May 3, 2010

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:42 pm

Hari Minggu kemarin (02/05) tidak seperti biasanya, suasana di seputar gedung pusat administrasi universitas sangat ramai, bukan oleh orang yang sedang jogging, tetapi para pemangku kepentingan UI yang akan melaksanakan upacara memperingati hari Pendidikan Nasional. Halaman rotunda dipenuhi para pimpinan universitas/fakultas dan pegawai UI dari seluruh fakultas. Bertindak sebagai inspketur upacara Wakil Rektor I Dr.Ir.M. Anis, M.Met. Dalam tulisan berikut ini, mencoba untuk menggambarkan bagaimana pendidikan dapat membuat seorang melakukan mobilitas vertikal.

Usai upacara, bertemu dengan salah seorang pegawai Fakultas Kedokteran, yang ternyata tahun 1986 sempat menjadi ‘pesuruh’ di kantor redaksi SKK Warta UI Kampus  Salemba Jakarta. Dia masih mengenali dengan baik para pengelola SKK Warta UI. Dia masih ingat kalau pada lagi lapar, minta dibelikan makanan di warung sebelah jalan mesjid ARH. Atau kalau koran datang dari percetakan, semalaman dilipat-lipat dan dimasukkan menjadi satu bundel dan diberi alamat kepada fakultas mana akan dikirim. Saat ini dia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Fakultas Kedokteran golongan III/c. Setelah tidak bekerja di Warta UI dia menyesaikan kuliah di salah satu akademi swasta. Dengan modal ijasah akademi itu dia melamar menjadi PNS di Fakultas Kedokteran.

Banyak teman  di asrama Daksinapati  UI  berasal dari daerah/pelosok Jawa dan luar Jawa. Dengan berkuliah di UI banyak bergaul dengan berbagai orang dari berbagai kalangan. Rupanya ada seorang mahasiswi yang tertarik. Singkat cerita akhirnya keduanya sepakat untuk membentuk mahligai perkawinan. Maka keluarganya dari kampung di pelosok Jawa sana dibawa  ke Jakarta untuk melamar. Tetapi sesampai di halaman depan rumah calon mempelai wanita, orang tua si laki-laki tidak mau masuk ke dalam rumah. Rupanya dia kaget dan tidak menyangka rumah calon besannya itu (menurut pandangannya) sangat mewah dan bagus sekali, tidak terbayangkan sebelumnya. Ternyata calon besannya itu seorang jenderal tentara dan punya kedudukan penting dalam pemerintahan.

Lain lagi cerita seorang teman asrama Daksinapati lainnya. Merasa kurang gagah dengan menyandang gelar Drs (S1), karena calon mertuanya orang terpandang dan pernah menjabat penguasa daerah, maka dia buat kartu undangan seperti yang dia inginkan. Lalu dia meminta komentarnya terhadap undanga tersebut. Disitu tertera nama dia, di depan namanya tercantum Drs dan di belakang nama dia tertulis Cand.PhD.  Apa maksudnya? Dia cerita, itu kepanjangan dari kandidat doktor. Soalnya dia sudah terdaftar sebagai seorang mahasiswa program doktor di salah satu universitas di luar negeri.

Tetapi kini rupanya pendidikan saja belum cukup untuk membuat hidup bahagia. Dengan pengetahuan dan pendidikan tinggi yang didapat, banyak godaan menghadang. Kalau tidak hati-hati, salah-salah kita bisa tergelincir dan terjerumus dalam perilaku yang tidak terpuji. Kasus penggelapan pajak dan makelar kasus yang marak akhir-akhir ini, salah satu bukti, selain pendidikan tinggi, perlu pula dibekali dengan karakter. (Kasus seorang PNS Ditjen Pajak golongan III/A saja sudah berpenghasilan milyaran rupiah). Perbuatan penggelapan pajak juga membuat peradaban bangsa kita terpuruk. Karena itulah tampaknya Menteri Pendidikan Nasional sekarang ini, yang dikenal sebagai profesor yang agamis ini, dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun ini membuat slogan “PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MEMBANGUN PERADABAN BANGSA’.

Yang Terlupakan

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:53 am

Akhir bulan April lalu berkesempatan menghadiri upacara pengukuhan  Guru Besar di Kampus Salemba Jakarta. Cukup lama juga tidak pernah menghadiri acara pengukuhan di Kampus Salemba, biasanya yang tidak pernah absent menghadiri  acara pengukuhan di Kampus Depok. Selain karena dekat dengan tempat kerja, juga pelaksanaan kegiatan upacara pengukuhan berlangsung pada hari kerja (hari Rabu). Sementara upacara pengukuhan di Salemba selalu diadakan setiap hari Sabtu.

 

Sewaktu jaman Orde Baru, upacara pengukuhan ini berlangsung  setiap saat tergantung kepada  waktu luang  Rektor yang selalu memimpin upacara pengukuhan, karena kegiatan ini termasuk salah satu kegiatan dan tradisi akademik sejak jaman Belanda. Sebagaimana lazimnya sebagai suatu upacara akademik, maka tidak lepas  ritual tata upacara, seperti toga atau atribut yang harus dipakai seorang Guru Besar, membacakan orasi ilmiah yang berisikan perkembangan disiplin ilmu yang ditekuni dan lain sebagainya. Ketika meginjak masa reformasi, dilakukan beberapa perubahan, seperti misalnya dalam satu upacara pengukuhan Guru Besar, kalau dahulu satu kali upacara yang dikukuhkan hanya satu orang saja. Maka kini dalam satu kali upacara wajib  dikukuhkan lebih dari satu orang Guru Besar, bahkan boleh juga Guru Besar yang dikukuhkan itu berlainan fakultas. Bayangkan, saat ini jumlah Guru Besar yang masih aktif mengajar ada 287 orang. Kalau mengikuti pola yang lama, satu kali upacara satu Guru Besar yang dikukuhkan, maka dalam setahun puluhan  hari harus disisihkan untuk melaksanakan upacara pengukuhan Guru Besar.

 

Kegiatan pengukuhan Guru Besar ini tidak bisa dicapai oleh setiap staf pengajar, karena ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi, maka sebagai ungkapan rasa syukur, biasanya para undangan yang hadir dijamu laiknya sebagai seorang undangan yang menghadiri acara pernikahan. Tak ada ketentuan baku, bagaimana menjamu tamu yang hadir. Para dosen di Fakultas Kedokteran, salah satu fakultas tertua, mempunyai tradisi sehabis acara pengukuhan, biasanya para Guru Besar  yang juga bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengadakan acara syukuran tersendiri di bagian rumah sakit, dimana dia bertugas. Suasana lebih meriah, karena semua staf dan pegawai rumah sakit ikut hadir dalam acara tersebut. Itulah salah satu cara dalam mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang-orang (terutama pegawai kecil/rendahan)  yang telah turut berjasa menjadikan seorang staf pengajar menjadi Guru Besar. Pegawai kecil inilah yang biasanya datang ke kantor lebih pagi, membersihkan ruangan, menyiapkan makanan/minuman serta kelengkapan lainnya untuk memudahkan para staf pengajar bekerja bahkan sampai mengurus administrasi untuk mengumpulkan ’cum’ guna memenuhi persayaratan pengangkatan Guru Besar. Dan pegawai ini pulalah yang pulang paling belakangan untuk mengunci kantor.

                                                                                                 

Ada seorang Guru Besar yang  dalam mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan cara lain daripada yang lain. Karena merasa berhutang terhadap jasa-jasa para pegawai kecil/rendahan di fakultasnya mulai sejak menjadi mahasiswa hingga  menjadi Guru Besar, maka dia mempunyai ide untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya bagi pegawai kecil/rendahan. Bukan dengan cara makan-makan bersama melainkan membagi-bagikan paket sembako berisi beras 5 kg ditambah dengan  telor dan buah apel. Semua pegawai kecil/rendah fakultas yang berjumlah 180 an orang mendapat bagian secara sama rata. Dengan cara demikian, maka semua keluarga pegawai kecil/rendahan dapat merasakan ungkapan rasa terima kasih dari dosen yang dikukuhkan sebagai Guru Besar. Bagi sebagian Guru Besar barangkali cara ini terlalu banyak menyedot dana yang tidak sedikit. Tetapi yang utama bukan masalah besar kecilnya pemberian, melainkan perhatian dan kebersamaan sebagai suatu korps institusi pendidikan yang kini tampaknya semakin memudar di kalangan staf pengajar dengan staf administrasi, terutama dengan pegawai kecil/rendahan.

 

Dalam suatu acara di Fakultas Hukum di kampus Depok, sempat bertemu dan mengobrol dengan salah seorang pensiunan pegawai administrasi FHUI. Dia bercerita bagaimana dia cukup akrab dengan seorang mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan yang waktu itu kampusnya masih di Salemba. Saking akrabnya dia malahan sempat tidur satu kasur bersama. Kemudian dengan berlalunya waktu, mahasiswa tersebut menjadi dosen dan Guru Besar di FISIP lalu menjadi salah seorang menteri dalam Orde Baru dan Reformasi.  Secara diam-diam, pegawai tersebut difoto, melalui anaknya, dikirimkanlah foto tersebut kepada Guru Besar FISIP tersebut. Ternyata sang menteri masih mengenali pegawai tersebut.