May 20, 2010

Perubahan dari Satu ke Minsatu

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:29 pm

Tadi pagi baru saja menulis tentang pergerakan dari titik nol ke angka satu, sebagai simbol dari kebangkitan bangsa yang menjadi lokomotif perubahan bangsa. Tetapi sore ini saya harus mengatakan, di kampus Depok tadi pagi telah terjadi perubahan pergerakan dari kuadran positif menuju kuadran negatif .

Tadi pagi (20/05) sekitar pukul 08.40 WIB Fani Azizi (22), mahasiswa Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, angkatan 2005 meninggal dunia, tertabrak kereta api di jalur perlintasan gang Senggol ke arah Depok Town Square. Fani adalah penduduk Kelurahan Gandul  Kecamatan Cinere Depok.  Satu orang calon pemimpin bangsa penggerak perubahan telah tiada.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun. Sesungguhnya kita ini berasal dari Tuhan dan akan kembali KepadaNya jua.

Kebangkitan Nasional Menggerakkan Perubahan

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:16 pm

Beberapa tahun lalu sempat menghadiri acara puncak  peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Sengaja datang karena harus bikin liputan kegiatan Paduan Suara Mahawaditra Universitas Indonesia (UI) yang ikut dalam acara itu. Melihat teman-teman reporter  media umum, rasanya sudah terlalu tua bergabung dengan mereka. Tetapi Ketika melihat Chairul Tanjung ( Mahasiswa FKG UI angkatan 1980) di lapangan mengatur para crew Trans TV yang bertugas untuk menyiarkan secara langsung acara tersebut, rasanya tidak kesepian sama sekali.

 

Dalam acara itu dipergelarkan berbagai atraksi  kesenian dan nyanyan dari berbagai daerah yang disajikan secara kolosal  oleh berbagai kelompok, mulai dari para siswa sekolah, mahasiswa hingga para taruna  dari Magelang. Pertunjukkan yang kolosal memang sah-sah saja dilakukan, tetapi dari sekian jam waktu yang tersita untuk memperingati satu abad kebangkitan nasional, rasanya tidak ada suatu makna yang bisa dikenang secara mendalam. Ada satu momen, saat Presiden SBY berpidato, pembawa acara Tantowi Yahya memberi komando kepada hadirin untuk menyalakan dan mengacungkan telepon mobil secara bersamaan. Mungkin maksudnya sebagai pengganti lilin yang menyala.

 

Jika mengulas kembali sejarah berdirinya Budi Utomo sebagai titik awal kebangkitan nasional, yang dipelopori oleh kaum terpelajar, kebetulan waktu itu didominasi oleh para dokter Jawa, disitulah mulai tumbuh kesadaran perlunya menyatukan kekuatan dalam suatu bentuk organisasi untuk mencapai cita-cita bersama. Jelas sekali kaum terpelajarlah yang menjadi pusat perubahan. Ibaratnya kaum terdidik itu seperti mengubah keadaan dari titik nol menjadi ke bilangan satu. Nol-satu inilah yang menjadi lokomotif perubahan sejarah di nusantara ini. Sumpah Pemuda adalah pergerakan dari angka satu menuju angka berikutnya. Begitu pula proklamasi kemerdekaan, merupakan hasil dari pergerakan angka satu menuju angka berikutnya yang lebih besar.

 

Pertanyaan kemudian adalah sampai angka berapa kita akan terus melaju bergerak dan apa tolok ukurnya pergerakan itu sudah sesuai dengan cita-cita bersama sebagai sebuah bangsa. Maka jawabannya bisa kita lihat pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, ”…negara Indonesia  yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” (Alinea kedua Pembukaan UUD 1945).

 

Apakah cita-cita bersama kita  seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945 sudah tercapai? Bukan kapasitas saya untuk menjawabnya. Tetapi yang jelas, perubahan-perubahan akan terus terjadi. Selama kita berpegang kepada isi pembukaan UUD 1945, perubahan positif akan senantiasa terjadi, terutama untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan bangsa (makmur).