May 31, 2010

Kisah Buah Pepaya

Filed under: Warna Warni — rani @ 3:50 pm

<

p class=”MsoNormal”>“Pada jaman dahulu kala….. ada seorang Raja, kesukaannya sama pepaya mentah. Apalagi pepaya matang……, sangat suka sekali……” Itu adalah penggalan cerita yang  didongengkan Bapak Mertua kepada  dalam suatu kesempatansedang berkumpul bersilaturahmi bersama anak/mantu dan para cucunya.

Kemarin malam (30/05), baru saja menikmati buah pepaya dari pohon pepaya yang tumbuh di depan rumah. Rasanya cukup manis, warna buahnya merah kekuning-kuningan, nikmat sekali rasanya. Inilah untuk pertama kalinya merasakan buah pepaya sejak ditanam tiga tahun lalu. Padahal pohonnya sempat ditebang karena mengganggu tanaman lain yang lebih kecil. Tetapi kemudian dari pangkal tempat ditebang, tumbuh lagi dua pucuk pepaya dan menjadi batang yang tumbuh besar hingga berbuah lebat. Tiga tahun lalu sehabis makan pepaya, bijinya ditebar di halaman depan rumah. Pepaya tersebut didapat sehabis mengadakan pertermuan di Megamendung Puncak.

Tiga tahun lalu bersama beberapa orang teman yang biasa suka kumpul-kumpul pergi ke satu villa punya seorang teman di kawasan Megamendung Puncak Bogor. Kita mengobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya membicarakan bagaimana menyiasati seleksi pemilihan calon Rektor UI tahun 2007. Diceritakan bagaimana melakukan trik-trik pendekatan kepada anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI yang berjumlah duapuluh satu orang itu, yang akan memilih calon Rektor UI. Misalnya bagaimana mendekati dua anggota MWA UI juga tokoh NU yang disegani. Kemudian bagaimana pula mendekati Mendiknas untuk mendapatkan kepastian dukungannya, karena suara Mendiknas cukup signifikan besar sebagai wakil pemerintah dalam MWA UI. Lalu bagaimana pula trik-trik untuk mendapatkan suara perorangan dari anggota MWA UI. Kesemuanya mempunyai kiat-kiat khusus yang berbeda-beda. Setelah yakin bisa mendapatkan dukungan yang memadai, barulah mencalonkan diri dengan penuh keyakinan. Pulang dari Megamendung, selain mendapat cerita yang eksklusif juga mendapat buah tangan berupa singkong dan pepaya. Setelah beberapa waktu berselang usai pelantikan rektor, beberapa anggota MWA UI menduduki jabatan eksekutif di lingkungan fakultas dan pusat administrasi universitas.

Persoalannya kemudian, bagaimana nanti harus menceritakan kepada anak cucu tentang pengalaman di atas tadi? Mungkin akan diceritakan seperti ini. ”Pada jaman dahulu ketika UI berstatus BHMN, ada seorang raja ’kecil’ yang kemudian menjadi raja ’besar’. Nah, raja besar itu kemudian memberikan pepaya kepada pegawai ’kecil’ tapi berbadan besar……………”

Suka duka Pasca Meraih Gelar Doktor

Filed under: Kampusiana — rani @ 10:01 am

Untuk  menyambung cerita terdahulu mengenai suka duka membimbing calon doktor, berikut ini ada cerita tentang  beberapa doktor lulusan UI yang mempunyai  kisah suka duka agak berbeda dengan doktor lulusan UI lainnya. Terjadi beberapa tahun lalu di beberapa   fakultas lingkungan UI yang sangat aktif dalam mencetak doktor, para doktor tersebut profesinya berlatar belakang  birokrat atau  pimpinan suatu lembaga/perusahaan swasta yang terkenal.

Sudah sering menyaksikan dan atau mendokumentasikan kegiatan acara promosi doktor di lingkungan UI. Kalau tidak silap sejak tahun 1980 an. Waktu itu UI ingin diakui sebagai universitas penghasil doktor sesuai dengan klasifikasi Carnegie. Salah satu syaratnya yaitu apabila universitas dapat mencetak/menghasilkan doktor dalam setahunnya tidak kurang 50 orang. Pernah dalam suatu masa Fakultas Psikologi sangat aktif menghasilkan puluhan orang doktor, karena ada program jenjang doktor yang tidak harus menempuh Jenjang S2 dengan persyaratan tertentu. Waktu itu memang belum diatur peserta S3 mengikuti perkuliahan secara terstruktur. Salah seorang yang termasuk dalam program ini yaitu pesohor (selebritis) Seto Mulyadi. Kita tahu kiprahnya di masyarakat terhadap hal yang berkaitan dengan anak sangat luar biasa dan belum ada tandingannya.

Dalam kesempatan lain, Fakultas Ekonomi UI berhasil mencetak doktor dengan yudisium cumlaude. Sang doktor tersebut adalah BRA Mooryati Soedibyo, yang mengajukan disertasi tentang keberlangsungan dan regenerasi dalam suatu perusahaan keluarga. Pesohor satu ini aktif mengurus perusahaan keluarga, juga menjadi penyelenggara pemilihan ratu Indonesia. Saat membuat disertasinya, masih aktif menjadi anggota DPR/MPR dari Dewan Perwakillan Daerah (DPD) DKI Jakarta. Timbul suara-suara sumbang, bagaimana seorang pesohor yang banyak kegiatannya bisa membuat disertasi yang menghasilkan yudisium cum laude?  Jangan-jangan dibantu oleh promotornya (Rhenald Kasali) dan ko-promotornya (Firmanzah). Rupanya nada sumbang ini didengar promotornya. Rhenald Khasali dalam sambutannya usai pemberian gelar doktor memberikan kesaksian, Mooryati pantas menyandang doktor, karena otaknya memang cemerlang.  Belakangan Firmanzah menjadi Dekan FEUI dan salah seorang mahasiswa Fakultas ekonomi menyabet gelar Ratu Indonesia. Dalam berbagai kesempatan menghadiri acara di UI,  Mooryati datang selalu didampingi Ratu Indonesia. Dan terakhir Ratu Indonesia tahun 2010 yang terpilih adalah mahasiswa dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Lain lagi yang terjadi pada seorang doktor lulusan UI , petinggi pejabat dari lingkungan suatu instansi pemerintah. Dalam acara promosi doktornya dirayakan mewah sekali bila dibandingkan dengan acara promosi doktor lainnya.  Para pembimbingnya usai melaksanakan sidang promosi doktor dapat berkesempatan mengikuti seminar di luar negeri dalam waktu cukup lama.  Biaya untuk mengikuti seminar di luar negeri cukup besar. Terakhir terbetik kabar, sang doktor tersebut ditangkap pihak berwajib, dituduh melakukan korupsi bahkan sampai menjerat anak istrinya, karena ternyata keduanya mempunyai simpanan  uang yang cukup fantastis di rekening bank.

 

May 27, 2010

Enampuluh Puluh Menit

Filed under: Kampusiana — rani @ 5:57 pm

Masih ingat salah satu lagu grup band jambrut  yang dinyanyikan oleh SBY waktu kampanye Pemilihan Presiden tahun 2004? Lagu yang berjudul “Pelangi di matamu” itu syairnya  berbunyi “tigapuluh menit kita disini/tanpa suara/ dan aku resah/ harus menunggu lama/ kata darimu//. Mungkin butuh kursus/ merangkai kata/ untuk bicara/ Dan  aku benci/ harus jujur padamu/ tentang semua ini//.” Syair itu sangat bertentangan dengan apa yang terjadi dengan peristiwa yang berlangsung Rabu pagi (26/05) di Ruang Rapat Senat Fakultas Kedokteran UI Kampus Salemba Jakarta, saat Menteri Perdagangan Amerika Serikat Gary F. Locke,  memberikan ceramah ‘energi bersih’ dihadapan sivitas akademika UI.

Hanya kurang dari 10 menit Locke memaparkan tentang energi bersih, limapuluh menit berikutnya diisi dengan tanya jawab dengan para hadirin. Sungguh tidak membosankan dan harus jujur mengatakan, baru kali ini seorang pembicara begitu singkat tetapi banyak waktu diberikan untuk tanya jawab. Bicaranya tidak membosankan, jawaban yang diberikan sangat lancar seperti air mengalir, tidak terlihat para pendengarnya duduk resah, melainkan duduk tanpa suara karena terpesona. Tidak harus menunggu lama kata jawaban darinya. Gaya bicaranya yang langsung menatap kepada penanya dengan ekspresi penuh percaya diri sangat memesona. Justru beberapa penanya perlu kursus khusus merangkai kata untuk bicara.para penanyalah yang harus merangkai kata untuk bicara.

Dari seratusan hadirin yang kebanyakan para mahasiswa itu, ada duapuluh lima pertanyaan yang diajukan. Empat diantaranya menjawab pertanyaan dari twitter yang diberikan staf kedubes Amerika Serikat yang terus memantau di lap top yang berada di belakang hadirin. Memang sesi itu diperuntukkan buat para mahasiswa. Hanya ada dua penanya dari staf pengajar. Dekan FKUI mendapat giliran penanya yang ke-23. Kalau saja ada orang dari Musium Rekor Indonesia (MURI), kiranya patut dicatat diskusi tersebut merupakan diskusi yang waktunya relatif singkat dengan penanya yang cukup banyak.  Konon katanya acara itu disiarkan langsung melalui TV kompas, Republika Online dan Website UI menayangkan ulang acara ceramah itu. Tetapi mereka mengambilnya dari bagian belakang, sehingga tidak kelihatan muka dan ekspresi dari para penanya. Ingin tahu lebih lengkap dan eksklusif tentang acara tersebut? Jawabannya hanya ada pada  REPLIKA (Rekaman Peristiwa Selintas Kampus).

 

Nasi Goreng Kambing

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:41 pm

Pagi kemarin (26/05) membuat sarapan pagi untuk anak-anak yang akan berangkat sekolah. Walaupun hampir setiap pagi menyedikan makan, tetapi pagi itu agak istimewa  lain dari biasanya. Sengaja membuat nasi goreng kambing, yang kebetulan malam sebelumnya makan sate kambing tetapi masih sisa delapan tusuk lagi. Nasi goreng adalah salah satu makanan favorit dan nasi goreng kambing mengingatkan kepada pengalaman 25 tahun waktu jaman masih mahasiswa.

Sebagai salah seorang pengelola media kampus, sudah biasa kalau mengerjakan hasil liputan dan  melakukan lay out terakhir sebelum diserahkan ke percetakan (Harian Pos Kota di Kawasan Industri Pulo Gadung) dikerjakan sampai malam di kantor redaksi. Waktu itu kantor redaksi masih di Kampus Salemba, tepat di belakang mesjid ARH. Kalau mau ke toilet tinggal ke mesjid ARH, tetapi untuk urusan makan, maka harus jalan ke depan kampus menyebrangi jalan. Di sana berderet warung kaki lima ataupun warung yang menyediakan aneka makanan. Ada toko Mio Seng yang dibelakangnya tersedia warung makan masakan china. Toko ini bersebelahan dengan Apotik Tunggal (mungkin sekarang sudah tidak ada) yang  terletak di ujung jalan Bluntas  (persis di depan kampus Salemba) ini ternyata punya nilai sejarah penting, karena dalam film Pengkhianatan G30S/PKI arahan sutradara Arifin C. Noer   menjadi latar belakang salah satu sekuen filmnya. Tetapi kalau kita mengarah ke jalan Paseban (seberang mesjid ARH), kalau malam, di halaman depan pasar Paseban digelar warung kaki lima, antara lain ada nasi goreng, roti bakar, nasi uduk dan sate kambing betawi yang juga menyediakan nasi goreng kambing.

Dalam suatu kesempatan, mencoba untuk makan nasi goreng kambing, dan ternyata ‘maknyus’ sesuai selera. Sejak itu, kalau lembur menyelesaikan  tugas redaksi selalu menyempatkan diri  makan nasi goreng kambing. Penasaran bagaimana cara membuatnya, maka setiap kali makan selalu melihat si abang membuat nasi goreng kambing. Mula-mula daging kambing digoreng dengan api yang tidak terlalu besar, minyak sayur diberi mentega dan kecap, supaya bisa meresap ke daging. Kemudian barulah bumbu nasi goreng racikan sendiri dimasukkan ke wajan penggorengan, terakhir memasukkan nasi tambah merica. Nasi goreng yang telah ada di piring diberi bawang goreng dan emping yang cukup banyak.

Di rumah dicoba untuk mempraktekkan membuat nasi goreng kambing. Dalam tahap uji coba, ternyata bumbu sambal yang cocok adalah bumbu nasi goreng kokita (sebelum tejadi penarikan bumbu kokita dari peredaran karena kasus bahan pengawet). Uji coba berikutnya dibuat nasi goreng untuk konsumsi para mahasiswa. Dan ternyata mereka menyukainya. Sejak itu, kalau ada kesempatan pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, maka dibuat khusus nasi goreng kambing ala betawi. Terakhir kali membuat nasi goreng adalah waktu pertemuan dengan teman mahasiswa asrama daksinapati. Kali ini karena yang makan sudah cukup umur, daging kambingnya diganti dengan daging sapi dan komenar teman-teman berkomentar rasanya ‘maknyus’.  Itulah terakhir kali membuat nasi goreng ala betawi di rumah pribadi dekan FISIP sebelum menjadi Rektor.

Suka Duka Membimbing Calon Doktor

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:03 am

Pagi ini (27/05) ketika akan masuk kantin Prima kampus Depok, di salah satu meja terlihat ada tiga orang sedang asyik bicara. Rupanya sedang membicarakan topik tentang yang berkaitan dengan kendaraan, karena salah seorang diantaranya adalah pegawai UI yang bertanggung jawab mengurus kendaraan operasional UI. Tapi yang satu orang lagi, ternyata seorang Guru Besar salah satu Fakultas di lingkungan Salemba. Orang tidak akan menyangka kalau dia seorang professor dan pernah diserahi tugas sebagai Ketua Senat Akademik Unviersitas (SAU), dalam suatu acara Wisuda lulusan UI.

Kemarin (26/05)di Kampus Salemba, sudah bertemu dengan  profesor ini, kebetulan dia baru saja selesai memimpin sidang seorang doktor, yang menghasilkan yudisium sangat memuaskan. Dikenal sebagai  staf pengajar yang ramah dan rendah hati serta sangat low profile sekali dan itu ternyata tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Saya mengetahui dia melanjutkan S2 dan S3 di FKM, lalu mencapai Guru Besar tahun 2001. Setelah menjadi guru besar, aktif di institusi Senat akademik universitas, banyak berinteraksi dengan para guru besar dari fakultas lain. Banyak informasi yang bisa didapat dari dia dan tidak sungkan untuk menceritakannya, karena  sudah saling mengenal  sejak 25 tahun lalu. Setelah menjadi profesor hingga kemarin sudah mempromotori 9 orang doktor (Kedokteran Gigi dan Kesehatan Masyarakat) , empat diantaranya lulus dengan yudisium cum laude. Selain itu, tidak kurang dari 50 mahasiswa telah dibimbingnya menyelesaikan program magister bidang kedokteran gigi, kesehatan mayarakat dan ilmu keperawatan.

Dari pengalamannya membimbing calon doktor, dia sudah dapat mengetahui apakah seorang doktor bisa lulus biasa-biasa saja atau cum laude, dilihat dari usaha dan kerja kerasnya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Diakuinya, yang paling utama dilakukan banyak memotivasi para mahasiswanya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Dari pembimbingan ini, hubungan dengan mahasiswa bimbingannya menjadi semakin akrab dan dekat, tetapi bukan lantas memberikan nilai dengan mudah. Ada yang kemudian keakraban itu menjadi seperti hubungan anak dengan bapak. Bahkan tidak segan membantu mengongkosi biaya foto copy disertasi calon doktor. Yang paling agak merepotkan pada waktu membimbing para seniornya sendiri di fakultas. Ada saran-sarannya yang tidak pernah digubris dan bahkan cenderung agak memerintah.

Suatu saat mendapat bimbingan calon doktor dari luar daerah. Rupanya dia mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada) di salah satu kabupaten di pulau Sumatera. Calon doktor ini mintan saran bagaimana caranya dalam melakukan kampanye pilkada. Susah juga, bidang ilmu dan pengetahuan yang dipunyai tidak berkaitan dengan ilmu politik. Tetapi untuk tidak mengecewakan calon doktor, dia memberikan arahan supaya topik kampanye menekankan kepada aspek pendidikan, agama dan budaya. Hasilnya? Calon doktor itu tidak terpilih. Selidik punya selidik, ternyata pesaingnya itu telah bergelar S3, diyakini faktor ini yang menghantarkan menjadi kepala daerah. Dari peristiwa itu, sang calon doktor bersemangat untuk segera menyelesaikan doktornya, bekal untuk pilkada yang akan datang.

May 25, 2010

Kerjasama dengan Universitas Daerah

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:37 pm

Hari Selasa siang ini (25/05), Universitas Indonesia (UI) menjalin hubungan dengan Universitas Cenderawasih  (Uncen) Papua dengan melakukan penandatanganan kerjasama yang ditandatangani langsung kedua Rektor perguruan tinggi tersebut, disaksikan Dekan FISIP UI dan Dekan FISIP Uncen. Sejatinya kerjasama ini  antara FISIP UI dengan FISIP Uncen,  dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, kerjasama di tingkat universitas hanya sebagai payung untuk memudahkan kegiatan di tingkat fakultas. Sudah banyak orang dosen Uncen menggondol magister dan doktor dari FISIP UI. Kerjasama kali ini lebih merupakan memperbaharui kerjasama yang sudah terjalin sebelumnya.

 

Kerjasama yang dijalin ini merupakan sebagai tindak lanjut dari komitmen FISIP UI, tatkala merayakan Dies Natalisnya yang ke-42  Februari lalu yang ingin membantu memberdayakan perguruan tinggi daerah.  Setelah mengadakan seminar Papua beberapa waktu yang  lalu di FISIP UI, dimana dihadiri para sivitas akademika Uncen, dan sambutan mereka pun sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, maka nanti akan tiba gilirannya seminar di Papua yang diharapkan akan banyak  dihadiri para sivitas akademika FISIP UI.

 

Bagi perguruan tinggi daerah bekerjasama dengan UI mempunyai suatu prestise tersendiri karena banyak aspek positif yang didapat. Misalnya pertukaran mahasiswa dan dosen, melakukan kegiatan penelitian bersama yang nantinya dapat menumbuhkan berbagi pengetahuan dan ketrampilan diantara kedua belah pihak serta memupuk rasa percaya diri. Di samping itu ada aspek lain yang mungkin tidak disadari oleh kita. Kerjasama ini juga  sebetulnya mempunyai aspek sebagai salah satu alat pertahanan keamanan nasional. Bagaimana bisa?

 

Tahun lalu UI menjalin kerjasama dengan Universitas Borneo Tarakan Kalimantan Timur, salah satu perguruan tinggi swasta yang didirikan pemerintah daerah tahun 1999 terletak di  wilayah yang berbatasan dengan Sabah Malaysia Timur. Prof. Dr. Dorojatun Kuntjoro Jakti, mantan Dekan FEUI dan mantan Menteri Perekonomian RI secara rutin sering memberikan kuliah di Universitas Borneo. Menurut Rektornya,  Abdul Jabarsyah, Ph.D lulusan doktor dari Jepang,  banyak penduduk Kaltim yang bekerja dan tinggal di Sabah, ketika anak-anaknya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi  tidak diperbolehkan dengan alasan bukan penduduk asli Sabah. Bahkan beberapa peninggalan sejarah yang ada di wilayah Kalimantan Timur dengan seenaknya mereka beli dari penduduk dan diklaim sebagai peninggalan sejarah mereka, lalu disimpan di musium negara.Dengan adanya kerjasama bersama UI, diharapkan tidak memandang sebelah mata kepada Universitas Borneo dan tidak berlaku semena-mena. Kalau tidak ada aral melintang, bulan Juli ini, para mahasiswa UI akan melakukan kuliah kerja nyata di wilayah perbatasan, termasuk juga di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Inilah salah satu bentuk nyata partisipasi dalam menjaga pertahanan dan keamanan nasional dari institusi pendidikan tinggi.

Karangan Bunga Bela Sungkawa

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:43 am

Hari Sabtu (22/05)  menyengajakan diri ke kampus untuk beres-beres ruang kerja. Pada waktu membuka internet, ada informasi, Ibu Hasri Ainun Habibie, dalam keadaan kritis di rumah sakit di Jerman. Dengan teman-teman di kantor berkelakar, harus segera pesan bunga untuk ucapan bela sungkawa. Rupanya ada yang menanggapi serius sampai ada yang menanyakan dimana alamat rumahnya, supaya dapat segera mengirimkan karangan bunga. Seorang teman “nyeletuk”,  pesennya di toko bunga Jerman sana, supaya dapat segera sampai. Rupanya teman yang satu ini kurang informasi, dia pikir sudah meninggal dan berada di Indonesia.

Ketika hari Senin (24/05) masuk kantor, informasi tentang wafatnya almarhumah sudah menjadi pembicaraan orang. Timbul masalah bagi orang Humas, apakah harus mengirimkan karangan bunga atau tidak. Soalnya ada informasi dari yang mewakili pihak keluarga  Habibie, supaya ucapan bela sungkawa tidak usah dalam bentuk karangan bunga,  sangat dianjurkan  biaya  untuk membeli karangan bunga dikirimkan ke rekening yayasan sosial yang dipimpin almarhumah Ibu Hasri Ainun Habibie. Repotnya di  lingkaran kecil pimpinan UI banyak orang yang merasa mempunyai kewenangan untuk menentukan satu kebijakan, tetapi tanpa dilandasi informasi yang lengkap mengenai suatu persoalan serta tidak tahu  dimana sebetulnya tugas dan kewenangannya. Akhirnya diputuskan mengirimkan  karangan bunga dan juga mengirimkan uang ke yayasan Sosial.  Ada berita di media, karangan bunga yang dikirimkan oleh Wakil Presiden RI, hanya diletakkan di halaman luar dekat pagar rumah. Ini menunjukkan, contoh kecil saja dalam waktu yang singkat bagaimana seharusnya suatu kebijakan diambil supaya tidak mubazir tetapi berdaya guna yang positif.

Lain lagi pengalaman waktu Ibu Tien Soeharto meninggal puluhan tahun lalu (28 April 1996). Saat itu masih   aktif mengelola media kampus. Waktu itu memang dalam suasana libur Idul Adha. Jadi memang banyak waktu untuk mengambil suatu kebijakan. Lagi pula media kampus terbitnya dua mingguan. Sebetulnya media kampus penyebarannya hanya terbatas di lingkungan kampus dan warga kampus, berbeda dengan media umum. Tetapi seorang teman pengurus media kampus berpendapat, tidak ada salahnya kalau media kampus memuat ucapan bela sungkawa. Apalagi ini menyangkut seorang Ibu negara. Tetapi siapa yang mau memasang ucapan bela sungkawa? Akhirnya menawarkan kepada para dekan fakultas. Ternyata responnya positip, semua dekan ingin membuat ucapan bela sungkawa. Maka dibuatlah penerbitan kampus edisi khusus yang berisikan ucapan bela sungkawa. Biaya cetaknya? Ditanggung oleh para pemasang ucapan bela sungkawa. Itulah satu-satunya penerbitan kampus tanpa dibiayai sepeserpun oleh pihak rektorat.

 

Famili Seribu

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:38 am

Hari Senin sore (24/05), pada saat berkunjung ke kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Kampus Depok, secara tidak sengaja bertemu dengan salah seorang dosen senior salah satu satu departemen. Memang sudah hampir dua tahun tidak bertemu dengannya. Padahal biasanya kalau ada acara di lingkungan UI, terutama saat kegiatan gerak jalan santai Dies Natalis, dia tidak pernah absen. Waktu diceritakan, apakah dia masih ingat pada tahun 1987 ketika itu UI mengadakan kegiatan gerak jalan Salemba-Rawamangun, lalu dia memimpin undian pemberian hadiah di Gedung Sarwahita depan Asrama Daksinapati Rawamangun, dia hanya tertawa saja.

 

Menurut penuturannya, sudah sembilan bulan mendapat kepercayaan memimpin satu fakultas  perguruan tinggi negeri di salah satu Propinsi Kepulauan di Sumatera. Jadi dia jarang sekali ke Kampus Depok, kalau tidak ada keperluan yang mendesak. Perguruan tinggi negeri, dimana dia sekarang mengabdi sebetulnya baru berdiri selama dua tahun. Jadi masih serba baru, orang-orang yang mengelolanya pun masih baru, belum berpengalaman. Dari pengamatan sepintas saja sudah terlihat para pegawai yang didominasi oleh etnis tertentu itu, kinerjanya sangat rendah dan kurang profesional. Sebagai contoh, wakil dekan yang seharusnya mempunyai latar belakang pengetahuan tentang akuntansi, SDM dan administrasi, yang terjadi jabatan tersebut diduduki seorang yang berlatar belakang sosiologi dan tidak mengerti sama sekali tentang keuangan. Dan yang lebih memusingkan lagi, hampir semua pegawai yang bekerja merupakan famili seribu (bukan lagi famili seratus). Barangkali inilah salah satu karakteristik kelemahan institusi di daerah, banyak diisi orang-orang yang bukan didasarkan kepada kecakapan dan ketrampilan bekerja, tetapi atas dasar jasa-jasa seseroang, kedekatan dan hubungan kekeluargaan. Hal ini merupakan bibit-bibit tumbuhnya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

 

Jangankan di daerah, di pusat pemerintahan pun hal tersebut di atas masih saja terjadi. Saya jadi ingat  seorang teman baru-baru ini yang mengirimkan email transkrip isi ceramah Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan, di Hotel Ritz Carlton. Seorang pengusaha yang diangkat menjadi seorang birokrat dalam pemerintahan, dia mengatakan sudah tidak berbisnis lagi. Tetapi anak istri dan saudara-saudaranya masih menjadi pengusaha. Ketika sang birokrat (pengusaha tadi) mengeluarkan kebijakan, ternyata yang banyak diuntungkan adalah perusahaan isti dan anak birokrat tersebut.

 

Dahulu sempat berdiskusi  bagaimana memberdayakan lembaga-lembaga yang ada di daerah. Salah satu caranya dengan menyekolahkan orang-orang daerah di perguruan tinggi yang terkenal dari segi mutunya di kota-kota besar. Ketika mereka pulang bisa menularkan kepintaran dan pengalamannya selama menimba ilmu kepada lingkungan kerjanya di daerah. Tetapi  ada kelemahannya, ketika sudah dapat menikmati kehidupan di kota, enggan untuk pulang lagi ke kampungnya. Ada lagi pola lain, yaitu orang-orang pintar dari kota didatangkan ke daerah dan menularkan kepintarannya kepada orang daerah, tentunya dengan fasilitas dan imbalan yang sangat baik. Hal ini sempat dilakukan pada jaman Orde Baru, yaitu program Sarjana Masuk Desa, Tenaga Kerja Sarjana(TKS). Tetapi hal ini pun tidak terlalu berhasil. Pola yang dilakukan dosen senior di atas tadi, agak berbeda. Dia ditugaskan untuk mengelola institusi pendidikan tinggi di daerah, berdasarkan  pengalaman dan keahliannya selama di UI. Dalam jangka waktu tertentu diharapkan dapat berhasil membina dan mengembangkan perguruan tinggi daerah sejajar dengan perguruan tinggi di kota besar.

May 23, 2010

dr. Hasri Ainun Alumni FKUI Terbaik Telah Pergi

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:34 pm

Kemarin malam (22/05) beberapa   stasiun televisi memberitakan tentang kepergian dr. Hasri Ainun (72) yang kita kenal sebagai istri Prof.Dr.Ing B.J.Habibie, Presiden RI ke-3, pada pukul 17.30 waktu Munich Jerman, atau sekitar pukul 22.30 WIB setelah dirawat s sejak bulan bulan Maret  di salah satu rumah sakit di Jerman karena sakit jantung dan ternyata pada pemeriksaan terakhir  mengidap kanker rahim.

 

Seperti juga orang-orang sukses lainnya, kecemerlangan B.J. Habibie sebagai sebagai seorang ilmuwan tingkat dunia dan juga seorang negarawan tidak lepas dari peranan istrinya. Tidak dapat disangkal lagi disitulah dr. Hasri Ainun berperan, yang mendampingi B.J. Habibie sejak 11 Mei 1962, hingga dikaruniai 2 anak dan 4 cucu. Ini salah satu teladan bagi kaum perempuan, bagaimana mendampingi seorang suami tidak saja pada saat masa suka, masa jaya, tetapi juga pada saat menghadapi situasi dimana  sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian  masyarakat.

 

Dokter Hasri Ainun yang dilahirkan di Semarang 11 Agustus 1938 lulus  dari FKUI pada tanggal 22 Juli tahun 1961. Pada tanggal tersebut ada 117 orang yang bersamaan kelulusannya. Sedangkan dokter yang lulus tahun 1961 keseluruhannya berjumlah 142 orang. Pada saat FKUI merenovasi gedung dan perpustakaannya sekitar awal tahun 1990 an, peranan dan sumbangan yang diberikan dr. Hasri Ainun cukup besar, sehingga warga FKUI  dapat  menikmatinya seperti yang dapat dirasakan sekarang ini.

 

Kalau para alumni FKUI hari ini (23/05) mengadakan Reuni Akbar dalam rangka menyambut hari Kebangkitan Nasional Republik Indonesia, semestinya  bisa mengenang akan jasa yang telah diberikan salah satu alumninya dan akan lebih baik kalau saja jenazah dr. Hasri Ainun dapat disemayamkan di aula Fakultas Kedokteran UI. Kalau kemarin tanggal 21 Mei bisa menghadirkan  Presiden SBY  ke FKUI, maka kali ini ILUNI FKUI pastilah akan sangat mudah bila ”mendatangkan” dr. Hasri Ainun ke Kampus Salemba.

 

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun. Sesungguhnya kita ini Milik Allah dan akan kembali KepadaNya jua. Selamat jalan Ibu dr. Hasri Ainun Habibie.

 

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1950-1975 (Bag.4)

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:32 pm

Lulusan Fakultas Kedokteran UI 1970

1.Hadi Sudjono Sastrosoetomo;  2. Antonius Janus Dimpudus;  3. Lani Lestiani (Tjoe Fien Lan);  4. Lukman Sumadi (Lie Hin Goan);  5. Mochamad Soleh Natamihardja;  6. Sudarsono Hardjopradjogo;  7. Suprajitno Hardjopranjoto;  8. Anak Agung Gde Djelantik Narayana;  9. Bosman Pohan;  10. Cholid Badri;  11. Cyaus Halomoan Simandjuntak;  12. Erust J. Manuhutu;  13. Muljadi Achmad Sujudi;  14. Purbojo;  15. Soetarto Hadisumartono;  15. K.M. Sofjan Saleh;  16. Sosro Soetikno Kertopati;  17. Ny. Srikandi Umu Djafar Sani;  18. Zaini Zet;  19. Munandar Martawardaja;  20. Umar Wahid;  21. Agus Sjarif;  22. Aris Halim;  23. Endang Harjanti Gani;  24. Burhanudin Muslihun;  25. Gunawarman Basuki;  26. Hendra Gunarto;  27. Hentyanto;  28. Ima Hidayat;  29. Muhamad Istikmal Hardjosoeprapto;  30. Nancy Marfa Mochally.  31. Olly Setyadiningrat;  32. Oerip Setiono Slamet Iman Santoso;  33. Pamor Soeko Setiono;  34. Sugana Nataprawira;  35. Sugiarto Endon;  36. Sunatrio S. Sosrohardjono;  37. Tjetje Rijadi Idi Sondjaja;  38. Wiradi Mangkuwinoto;  39.  Hasni Hasan Baasri;  40. Zulkarnain Sjair;  41. Moh. Usman Atmaprawira;  42. Prajogo;  43. Hendarto Supandji;  44. Kuswadji;  45. Sjauli S. Amin;  46. Jandi Rasjid Sulaeman-LieJan Kiet;  47. Chairul Irman Pasaribu;  48. Daagland  Tambunan;   49. Harman  Harun;  50. Irwan Sutisna;  50 Pantjita Hardjasasmita;  51. Riadi-Wirawan;   52. Rihna M. Nur Idris;  53. Soehardono Sokran;  54. Fuad Badjri;  55. Erwan Setiadi;  56. Subijanto;  57. Abdul Muchit;  58. Bachruddin Isnuhandojo;  59. Burhanuddin Jusuf;  60. Gouw Sin;  61. Hardi Yusa;  62. Hidajat;  63. Hilman Mahjudin;  64. Irhamsjah;  65. Julisam Murad;  66. Leshmana  Padmasutra;  67. Muhamad Amanulah;  68. Roestadi;  69. Setiawan;  70. Kartini Arumsari;  71. Abdul Hakim;  72. Julianti Kadarusman;  73.  Ardi Sukardi Oesman;  74.  Aslan Lasman;  75. Atje Muljadi Saputra;  76. Hasrul D. Biran;  77. Jojo Sulaksana; 78. Jusuf Roekman;  79. Kajanti Soekadi Hardjo Soeseno;  80. Lie Ying Hoa;  81. Moh. Asril Mochtar;  82. Ratu Rasjid Odang;  83. Suherni Erningpradja;  84.Adji Suntoro;  85. Asman Budi S Ranakusuma;  86. Biran Affandi;  87. Bustanuddin;  88. E.M. Dadi Soejoko;  89. Djauhari Wijayakusumah;  90. Elise Latuasan;  91. Fachri Hadjat;  92. Farid Anfasa Moeloek;  93. Gulardi Hanifa;  94. Gusti Rusepno S. Hassan;  95. Hadi Subroto Wirjokusumo;  96. Hamid Ustan;  97. Harris Hamdi;  98. Hermansjah;  99. Ibrahim Ahmadsjah;  100. Imral Chair;  101. Iramasmaty Masjhoer;  102. Irmalita;  103. Melani Witarsa;  104. Mirnawati M. Aroef;  105. Moh. Dawam Marse;  106. Muhamad Jusak;  107. Murnizal Dahlan;  108. Nandang Basar;  109. Nicodemus Marbun;  110. Niken Soerbandijah Parmanto;  111. Nurhajati Sjari;  112. Parwati Soekarno;  113. Paul Tirajoh;  114. Ny. Radijanti Anny S. Maria Istigno;  115. Raldianto Koestoer;  116. Ratna Swandajani A;  117. Rizar Rizeddin R;  117. Robert J.L. Hariman;  118. Siswandi Sudiono;  119. Sjarifah Farida;  120. Sjukri Sahab;  121. Soetarto;  122. Sofian;  123. Sri C. Th. Joedaningsih Moedjono;  124. Sri Suwando Mangunwidjojo;  125. Sukantini;  126. Suwardi Maaroef Soekirno;  127. Swatriani Sutanto;  128. Taufik Abbas;  129. Tjahjanegara Winardi;  130. Tun Kurniasih;  131. Uut Uhudijah.

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1971

1.Hanafi Abbas;  2. Harjanto Kartokoesoemo;  3. Hendra Latief Kasmara;  4. Hendro Sutjipto;  5. Jusnani Nasution;  6. Juswan Effendi;  7. Lukman Hakim;  8. Lumongga Barlina Simandjuntak;  9. Marcelinus St. Gunawan;  10. Mardjanis Said;  11. Marjadi Hardja Sudarma;  12. Marwan;  13. Moh. Ali Affandi;  14. Paruhum Ulitua Siregar;  15. Adnan S. Wiharta;  16. Dangsina Moeloek;  17. Kahar Kusumawidjaja;  18. Dartosatoto;  19. Djamilah;  20. Djauhari Indraatmadja;  21. Kosasih Manaf;  22. Kuntjoro;  23. Marsilam Simandjutak;  24. Mochamad Martoprawiro;  25. Noorleila Harefa;  26. Oetomo Oesman;  27. Rudolf Muntu Satahusada;  28. Sutomo;  29. Thasman Taim;  30. Walujo Susanto Soediardjo;  31. Gayatri Suryaningsih;  32. Darnila Rani;  33. Jemfy Zubir;  34. Nukman H. Moeloek;  35. Sri Rochani;  36. Sukarman;  37. Susilowati;  38. R. Koernaso Poerwo;  39. Agus Santoso Lubis;  40. Fuaddy Jatim;  41. Ihsan Oetama;  42. Albert Lembong;  43. Aleida Jusuf;  44. Chandra Suharto Mangkusudjono;  45. Endang Sudarman;  46. Faizal Iljas;  47. Faizal Dawi;  48. Heimer Puar Sjahnawi;  49. Husein Sastrawiredja;  50. Muhamad Torisz;  51. Noerrama Trimoerti;  52. Sumiati Sumarko.Ny. Srijanta;  53. Surja Setyaadmadja;  54. Taufan Gunawan;  55. Irwan Bachtiar;  56.  Mansjurman Zubir;  57. Moch Kudori;  58. Robby L.W. Undap;  59. Sudarminto;  60.Wilmar Musram:  60. Abdul Muis Basjuni;  61. A.Rachman Wahab;  62. Achmad Antono;  63. Darlan Darwis;  64. Joon Idrus;  65. Lasma Rochani Pohan;  66. Melita Sabaloeddin;  67. Mohammad Sarengat;  68. Mpu Kanoko Sastrosuwignyo;  69. Nelly Tina Widjaja;  70. Rio Sofwanhadi:  71. Rosdiman Ganto Soearo;  72. Siti Ambarwati;  73. Sjamri Puar Sjahnawi;  74. Sjahrir Noer;  75.  Abizar Hasan;  76.  Amir Sjarifuddin Lubis;  77. Dewi Padi Astuti;  78. Fauzul Jusral Noerbar;  79. Maartin Reinhard Teterissa;  80. Mohd. Sajidi Hadipoetro;  81.  Musfari Harun;  82. Retno Indradi;  83.  R. Rustaman Sastraatmadja;  84. Soedarsono Darmadi;  85. Sri Sudarjatmi Widodo Talogo;  86. Surjadjaja Chandra;  87. Tresiaty;  88. Zulkifli Junus;  89. Widyapati Widiarto  Mangunkoesoemo;  90. Amsar Soear;  91. Aswin Abdul Madjid;  92. Fadlan Mualif;  93. Josef Saiman;  94. Kasijanto;  95. Naek Edward Pandjaitan;  96. Oemar Sidik M. Soerjomidjojo;  97. Rosneini Adnan;  98. Sampoerno;  99. Sarsanto Wibisono;  100. Zulkifli Said Amu;  101. Abdul Mun’in;  102. Achmad Hardiman;  103. Achmad Suwanda;  104. Adi Asmono;  105. Andry  Tangkilisan;  106. Azwar Boer;  107. Bedjo;  108. Bernandus Philippi;  109. Benjamin  Julianto Tanuwihardja;  110. Damajanti Rahaju Iman Soepono;  111. Dedeh  Rosida;  112. Dudung Abdullatief.  113. Elita Marcedia;  114. Endang Sri Murtiningsih Basuki;  115. Endang Muhardin;  116. Enggar Sulistiowati;  117. Eufrasia Shita Prahara;  118. Ganesja Moelia;  119. Gauthami;  120. Hario Tilarso Jahja;  121. Hediati Budiningsih Santoso;  122. Hendra Utama;  123. Husniah  Rubiana Thamrin;  124. Ichramsjah Azin Rachman;  125. Indrawarman;  126.  Julius B. Surjawidjaja Lesmana;  127. Krisnamurti;  128;  128. Teuku Mansur Puteh;  129. Maria Evy Tjandramurti;  130. Memet Rachmat Nataprawira;  131. Mintarsih Lestiani;  132. Mismasdi Mihadi;  133. Muchlis Ramli;  134. Nurman Heliarto;  135. Nizwar  Said;  136. Nurdin;  136. Olly Julianti Murni;  137. Ramli nazar;  138. Rasjidin Sjah;  139. Rianto Hadi;  140. Rochani;  141. Sarwono Waspadji Widjojobroto;  142. Saukani Gumay;  143. Sidhi;  144. Sajarifuddin;  145. Sjahruddin Muhajan;  146. Sjamsudin Abdullah;  147. Sofiarti;  148. Soleh Nugraha;  149. S.M. Sugianto Indradjaja;  150. Suarman Abidin;  151. Surachman;  152. Sutinah;  153. Tetty Ermin Setiati Gaman Ardikusumah;  154. Timotius Hardjo Lugito;  155. Togas Tulandi;  156. Trijatmo Rachim Hadi;  157. Trisna Murti;  158. Wahjudiati;  159. Wilda B. Rusli;  160. Zarni;  161. Zuljasri;  162. Zubairi;  163. Widyastuti; 164. Syahrul Sjamsjudin.

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1972

1 Widodo;  2. Achmad Sujudi;  3. Agus Sutjipto;  4. Azizah;  5. R. Budianto Barnas;  6. R. Didi Surjadi;  7. Gatot Chandra Sasmita;  8. Ida Riani Wangsapoetra;  9. Managa Sinaga;  10. Mariati Suny;  11. Mochamad Effendi Nazar;  12. Mochamad Ridwan;  13. Mochamad Sabaroellah;  14. Muhamad Ridwan;  15. Nutty Julinda Nizar;  16. Palty Radja Siregar;  17. Panahatan S.Napitupulu;  18. Pandu Setiawan;  19. Philipus Suarganda Sutojo;  20. Prijambodo Miloeredjo;  21. Rudy Lie Oen Ho;  22. Sofni Idris;  23. Sudigdo Sastroasmoro;  24. Titus Nenobais;  25. Walujo Turatmo;  26. Yuliawiratman; 27. Sidartawan Soegondho;  28. Wendy Anwar;  29. Arwin Ali Purbaja. A;  30. Damayanti;  31. Idjas Intan Tamba;  32. Janti Silaen;  33. Kasono Judonegoro;  34. Mandarsita;  35. Robidin Anggadihardja;  36. Rosita S. Noer;  37. Sri Durjati Soerjodibroto;  38. Sri Sudarmilah;  39. Swasti;  40. Tati Tirtahadi;  41. Abdul Aziz;  42. Untung Sidhi Pratomo;  43. Usman Chatib Warsa;  44. Zafiral Azdi Albar;  45. Henky Sembalangi;  46. Sri Rezeki Riniastuti;  47. Emma Salamah Jacob;  48. Marwah Abdullah;  49. Amir Sjarifuddin Madjid;  50. Eddy Prajitno;  51. Lucia Y. Shinta;  52. Nanang Achadiat;  53. Sjahrir Anwar;  54. Fx. Sudyanto;  55. Untung Sudomo;  56. Widjajanti Kromodimoeljo;  57. Philipse M.H. Sinaga;  58. Dahlia Darjo Abdulgani;  59. Joesrafli Joenoerhan;  60. Lukas Sudirga;  61. Rachmadi Djoko Suwifnjo;  62. Rachmad Mursalim;  63. Ratna Herawati;  64. Ratna Pertiwi Tamsari;  65. Sri Adiarti;  66. Achmad Fadyl;  67. Endang Sulistyo S. Ch;  68. Muljana Sastranegara;  69. Moch Amir Thayeb;  70. Nana Supriana;  70. Retno Adi Sukaohandari;  71. Sri Wahjudiati Koentoro;  72. Amir Husein Anwar;  73. Azairul Bustami;  74. Bing Koesnan;  75. Damijanti Rooseno Amadin;  76. Darman Sjahminan;  77. Farida;  78. Farid Budiman;  79. Iskak Djoko Sujono;  80. Kusmeinani;  81. Kwee Sian Ing;  82. Pristiwadji Siswosumanto;  83. Supranoto Gunarso;  84. Chandra Kusuma Santosa;  85. Djihad Widodo Rahardjo;  86. Hartati Alamsyah;  87. Irvan Satyawan-Jap Goan Lee;  88. Mohamad Isa;  89. Pamudji Santosa;  90. Richard Lolong Wulung;  91. Soedarwono;  92. Waris Abdul Ghaib;  93. Ermanu Basuki;  94. Farida Nur;  95. Hariadi Darmawan;  96. J. Siman Lawunegoro;  97. Pudjiarto Margono;  98. Richard Paul;  99. Soedjiono;  100. A.J. Soendaroe Prawito;  101. Abdulbar Hamid;  102. Adiwarty Djalil;  103. Andang Hamiarsa Joesoef;  104. Anhari Achadi;  105. Arjanto Suwondo;  106. Azrul Azwar;  107. R. Bambang Wiratno;  108. Djoko Widodo;  109. Dwiarti Soebarkat;  110.  Emmy Sudarmi Sjamsoe;  111. Endang Susalit;  112. Harry Isbagio;  113. Hendarwanto;  114. Henry Naland;  115. T.P. Herdiman;  116. Himawan Sasongko;  117. Imelda Emilia Dharma;  118. Indrawati Gunawan;  119. Jurifda Saidi;  120. Machjar;  121. Nora Christina Hutadjulu;  122. Nulyani Pudjiastuti;  123. Nuzuar Jacob;  124. Paulus Lody Setiawan;  125. Pridady;  126. Rabindranath S. Udayana;  127. Rachmadi Purwana;  128. Rianto Setiabudy;  129. Robert Surjana Hilman;  130. Sambudi Mondrowinduro;  131. Setyawati Budiningsih;  132. Sjachriar Achmad;  133. Siti Farida I. Thajeb;  134. Sri Adiasih;  135. Sri Astuti Soedarso;  136. Sri Rahayuningsih;  137. Sudinarjati;  138. Soegiharto;  139. Susilowardhani Padmaseputra;  140. Thomas Tabalujan;  141. Titi I. Sukijati;  142. Toto Hermanto;  143. Widarjati Soemarno;  144. Ade Setiadi Djuwari;  145. Amir Setiati Sjarif;  146. Martono Pryatman;  147. Mianela Rachman;  148. Ishak Jusuf; 149. Mohamad Sutomo;  150. Ruhul Aflah;  151. Sewandono;  152. Wiguno Prodjosudjadi; 153. Hasan Arifin.

 

 

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1973

1 Abdul Karim  2. Achmad Saleh  3. Adi Teruna Effendi  4. Albert Mangindari  5. Djajusman Jahjadinata  6. Firman Boer  7. Hassan Mustafa  8. Hedy Handoko  9. Indrijono Tantoro  10. Kustiadi Kusasih  11. Mandarwati  12. Naazif Sjahbudin  13. Ratnaningsih  14. Samri Na Umar  15. Sjahridar Said  16. Sriati Titi Lestari  17. Sri Damajanti Harahap  18. Sudarto  19. Sudjoko Kuswadji  20. Sukandar Tulus  21. Suparmanto  22, Suranto  23. Toto Hidajat S  24. Usman Djalal  25. Zulkifli Isja  26. Ali Umar Achmat  27. Amel Anton  28. Bambang Herman  29. Erwin Siregar  30. Evie Tilaar maria  31. Helmi  32. Heri Subagyo Suwarno  33. Indra Susanto  34. Margaretha Winarti  35. Mustafa Ardi  36. F. Sardi Satyawirawan  37. Shinta Dewi  38. Sudjoko Prajitno Tedjowinoto  39. Tarmizi Hakim  40. Tatjana Laila Meriam  41. Trisna Murni  42. Ukes Kasmarawati  43. Wahjudi Sahadi  44. Budi Astuti Sjamsirin  45. Nana Sunarja  46. R. Soedartanto  47. Rumita  48. Agus Suprapto  49. Andi Rizal Jenie  50. Dewi Rubini  51. Djajadilaga  52.Djajalelana  53. Djoko Pramono  54. Djoko Rahardjo Kromodiprodjo  55. Erna Wilis  56. Fachtiati Oesman  57. Firdaoes Saleh  58. Herwandar Sastrasupena  59. Idral Darwis  60. Rd. Ishak Galih  61. Kemala Purnama Waty  62. Moeliadi  63. Muzakkie  64. Osmina Chairani  65. Philipus Messah  66.  Pranoto  Setyono Setyamurti  67. Ratna Surya Widya  68. Retno Hadiati  69. Rudy Malihono Adisasmito  70. Santyowibowo  71. Sri Hartoeti  72. Sri Sumarti  73. Sri Utami  74. Subagjo  75. Suhatta  76. Suiliani Sutiono  77. Irsal Yan  78. Surjanto Hartono  79. Susworo  80. Titi Sekarindah  81. Djaja Budiman  82. Djoko Sudibjo  83. Inneke Iskandar  84. Izwan Saat  85. Michael Koentakoesoema  86. Muhamad b.Usman Jahja  87. Nas Darisan  88. Poltak A.S.H. Panggabean  89. Achmad Chairi  90. Azwin Saat  91. Budi Boedaja A. Mertadjaja  92. Edi Pramono  93. Giri Muljono  94. Moeslim Danny Simabur  95. Muljati Arief  96. Quratul’aini Ch. Biran  96. Rachmat Nikmat Tjaja  97. Rahajuningsih Dharma  98. Satoto Kusasi  99. Shopia Kiensih P. Soerodjotanojo  100. Tjepi Firmantoro Aloewie  101. Widjajanto  102. Iman Effendi Yahma Siregar  103. Zainal Azhar  104. Ali Alhabsji  105. Arief Oerip  106. Budiarti Wirasmani  107. Chaidir Azma  108. Djoharnas Soetedja  109. Djoko Suharno  110. Djoko Waspodo  111. Edi Anggoro  112. Etty Sri Setiahati  113. Fauziah  114. Fuad Nawawi  115. Resna  116.  Hanafiah Hoesain  117. Hatta Basir  118. Humarwati Sri Hartati  119. Kusdiantomo  120. Leonardus Landy kaligis  121. Muchtar Jusuf  122. Mohammad Ruswan Rijagede  122. Peter Albert William  Pattinama  123. Petrus Silalahi  124. Pudji Hastuti  125. Sajekti Endang Tawangsaasi  126. Sribangun  127. Sudijanto Kamso  128. Sundari Setyaningsih  129. Susman Iskandar  130. Wasis Prajitno  131. Widjaja Frans  132. Wirjanto Surjodiputro  133. Zainal Bakri  134. Abdul Hadi Martakusuma  135.  Abrar Hasjim  136. Agus Sudiro Waspodo  137. Andi Tangendjaja  138. Augustine Saksono  139. R. Bambang Irawan  140. Bambang Sidharta  141. Bambang Sutrisma  142. Djoko Prajitno  143. Djuneidi Djusan  144. Dotti Indrasanto Soekarno  145. Entjeng Haidajat  146. Erijati  147. Erwina Harahap  148. Franciscus Putuhena  149. Gilbert Supartono S  150. Isnani Azizah Salim  151. Joedo Prihartono  152. Surjono Slamet Iman Santoso  153. Karno Suprapto  154. Lely Nurlely Djalinus  155. Mardiana Oemar  156.  Mashati Djamil  157. Mochamad Rauf Iskandar  158. Mochamad Sadikir  159. Moh. Wachju Hadisaputra  160. Murniati Muluk  161. Nida wannahari Nasution  162. Nila Djuwita Nizar  163. Parmono  164. Paulus Frans matulessy  165. Petrus Dermawan Tjahjadi  166. Razmi Carnady Zanir  167. Robert Reverger  168. Roestantie  169. Rom Haider Pangajoman  170. Rudy Hartono Taarea  171. Rusali Ibrahim  171. Rustam Tinoval  172. Siswanto  173. Siti Annisa Nuhonni  174. Siti Masmu’ah  175. Srimurdjiati Fikrie  176. Sugito Wonodirekso  177. Surjadi Soeparman  178. Tamin Suliman  179. Titi Lestari  180. Tony Sutono Hadimuljo  181. Umar Tariq Saleh  182. Unggul Budihusodo  183. Wahju Setiakusumah  184. Zulkifli Djanin.

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1974

1 Anwaruddin Gani  2. Bambang Sugeng  3. Bambang Sunarjuniarto  4. Barlian T.P. Siagian  5. Ike Mangasa Pandapotan Siregar  6. Kabul Martosiswojo  7. Lucia Maria Renitha A. Sugondho  8. Machjudin  9. Marulam Melchisedec Panggabean  10. Moh. Rojani Husein  11. Nani Dharmasetiawati  12. Rahardjo W irjokusumo  13. Rohadji  14. Rudi Nuriadi  15. Slamet Zainuddin  16. Soerjowinahjoe  17. Sugijanto Djoharman  18. Permanasari  19. Teuku zulkifli Jacoob  20. Zamril Daja  21. Zarfiel Tafal  22. Arnis Djamaan  23. Binawati Harjanta  24. Budiman  25. Daniel Makes  26. Djewaladi  27. Gondo Siswanto Gozali  28. Happy Djoko Muljono  29. Herman Tjipto  30. Hermawan Setiadi  31. Kusmarinah Soemadi Bramono  32. Luki Rukmini Parwoto  33. Maramis Ahmad Hisham  34. Mohamad Ansor  35.  Muhamad Naharuddin Jenie  36. Muljana Hasan  37. Prajna Paramita  38. Santoso Gunardi  39. Saraswati  40. Sri Indrati Adityani  41. Sri Wahjuni Retnaningsih  42. FX. Subagjo Partodihardjo  43. Wandaningsih  44. Abdul Latief  45. Atep Sumarjana Achmaddinardja  46. Aulia Sjawal  47. Bambang Sukamto  48. Bintarja Pradyasaputra  49. Dahlia Kusumaningsih Yoga S  50. Daisy Rumijati  51. Damanhuri  52. Djauhar  53. Eduardus Nugroho (E. Kwik Hoo Swan) 54. Hasballah  55. Hendro Soelaksono  56. Herlian Siangan Tanudjaja  57. Hidajat Gunawan  58. Jusni Ichsan  59. Lukito Soerjodibroto  60. Nanang Sukmana  61. Ny. Oemi Salamah W. Reksoprodjo  62. Pintordo Haluaon Hutagalung  63. Ny. Ratna Djuwita Halim  64. Rusdhy Hoesein E. Eidroes  65. Samodra Soeparman  66. Sosialisman  67.  Sunanto Roewijoko  68. Surjono Wibowo  69. Surono Soedardjo  70. Umar Fahmi Achmadi  71. Peter Hasan Hajanto Widianto  72. Purnomo Prawiro  73. Sujudi Soetjitro  64. Sutjipto  65. Adityawarman  66. Andarwendah  67. Azwir Hamid  68. Baharuddin  69. Budijanto Sutedjo  70. Dedy Soeratno  71. Janti Iljas  72. Nurlaily Sjamsudin  73. Luthfi Hamzah  74. Suhendra Kemandjaja  75. Tatang Surahman  76. Gunawam Jamin  77. Raden Gunawan Wiriadisastra  78. Jafisna Djamal  79. Sonny Moersasono  80. Saudy Noer  81. Swarna Tirtadjaja Souw Eng Soen  82. Bambang Murdoto  83. Galib Aziz  84. Hardy Sendjaja  85. F.X. Hartono Gunawan – Tan Bing Hong  86. Irawaty Fauzia  87. Izhar Muhammad Fihir  88. R.Lukman Soeminta  89. Thamrin Thaib  90. Yunanto Sam Un Bashor  91. Herman Simorangkir  92. Sorta Sudung Simorangkir  93. Abdul Hamid Harun  94.  Adnil Basha  95. Agus Kristanto 96. Agus Muljono  97. Aida Fathya Anwar  98. Alida Roswita  99. Alwin S.P. Simandjuntak  100. Ambril Nurdin  101.  Andreas Hidajat  102. Antonius Harjono  103. Arie Saminarto Soetopo  104. Aries Wiganda  105. Ariono Arianto Abdurachman  106. Arnold Bismar H. Simandjuntak  107. Asrori  108. Badrijah  109. Benny I. Sendjaja  110. Betsy Dorkas tutupoly  111. Budi Utomo  112. Celyanda Goeltom  113. Chaula Luthfiah Djamaloeddin  114. Dewi Chairani Gaizir  115. Djunaedi Tjakrawardaja  116. Dukut Respati Kastomo  117. Dwi Wahjono  118. Ernita  119. Faizah Nur Idris  120. Farida Indradjaja  121. Ferial Hadipoetro  122. F.X. Mustafa Widjaja  123. Gatot Soetono  124. Harjoto Kusnoputranto  125. Harun Ryanto  126. Helen Dwi Santoso  127. Hermia Moegni  128. Ilham Utama Marsis  129. Junizarman  130. Kardianto  131. Kunadi Tanzil  132. Maizul Anwar  133. Maman Suratman Wiriatmadja  134. Manoefris Kasim  135. Maria Dwikarja  136. Maria F. Listianingsih  137. Marjuni  138. Mohamad Badar  139. Mohamad Riduan Joesoef  140. Nylma Midin  141. Noverdy  142. Parlindungan Siregar  143. Pim Gonta  144. Redik Suroto  145. Retno Djuwita  146. Rusdi Maslim  147. Salim Shidharta  148. Sardja As  149. Siti Hariani  150. Sri Harmijanti  151. Sugianto  152. Suhardjono  153. Sulaksito  154. Sumanto  155. Surjadi Firmansjah  156. Susanto  157. Tan Mahatis  158. Toka Hideo Pangemanan  159. Tony Iman Tedjasulaksana  160. Utojo Wibowo  161. Untung Sutrisno  162. Victor Tambunan  163. Wasis Santoso  164. Winarno  165. Winarno Sarkawi  166. Yidaningrum Soeharsono  167. Elise V. Lilian  168. Junus Iskandar  169. Hario Untoro  170. Setiowati   171. Zulkifli Hakim.

Lulusan Fakultas Kedokteran UI  Tahun 1975

1  Agus Budiman Lubis  2. Amal Chalik Sjaaf  3. Azir azwien Jenie  4. Darjono  5. Dian Dhamajani  6. Gunawan Slamet  7. Hari Bagianto  8. I Made Wisnu  9. Jimmy Lumanau  10. Teuku Lukman Nul Hakim  11. Nasrin Kodim  12. Rachman Ibrahim  13. Rachmi  14. Ratna Djuwita Soedarpo  15. Ratnawati Latief   16. Rusdiharun  17. Sjamsul Bakri Athar  18. Sulasmi  Warsa  19. Surawan  20. Widodo  21. Wushadi El Ironie  22. Amna Mochtar  23. Ascobat Gani  24. R. Bagdjowaluyo Hardiwinangun  25. Bambang Irawan  26. Bambang Karsono  27. Bambang Wiro Prawito  28. Chandra Svaras  29. Daris Nu’man Masrur  30. Drupadi Harnopidjati  31. Deskian Kostermans  32. Eddy Surjanto  33. Farida Zubier  34. Ferman Sjahsatta  35. Halida Meiza  36. Hasan Shahab  37. Hatma Tunggul Manik Sukirna  38. I Made Djaja  39. Kus Sularso  40. Marsono  41. Muhamad Hidajat Ismail  42. M. Nasir  43. Roesmawi Rifin  44. Rohsiswatmo  45. Rudianti Prihastuti Soebekti  46. Salmy Dhalimi  47. Samjudo Soetopo  48. Sjafrizal  49. R. Sutrisna Radiwinata  50. Tigor Hutabarat  51. Wachju Hidyana Atmadja  52. Agus Rachmat  53. Baharoedin Ildrem  54. Bambang Krisdarmadji Hardono  55. Basuki Nugroho  56. Budi Indrawasih Wreksoatmodjo  57. Busje Judakusuma  58. Chammal Nadjir  59. Christiphorus Peter Soekarno  60. Djatnika Ismail  61. Hanafiah  62. Hendarto Sirjoso  63. M. Husni Thamrin  64. Johnny Jurian Arifin  65. Mustafa Akbar  66. Radiarty Djamaris  67. Sjafril Ramawi  68. Sjaiful Ichwansjah Biran  69. Sjukriman  70. R. Sulaksono Talkoeto  71. Sunarja  72. Titus Mabe Halomoan Simorangkir  73. Widya Pramudji  74. Ali Mohamad Shahab  75. Atang Ali Mahbub  76. Aspas Aslim  77. Bambang Sujoko  78. Bikrulmal  79. Farida Djafar  80. Hadipratomo  81. Iwan Sjamhuri Achmad  82. Jerlis Machudum  83. Monang Tampubolon  84. S. Nugroho Hadisumarto  85. Satrya Alam Pohan  86. Titi Fauzia Moertolo  87. Widajanto Soeratman  88. A. Budiman Rahardjo  89. Darwisjah D. Harahap  90. Herman Kaligis  91. Jekti Hartati  92. Junida Marzuki  93. Jusmiastuti  94. Moch Nizar  95. Purwantyastuti  96. Rusdi Ali Halid  97. Toha Mohaimin  98. Abdullah Nasir  99. Adi Sasongko  100. Aminah Noor  101. Aru Wisaksono Sudojo  102. Betsy kalianda  103. Betty Kalianda  104. Budhy Setyanto  105. Dharma Kumara Widya  106. Djamhari Zainuddin  107. Djoko Sekti Wibisono  108. Edith Kindangan  109. Eddy Saparwoko  110. Eko Widyanto Rusli  111. Farida Oesman  112. Handi Rohandi  113.  Hartati Latief  114. Hari Sabardi  115. Hudori Umar  116. Imam Susanto  117. Imansjah  118. Irawan Muchidin  119. Jenni Kim Dahliana  120. Jimmy Passat  121. Johan Harlan  122. Julius Hanafi  123. Julizir Moezahar  124. Kalimas Muda Harahap  125. Kemal Nazaruddin  126. Kemala Hajati  127. Krishnanda Widjajamukti  128. Kukung Kurnia  129. Maria Jani Hartono  130. Meliana Zailani  131. Pendi Tjahja Perdjaman  132. Ny.Popie Pramudji Winarno  133. Rainy Umbas  134. Sadewantoro Kusumadjaja  135. Sawitri Chaernaliza  136. Setyawan Adrianto  137. Sutjipto  138. Tubagus Djumhana Atmakusuma  139. Wahjuning Sediati  140. Abdul Azis Amir Huwel  141. Djoko Judojoko  142. Herlina pangkerego  143. I Made Pastika  144. Salma Hasjim  145. Sardikin Giriputra  146. Atjang Sukarja  147. Chairil Hamid  148. Dwi Juwono  149. Harini Hadinoto  150. A. Irwan Hadimulja  151. Nurchadidjah Busthami  152. Slamet Sujono  153. Toniman Koesoemawidjaja.