April 20, 2010

Walanda dan Kisah Kerbau

Filed under: Kampusiana — rani @ 6:18 pm

Aya Walanda saparakanca bawa kabar ka Sastra (UI) katanya pada Salasa (20/04) ada “veryaardag” 60 TH pangajaran bahasa Walanda, makanya sang (Dubes) Dr. van Dam ngahaja babaca sagala apa adanya antara Walanda dan Indonesia, kata kang Kabayan sang wartawan.

Ya, betul memang hari selasa ini (20/04) hingga sabtu diperingati 40 tahun pengajaran Bahasa Belanda di Indonesia,  yang bernaung di bawah Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Kegiatan yang akan berlangsung hingga 24 April ini akan diakhiri di rumah Max Havelaar Rangkasbitung. Ada yang menarik pernyataan Dubes Kerajaan Belanda untuk Indonesia Dr. Nikolaos van Dam  yang mengatakan, nama daerah Lebak Banten  merupakan salah satu kota yang paling dikenal kebanyakan masyarakat Belanda, dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

.Hal ini memang tidak mengherankan, karena 150 tahun lalu (1860), terbit sebuah buku karangan Multatuli (nama samaran Max Havelaar, seorang asisten residen yang bertugas di Lebak Banten),  menceritakan tentang sepak terjang pemerintah Kolonial Belanda dan para penguasa pribumi (Bupati dan Demang) yang menindas rakyat pribumi.  Kisah ini pada tahun 1976 kemudian di filmkan dengan judul “Saijah dan Adinda”  yang diproduksi oleh Fons Rademaker Film. Para pemainnya antara lain Peter Faber, Sacha Bulthuis, Krijn ter Braak, Joop Admiraal, Rutger Hauer, Rima Melati dan E.M. Adenan Soesilaningrat.

Bicara perkara Walanda, jadi ingat waktu pembuatan skripsi tahun 1980 an. Waktu itu bingung milih topik apa. Minat ke bidang film tapi matakuliah yang diberikan terbatas. Akhirnya dipilih skenario film,  mengopy dari perpustakaan Sinematek yang waktu itu kepalanya Misbach Yusa Biran (suami artis Nany Wijaya). Supaya berbeda dari yang lain (orsinil) dan tidak ada unsur plagiat dipilihlah skenario film Saijah dan Adinda. Maka jadilah skripsi berjudul “Potret Tiga Tokoh dalam Skenario Film Saijah dan Adinda”. Walaupun menurut penilaian sineas (alm) D.A Peransi film Saijah dan Adinda tidak ada yang istimewa, tetapi secara simbolik ada hal menarik dari cerita film itu. Ketika sampai pada tahap teori komunikasi apa yang akan dipakai untuk menganalisis skenario, timbul kebingungan. Akhirnya dipakailah teori komunikasi yang dikemukakan George Gerbner. Pada masa itu teori dia tidak terlalu populer di kalangan teman-teman mahasiswa komunikasi. Waktu maju sidang  was-was juga, jangan-jangan salah  menerapkan teori.

Kembali ke soal film Saijah & Adinda, sebetulnya ada yang lebih menarik untuk dilihat lebih jauh dari aspek simbolisasi. Cuma karena waktu dulu belum menemukan  teori komunikasi yang tepat sebagai alat untuk menganalisis, maka tidak jadi bahan skripsi. Hal yang menarik tersebut yaitu kerbau yang ada dalam film tersebut. Pada film  digambarkan bagaimana Saijah  begitu lengket dengan kerbau yang terkesan pendiam dan lambat. Tetapi pada sekuen lain sang kerbau berubah menjadi beringas dan perkasa ketika menghadapi harimau yang akan “mengganggu” sang majikannya. Dengan “tandukannya” berhasil mengalahkan sang raja hutan. Dari inspirasi ini (diduga kuat) Raden Saleh membuat lukisan kerbau dan harimau yang legendaris itu. Begitu pula konon katanya, bapak pendiri bangsa ini, mendirikan partai  dengan memakai kepala kerbau (banteng) sebagai lambang partainya.

Rupanya Multatuli sudah sejak dulu membuat perumpamaan/simbol kerbau sebagai penjelmaan dari rakyat kebanyakan.  Dalam cerita-cerita pada beberapa sukubangsa, di Indonesia, kerbau senantiasa muncul. Kita kenal Minangkabau di Suku Minang, atau Mundinglaya Dikusumah pada masyarakat Sunda. Tapi di Belanda rupanya beda lagi, sapilah yang jadi ikon negeri keju itu. Satu lambang kesejahteraan negeri kincir angin tersebut. Rupanya orang Indonesia masih ingat kemakmuran Belanda itu karena hasil kolonialisme di Indonesia. Sehingga muncullah peribahasa KERBAU PUNYA SUSU, SAPI  PUNYA NAMA.

Menyimak SIMAK UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:13 am

Tanggal 11 April 2010 lalu berkesempatan mengikuti pemantauan kegiatan Sistim Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI) ke berbagai sekolah bersama tim dari UI. Lokasi yang dipantau yaitu SMAN 68 Jakarta dan SMAN I Bogor. Dua tempat  dari 52 lokasi  yang menjadi  tempat SIMAK UI. Dua lokasi di luar negeri yaitu di Malaysia dan  China.

 

Di SMAN 68 Jakarta, seorang peserta ketahuan memakai jam tangan, yang ternyata benda tersebut komputer mini, diyakini berisi jawaban soal-soal yang sedang diujikan. Pada jam tangan tersebut terdapat urutan nomor dengan jawaban berupa hurup a, b, c dan d. Dalam keterangan waktu konferensi pers, Rektor UI menyatakan  perbuatan yang dilakukan oknum peserta SIMAK UI tersebut tidak dilakukan sendirian, tetapi bekerja sama dengan yang lain, terutama dengan penyelenggara bimbingan tes. Jawaban yang ada pada komputer mini jam tangan tersebut belum tentu benar, karena tidak mungkin terjadi kebocoran soal, Rektor menjamin pengamanan soal SIMAK UI sangat ketat.

 

Teringat pengalaman masa lalu, saat menjalani ujian masuk UI di Stadion Senayan (Gelora Bung Karno). Tidak seperti ujian SIMAK sekarang, dilakukan di ruangan/kelas ber AC, peserta ujian tahun 1980  yang mencapai enampuluh ribuan  orang memadati kursi di stadion senayan, yang  full angin  kencang sekali. Apalagi kalau sudah menjelang jam sembilan, ketika matahari semakin tinggi, panas terik mulai menyengat sebagian peserta ujian yang mendapat tempat di bagian barat. Beberapa tahunkemudian sempat juga bertugas  sebagai pengawas ujian ketika ujian sudah dilaksanakan di ruangan sekolah-sekolah. Dan sempat juga menjabat sebagai wakil  penanggung jawab lokasi, yang tugas utamanya membawa hasil ujian dari lokasi ujian hingga ke sekretariat pusat panitia ujian dengan aman. Dalam kurun waktu itu, secara kebetulan bertemu dengan orang-orang yang ternyata mempunyai peranan dapat meloloskan peserta masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan. Diantara mahasiswa yang “dibantu” itu ada yang tidak dapat meneruskan pendidikan alias drop out (DO) dan ada pula yang dapat meraih kesarjanaan.

 

Apa hikmah dari pengalaman ini?

Kehidupan ini aneka ragam, berwarna warni, tidak hitam putih serta tidak lurus namun berkelak kelok penuh dengan tikungan tajam. Satu saat barangkali kita terjatuh dalam satu kelokan. Tetapi bukan lantas kita menjadi luluh dan terus menerus mengeluh. Tujuan dan jarak yang harus ditempuh masih jauh. Karena itulah maka dalam diri kita semangat hidup  senantiasa bertumbuh.