May 11, 2010

Paduan Antara Ilmuwan, Pejuang dan Negarawan

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:11 am

Hari Minggu kemarin (09/05) di halaman Fakultas Kedokteran Kampus Salemba, dilakukan pemasangan patung/monumen Marsekal Muda (anumerta) Prof.dr. Abdulrachman Saleh, SpF (1909-1947) oleh Dekan FKUI, didampingi Wakil Kepala Staf Angkatan Udara RI, serta dari pihak keluarga Prof.dr. Abdulrachman Saleh. Pada kesempatan itu juga diresmikan pembukaan kantor RRI di Fakultas Kedokteran yang disaksikan Direktur RRI Parni Hadi.

Ada beberapa teladan yang dapat ditarik dari peristiwa tersebut di atas. Pertama, Abdulrachman Saleh sejatinya adalah staf pengajar FKUI. Dia gugur saat melaksanakan tugas negara membawa kapal terbang dari Malaysia membawa perbekalan obat-obatan. Pada   waktu itu pemerintahan Indonesia tengah berhijrah ke Yogya. Pesawat pembawa obat-obatan itu ditembak oleh penjajah Belanda. Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, SpF juga salah seorang pendiri RRI dan pencetus semboyan “sekali di udara tetap di udara”. Minatnya dalam berbagai bidang keilmuan serta perhatian terhadap masyarakat bawah serta perjuangan yang tanpa pamrih adalah salah satu teladan yang sukar dicari tandingannya pada generasi  sekarang  ini.

 

Fakultas Kedokteran yang merupakan salah satu fakultas pertama kali berdiri sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda, mempunyai reputasi di bidang keilmuan yang belum tertandiingi di republik ini. Sebutlah contoh misalnya Prof. Dr. Christiaan Eijkman, seorang peneliti Belanda, direktur Sekolah Dokter Jawa yang mendapat hadiah nobel (1929) di bidang Fisiologi dan Kedokteran, menginspirasi Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri untuk menarik jauh ke belakang hari kelahiran UI menjadi 2 Januari 1849, yaitu saat Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan  besluit nomor 22, yang berisikan  antara lain menetapkan untuk merekrut 30 pemuda suku Jawa untuk dididik secara cuma-cuma menjadi tenaga pembantu di bidang kesehatan dan mantri cacar. Tetapi tampaknya  penetapan tanggal lahir UI jauh ke belakang, tidak terlalu direspon positif oleh kalangan staf pengajar kedokteran sendiri. Ini terlihat pada saat sarasehan sejarah UI beberapa tahun lalu. Mungkin karena masih kentalnya kolonialisme pada pemerintahan Hindia Belanda.

 

Padahal kalau diperhatikan bidang keilmuan yang diambil  Abdulrachman Saleh yaitu spesialis Fisiologi, sama persis dengan bidang ilmu yang ditekuni Christaan Eijkman yaitu Fisiologi juga. Bedanya yang satu orang Belanda dan hidup dalam kurun waktu pemerintahan Hindia Belanda. Dan yang satunya lagi hidup dalam era perjuangan  melepaskan NKRI dari cengkeraman Pemerintah Hindia Belanda. Padahal kalau mengingat ilmu itu bersifat netral dari dulu hingga sekarang, semestinya tidak ada pemilahan waktu jaman pemerintahan Hindia Belanda ataupun jaman NKRI.

Kalau sekarang kita ingin mencari siapa gerangan orang yang mempunyai jiwa ilmuwan tapi juga sekaligus berjiwa pejuang? Apa masih adakah contoh orangnya?  Masi ada. Siapa? Prof.Dr.Ing B.J. Habibie. Tetapi rupanya kita selalu cepat lupa, atau memang pura-pura lupa akan apa yang dilakukan Habibie. Ketika awal tahun ini dia memberikan orasi ilmiah dihadapan warga UI, apa yang telah dilakukannya, rasa-rasanya belum ada orang yang bisa menandingi prestasinya.  Jaya Suprana yang mengomentari tentang orasi ilmiah itu sampai menyatakan, belum pernah ada seorangpun di dunia ini yang mempunyai kapasitas sebagai  ilmuwan yang juga seorang pejuang dan negarawan. Tetapi nasib Habibie sekarang ini bagaikan “HABIS MANIS SEPAH DIBUANG”.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment