May 5, 2010

Film

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:48 am

Hari gini gak tahu film, apa kata dunia?

Hampir semua orang mengetahui tentang film, menontonnya bahkan ada yang memang pekerjaannya membuat film. Kalau dahulu medium film berupa pita seluloid berukuran 35 mm, 16 mm atau bahkan 8 mm, kemudian beralih kepada pita kaset dalam format betamax, VHS, maka kini di era digitalisasi sudah menjadi medium film berbentuk cakram DVD.

Di lingkungan kampus Universitas Indonesia (UI) dunia film atau yang berkaitan dengan itu tidak terlampau asing, bahkan akrab sekali. Saya sempat bertemu dan mengobrol dengan Nani Wijaya. Aktris Bintang film “Tiga Dara” karya Usmar Ismail tahun  1950 an itu ternyata juga sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan UI, sebelum menjadi istri Misbach Yusa Biran. Prof.Dr. Alwi Dahlan, Guru Besar FISIP, waktu mudanya ternyata jagoan pembuat skenario film. Salah satu skenario yang kemudian dibuat film oleh Usmar Ismail adalah “Jenderal Kancil” dengan pemeran utama Ahmad Albar, sang roker grup band Godbless. Ada pula Salim Said, kolumnis Majalah Tempo, mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP,  membuat skripsi tentang Sejarah Film di Indonesia, yang kemudian dibuat buku dan menjadi pegangan para mahasiswa Jurusan Film Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tetapi kemudian disertasi doktornya mengambil topik tentang militer. Kemudian kita juga mengenal sutradara dan penggiat film Garin Nugroho, alumni Fakultas Hukum Ekstensi UI. Filmnya sering diikutsertakan dalam festival film internasional, beberapa diantaranya mendapat penghargaan.

 

“Jejak film” di UI rupanya juga sudah ada sejak tahun 1950 an. Lihatlah student center di Kampus Salemba, yang terletak di lingkungan kampus Fakultas Ekonomi (dahulu), dipinggir jalan dekat Fakultas Teknik (kini menjadi kantor Lembaga Psikologi Terapan UI). Ruangan yang cukup menampung 200 an orang terletak agak di bawah permukaan  tanah tersebut pada jaman itu (1950 an) biasa dijadikan tempat untuk memutar film layar lebar seperti di bioskop-bioskop umum (film ukuran 35 mm). Di dekat student center itu, ada ruang/kantor Dewan Mahasiswa (DMUI). Student center juga biasa dipakai untuk acara-acara yang diadakan DMUI.  Di Fakultas Sastra Kampus Rawamangun, ada gedung Teater Sastra, biasa dipakai untuk memutar film juga. Aula Fakultas Kedokteran UI di Kampus Salemba setiap sabtu malam,  dilakukan pemutaran film, Akhir tahun 1970 an sempat menonton film disini. Tetapi kemudian  tahun 1980 hingga sekarang tidak ada lagi pemutaran film.

Di Kampus Depok, walaupun tidak ada lagi pemutaran film lebar, tetapi  aula di Fakultas Hukum  kontruksinya dibuat seperti bioskop. Letak kursi-kursinya bertrap, semakin kebelakang semakin meninggi, di depan ruangan ada dinding yang berfungsi untuk layar dan di belakang ruangan ada ruangan kecil dimana ada dinding yang berlubang kotak segi empat untuk memancarkan sinar dari proyektor film. Aula gedung Pusat Studi Jepang juga kontruksi di dalamnya seperti ruangan bioskop. Di dapan ada layar dan di belakang ada ruang proyektor film. Di ruangan ini juga tersedia VTR  untuk memutar film video. Di kampus Depok juga tumbuh subur kelompok minat pencinta film di beberapa fakultas (FISIP, FH, FPsi, FIB, Fasilkom, FE) yang secara berkala dilakukan pemutara film video dan melakukan diskusi dengan mengundang narasumber di bidang yang berkaitan dengan film.

Tidak dengan hanya sekedar menonton film, pertengahan maret lalu, kelompok mahasiswa pecinta film melakukan  pemutaran cuplikan film “Children of Dream”. Sebuah karya  film lebar yang dibuat para mahasiswa UI yang akan dirilis tahun 2011. Film ini menceritakan pergulatan lima tokoh utama yang mempunyai masalah masing-masing dalam meraih cita-cita untuk dapat hidup lebih baik. Konon katanya anggaran pembuatan film ini mencapai milyaran rupiah. Kita tunggu saja seperti apa film tersebut.

 

 

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment