May 19, 2010

Jika Meneer Shell Naik Bajaj

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:42 am

Apabila menyimak judul tulisan di atas, ada kesamaan dengan satu judul buku tempo dulu yang menghebohkan pemerintah kolonial Belanda. Buku tersebut berjudul  (bahasa Indonesia) “Jika Aku Seorang Belanda”, yang menggugah Belanda untuk membuat kebijakan “Politik etis”. Sejak itu, tumbuh kesadaran dari kaum terpelajar bumiputera    akan  rasa kebangsaan (nasionalisme). Dan besok tanggal 20 Mei merupakan titik awal kebangkitan nasional, yang digerakkan oleh kaum terpelajar Indonesia.

 

Tulisan kemarin tentang naik bajaj kemarin (18/05) sebetulnya mau diarahkan kepada persoalan transportasi yang murah bagi masyarakat banyak dengan partisipasi dari kalangan perusahaan minyak tingkat dunia yang beroperasi dan mengambil keuntungan dari pemanfaatan sumber daya alam Indonesia. Tetapi tiba-tiba saja arah tulisan berbelok kepada nostalgia dan hal yang berkaitan dengan kekinian.  Maka jadilah tulisan seperti kemarin. Akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk “menguras” memori ingatan yang ada di kepala ke dalam tulisan. Namun perlu didahului pemicu untuk menggedor ingatan sehingga dapat lancar keluar. Pemicunya  bisa saja dalam bentuk peristiwa yang terjadi di masa kini.

 

Bajaj seperti kita ketahui bersama adalah salah satu moda transportasi di ibukota sejak puluhan tahun lalu. Ada generasi sebelumnya, yaitu helicak yang bentuknya  seperti becak, dimana pengemudi berada di belakang penumpang. Sejatinya kedua moda transportasi tersebut untuk menggantikan becak yang dianggap ”tidak manusiawi” karena dianggap terlalu ”mengeksploitasi” tenaga manusia. Jauh sebelum bajaj beredar, di daerah tempat saya tinggal (Bungur Senen) sudah ada angkutan bernama Cator (beca bermotor), yang melayani rute Poncol (dekat stasiun Senen) ke Pasar Nangka (jalan Kalibaru Timur 5.Tetapi karena disainnya yang kurang menarik, akhirnya yang beredar di wilayah jakarta adalah bajaj yang memakai mesin dua langkah yang memakai bahan bakar bensin campur dan dikenal sangat banyak mengeluarkan asap serta suara mesin yang bunyinya keras. Katanya sih sudah ada modifikasi bajaj generasi baru dengan memakai tenaga aki kering. Saya pernah melihatnya di labolatorium Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik UI. Tetapi di jalanan yang sering terlihat masih bajaj  berwarna merah muda dan masih memakai bensin campur.

 

Tanggal 30  April  lalu di  UI  baru  saja  digelar  peluncuran tiga buah  model  kendaraan

 hemat energi yang dirancang oleh para mahasiswa Fakultas Teknik Mesin UI. Ketiganya yaitu bernama  Keris, Pasopati dan Equator Bersama tiga tim dari ITB, dua tim dari ITS dan satu tim dari UGM  akan mewakili Indonesia  berlaga pada Shell Eco-Marathon (SEM) di Sepang Malaysia tanggal 8 – 10 Juli 2010. Di sana akan berkompetisi 111 tim pembuat  model kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan dari 12 Negara. Kompetisi ini telah berlangsung sejak tahun 1939 dan tahun ini untuk pertama kalinya dilakukan di Asia. Kegiatan SEM ini disponsori Shell, perusahaan minyak dan gas Belanda.

 

SEM adalah sebuah ajang kompetisi kendaraan untuk menempuh jarak terjauh dengan bahan bakar minimum. Mulai diadakan tahun 1939 di Amerika Serikat dan kini 2010 untuk pertama kalinya diadakan di Benua Asia. Selain untuk mempromosikan efisiensi konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor juga untuk mengenalkan rekayasa di lingkungan perguruan tinggi. Dalam ajang ini dibagi dalam dua kategori kendaraan yang berbeda, yaitu Futuristic Prototype Design yang berbentuk aerodinamis dengan menggunakan tiga roda dan Urban Concept yang berbentuk layaknya kendaraan roda empat namun dalam ukuran yang lebih kecil.

 

Perusahaan minyak dan gas Shell berdiri sejak 125 tahun lalu, dimana cikal bakalnya bermula ketika seorang geologis bangsa Belanda menemukan sumur minyak di Pulau Sumatera. Kini perusahaan tersebut telah menjadi salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia versi Majalah Forbes tahun 2009. Jadi sebetulnya boleh dikatakan kebesarannya berkat karena kekayaan alam Indonesia.

 

Kembali kepada judul tulisan ini, barangkali moda transportasi bajaj sudah selayaknya digantikan dengan model baru yang sesuai dengan perkembangan jaman. Untuk itu maka diperlukan peranan perguruan tinggi dalam melakukan uji coba dalam menciptakan moda transportasi masa kini. Pendanaan bisa didukung perusahaan minyak seperti Shell dengan menyisihkan dari anggaran tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan cara seperti ini sebetulnya bisa melanggengkan eksistensi perusahaan Shell di Indonesia. Apalagi ada pernyataan dari Direktur PT Shell Indonesia Darwin Silalahi (mahasiswa Fisika FMIPA UI angkatan 1980), Presiden SBY sangat mengapresiasi kegiatan para mahasiswa dalam merancang dan membuat model kendaraan hemat energi. Jadi tunggu apalagi? Mari kita bersinergi, bahu membahu bersama-sama membangun dan  menyejahterakan bangsa.