May 17, 2010

Menguber Mbak Uber Cemas Mengharap Mas Thomas

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:23 pm

Hari Kamis (13/05) ada yang mengirim sms, ajakan untuk menonton sama-sama semifinal perebutan Piala Thomas di Gedung AJB FISIP pada Jum’at siang (14/05). Kiriman pesan itu pastilah dari salah seorang pimpinan FISIP “penggila” bulutangkis. Memang sekarang di Universitas Indonesia (UI) para mahasiswa sedang gandrung mengikuti tren yang terjadi di masyarakat. Beberapa hari sebelumnya, para mahasiswa FISIP mengundang Menteri Pemuda dalam rangka menyambut  perebutan Piala Dunia sepakbola. Jumat lalu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI mengadakan diskusi tentang latar belakang dan antisipasi pembatalan UU BHP dengan mengundang pihak Kemendiknas, Anggota Mahkamah Konstitusi (MK) dan Wakil Ketua Komisi X DPR yang membidangi pendidikan.

 

Demam bulutangkis rupanya tidak hanya di UI, tetapi juga di  kalangan instansi pemerintahan. Salah satu kementrian misalnya, para stafnya secara berantai mengomunikasikan untuk nonton rame-rame pada Jum’at siang. Tanpa dikomando atasannya mereka menonton sekaligus mendoakan kemenangan tim Indonesia. Tentu saja mereka sangat antusias terhadap himbauan untuk menonton bareng. Soalnya salah seorang yang berlaga adalah  mantu sang menteri.

 

Sekarang ini kalau menonton pertandingan bulutangkis merasa ”tidak nyaman” dan selalu deg-degan. Apalagi kalau melawan tim dari Korea, China, Denmark. Negara-negara yang membuat ciut nyali kita waktu menonton. Kemajuan pesat yang diperlihatkan para pemain negara tersebut, rupanya tidak diantisipasi oleh para petinggi olah raga di tanah air. Hal ini diakui secara terus terang oleh Ketua KONI dan juga Komite Olimpiade Indonesia, Rita Subowo. Karena itulah untuk meningkatkan prestasi olah raga menjalin hubungan dengan berbagai perguruan tinggi, diantaranya dengan UI.Diharapkan dengan melakuan penelitian secara seksama dan ilmiah, baik dalam aspek ilmu kedokteran, psikologi maupun yang lainnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi atlet Indonesia. Karena hanya dengan mengandalkan bakat alam seorang atlet saja, sekarang ini tidak cukup untuk menggapai prestasi di tingkat dunia.

 

Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para pelatih  yang telah bekerja keras membina para atlet selama ini, ternyata hanya bisa sampai menguber-uber Uber Cup, belum bisa meraihnya. Sementara Thomas Cup juga tak bisa didekap. Beberapa kali hal itu terjadi, semestinya menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Masih  melekat dalam ingatan, bagaiman China berusaha mengungguli Indonesia dengan berbagai cara. Misalnya saja dengan memperkenalkan ”service plintir” yang sempat menghebohkan dunia perbulutangkisan. Saat service bola di tangan pemain China, shutle cock dipukul sedemikian rupa, ketika dipukul lawan, jarang sekali bisa masuk, kalau pun bisa masuk ke wilayah lawan, kecepatannya lambat sekali dan dengan mudahnya dapat “dimatikan.” Dengan service plintir ini, angka cepat didapat oleh pemain yang memegang bola, tetapi permainan tidak berkembang. Akhirnya  service plintir dilarang dipakai dalam setiap pertandingan. Ini artinya  China berusaha dengan berbagai cara bagaimana bisa mengungguli lawan.

 

Uber hiber (terbang), Thomas pun lepas, masyarakat pun menjadi lemas. Itulah hukum alam permainan, ada yang menang ada yang kalah, tak harus  terus menerus bergembira atau menangisinya. Selama masih ada waktu dan kesempatan menata diri untuk berubah, berlatihlah terus, hingga akhirnya juara bisa diraih. Itulah dinamika hidup.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment