April 14, 2010

Budaya Perilaku Bersih

Filed under: Lain-lain — rani @ 3:44 pm

Kalau dalam tulisan terdahulu disinggung tentang budaya hidup bersih, maka kali ini mencoba untuk menelaah tentang perlunya budaya perilaku bersih, sebagai suatu reaksi terhadap pemberitaan dan penayangan berita tentang kasus pencekalan Susno Duadji ke Singapura, Markus yang melibatkan SDJ serta  kasus mantan pejabat Pajak BA.

Rupanya slogan tentang reformasi birokrasi yang dicanangkan POLRI masih bersifat sekedar slogan belum sampai pada tahap implementasi di lapangan. Lihatlah perilaku dari para anggota Propan POLRI. “Menyergap” Susno di tempat buangan kotoran dan dilakukan oleh petugas setingkat Kombes, yang tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang etika dan cara-cara penanganan suatu kasus sudah cukup tinggi. Apakah ini hasil daripada pendidikan yang didapat di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK)? Apa bedanya dengan perilaku prajurit polisi  (tingkat pendidikannya SLA) dalam menghadapi para demonstran? Apakah perlu dievaluasi  kurikulum PTIK, supaya tidak menghasilkan kombes-kombes macam yang menangani Susno Duadji?

Kemudian mengenai kasus SDJ, salah satu stasiun televisi swasta memberitakan SDJ ini dipecat dari kepegawaian Kementrian Departemen Luar Negeri karena kasus ijazah palsu. Kalau informasi ini bisa dipercaya, suatu hal yang hebat bisa mendapatkan posisi sebagai staf khusus Jaksa Agung dan staf khusus di Kepolisian. Tapi rupanya budaya perilaku tidak bersihnya (memalsukan ijazah) tidak bisa hilang begitu saja. Sehingga menganggapnya profesi markus bukan sesuatu  yang salah.

Sedangkan mengenai kasus mantan Pejabat Pajak BA yang tidak mempunyai rekening sendiri, melainkan memakai rekening istri dan anaknya, perilaku yang sangat tidak sehat sekali. Karena dengan demikian selain  mencoreng semua keluarga juga akan mengakibatkan menjebloskan anak istrinya ke penjara. ini barangkali contoh yang paling tepat untuk peribahasa (jawa) “Soarga nunut, neraka katut”, seorang istri harus nurut sama suami, diajak ke surga ikut, ke neraka pun siapa takut!  Kalau semua keluarga ada di penjara, siapa dong yang akan mengurus harta kekayaannya? Padahal sudah dikumpulkan dengan cape (cape ‘ngeles’ karena takut ketahuan didapat dari cara yang tidak bersih).

Apa hikmah dari semua kejadian ini? Yang lebih aman kembali kepada ajaran agama, yang mengarahkan masa depan kita akan kemana menuju, bagaimana cara mencari harta kekayaan yang baik, bagaimana perilaku kita yang semestinya di alam semesta ini.