ketika hari Senin (24/05) masuk kantor, informasi tentang wafatnya almarhumah sudah menjadi pembicaraan orang. Timbul masalah bagi orang Humas, apakah harus mengirimkan karangan bunga atau tidak. Soalnya ada informasi dari yang mewakili pihak keluarga  Habibie, supaya ucapan bela sungkawa tidak usah dalam bentuk karangan bunga,  sangat dianjurkan  biaya  untuk membeli karangan bunga dikirimkan ke rekening yayasan sosial yang dipimpin almarhumah Ibu Hasri Ainun Habibie. Repotnya di  lingkaran kecil pimpinan UI banyak orang yang merasa mempunyai kewenangan untuk menentukan satu kebijakan, tetapi tanpa dilandasi informasi yang lengkap mengenai suatu persoalan serta tidak tahu  dimana sebetulnya tugas dan kewenangannya. Akhirnya diputuskan mengirimkan  karangan bunga dan juga mengirimkan uang ke yayasan Sosial.  Ada berita di media, karangan bunga yang dikirimkan oleh Wakil Presiden RI, hanya diletakkan di halaman luar dekat pagar rumah. Ini menunjukkan, contoh kecil saja dalam waktu yang singkat bagaimana seharusnya suatu kebijakan diambil supaya tidak mubazir tetapi berdaya guna yang positif.

Lain lagi pengalaman waktu Ibu Tien Soeharto meninggal puluhan tahun lalu (28 April 1996). Saat itu masih   aktif mengelola media kampus. Waktu itu memang dalam suasana libur Idul Adha. Jadi memang banyak waktu untuk mengambil suatu kebijakan. Lagi pula media kampus terbitnya dua mingguan. Sebetulnya media kampus penyebarannya hanya terbatas di lingkungan kampus dan warga kampus, berbeda dengan media umum. Tetapi seorang teman pengurus media kampus berpendapat, tidak ada salahnya kalau media kampus memuat ucapan bela sungkawa. Apalagi ini menyangkut seorang Ibu negara. Tetapi siapa yang mau memasang ucapan bela sungkawa? Akhirnya menawarkan kepada para dekan fakultas. Ternyata responnya positip, semua dekan ingin membuat ucapan bela sungkawa. Maka dibuatlah penerbitan kampus edisi khusus yang berisikan ucapan bela sungkawa. Biaya cetaknya? Ditanggung oleh para pemasang ucapan bela sungkawa. Itulah satu-satunya penerbitan kampus tanpa dibiayai sepeserpun oleh pihak rektorat.

 

Famili Seribu

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:38 am

Hari Senin sore (24/05), pada saat berkunjung ke kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Kampus Depok, secara tidak sengaja bertemu dengan salah seorang dosen senior salah satu satu departemen. Memang sudah hampir dua tahun tidak bertemu dengannya. Padahal biasanya kalau ada acara di lingkungan UI, terutama saat kegiatan gerak jalan santai Dies Natalis, dia tidak pernah absen. Waktu diceritakan, apakah dia masih ingat pada tahun 1987 ketika itu UI mengadakan kegiatan gerak jalan Salemba-Rawamangun, lalu dia memimpin undian pemberian hadiah di Gedung Sarwahita depan Asrama Daksinapati Rawamangun, dia hanya tertawa saja.

 

Menurut penuturannya, sudah sembilan bulan mendapat kepercayaan memimpin satu fakultas  perguruan tinggi negeri di salah satu Propinsi Kepulauan di Sumatera. Jadi dia jarang sekali ke Kampus Depok, kalau tidak ada keperluan yang mendesak. Perguruan tinggi negeri, dimana dia sekarang mengabdi sebetulnya baru berdiri selama dua tahun. Jadi masih serba baru, orang-orang yang mengelolanya pun masih baru, belum berpengalaman. Dari pengamatan sepintas saja sudah terlihat para pegawai yang didominasi oleh etnis tertentu itu, kinerjanya sangat rendah dan kurang profesional. Sebagai contoh, wakil dekan yang seharusnya mempunyai latar belakang pengetahuan tentang akuntansi, SDM dan administrasi, yang terjadi jabatan tersebut diduduki seorang yang berlatar belakang sosiologi dan tidak mengerti sama sekali tentang keuangan. Dan yang lebih memusingkan lagi, hampir semua pegawai yang bekerja merupakan famili seribu (bukan lagi famili seratus). Barangkali inilah salah satu karakteristik kelemahan institusi di daerah, banyak diisi orang-orang yang bukan didasarkan kepada kecakapan dan ketrampilan bekerja, tetapi atas dasar jasa-jasa seseroang, kedekatan dan hubungan kekeluargaan. Hal ini merupakan bibit-bibit tumbuhnya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

 

Jangankan di daerah, di pusat pemerintahan pun hal tersebut di atas masih saja terjadi. Saya jadi ingat  seorang teman baru-baru ini yang mengirimkan email transkrip isi ceramah Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan, di Hotel Ritz Carlton. Seorang pengusaha yang diangkat menjadi seorang birokrat dalam pemerintahan, dia mengatakan sudah tidak berbisnis lagi. Tetapi anak istri dan saudara-saudaranya masih menjadi pengusaha. Ketika sang birokrat (pengusaha tadi) mengeluarkan kebijakan, ternyata yang banyak diuntungkan adalah perusahaan isti dan anak birokrat tersebut.

 

Dahulu sempat berdiskusi  bagaimana memberdayakan lembaga-lembaga yang ada di daerah. Salah satu caranya dengan menyekolahkan orang-orang daerah di perguruan tinggi yang terkenal dari segi mutunya di kota-kota besar. Ketika mereka pulang bisa menularkan kepintaran dan pengalamannya selama menimba ilmu kepada lingkungan kerjanya di daerah. Tetapi  ada kelemahannya, ketika sudah dapat menikmati kehidupan di kota, enggan untuk pulang lagi ke kampungnya. Ada lagi pola lain, yaitu orang-orang pintar dari kota didatangkan ke daerah dan menularkan kepintarannya kepada orang daerah, tentunya dengan fasilitas dan imbalan yang sangat baik. Hal ini sempat dilakukan pada jaman Orde Baru, yaitu program Sarjana Masuk Desa, Tenaga Kerja Sarjana(TKS). Tetapi hal ini pun tidak terlalu berhasil. Pola yang dilakukan dosen senior di atas tadi, agak berbeda. Dia ditugaskan untuk mengelola institusi pendidikan tinggi di daerah, berdasarkan  pengalaman dan keahliannya selama di UI. Dalam jangka waktu tertentu diharapkan dapat berhasil membina dan mengembangkan perguruan tinggi daerah sejajar dengan perguruan tinggi di kota besar.