May 17, 2010

Monumen Perjuangan Mahasiswa

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:41 pm

Bicara soal monumen, tampaknya di Fakultas Kedokteran yang paling banyak peninggalan monumen sebagai penanda suatu peristiwa atau jejak sejarah masa lampau. Selain patung Abdurachman Saleh di halaman depan Kampus Fakultas Kedokteran, kalau kita ke halaman belakang di dekat lapangan basket, akan ditemui prasasti daftar nama para alumni FKUI sejak tahun 1950. Juga masih di halaman tersebut, terdapat juga monumen berupa mesin ketik kuno, yang menjadi tanda eksistensi dari  majalah Media Aesculapius (MA), yaitu terbitan berkala media kesehatan yang dikelola para mahasiswa Kedokteran sejak jaman dahulu kala (persis tahunnya tidak hafal). Belum lagi prasasti di halaman dalam (loby) aula FK, terdapat prasasti peninggalan jaman Belanda.

 

Kalaulah halaman bisa bicara, pasti akan bercerita banyak halaman depan Fakultas Kedokteran yang terletak di Jalan Salemba 6 Jakarta. Sementara Jalan Salemba 4 Jakarta, tempat dimana terdapat gedung Rektorat, Mesjid UI, Kedokteran Gigi dan lain sebagainya. Salemba 6 Jakarta terbilang tempat yang “legendaris”. Waktu pertama kali masuk UI (1980), upacara penerimaan mahasiswa baru UI oleh Rektor (alm) Prof.Dr. Mahar Mardjono, dilakukan di Jalan Salemba 6 Jakarta. Pelantikan Rektor baru UI dilakukan di aula FKUI Salemba 6 Jakarta juga, bukan di Gedung Rektorat  Salemba 4 Jakarta.

 

Aksi demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa dilakukan di halaman kampus jalan Salemba 6 Jakarta, sejak tahun 1965 hingga tahun 1998. Terbersit dalam pikiran, kenapa tidak dibuat semacam tanda monumen perjuangan mahasiswa di salah satu sudut di halaman Jalan Salemba 6 Jakarta. Sebagai suatu tanda/jejak para mahasiswa tempo dulu yang melakukan  gerakan moral terhadap permasalahan bangsa dalam bentuk demonstrasi. Hal ini cukup penting dan mendesak, karena pasca Reformasi, ikon demonstrasi beralih ke Bundarah Hotel Indonesia di Jalan Thamrin. Hal ini pernah juga dibicarakan dengan mantan Ketua Dewan Mahasiswa tempo dulu Prof.Dr.Azrul Azwar, MPH. Tetapi karena kesibukannya, hingga saat ini ide pembuatan monumen perjuangan mahasiswa belum meresponnya.

 

Walaupun tidak secara khusus sebagai suatu monumen, di halaman kampus Jalan Salemba 4 dan Salemba 6 Jakarta sudah  ada  yang bisa dianggap sebagai monumen perjuangan mahasiswa. Pada waktu Rektor UI dijabat Prof.Dr. Nugroho Notosusanto, di Kampus Salemba dibuat billboard yang cukup besar, terletak di halaman depan Fakultas Kedokteran dan di dekat gedung Sekretariat ILUNI UI. Pada billboard itu berisi tulisan ”Selamat Datang di Kampus Perjuangan Orde Baru”. Pada saat ramai-ramainya demonstrasi menjelang keruntuhan rezim Orde Baru (1998), para mahasiswa mengecat hitam dua kata, sehingga tulisan tersebut menjadi ”SELAMAT DATANG di KAMPUS PERJUANGAN”. Hingga saat ini sudah 12 tahun billboard tersebut tidak ada yang berani membongkar atau memperbaikinya seperti semula.

 

Lain lagi yang terjadi di Kampus Depok. Sekelompok mahasiswa UI dalam aksi demonya memasang papan nama jalan di bundaran dekat Fakultas Psikologi. Jalan Yun Hap. Konon katanya Yun Hap adalah salah satu mahasiswa UI yang ikut melakukan demonstrasi di jalan umum Jakarta. Pada saat beristirahat di pinggiran jalan Sudirman Dekat Kampus Atmajaya, tewas tertembak peluru nyasar yang entah darimana datangnya. Papan nama Jalan Yun Hap tersebut seminggu kemudian sudah hilang, entah siapa yang mencabutnya. Pihak mahasiswa pun tidak berusaha untuk membuat dan memasang kembali papan nama jalan Yun Hap.

 

Tadinya dengan pemasangan nama jalan itu, diharapkan akan dikenang sebagai salah seorang pejuang mahasiswa yang gugur dalam menumbangkan suatu rezim pemerintah, seperti halnya almarhum Arif Rahman Hakim. Tapi rupanya para mahasiswa belum tahu bagaimana merekayasa untuk ”menokohkan” dan ”menciptakan” seorang martir menjadi seseorang yang menjadi inspirator dan ikon suatu perjuangan dalam menumbangkan rezim. Bahkan empat mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas kena peluru nyasar, hingga sekarang pun, sepertinya tenggelam terkalahkan oleh berita para politisi yang berlomba-lomba ”unjuk gigi” untuk ”mencari nama”.

Menguber Mbak Uber Cemas Mengharap Mas Thomas

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:23 pm

Hari Kamis (13/05) ada yang mengirim sms, ajakan untuk menonton sama-sama semifinal perebutan Piala Thomas di Gedung AJB FISIP pada Jum’at siang (14/05). Kiriman pesan itu pastilah dari salah seorang pimpinan FISIP “penggila” bulutangkis. Memang sekarang di Universitas Indonesia (UI) para mahasiswa sedang gandrung mengikuti tren yang terjadi di masyarakat. Beberapa hari sebelumnya, para mahasiswa FISIP mengundang Menteri Pemuda dalam rangka menyambut  perebutan Piala Dunia sepakbola. Jumat lalu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI mengadakan diskusi tentang latar belakang dan antisipasi pembatalan UU BHP dengan mengundang pihak Kemendiknas, Anggota Mahkamah Konstitusi (MK) dan Wakil Ketua Komisi X DPR yang membidangi pendidikan.

 

Demam bulutangkis rupanya tidak hanya di UI, tetapi juga di  kalangan instansi pemerintahan. Salah satu kementrian misalnya, para stafnya secara berantai mengomunikasikan untuk nonton rame-rame pada Jum’at siang. Tanpa dikomando atasannya mereka menonton sekaligus mendoakan kemenangan tim Indonesia. Tentu saja mereka sangat antusias terhadap himbauan untuk menonton bareng. Soalnya salah seorang yang berlaga adalah  mantu sang menteri.

 

Sekarang ini kalau menonton pertandingan bulutangkis merasa ”tidak nyaman” dan selalu deg-degan. Apalagi kalau melawan tim dari Korea, China, Denmark. Negara-negara yang membuat ciut nyali kita waktu menonton. Kemajuan pesat yang diperlihatkan para pemain negara tersebut, rupanya tidak diantisipasi oleh para petinggi olah raga di tanah air. Hal ini diakui secara terus terang oleh Ketua KONI dan juga Komite Olimpiade Indonesia, Rita Subowo. Karena itulah untuk meningkatkan prestasi olah raga menjalin hubungan dengan berbagai perguruan tinggi, diantaranya dengan UI.Diharapkan dengan melakuan penelitian secara seksama dan ilmiah, baik dalam aspek ilmu kedokteran, psikologi maupun yang lainnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi atlet Indonesia. Karena hanya dengan mengandalkan bakat alam seorang atlet saja, sekarang ini tidak cukup untuk menggapai prestasi di tingkat dunia.

 

Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para pelatih  yang telah bekerja keras membina para atlet selama ini, ternyata hanya bisa sampai menguber-uber Uber Cup, belum bisa meraihnya. Sementara Thomas Cup juga tak bisa didekap. Beberapa kali hal itu terjadi, semestinya menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Masih  melekat dalam ingatan, bagaiman China berusaha mengungguli Indonesia dengan berbagai cara. Misalnya saja dengan memperkenalkan ”service plintir” yang sempat menghebohkan dunia perbulutangkisan. Saat service bola di tangan pemain China, shutle cock dipukul sedemikian rupa, ketika dipukul lawan, jarang sekali bisa masuk, kalau pun bisa masuk ke wilayah lawan, kecepatannya lambat sekali dan dengan mudahnya dapat “dimatikan.” Dengan service plintir ini, angka cepat didapat oleh pemain yang memegang bola, tetapi permainan tidak berkembang. Akhirnya  service plintir dilarang dipakai dalam setiap pertandingan. Ini artinya  China berusaha dengan berbagai cara bagaimana bisa mengungguli lawan.

 

Uber hiber (terbang), Thomas pun lepas, masyarakat pun menjadi lemas. Itulah hukum alam permainan, ada yang menang ada yang kalah, tak harus  terus menerus bergembira atau menangisinya. Selama masih ada waktu dan kesempatan menata diri untuk berubah, berlatihlah terus, hingga akhirnya juara bisa diraih. Itulah dinamika hidup.

Beda Dokter dan Dokter Gigi

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:20 am

Peristiwa ini terjadi hari Sabtu (24/04) di aula Fakultas Kedokteran Kampus Salemba Jakarta, saat mengukuhkan dua Guru Besar Tetap UI masing-masing Prof.dr. Rainy Umbas, Ph.D.,SpU(K) (59)dari Bagian Urologi Penyakit Dalam dan Prof..Drg. Benny Syariefsyah Latief, Ph.D., Sp.BM(K)(57) dari Fakultas Kedokteran Gigi.

 

Berhubung Rektor UI berhalangan hadir, maka upacara pengukuhan dipimpin Ketua Dewan Guru Besar UI Prof.Dr.Biran Affandi, Sp.OG (K). Guru Besar satu terkenal ceplas ceplos kalau bicara, tajam, cermat dan selalu menemukan celah/lubang dalam setiap kesempatan. Maklum saja sudah biasa terlatih dalam praktek sehari-hari sebagai seorang ahli kandungan..

 

Pada waktu memperkenalkan kedua Guru Besar tersebut, dia melihat ada ”keanehan” pada riwayat hidup mereka. Dan disinilah rupanya naluri sebagai ahli kandungan mulai ”bicara”. Prof. Rainy Umbas, ahli urologi doktor lulusan Catholic University Nijmegen The Nethterlands (1994). Sementara Prof. Benny S. Latief, ahli bedah mulut, doktornya didapat dari Faculteit der Geneeskunde Rijks Universiteit Leiden, The Netherlands (2005). Prof. Rainy Umbas mempunyai empat anak, sementara Prof, Benny S. Latief hanya mempunyai seorang anak. Mengenai perkara anak ini Prof. Biran Affandi berkomentar, “maklum, kalau dokter gigi mah sedikit goyang saja  langsung dicabut.”