April 6, 2010

Demokrasi , Partai Politik dan Kekuasaan

Filed under: Lain-lain — rani @ 9:20 am

Hari  selasa ini (06/04) secara resmi dibuka kongres ke-3 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Bali. Satu partai yang  beroposisi terhadap pemerintah. Sementara dalam mingu-minggu ini pula di televisi gencar ditayangkan iklan yang mempromosikan salah satu kandidiat Ketua Parta Demokrat. Partai Demokrat adalah yang mengusung SBY menjadi presiden dan SBY juga menjadi salah satu pembina partai tersebut. Kemudian beberapa waktu yang lalu juga pemberitaan di media di ramaikan dengan kegiatan lembaga swadaya masyarakat yang diprakarsai Surya Paloh dengan nama Nasional Demokrat. Mari kita simak sama-sama bagaimana sepak terjang partai dan kandidat tersebut dan bagaimana pula hasil akhirnya.

Rupanya kata demokrasi memang sedang digandrungi atau paling tidak jadi satu “cap dagang”  kalangan tokoh elite untuk meraih simpati masyarakat. Berbagai cara dilakukan, berbagai upaya  ditempuh. Misalnya saja iklan (layanan masyarakat) di televisi. Bagaimana seorang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang demokrat sejati, ketika ditanya oleh pers dia menjawab, “saya mengerti betul jalan pikiran SBY dan saya tahu keinginan Ibu Ani.” Atau juga ada pernyataan seperti ini, “Ketika saya membangun negeri ini, saya belajar langsung dari pendiri republik ini.” Cobalah perhatikan dengan seksama, apa inti dari pernyataan tersebut? Jelas sekali orientasinya kepada penguasa dan terhadap kekuasaan. Memang sah-sah saja, karena itu memang tujuan dari orang yang berpolitik. Masalahnya adalah apakah dengan demikian akan juga memperjuangkan nasib dan kesejahteraan rakyat?

Hal inilah yang dikritik oleh J. Kristiadi, pada saat menjadi pembicara di Kampus Depok (29/03) dalam acara Seminar Nasional ”Apakah Kedaulatan Negara, Keutuhan Wilayah dan Keselamatan Bangsa Masih Dapat Dipertahankan?” Pada seminar tersebut pengamat politik dari CSIS  J. Kristiadi jelas menyatakan, yang membuat negara carut marut seperti sekarang ini adalah karena sepak terjang partai politik. Sehingga menurutnya perlu dibuat undang-undang khusus yang mengatur dan membatasi partai politik. Karena pengalaman selama ini menunjukkan, ternyata partai politik  tidak bisa diatur dan cenderung menyalahgunakan kekuasaan.

Saya jadi teringat tahun 1980 an, ketika masih kuliah di Kampus Rawamangun. Waktu itu setiap mahasiswa FISIP UI wajib untuk membaca buku ”Dasar-Dasar Ilmu Politik” karangan Prof. Dr. Miriam Budiardjo (yang tahun 2007 telah mengalami cetak ulang ke-30 dan telah diterbitkan pula edisi revisinya di tahun 2008). Pada buku itu ada kutipan kata-kata Lord Acton, seorang ahli sejarah Inggris yang kemudian menjadi termashur. Ucapannya itu adalah ”Power tends corrupt, but absolute power corrupt absolutely.” Manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, tetapi manusia yang mempunyai kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya secara tak terbatas pula.