April 30, 2010

Mesjid Kampus, Warna Warni Tragedi dan Romantisme

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:04 am

Jum’at lalu (23/04) berkesempatan melaksanakan shalat Jum’at di Mesjid Attauhid Arif Rahman Hakim (ARH) Kampus Salemba Jakarta. Inilah shalat Jum’at yang pertama kali, setelah Mesjid selesai direnovasi akhir tahun lalu, yang mendapat bantuan pendanaan dari keluarga Kerajaan Saudi Arabia. Bangunan yang dulu hanya berlantai satu  dan pada waktu shalat jum’at selalu luber memenuhi halaman parkir dan lorong jalan sekitar gedung rektorat. Kini bangunan menjadi tiga lantai, tidak ada lagi cerita shalat Jum’at  berebutan tempat memenuhi lorong dan halaman rektorat. Tapi, kok rasanya ruangan panas sekali, kipas angin yag dipasang tidak bisa mengusir hawa panas dalam ruangan.

Menyimak  tiga mesjid yang berada di  Kampus UI, yaitu Mesjid ARH di Kampus Salemba, Mesjid Attaqwa di Kampus Rawamangun dan Mesjid Ukhuwah Islamiyah (UI) di Kampus Depok, ada beberapa kesamaan atau kesejajaran dalam hal riwayat dan fungsi mesjid tersebut, yang dapat dirangkum dalam suatu kata yaitu paduan antara tragedi dan romantisme, khusunya bagi aktivis mahasiswa. Setelah tragedi MALARI (Malapetaka Limabelas Januari) tahun 1974, dimana para aktivis mahasiswa UI ditangkap dan dipenjarakan Rezim Orde Baru, praktis kegiatan para aktivis mahasiswa menurun, kalau tidak dikatakan mati sama sekali. Tahun 1978 mahasiswa “bergerak” kembali, namun lagi-lagi dapat diredam  para aparat keamanan. Yang tadinya pusat gerakan mahasiswa berpusat di organisasi kemahasiswaan (Dewan Mahasiswa), menjelang akhir tahun 1970 an, para mahasiswa justru beralih menjadikan mesjid sebagai pusat gerakan. Pada mulanya para mahasiswa  belajar  mendalam tentang agama. Tetapi kemudian sebagian para aktivis mahasiswa “memanfaatkannya” untuk gerakan politik.

Lihatlah Mesjid Attaqwa. Dahulu lokasi mesjid di dalam kompleks perumahan dosen UI, berupa bangunan kecil sederhana yang tidak permanen. Tahun 1980 an, kalau shalat Jum’at,  jamaah yang terdiri dari para dosen, mahasiswa (UI dan IKIP) serta masyarakat sekitar, memenuhi mesjid sampai ke halaman. Karena letaknya cukup jauh dari lingkungan kampus, kegiatan di mesjid ini tidak terlalu ramai dan kurang banyak diminati para mahasiswa. Beberapa tahun kemudian, saat Prof.Dr. Nugroho Notosusanto menjabat Rektor UI dibangun mesjid permanen cukup besar berlantai 2, bangunan utama untuk shalat di atas sedangkan bangunan bawah dipakai untuk ruang pertemuan dan resepsi pernikahan. Mesjid baru ini letaknya di pinggir lapangan bola di ujung kompleks perumahan dosen, dekat dengan pemukiman penduduk. Karena lokasi yang cukup jauh  dari lingkungan kampus, kegiatan mesjid kurang aktif  dipakai kegiatan yang melibatkan mahasiswa. Tetapi pernah juga ada dosen UI yang memakai mesjid ini untuk acara pernikahan kedua kalinya. Terakhir mendapat kabar, para pengurus mesjid yang terdiri para mantan dosen yang tinggal di komplek perumahan dosen, mendirikan sekolah TK dan SD. Ternyata, belakangan bangunan sekolah ini dipertanyakan pihak Kementrian Pendidikan Nasional karena dianggap menyalahi aturan.

Mesjid ARH yang letaknya berada dalam lingkungan kampus Salemba, menjadi tempat para  mahasiswa  beraktivitas tidak saja memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga mulai “disusupi” unsur-unsur politik praktis dari kalangan luar kampus. Fahmi Basya, mahasiswa FMIPA pengurus mesjid ARH, ditangkap pihak intel, karena (dituduh) melakukan percobaan pembuatan bom di kompleks mesjid ARH. Kemudian ketika terjadi revolusi Islam  Iran (1979) yang digagas Ayatullah Rohullah Khomeini, ada juga para  mahasiswa UI yang terpengaruh dan menjadi penganut aliran Islam Syiah. ( ada satu orang  yang jelas-jelas menyatakan penganut Syiah, kini menjadi petinggi Partai Demokrat). Ketika ramai-ramainya kegiatan da’wah metode baru yang diperkenalkan Dr.Ir. Imanuddin dari mesjid Salman ITB Bandung (Latihan Mijahid Da’wah/LMD), para mahasiswa UI pun tidak ketinggalan mengikuti kegiatan tersebut dalam satu kegiatan  bernama Integrasi Studi Tentang Islam (ISTI).  Menteri Riset dan Teknologi RI sekarang ini,  Suhana Surapranata, adalah salah satu mahasiswa yang mengetahui dengan persis aktivitas dan dinamika mesjid di kampus  Salemba karena pernah bertugas sebagai pengurus perpustakaan mesjid ARH.

Berbeda waktu, berbeda pula jamannya, begitu pula dinamika kehidupan mesjid UI di kampus Depok. Sempat menjadi salah satu nominasi penghargaan Aga Khan Award karena keserasian antara arsitektur dengan lingkungan alam sekitarnya, mesjid di Kampus Depok ini menjadi contoh bangunan dan ditiru oleh berbagai kalangan. Gejolak dan dinamika mesjid seperti di kampus  Salemba tidak terasa. Di mesjid inilah dimulai tradisi para dosen dan pimpinan UI/Fakultas diberi giliran untuk mengisi Khutbah Jum’at sesuai dengan bidang disiplin ilmu yang ditekuninya. Malahan pada masa kepemimpinan Rektor Prof. M.K. Tadjudin, memberikan khutbah Jum’at yang khusus ditujukan kepada para wisudawan yang kebetulan melakukan shalat Jum’at sebelum mengikuti kegiatan gladi resik wisuda. Tradisi rektor memberikan khutbah Jum’at ini kemudian diteruskan oleh Rektor Prof. Gumilar R. Somantri. Di mesjid kampus Depoklah dibuat tradisi baru memanfaatkan teknologi informasi dimana khutbah Jum’at ditayangkan secara video streaming di website UI,  pokok-pokok isi khutbah ditayangkan melalui layar lebar yang terletak di atas mimbar dan beberapa TV layar datar di sisi kanan dan kiri ruangan mesjid.

Beberapa kali mesjid kampus UI Depok menjadi tempat janji suci pertemuan dua hati yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan, baik dosen atau pun mahasiswa. Seorang teman bercerita, betapa mesjid UI punya arti yang mendalam dalam kehidupannya. Karena setelah melakukan shalat malam dan berkhalwat di mesjid UI, mendapatkan jodoh orang asing seorang mualaf. Sebaliknya, seorang mantan aktivis mahasiswa yang juga dosen UI dan termasuk dalam kalangan dosen pesohor (selebriti) karena pendapatnya banyak dikutip berbagai media dan menjadi narasumber berbagai seminar, mempersunting buah hatinya di mesjid UI pula. Tapi rupanya mahligai rumah tangganya tidak berjalan mulus, sehingga akhirnya harus putus di tengah jalan (walaupun akhirnya menikah lagi dengan  wanita pesohor juga). Itulah dinamika mesjid kampus, penuh dengan warna warni tragedi dan romantisme.