April 7, 2010

Papua, Antara Dongeng dan Fakta

Filed under: Kampusiana — rani @ 4:24 pm

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Indonesia (FISIP UI) bersama Universitas Cendrawasih (Uncen)  menyelenggarakan kegiatan Simposium dan Lokakarya Nasional Papua, yang berlangsung dari tanggal 7 hingga 9 April 2010 di Kampus Depok. Dihadiri antara lain Menteri Perhubungan RI, Rektor UI, Pembantu Rektor Uncen, Dekan FISIP UI dan Dekan FISIP Uncen. Tema yang diusung yaitu “peran Universitas dalam Mewujudkan Pembangunan Papua yang Berbasisi Masyarakat dan Berkelanjutan.”

Kegiatan ini merupakan realisasi keinginan Dekan FISIP UI pada saat memperingati HUT FISIP ke-42 tanggal 2 Februari lalu, yang akan mengetengahkan persoalan bangsa, diantaranya mengenai pembangunan di kawasan Indonesia Timur, yang jarang mendapat perhatian perhatian publik bahkan pemerintah pusat sekalipun. Padahal ada ‘pepatah’ di kalangan sementara elite yang menyatakan,  Jawa itu adalah Indonesia masa lampau, Indonesia Barat  masa kini dan Papua adalah Indonesia masa mendatang.Sementara menurut Freddy Numbery, Menteri Perhubungan yang asli Putra Papua, Penanganan terhadap Papua harus memakai pendekatan yang bersifat spesial dan khusus. Barnabas Suebu, Gubernur Papua melihat persoalan utama di daerahnya yaitu meyangkut good governance dan pembenahan SDM. Pada kesempatan itu ada pendapat yang menarik dari Conny Semiawan, pengamat pendidikan yang baru-baru ini melakukan penelitian mengenai keberlanjutan pendidikan di Papua. Dia menambil 1500 sampel  anak-anak hingga usia 8 tahun dari seluruh Papua. Hasilnya 77 % anak-anak tersebut tidak bisa berkembang kalau mengikuti sistem pendidikan yang diterapkan di Jawa. Tetapi diakui banyak anak Papua yang cerdas dan pintar.

Bicara soal Papua ini, jadi teringat peristiwa tahun 1985, ketika dilakukan Kongres Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) yang pertama di Universitas Diponegoro Semarang. Salah seorang pembicara pada salah satu sesi acara adalah George Junus Adicondro wakil dari salah satu LSM Irian Jaya  (dahulu). Berambut panjang dan brewokan, menyandang tas khas Irian. Banyak membicarakan mengenai keadaan di Irian (waktu itu). Dari sana sini banyak mendapat informasi, kalau  para pejabat penting Papua, jarang ada di tempat, tetapi mudah ditemui di Jawa. Tadi juga ada seorang peserta, aktivis LSM di Memberamo yang mengeluhkan sukar bertemu dengan pejabat setempat. Padahal banyak hal yang harus dibicarakan sambil melihat langsung keadaan di lapangan. Seperti yang diutarakan Barnabas Suebu, dulu APBD Papua 70 % diantaranya habis untuk kepentingan para pejabat dan hanya 10% saja alokasi anggaran untuk kepentingan masyarakat. Kini, APBD Papua sudah mencapai 20 trilyun, hanya 27 % saja anggaran untuk kepentingan pejabat dan 45% untuk masyarakat. Dari 3000 an kampung di seluruh Papua, rata-rata mendapat 200 jutaan untuk pembangunan masing-masing kampung.

Seorang teman bercerita, bagaimana pihak asing ‘mengincar’ kekayaan alam di Papua dengan berbagai cara, bahkan sampai membujuk supaya keluar dari NKRI. Fakta yang terjadi Freddy Numbery kerapkali didatangi petinggi dari negara adidaya dan negara tetangga dari selatan. Tetapi Freddy suka balik menghardik, kurang lebih begini, “lebih baik urusin tuh hak dan kesejahteraan orang-orang Indian/Aborigin.”

Ada keunikan tersendiri di Papua. Kalau orang-orang di Jawa mungkin seumur hidupnya belum pernah ada yang merasakan naik pesawat. Maka kalau di Papua jangankan manusia, khewan ternak pun sudah biasa menikmati naik pesawat.