May 7, 2010

Serba Serbi Jumatan

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:45 am

Masih dalam kaitan Jum’at,  kali ini mencoba untuk menuangkan  peristiwa yang terjadi berkaitan dengan shalat Jum’at,  yang dialami beberapa teman serta informasi dari berbagai sumber. Walaupun tampaknya ritual  khutbah Jum’at sederhana, tetapi tampaknya tidak semua orang  berani untuk menjadi khatib, memberikan ceramah di depan para jamaah yang akan mengikuti shalat Jum’at. Materi yang akan dibicarakan mungkin bisa hal yang besifat umum, tetapi juga bisa saja berkaitan dengan disiplin ilmu yang dikuasai seseorang. Namun demikian, tetap saja tidak setiap orang berani untuk tampil menjadi khatib Jum’at. Karena itulah  maka kita bisa melihat, khususnya di mesjid kampus para khatib yang tampil dari warga UI itu-itu saja.Prof. Dr. Sujudi (alm),mantan Rektor UI dan  Menteri Kesehatan punya pengalaman tentang shalat Jum’at yang sangat begitu membekas dalam dirinya. Dalam suatu kesempatan karena sesuatu hal, dia lalai tidak dapat melaksanakan shalat Jum’at.  Kemudian yang terjadi dia mengalami musibah kecelakaan yang cukup berat. Sejak itu, dia tidak berani meninggalkan shalat Jum’at. Usai dilantik menjadi Menteri, dia sengaja mendaulat Menteri Agama untuk menjadi khatib Jum’at di Mesjid UI kampus Depok. Dalam kesempatan lain, dia juga mengundang menteri lain untuk menjadi khatib Jum’at di Kampus Depok. Jadi walaupun tidak pernah menjadi khatib Jum’at, sempat mengajak menteri lain  menjadi khatib Jum’at di UI. Kemudian ketika Rektor UI dijabat Prof.dr. M.K Tadjudin membuat tradisi baru, menjadi khatib Jum’at di Mesjid UI, yang kemudian dilanjutkan Rektor Prof.Dr. der.Sos. Gumilar S. Somantri. Rektor lainnya, rasanya belum ada lagi yang menjadi khatib Jum’at walau bernama Khatib sekalipun.Lain lagi pengalaman seorang teman (dosen) yang sedang belajar di salah satu perguruan tinggi di Australia.  Dia melihat banyak orang Indonesia (muslim) di perguruan tinggi tersebut, tetapi tidak pernah melihat ada kegiatan shalat Jum’at. Dia ingin membuat tradisi baru, karena itu dia kirim email, minta supaya dikirimkan tata cara dan rukun khutbah Jum’at serta sekalian dengan bahasa arab yang harus dibacakan dalam khutbah pertama dan khutbah kedua. Ada lagi seorang teman aktivis dan tokoh mahasiswa mendapat kesempatan untuk menjadi khatib Jum’at di Kampus Rawamangun. Maka tampillah dia menjadi khatib. Usai melaksanakan shalat Jum’at, banyak jamaah mesjid yang melaksanakan shalat lagi sebanyak empat rakaat (shalat dhuhur). Lho…kok dobel-dobel, shalat jumat juga tapi shalat dhuhur juga. Rupanya ada sebagian jemaah yang berpendapat khutbah Jum’atnya tidak sah, karena pada khutbah Jum’at bagian kedua tidak ada bacaan arab sebagai pembukanya. Sejak itu, rasanya belum pernah lihat lagi teman itu menjadi khatib Jum’at di mesjid kampus.