April 8, 2010

Gracias Papua

Filed under: Kampusiana — rani @ 9:18 am

Judul tulisan kali ini memang agak provokatif. Ini memang suatu kesengajaan terinspirasi setelah menghadiri simposium mengenai Papua di FISIP kemarin (07/04) dan akan berlangsung hingga Jum’at besok. Kalaulah memang pernyataan Dekan FISIP UI kita yakini kebenarannya ( masa depan Indonesia ada di Papua), maka  sudah semestinya kita memikirkan bagaimana strategi pembangunan  ke depan bagi Papua.

Apa yang diingat jika mendengan penjajahan Belanda? Maka tentulah dalam benak pikiran kita terbayang penjajahan Belanda selama tiga setengah abad “mengangkangi” Indonesia. Banyak jejak telah ditinggalkan, selain banyak hal yang buruk, tetapi ternyata juga  ada aspek positif yang sampai saat ini sangat dirasakan manfaatnya. Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI yang melakukan presentasi dalam forum simposium internasional tentang Perubahan Iklim di UI bulan Maret lalu. Ternyata pihak pemerintah kolonial Belanda, sudah sejak dulu mengantisipasi kemungkinan akan terjadi  banjir menimpa Batavia. Maka dibuatlah kanal-kanal secara bertahap untuk menyalurkan air hujan ataupun air kiriman dari Bogor dan sekitarnya. Dan ternyata kini, strategi pembuatan kanal itu diteruskan oleh pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi banjir.

Bulan lalu sewaktu UI dan Universitas Pertahanan menyelenggarakan kegiatan seminar nasional tentang kedaulatan dan keutuhan NKRI, Faisal Basri salah seorang pembicara menyatakan, penjajah Belandalah yang mempersatukan wilayah kerajaan-kerajaan di Nusantara menjadi wilayah NKRI seperti sekarang ini dengan cara-cara yang negatif, yaitu politik ‘adu domba’. Di Papua, ada ‘milestone’ atau jejak Belanda yang senantiasa terekam pada benak kaum terpelajar Indonesia, yaitu Boven Digul, salah satu daerah di Papua tempat pembuangan para pejuang  Indonesia. Ada salah satu Guru Besar FISIP UI yang dilahirkan disana. Para pejuang yang dibuang inilah sebetulnya yang sangat berjasa mengajarkan bahasa Indonesia kepada masyarakat Papua.

Dulu, dan mungkin hingga kini masih ada anggapan di sebagian kalangan masyarakat Papua, aparat pemerintahan yang bukan orang asli Papua dianggapnya sebagai “penjajah”. Selain itu, karena secara etnisitas orang asli Papua berbeda dengan orang-orang Indonesia lain pada umumnya, mereka menganggap bukan bagian dari NKRI. Inilah salah satu alasan kuat, kenapa di Papua semangat untuk memisahkan diri dari NKRI begitu kuat. Karena itulah, maka kemarin Freddy Numbery memberi solusi, supaya orang asli Papua diberi kesempatan menduduki jabatan penting dalam birokrasi di berbagai wilayah di luar Papua. Hal ini memang sudah terjadi walaupun hanya beberapa orang saja. Di ITB misalnya orang pasti akan mengenal ahli fisika putra asli Papua.

Tetapi yang jelas, pola penjajah Belanda yang dapat diterapkan untuk pembangunan Papua, yaitu apa yang telah dilakukan VOC (maskapai dagang Belanda) dengan penjajah Belanda. Mereka ’berduet’ mendatangi berbagai pulau di Indonesia. VOC membeli hasil bumi sementara penjajah Belanda menanamkan pengaruhnya kepada para penguasa/raja setempat. Jika saja pola seperti ini (pihak swasta dan pemerintah) bersinergi melakukan tugasnya masing-masing di Papua, maka dalam waktu tidak terlalu lama Papua akan berkembang dengan pesat. Alih-alih  ada Preeport yang telah menyumbangkan 10 % keuntungannya kepada pemerintah Indonesia, tetapi rupanya belum cukup menyejahterakan warga Papua, yang terjadi dan muncul ke permukaan amuk warga terhadap keberadaan perusahaan asing tersebut.

Saya menduga, ketika Freddy Numbery diangkat sebagai Menteri Perhubungan oleh Presiden , bola ”pembangunan” Papua berada ditangannya. Karena ditangannya bisa dibangun sarana dan prasarana perhubungan di Papua, yang dapat menghubungkan 3000 an kampung terisolir di Papua. Pola pembangunan di Papua harus berbeda dengan di Jawa, dimana sistem alokasi pendanaan disamaratakan.  Trio antara Gubernur Papua, Papua Barat dengan Menteri Perhubungan akan sangat menentukan Papua empat tahun ke depan. Kita lihat saja bagaimana perkembangan yang terjadi selanjutnya tentang Papua.

GRACIAS !  PAPUA ! dan akan selalu menjadi bagian dari NKRI.