April 5, 2010

Ada ‘Gajah’ di Pelupuk Mata

Filed under: Kampusiana — rani @ 9:31 am

Gonjang ganjing tentang pajak di jagat Nusantara tercinta akhir-akhir ini, menggedor memori penulis tentang pengalaman dalam mengikuti hal-hal yang berkaitan dengan perpajakan. Beberapa bagian tulisan ini mungkin kurang akurat karena lapuk termakan jaman. Tetapi tujuannya yaitu mengingatkan kembali kepada kita, betapa maksud yang mulia dalam pelaksanaannya jangan lupa untuk senantiasa memperhitungkan faktor manusia.

Pengalaman pertama  waktu jaman Orde Baru, pada dekade 1980 an  ketika Dirjen Pajak dipegang oleh  orang Sunda . Waktu itu pemerintah sedang-gencar-gencarnya menggalakkan pajak, sehingga perlu dibuat kampanye sadar pajak. Salah satu yang giat mengkampanyekan pajak yaitu sebuah perusahaan bernama Bina Rena Pariwara. Ada teman satu angkatan di FISIP yang bekerja disitu dan mengajak untuk mendokumentasikan kegiatan peluncuran kampanye sadar pajak. Dibuat berbagam macam kegiatan, salah satu diantaranya yaitu lomba membuat sloga  pajak. Muncullah slogan-slogan baru misalnya “Orang bijak, bayar pajak”, “pajak untuk pembangunan bangsa” dan sebagainya. Waktu itu juga secara berkala diumumkan pembayar pajak terbesar dan diberikan penghargaan dari  pemerintah. Urutan teratas pembayar pajak selalu dipegang oleh para konglomerat. (walaupun akhirnya ketahuan juga, ‘pengemplang’ uang negara terbesar dipegang oleh para konglomerat juga).Dari hasil kampanye itu ternyata pemasukan uang negara dari pajak sangat besar dan belum pernah dicapai pada tahun-tahun sebelumnya. Dari kegiatan ini, Dirjen Pajak diberikan penghargaan  Bintang Adi Pradana, sebagai putra terbaik bangsa yang telah memberikan jasa yang sangat luar biasa kepada negara. Setelah itu, ihwal perpajakan menjadi redup dan tidak terdengar dalam percaturan dunia pemberitaan.

Pengalaman berikutnya lagi pada tahun 1993, ketika itu dibangun gedung Program D3 Ilmu Administrasi FISIP UI. Pada saat itulah untuk pertama kalinya Program D3 di UI membangun gedung tersendiri dan dengan biaya sendiri pula. Ilmu Administrasi FISIP waktu itu sedang mengalami ”booming” yang luar biasa, karena adanya program studi fiskal dan perpajakan, yang banyak diminati para mahasiswa karena ternyata lulusannyata banyak dibutuhkan di pasar tenaga kerja. Kemudian pada tahun 2005. Dirjen Pajak mengadakan sosialisasi tentang perpajakan dan seminar perpajakan di kampus Depok. Selain Dirjen Pajak ( Hadi Purnomo) hadir pula Gubernur Bank Indonesia Boediono. Seperti biasa jika ada  kegiatan penting, penulis kebagian untuk mendokumentasikannya. Waktu itu Dirjen Pajak mengutarakan tentang reformasi di lingkungan perpajakan, terutama dalam mendeteksi wajib pajak. Dikembangkan pula peralatan teknologi informasi untuk mendeteksi para wajib pajak. Peralatan ini dapat mendeteksi rumah wajib pajak hingga sedetil-detilnya, misalnya punya berapa mobil, rumahnya apa rumah mewah atau biasa, melalui peralatan dengan bantuan satelit. Dengan demikian maka apabila wajib pajak tersebut membayar kewajibannya tidak sesuai dengan kekayaannya, akan dapat diketahui.

Rupanya para petinggi Direktrorat  Pajak pun tidak lupa untuk menaikkan kesejahteraan pegawainya, tetapi alpa untuk  mendeteksi gerak-gerik para pegawainya, karena peralatan canggih yang dipunyainya hanya dipakai untuk memata-matai para wajib pajak. Maka terjadilah ’kebobolan’ seperti yang sekarang sedang terjadi. Kalau boleh mengambil kata pepatah, apa yang terjadi di Direktorat Jenderal Pajak sekarang ini adalah bagaikan, ”kuman di seberang lautan tampak, ternyata ada ’gajah’ di pelupuk mata tidak kelihatan.”