May 11, 2010

Memperdayai Ataukah memberdayakan?

Filed under: Kampusiana — rani @ 5:31 pm

Siang ini (11/05) mendapat kabar dari salah seorang pegawai UI yang minggu lalu mengikuti pertemuan PTN BHMN di IPB menyatakan, tidak ada perubahan apa pun sehubungan dengan pembatalan UU BHP oleh Mahkamah Konstitusi. Ini artinya Status UI sebagai PTN BHMN masih  mengacu kepada PP No.152 tahun 2000, yang mengatur UI sebagai salah satu perguruan tinggi yang berstatus BHMN. Pantes, tidak terdengar lagi pembicaraan yang begitu ramai di kalangan pimpinan UI tentang antisipasi alternatif penggati BHMN.

Jum’at lalu (07/05), Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) baru saja menggelar diskusi tentang  “Pasca Penghapusan UU BHP” dengan mengundang seorang hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Maria Farida, Wakil Ketua Komisi X DPR Ir.Rully Chairul Azwar M.Si dan Wakil dari pihak Kementrian Pendidikan Nasional. Ketiganya sengaja dipertemukan untuk mengetahui lebih jauh latar belakang pembatalan UU BHP dan solusinya ke depan.

Kata pihak MK, sebetulnya keputusan pembatalan telah diambil  sejak desember tahun lalu. Tetapi karena berbagai pertimbangan, SK baru dikeluarkan  Maret 2010. Ada empat pihak yang mengajukan permohonan pembatalan UU BHP. Setelah ditelaah lebih jauh isi UU BHP, ternyata memang banyak “bolong-bolongnya”, yang kalau diterapkan akan membuat susah berbagai perguruan tinggi.Misalnya saja menyamaratakan PTS dan PTN. Padahal PTS terikat dengan Undang-Undang Yayasan, yang sampai saat ini belum bisa menyesuaikan diri dengan aturan yang terdapat pada UU Yayasan. Alasan utama pembatalan, karena semangat yang mendasari UU BHP menyeragamkan semua perguruan tinggi, padahal semangat reformasi lebih mengedepankan keberagaman. Selain itu, dalam UU tersebut juga terlalu detil mengatur hal-hal yang seharusnya bisa dituangkan  dalam peraturan yang lebih rendah seperti PP atau Peraturan Kemendiknas.

Sementara Rully, sangat menyesalkan pembatalan itu, karena kerja keras pemerintah dan 500 orang DPR ditambah biaya yang tidak sedikit serta waktu yang terbuang banyak, bisa dibatalkan hanya oleh 9 orang hakim MK. Aspek baik dari UU BHP itu antara lain, adanya kewajiban bagi semua perguruan tinggi untuk menerima mahasiswa baru 20% diantaranya dari kalangan masyarakat yang tidak mampu. Berdasarkan pengalaman inilah dan supaya ke depan tidak terjadi lagi pembatalan UU oleh MK, waktu DPR mengadakan konsultasi dengan MK, Rully menawarkan solusi kepada Ketua MK. Bagaimana kalau sebelum RUU disahkan, diperiksa terlebih dahulu oleh MK. Maka dengan entengnya Ketua MK Machfud MD mengatakan,”kalau begitu caranya, nanti MK nggak ada kerjaannya dong!.”

Paduan Antara Ilmuwan, Pejuang dan Negarawan

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:11 am

Hari Minggu kemarin (09/05) di halaman Fakultas Kedokteran Kampus Salemba, dilakukan pemasangan patung/monumen Marsekal Muda (anumerta) Prof.dr. Abdulrachman Saleh, SpF (1909-1947) oleh Dekan FKUI, didampingi Wakil Kepala Staf Angkatan Udara RI, serta dari pihak keluarga Prof.dr. Abdulrachman Saleh. Pada kesempatan itu juga diresmikan pembukaan kantor RRI di Fakultas Kedokteran yang disaksikan Direktur RRI Parni Hadi.

Ada beberapa teladan yang dapat ditarik dari peristiwa tersebut di atas. Pertama, Abdulrachman Saleh sejatinya adalah staf pengajar FKUI. Dia gugur saat melaksanakan tugas negara membawa kapal terbang dari Malaysia membawa perbekalan obat-obatan. Pada   waktu itu pemerintahan Indonesia tengah berhijrah ke Yogya. Pesawat pembawa obat-obatan itu ditembak oleh penjajah Belanda. Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, SpF juga salah seorang pendiri RRI dan pencetus semboyan “sekali di udara tetap di udara”. Minatnya dalam berbagai bidang keilmuan serta perhatian terhadap masyarakat bawah serta perjuangan yang tanpa pamrih adalah salah satu teladan yang sukar dicari tandingannya pada generasi  sekarang  ini.

 

Fakultas Kedokteran yang merupakan salah satu fakultas pertama kali berdiri sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda, mempunyai reputasi di bidang keilmuan yang belum tertandiingi di republik ini. Sebutlah contoh misalnya Prof. Dr. Christiaan Eijkman, seorang peneliti Belanda, direktur Sekolah Dokter Jawa yang mendapat hadiah nobel (1929) di bidang Fisiologi dan Kedokteran, menginspirasi Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri untuk menarik jauh ke belakang hari kelahiran UI menjadi 2 Januari 1849, yaitu saat Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan  besluit nomor 22, yang berisikan  antara lain menetapkan untuk merekrut 30 pemuda suku Jawa untuk dididik secara cuma-cuma menjadi tenaga pembantu di bidang kesehatan dan mantri cacar. Tetapi tampaknya  penetapan tanggal lahir UI jauh ke belakang, tidak terlalu direspon positif oleh kalangan staf pengajar kedokteran sendiri. Ini terlihat pada saat sarasehan sejarah UI beberapa tahun lalu. Mungkin karena masih kentalnya kolonialisme pada pemerintahan Hindia Belanda.

 

Padahal kalau diperhatikan bidang keilmuan yang diambil  Abdulrachman Saleh yaitu spesialis Fisiologi, sama persis dengan bidang ilmu yang ditekuni Christaan Eijkman yaitu Fisiologi juga. Bedanya yang satu orang Belanda dan hidup dalam kurun waktu pemerintahan Hindia Belanda. Dan yang satunya lagi hidup dalam era perjuangan  melepaskan NKRI dari cengkeraman Pemerintah Hindia Belanda. Padahal kalau mengingat ilmu itu bersifat netral dari dulu hingga sekarang, semestinya tidak ada pemilahan waktu jaman pemerintahan Hindia Belanda ataupun jaman NKRI.

Kalau sekarang kita ingin mencari siapa gerangan orang yang mempunyai jiwa ilmuwan tapi juga sekaligus berjiwa pejuang? Apa masih adakah contoh orangnya?  Masi ada. Siapa? Prof.Dr.Ing B.J. Habibie. Tetapi rupanya kita selalu cepat lupa, atau memang pura-pura lupa akan apa yang dilakukan Habibie. Ketika awal tahun ini dia memberikan orasi ilmiah dihadapan warga UI, apa yang telah dilakukannya, rasa-rasanya belum ada orang yang bisa menandingi prestasinya.  Jaya Suprana yang mengomentari tentang orasi ilmiah itu sampai menyatakan, belum pernah ada seorangpun di dunia ini yang mempunyai kapasitas sebagai  ilmuwan yang juga seorang pejuang dan negarawan. Tetapi nasib Habibie sekarang ini bagaikan “HABIS MANIS SEPAH DIBUANG”.