April 19, 2010

Runtuhnya Peradaban

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:33 am

Ada yang mengganggu dalam pikiran tatkala media televisi dan berbagai media cetak  menayangkan serta mengulas peristiwa  “Priuk Berdarah” yang terjadi pada minggu kedua di Bulan April 2010. Seperti ada sesuatu yang hilang, ada luka yang  tadinya sudah sembuh dan tertutup rapat, kini luka itu menganga kembali.

 

Bagi generasi muda ibukota Jakarta yang lahir tahun 1970 an, pasti akan mengenal  peristiwa “kerusuhan” yang terjadi di Priuk  pada tahun 1980 an, dan  tokoh sentral masyarakat Amir Biki menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap rezim pemerintahan. Maka kini kita mengenal Mbah Priuk yang “merasuki” warga masyarakat untuk mengadakan “perlawanan” terhadap petugas Satpol PP yang akan melakukan “penertiban” terhadap kompleks pemakaman Mbak Priuk. Walaupun dua peristiwa tersebut sangat berbeda dalam hal substansi  yang menjadi permasalahan sehingga timbul bentrokan, tetapi ada satu kesamaan yaitu  dalam hal tindak kekerasan yang terjadi antara kedua belah pihak yang bertikai.

 

Tindak kekerasan atau lebih tepatnya kebrutalan yang terjadi menunjukkan, betapa kita ini semenjak reformasi  digulirkan tahun 1998, tidak bisa belajar banyak untuk bisa hidup lebih baik dan beradab, melakukan komunikasi timbal balik, peka terhadap permas alahan yang terjadi, menjalankan pemerintahan yang bersih dan menegakkan aturan dengan baik yang tidak menimbulkan konflik dan tindak kekerasan. Menimbang setiap tindakan yang akan dilakukan, tidak hanya dari aspek materi saja melainkan juga aspek sosial budaya. Masihkah kita tetap berpegang atas nama kekuasaan melakukan tindakan sewenang-wenang menindas kaum yang lemah. Atau atas nama agama sambil mengagung-agungkan yang maha pencipta melakukan tindakan kekerasan, menyiksa orang yang sudah tidak berdaya?

 

Apa yang dikatakan Ketua PMI Jusuf Kalla dalam wawancara dengan Metro TV Minggu sore (18/04) mungkin ada benarnya. Masyarakat bertindak brutal sebagai reaksi atas ketidakadilan yang dilihat dan dirasakan selama ini. Jurang kaya miskin yang sangat timpang yang dipertontonkan di media massa, penindakan terhadap orang yang melanggar hukum yang tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat dan lain-lain.

 

Aspek neatif yang timbul karena peristiwa Priuk berdarah ini bisa terjadi seperti berikut ini. Betapa bodoh dan gegabahnya Pemda DKI melakukan suatu tindakan sehingga menimbulkan kerugian korban jiwa, materi mencapai 22 milyar rupiah dan ketidakpercayaan serta menurunkan kewibawaan   di mata masyarakat. Dan di kalangan masyarakat semakin meyakini akan “kesaktian” dari Mbah Priuk, suatu keyakinan yang bisa membelokkan keimanan seorang muslim terhadap Kemahakuasaan Tuhan Allah. Kalau memang  demikian yang terjadi, maka runtuhlah peradaban ini.