May 4, 2010

Kenanglah kami

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:32 am

Kalau mengeja judul di atas, memang betul ada kemiripan dengan kata yang tercantum dalam salah satu sajak karya Chairil Anwar yang legendaris itu. Dalam sajaknya yang berjudul “Antara Kerawang dan Bekasi” ada bait-bait yang diisi dengan kata-kata “kenang-kenanglah kami”. Maksudnya mengenang para pahlawan tak dikenal yang gugur di daerah antara Kerawang dan Bekasi, dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Sajak itu sempat dihapalkan jaman masih sekolah di SMP. Rupanya masih ada yang melekat dalam ingatan.  Tulisan kali ini pun ada kesejajaran dengan cerita dalam sajak tersebut.

Dalam memperingati hari Pendidikan Nasional, tidak ada salahnya kalau kita mengenang kembali orang-orang yang berjasa atau paling tidak turut memperlancar kesuksesan kita dalam menggapai jenjang pendidikan selama kita menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Para guru/dosen sudah jelas jasa mereka tidak diragukan lagi dedikasinya yang membuat kita menjadi pintar dan bertambah wawasan pengetahuan mengenai suatu bidang ilmu. Orang tua atau yang dianggap dan mempunyai peranan sebagai orangtua, sudah pasti mereka juga tidak  kalah berjasanya seperti guru.

Nah, kali ini marilah kita mengenang orang-orang kecil, di lingkungan seputar kampus yang biasanya melayani kebutuhan para mahasiswa dalam melakukan aktivitasnya. Walaupun mungkin apa yang mereka lakukan tidak sebanding dengan yang dilakukan oleh para guru/dosen atau orang tua, tetapi cukup penting dan tidak bisa tergantikan peranannya baik oleh dosen atau pun orangtua. Beberapa nama yang disebutkan hanyalah untuk memberikan contoh saja. Masing-masing fakultas atau di unit kegiatan ada orang yang paling dikenal karena peranannya.

Di Fakultas Kedokteran Gigi, semua dosen, karyawan dan mahasiswa generasi tahun 1980 an ke belakang, pasti akan mengenal pegawai bernama Pak Koen. Orangnya nyentrik, rambut panjang di kucir, selalu memakai sepatu sandal, dengan baju yang khas, banyak sakunya. Rupanya saku itu untuk menyimpan serencengan kunci pintu-pintu seluruh ruangan di FKG. Di Fakultas Psikologi, waktu masih kampus di Rawamangun, pasti akan mengenal Pedro, tukang minuman yang nongkrong depan fakultas. Biasanya dosen atau mahasiswa yang perlu minuman, dari ruang kelas tinggal teriak, maka dalam waktu sekejap Pedro sudah membawa minuman ke ruang kuliah. Di Fakultas Sastra di Rawamangun, ada Pak Wir yang punya salah satu warung di kantin Sastra, dan ada juga  si Kumis yang jualan baso pakai sepeda. Mereka dengan senang hati melayani pesanan makanan dan juga menerima makian dari para mahasiswa.

 

Di asrama Daksinapati, semua mahasiswa penghuni asrama  pasti mengenal bu Oyot yang punya warung makanan di dekat tempat parkir motor. Tidak jarang para mahasiswa kalau makan di Bu Oyot, pada “ngemplang”. Selain itu ada juga Gito, pegawai asrama yang bertugas menjalankan mesin penyedot air, yang setiap pagi dan sore menyalakan dan mematikan mesin pompa air. Kalau ada anak asrama sedang mandi, ternyata airnya tidak mengalir, maka akan terdengar pukulan gayung air bersahut-sahutan, atau kalau tidak didengar akan berteriak “Gitoooo…aaiiiirrrrrr!!”.

 

Para mahasiswa FISIP mulai generasi tahun 1980 an pasti akan mengenal Pendi. Tadinya pegawai honorer. Selain menjalankan tugas pesuruh kantor, dia juga menjual makanan kecil. Para mahasiswa sangat mengakrabinya, karena bisa menjadi tempat penitipan buku, tas, hingga bertugas sebagai “tukang titip” surat mahasiswa yang sedang menaksir lawan jenisnya. Ketika Kampus pindah ke Depok, Pendi pun turut hijrah. Masih bertugas sebagai penjual makanan kecil, ditambah menerima jasa layanan foto copy koperasi pegawai FISIP. Saat terjadi demo reformasi di kampus Depok, Pendi pun tidak tidak ketinggalan ikut demonstrasi pula. Bahkan ikut orasi juga sebagai wakil karyawan. Dia waktu itu bicara bersama dengan Prof. Dr. Sri-Edi Swasono. Itulah barangkali orang kecil bisa berdampingan dengan orang besar dalam suatu kegiatan, tanpa memandang status.