April 30, 2010

Mesjid Kampus, Warna Warni Tragedi dan Romantisme

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:04 am

Jum’at lalu (23/04) berkesempatan melaksanakan shalat Jum’at di Mesjid Attauhid Arif Rahman Hakim (ARH) Kampus Salemba Jakarta. Inilah shalat Jum’at yang pertama kali, setelah Mesjid selesai direnovasi akhir tahun lalu, yang mendapat bantuan pendanaan dari keluarga Kerajaan Saudi Arabia. Bangunan yang dulu hanya berlantai satu  dan pada waktu shalat jum’at selalu luber memenuhi halaman parkir dan lorong jalan sekitar gedung rektorat. Kini bangunan menjadi tiga lantai, tidak ada lagi cerita shalat Jum’at  berebutan tempat memenuhi lorong dan halaman rektorat. Tapi, kok rasanya ruangan panas sekali, kipas angin yag dipasang tidak bisa mengusir hawa panas dalam ruangan.

Menyimak  tiga mesjid yang berada di  Kampus UI, yaitu Mesjid ARH di Kampus Salemba, Mesjid Attaqwa di Kampus Rawamangun dan Mesjid Ukhuwah Islamiyah (UI) di Kampus Depok, ada beberapa kesamaan atau kesejajaran dalam hal riwayat dan fungsi mesjid tersebut, yang dapat dirangkum dalam suatu kata yaitu paduan antara tragedi dan romantisme, khusunya bagi aktivis mahasiswa. Setelah tragedi MALARI (Malapetaka Limabelas Januari) tahun 1974, dimana para aktivis mahasiswa UI ditangkap dan dipenjarakan Rezim Orde Baru, praktis kegiatan para aktivis mahasiswa menurun, kalau tidak dikatakan mati sama sekali. Tahun 1978 mahasiswa “bergerak” kembali, namun lagi-lagi dapat diredam  para aparat keamanan. Yang tadinya pusat gerakan mahasiswa berpusat di organisasi kemahasiswaan (Dewan Mahasiswa), menjelang akhir tahun 1970 an, para mahasiswa justru beralih menjadikan mesjid sebagai pusat gerakan. Pada mulanya para mahasiswa  belajar  mendalam tentang agama. Tetapi kemudian sebagian para aktivis mahasiswa “memanfaatkannya” untuk gerakan politik.

Lihatlah Mesjid Attaqwa. Dahulu lokasi mesjid di dalam kompleks perumahan dosen UI, berupa bangunan kecil sederhana yang tidak permanen. Tahun 1980 an, kalau shalat Jum’at,  jamaah yang terdiri dari para dosen, mahasiswa (UI dan IKIP) serta masyarakat sekitar, memenuhi mesjid sampai ke halaman. Karena letaknya cukup jauh dari lingkungan kampus, kegiatan di mesjid ini tidak terlalu ramai dan kurang banyak diminati para mahasiswa. Beberapa tahun kemudian, saat Prof.Dr. Nugroho Notosusanto menjabat Rektor UI dibangun mesjid permanen cukup besar berlantai 2, bangunan utama untuk shalat di atas sedangkan bangunan bawah dipakai untuk ruang pertemuan dan resepsi pernikahan. Mesjid baru ini letaknya di pinggir lapangan bola di ujung kompleks perumahan dosen, dekat dengan pemukiman penduduk. Karena lokasi yang cukup jauh  dari lingkungan kampus, kegiatan mesjid kurang aktif  dipakai kegiatan yang melibatkan mahasiswa. Tetapi pernah juga ada dosen UI yang memakai mesjid ini untuk acara pernikahan kedua kalinya. Terakhir mendapat kabar, para pengurus mesjid yang terdiri para mantan dosen yang tinggal di komplek perumahan dosen, mendirikan sekolah TK dan SD. Ternyata, belakangan bangunan sekolah ini dipertanyakan pihak Kementrian Pendidikan Nasional karena dianggap menyalahi aturan.

Mesjid ARH yang letaknya berada dalam lingkungan kampus Salemba, menjadi tempat para  mahasiswa  beraktivitas tidak saja memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga mulai “disusupi” unsur-unsur politik praktis dari kalangan luar kampus. Fahmi Basya, mahasiswa FMIPA pengurus mesjid ARH, ditangkap pihak intel, karena (dituduh) melakukan percobaan pembuatan bom di kompleks mesjid ARH. Kemudian ketika terjadi revolusi Islam  Iran (1979) yang digagas Ayatullah Rohullah Khomeini, ada juga para  mahasiswa UI yang terpengaruh dan menjadi penganut aliran Islam Syiah. ( ada satu orang  yang jelas-jelas menyatakan penganut Syiah, kini menjadi petinggi Partai Demokrat). Ketika ramai-ramainya kegiatan da’wah metode baru yang diperkenalkan Dr.Ir. Imanuddin dari mesjid Salman ITB Bandung (Latihan Mijahid Da’wah/LMD), para mahasiswa UI pun tidak ketinggalan mengikuti kegiatan tersebut dalam satu kegiatan  bernama Integrasi Studi Tentang Islam (ISTI).  Menteri Riset dan Teknologi RI sekarang ini,  Suhana Surapranata, adalah salah satu mahasiswa yang mengetahui dengan persis aktivitas dan dinamika mesjid di kampus  Salemba karena pernah bertugas sebagai pengurus perpustakaan mesjid ARH.

Berbeda waktu, berbeda pula jamannya, begitu pula dinamika kehidupan mesjid UI di kampus Depok. Sempat menjadi salah satu nominasi penghargaan Aga Khan Award karena keserasian antara arsitektur dengan lingkungan alam sekitarnya, mesjid di Kampus Depok ini menjadi contoh bangunan dan ditiru oleh berbagai kalangan. Gejolak dan dinamika mesjid seperti di kampus  Salemba tidak terasa. Di mesjid inilah dimulai tradisi para dosen dan pimpinan UI/Fakultas diberi giliran untuk mengisi Khutbah Jum’at sesuai dengan bidang disiplin ilmu yang ditekuninya. Malahan pada masa kepemimpinan Rektor Prof. M.K. Tadjudin, memberikan khutbah Jum’at yang khusus ditujukan kepada para wisudawan yang kebetulan melakukan shalat Jum’at sebelum mengikuti kegiatan gladi resik wisuda. Tradisi rektor memberikan khutbah Jum’at ini kemudian diteruskan oleh Rektor Prof. Gumilar R. Somantri. Di mesjid kampus Depoklah dibuat tradisi baru memanfaatkan teknologi informasi dimana khutbah Jum’at ditayangkan secara video streaming di website UI,  pokok-pokok isi khutbah ditayangkan melalui layar lebar yang terletak di atas mimbar dan beberapa TV layar datar di sisi kanan dan kiri ruangan mesjid.

Beberapa kali mesjid kampus UI Depok menjadi tempat janji suci pertemuan dua hati yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan, baik dosen atau pun mahasiswa. Seorang teman bercerita, betapa mesjid UI punya arti yang mendalam dalam kehidupannya. Karena setelah melakukan shalat malam dan berkhalwat di mesjid UI, mendapatkan jodoh orang asing seorang mualaf. Sebaliknya, seorang mantan aktivis mahasiswa yang juga dosen UI dan termasuk dalam kalangan dosen pesohor (selebriti) karena pendapatnya banyak dikutip berbagai media dan menjadi narasumber berbagai seminar, mempersunting buah hatinya di mesjid UI pula. Tapi rupanya mahligai rumah tangganya tidak berjalan mulus, sehingga akhirnya harus putus di tengah jalan (walaupun akhirnya menikah lagi dengan  wanita pesohor juga). Itulah dinamika mesjid kampus, penuh dengan warna warni tragedi dan romantisme.

April 29, 2010

Kabayan Membuktikan Plagiat Seorang Profesor

Filed under: Kampusiana — rani @ 11:30 am

Menurut wikipedia Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri (untuk mendapatkan keuntungan baik materil maupun non materil bagi kepentingan pribadinya. Tambahan dari penulis). Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

Kalau pengertian plagiat itu seperti di atas, sesungguhnya  sudah sejak jaman dahulu kala terjadi. Dan  hal tersebut tidak bisa dihindari. Plagiat bukan saja dalam bentuk tulisan, tetapi dapat juga plagiat berupa produk, ide, gagasan, lagu/nyanyian ataupun suatu sistem. Maka ada sebagian orang yang berpendapat, bukankah lebih baik kalau gagasan/ide, tulisan, produk seseorang diperbanyak, dijiplak dipublikasikan oleh banyak orang. Karena hal tersebut berarti sangat bermanfaat bagi banyak orang dan turut menyosialisasikan/memasyarakatkannya?

Alkisah pada jaman dahulu kala di negara antah berantah, sudah berkembang peradaban yang luar biasa majunya dibandingkan dengan yang terjadi di daratan Eropa dan Amerika. Malahan sudah banyak orang-orang pintar dan bergelar profesor. Pokoknya negara tersebut gemah ripah repeh rapih lohjinawi kerta raharja.

Tersebutlah ada satu orang pintar. Pintar dalam bertutur kata tidak saja secara lisan sangat memukau pendengarnya, tetapi juga piawai dalam menuliskan gagasan-gagasannya dalam bentuk tertulis. Kalau dia berpidato, yang mendengarkannya bagaikan disihir, terpaku diam, mulut menganga, lupa akan pekerjaan yang sedang dikerjakan, karena terpesona dengan gaya oratornya yang sangat luar biasa. Semua orang ingin mendengar dan melihat langsung orang pintar ini berpidato. Akan halnya buku-buku hasil karya tulisannya, laris bagaikan pisang goreng, diserbu para peminat dan penggila buku, tidak peduli berapa harganya. Boleh dikatakan setiap kali buku hasil karyanya terbit, selalu terjual habis. Selain pintar pidato dan piawai menulis orang pinter ini juga sudah meraih gelar profesor, karena ketekunan dan pengabdiannya dalam membimbing dan menurunkan ilmunya kepada para anak asuhannya. Sungguh sangat sempurnalah orang pintar yang bergelar  profesor ini.

Terbetik kabar, di negara tersebut ada seorang warganegara biasa bernama Kabayan. Orang kebanyakan yang sederhana, lugu, sekolah dasar juga tidak tamat, periang, jenaka dan cenderung malas-malasan dan senantiasa bertindak seenak perutnya. Tetapi dikaruniai otak yang lumayan cerdas, selalu mempunyai ide-ide yang nyeleneh dalam melihat setiap permasalahan yang ada. Karena sifat dan watak seperti itulah maka masyarakat memanggilnya dengan julukan Si Kabayan.

Suatu hari dia melihat penduduk kampungnya berbondong-bondong pergi ke lapangan sepakbola di kampungnya. Kabayan merasa heran dan bertanya-tanya, gerangan apakah yang terjadi. Dia pun ikut arus massa menuju lapangan sepakbola. Dari kejauhan tampaklah lautan manusia memenuhi lapangan. Sesekali terdengar suara gemuruh dan teriakan ditingkahi suitan yang saling bersahut-sahutan. Rupanya orang pintar sedang melakukan pidato tentang suatu masalah. Isi pidatonya yang sangat memukau dan mengena di hati para pendengarnya. Tetapi rupanya si Kabayan punya pendapat lain tentang orang  pintar ini.

Dalam suatu kesempatan acara yang menghadirkan pembicara orang pintar ini, si Kabayan tampil ke depan forum dan menyatakan, orang pintar itu sebagai PLAGIAT, karena semua isi pembicaraannya hasil dari menyontek dari satu buku. Kemudian si Kabayan pun mengeluarkan sebuah buku dan diperlihatkan kepada para hadirin. Semua hadirin yang melihatnya terbelalak melihat aksi si Kabayan tersebut. Tetapi kemudian tertawa tergelak-gelak. Buku apakah gerangan yang dikeluarkan si Kabayan? Tiada lain buku yang sangat tebal sekali yaitu KAMUS BAHASA  INDONESIA.

(Selamat memperingati Hari Kelahiran Bahasa Indonesia   tanggal 2 Mei )

 

 

April 28, 2010

Dibalik Peristiwa Peresmian Kampus Depok

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:03 am

Ada tonggak (milestone) tertentu yang menjadi penanda suatu peristiwa bagi seseorang atau suatu institusi yang senantiasa menjadi peringatan sebagai suatu “jejak dan langkah” baru dan lembaran perubahan kehidupan menuju yang lebih baik. salah satu tonggak itu adalah peresmian kampus baru Universitas Indonesia (UI) di Depok pada tanggal 5 September 1987.

 

Sekelompok mahasiswa pengelola media kampus  resmi universitas (SKK Warta UI), tidak tinggal diam untuk mengabadikan peristiwa yang langka dan lembaran baru kehidupan kampus UI. Dengan mengerahkan seluruh anggota tim terbaiknya, baik reporter tulis maupun  pemotret siap untuk mengabadikan peristiwa tersebut. Tetapi rupanya diantara sekian kru yang akan terjun melakukan peliputan selalu saja ada orang yang mempunyai ide “gila”. Salah seorang diantaranya berkeinginan untuk melakukan wawancara langsung dengan RI 1 yang akan meresmikan kampus Depok. Tetapi mengingat gagasan ini belum tentu disetujui oleh anggota tim lainnya, maka dia lakukan secara diam-diam, dengan cara mencari teman yang sekiranya seide, dan ternyata ada satu orang. Mereka berdua membuat surat permohonan pengajuan wawancara khusus dengan RI 1, tanpa sepengetahuan ketua penyunting (Pemimpin Redaksi) bahkan Rektor sekalipun tidak tahu-menahu mengenai perkara ini.

 

Rupanya ada juga yang mengendus dari kedua orang yang membuat surat permohonan wawancara khusus ini. Tetapi apa lacur, ternyata surat tersebut sudah sampai ke tangan staf khusus Presiden. Ini akan sangat berbahaya, “bola mentah” akan kesana kemari tidak terkendali, topik-topik pertanyaan yang diajukan tanpa sepengetahuan pimpinan UI bisa saja akan menjadi bomerang yang merugikan. Maka dilakukanlah “gerilya” untuk membatalkan surat permohonan wawancara tersebut. Ketika sampai pada hari H peresmian kampus, dengan harap-harap cemas kedua orang yang “bersebrangan” itu menunggu apakah RI 1 akan meluangkan waktu untuk wawancara.

Lain lagi yang dipikirkan salah seorang reporter pers kampus. Dia berpikiran peristiwa sepenting itu perlu dilakukan dokumentasi audio visual. Tapi masalahnya pihak keamanan RI 1 sangat ketat sekali menyeleksi siapa saja wartawan foto dan televisi yang boleh mengabadikan peristiwa tersebut dari jarak dekat. Akhirnya dapat akal, pinjam jas kuning UI, ketika ditanya pihak keamanan,  dokumentasi dari UI. Tapi rupanya tidak puas dengan jawaban tersebut, pihak keamanan tanya sama panitia dari UI, apa betul yang pakai jas kuning itu petugas dokumentasi dari UI. Rupanya ada panitia dari UI yang menjamin, sehingga petugas tersebut tidak banyak bertanya lagi.  Padahal  yang sebenarnya terjadi, tidak ada sama sekali tugas dari panitia UI untuk melakukan dokumentasi audio visual, apalagi surat tugas tim dokumentasi. Hanya bermodalkan petantang petenteng bawa kamera video dan jas kuning pinjeman. Tapi ternyata dokumentasi itu hingga kini merupakan satu-satunya video yang merekam kegiatan peresmian kampus Depok dengan cukup lengkap. Karena ternyata dokumen yang ada di TVRI musnah, saat terjadi kebakaran yang melanda studio TVRI Senayan Jakarta.

 

Apak hikmah dari cerita ini? Mungkin memang perlu mempunyai gagasan/ide yang diluar jangkauan pemikiran orang pada umumnya. Bagaimana kita harus berpikir dan bekerja secara smart dalam merealisasikan ide tersebut. Dan bagaimana pula kita bisa mengambil posisi tertentu, dimana orang tidak bisa berada pada posisi tersebut. Dan terakhir, bagaimana kita bisa berbuat sesuatu yang sangat bermanfaat bagi orang banyak.

April 27, 2010

Peristiwa Dibalik Pembangunan Kampus Depok

Filed under: Kampusiana — rani @ 8:22 am

Untuk mencari lokasi yang tepat sebagai kampus Universitas Indonesia (UI) yang menyandang nama bangsa ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Berbagai pertimbangan harus menjadi acuan dalam menentukan lokasi untuk dijadikan kampus. Semasa Rektor UI dijabat Prof.Dr.Ir. Soemantri Brodjonegoro(1964 – 1973) pencarian lokasi kampus sudah dimulai seperti yang dituturkan Ir. Dijan Sigit, dosen Fakultas Teknik UI kepada penulis.

Salah satu daerah di wilayah Karawang  pernah menjadi salah satu nominasi untuk dijadikan kampus Depok. Tetapi karena jauh dari pusat pemerintahan, akhirnya tidak menjadi pilihan. Kemudian di Wilayah Ciputat sempat pula menjadi incaran, karena lokasi mudah dicapai, ada danau (situ Gintung),sudah ada prasarana jalan raya yang baik. Waktu itu  lahan yang ditawarkan seluas 2000 hektar. Tetapi Rektor UI membatalkannya karena tidak mempunyai dana yang cukup untuk pembebasan tanah. Gubernur Ali Sadikin pernah pula menawarkan lahan di bilangan Kalibata . Lokasi cukup strategis, selain dilalui jalan raya, juga dilewati jalur Kereta api. Tetapi luas lahannya hanya 30 hektar. Kampus Salemba saja luasnya 10 hektar, kalau ditambah dengan fakultas-fakultas yang ada di Rawamangun, maka lahan seluas 30 hektar tersebut terlalu sempit untuk dijadikan lokasi kampus UI. Pilihan akhirnya jatuh ke Depok, dimana lokasi dianggap ideal untuk dijadikan sebuah kampus. Tetapi hal ini pun nyaris dibatalkan, karena ternyata anggaran tidak mencukupi untuk membebaskan tanah ribuan hektar bekas hutan karet. Semakin hari, lahan hutan karet di  Depok semakin menyempit, karena penduduk memanfaatkannya  untuk dijadikan pemukiman. Pada saat itulah Ir. Dijan Sigit mendesak Rektor UI untuk segera memutuskan membeli lahan bekas hutan karet tersebut. Dan ternyata lahan yang bisa dijadikan kampus hanya seluas 300 an hektar.

Seperti telah disebutkan pada tulisan terdahulu, percepatan kepindahan UI ke Kampus Depok terjadi saat pimpinan UI dijabat Prof.Dr. Nugroho Notosusanto (1982-1985). Pada waktu itu, tim pembangunan kampus Depok dari UI setiap minggu mengadakan rapat di BAPPENAS dengan instansi terkait, seperti pihak Departemen Pekerjaan Umum (PU). Waktu itu yang mewakili pihak PU dalam rapat-rapat adalah Radinal Mochtar (yang kemudian menjadi Menteri PU). Kemudian secara berkala, setiap sebulan sekali tim dari UI mengadakan rapat di Departemen Pendidikan  dan Kebudayaan (Mendikbud), melaporkan perkembangan pembangunan kampus Depok. Waktu itu Mendikbud dijabat Prof.Dr. Nugroho Notosusanto merangkap sebagai Rektor UI.

Dalam suatu kesempatan rapat di kantor Mendikbud, diundanglah para dekan berbagai fakultas di lingkungan UI. Pada kesempatan itu Mendiknas menyatakan, kampus UI akan pindah ke Depok. Semua Dekan ditanya  kesediaan dan kesiapannya ,hanya ada seorang Dekan yang menyatakan tidak mau pindah ke Kampus Depok. Dengan entengnya Mendikbud menjawab, kalau begitu nanti di Kampus Depok  akan  didirikan fakultas baru.

April 26, 2010

Widjojo Nitisastro Pendorong kepindahan UI Ke Depok

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:15 am

Ketika  masuk ke kampus Universitas Indonesia (UI) di Depok, apa yang ada dalam pikiran kita?  Kesejukan dan  Keasriannya? Bentuk bangunan tiap-tiap fakultas yang mempunyai ciri tersendiri? Ataukah biasa-biasa saja, seperti umumnya orang masuk halaman rumah?

Beruntung sekali, ketika pada Kamis tanggal 14 Januari 2010,  bisa hadir dan melakukan rekaman secara audio visual  acara peluncuran buku tentang Pengalaman Pembangunan di Indonesia serta buku kumpulan tulisan dari 27 negara tentang Widjojo Nitisastro.  Suatu kesempatan yang langka didapat karena ternyata orang-orang yang hadir pada kesempatan itu hanya kolega dekat dari keluarga Widjojo Nitisastro. Dalam usia yang sudah lebih dari 80 tahun, ingatannya masih tajam dan bisa bertahan bicara lebih dari satu jam, walaupun harus duduk di kursi roda.

Dari apa yang diceritakannya, dengan rendah hati dia memuji orang-orang yang pernah membantunya dalam membangun perekonomian Indonesia pada masa Orde Baru. Bahkan dia menyebut beberapa nama sebagai spesialis ahli bernegosiasi dengan pihak asing yang tidak diragukan lagi kredibilitas serta rasa nasionalisme. Dari para ahli negosiasi inilah Widjojo Nitisastro memutuskan pihak asing mana yang bisa untuk diajak kerjasama membangun perekonomian Indonesia.

Namun dalam tulisan ini yang ingin diceritakan adalah peranan Prof.Dr.Widjojo Nitisastro tatkala menjabat sebagai Kepala BAPPENAS, seperti yang diceritakan  Prof.Dr.Ali Wardhana pada kuliah umum yang diadakan di kampus Fakultas Ekonomi Kampus Depok. Dalam suatu kesempatan awal tahun 1970 an, Prof.Dr.Widjojo Nitisastro mendatangi Prof.Dr.Ali Wardhana (waktu itu menjabat sebagai menteri keuangan). Dia meminta uang yang jumlahnya cukup besar. Prof.Dr.Ali Wardhana merasa kaget dan bertanya, buat apa uang sebanyak itu. Prof. Widjojo akhirnya buka kartu, ingin memindahkan kampus UI dari Salemba ke tempat yang layak sebagai kampus universitas yang menyandang nama negara dan bangsa. Tapi menurut Ir. Dijan Sigit, dosen Fakultas Teknik UI sebetulnya sejak akhir tahun 1960 an, rencana kepindahan Kampus UI sudah digagas oleh Rektor UI yang waktu itu dijabat Prof.Dr.Ir. Soemantri Brodjonegoro.

Sejak itulah mulai direncanakan pembangunan kampus baru UI. Menurut cerita Drs.Mustain Zaini, mantan Pembantu Rektor II UI pada era Rektor (alm) Prof.Dr. Mahar Mardjono, konsultan perencana pembangunan  mengundang dari pihak luar negeri. Rencana awal pembangunan kampus UI dibuat tidak bertingkat tinggi, dimana satu fakultas dengan fakultas lainnya dihubungkan dengan semacam koridor yang dapat dilalui dengan berjalan kaki. Tetapi kemudian Ketika Rektor dijabat Prof.Dr.Nugroho Notosusanto (1983-1985), rencana yang sudah dibuat itu diubah dan direncanakan kembali oleh para dosen Fakultas Teknik UI. Akhirnya dibuatlah rancangan bangunan yang mewakili arsitektur berbagai daerah di Indonesia. Secara intensif dilakukan berbagai persiapan pembangunan kampus Depok. Sayangnya Prof. Dr.Nugroho tidak sempat melihat kampus Depok yang sudah jadi, karena meninggal saat merangkap jabatan sebagai Rektor dan juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Beruntung Prof. Dr. Widjojo Nitisastro masih dapat melihat peresmian Kampus Baru UI depok tahun 1987. Setelah itu, terjadi perkembangan yang begitu pesat mengenai Universitas Indonesia. Walaupun hingga kini masih ada dua fakultas yang belum pindah ke kampus Depok yaitu Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Entahlah, jika saja Prof.Dr. Widjojo Nitisastro masih duduk dalam pemerintahan, apakah dua fakultas tersebut bisa cepat pindah ke Depok? Wallahualam bisawab.

April 22, 2010

Citra Kampus Tanpa Asap Rokok

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:35 am

Tulisan berikut ini terinspirasi dari kegaitan seminar “Perempuan dan Merokok”, yang berlangsung  21 April lalu.Ini adalah pengalaman pribadi yang berkaitan dengan rokok di seputar kampus UI. Pada blog ini, beberapa waktu sebelumnya sudah pernah dibuat tulisan tentang iklan rokok dilarang masuk kampus.

 

Dahulu, sebelum UI mempunyai kampus di Depok, seluruh aktivitas terpusat di Kampus Salemba. Walaupun ada kampus Rawamangun dan Kampus Pegangsaan (dimana disini ada asrama mahasiswa, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Bagian Mikrobiologi FKUI), tetapi tetaplah Salemba menjadi Pusat berbagai kegiatan. Pada salah satu ruangan di belakang Mesjid ARH ada satu ruangan (4 x4 m2) ruangan redaksi SKK Warta UI. Di sebelahnya ada kantor pos dan di sebelahnya lagi ruang perkuliahan mahasiswa Geografi FMIPA. Waktu itu koran kampus ini biaya pencetakannya didanai pihak Rektorat. Timbul ide bagaimana kalau mencari dana sendiri. Dengan bantuan dari salah seorang petinggi Rektorat, didapatlah jalan untuk mengajukan ke satu perusahaan rokok. Singkat cerita, didapatlah order iklan rokok satu halaman berwarna yang dipasang di halaman paling belakang. Pada waktu itu untuk pertama kalinya koran kampus mendapat iklan yang menghasilkan pemasukan dana cukup besar. Pada jaman itu, banyak kegiatan di kampus didanai dari sponsorsip iklan rokok. Ketika sudah pindah ke kampus Depok, Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat sempat pula mendapat dana dari perusahaan rokok untuk membiayai kegiatan Kuliah Kerja Nyata di daerah Banten dan Kepulauan Seribu.

 

Pada pertengahan tahun dua ribuan, ketika kesadaran tentang bahaya merokok mulai ”memasyarakat”, mulailah dibatasi kegiatan-kegiatan dalam lingkungan kampus yang mengikutsertakan partisipasi dari perusahaan rokok. Ada satu pengalaman ’dramatis’ terjadi. Waktu itu para mahasiswa Fakultas Hukum akan mengadakan acara  dengan mengundang grup band terkenal dengan bantuan sponsor dari perusahaan rokok. Panggung sudah dipasang lengkap dengan sound systemnya segala. Dikiri kanan panggung sudah dipasang spanduk besar perusahaan rokok. Letak panggung kalau tidak salah di lapangan yang sekarang ada bangunan perpustakaan baru. Tiket sudah dijual kepada para mahasiswa. Saat-saat terakhir menjelang pertunjukkan, panitia membatalkan acara, karena tidak mendapat ijin dari pimpinan UI.

 

Ada cerita lain lagi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) mengadakan acara seminar tentang karikatur sebagai bagian dari budaya populer. Acara diadakan di Gedung Pusat Administrasi universitas. Salah satu pembicaranya yaitu (alm) Prof. Dr.Fuad Hassan, sebagai salah seorang pemerhati karikatur. (Mantan Mendiknas ini dikenal sebagai perokok kretek berat. Konon katanya berhenti merokok setelah cucunya tidak mau dipeluk dan berdekatan dengan eyangnya.) Pada acara seminar budaya pop tersebut (waktu itu masih sebagai perokok) dengan enteng dia membuat gambar karikatur dirinya dalam sehelai karton, lalu sisa puntung rokoknya diselipkan pada mulut dalam gambar karikatur tersebut, direkat dengan isolatif.

 

Kemarin (21/04) Wakil Rektor UI Dr.Ir. M. Anis M.Met, menegaskan tahun 2012 kampus UI akan bebas dari asap rokok. Di FKM misalnya sudah dipasang spanduk/pengumuman bagi siapa yang merokok di lingkungan FKM akan didenda Rp 100.000. Di Gedung Biru kantor Satpam UI juga dipasang spanduk berisikan informasi yang akan mendenda bagi perokok. Satu saat di dalam ruangan kantor ada seorang satpam yang merokok sedang mengobrol dengan 7 orang satpam lainnya. Tidak diduga datanglah pimpinan satpam (Kepala UPT PLK), memergokinya. Tanpa ampun, perokok dan juga semua satpam yang ada disitu dikenakan denda. Tentu saja tegas, soalnya Kepala UPT PLK adalah dosen Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) FKM UI.

Pergelaran Topik Hangat

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:33 am

Hari Rabu (21/04) ini,  di Kampus Universitas Indonesia (UI) ada lima kegiatan yang sangat menarik perhatian dan merupakan peristiwa yang tengah hangat terjadi di masyarakat. Pertama, Peringatan 40 tahun program Studi Belanda yang akan berlangsung sampai 24 April. Kedua seminar  “Perempuan dan Merokok, Emansipasi atau Ketidakberdayaan?” Ketiga seminar “BONGKAR! Pemberlakuan Mekanisme Pembuktian Terbalik dan Perlindungan Wistle Blower” yang diselenggarakan ILUNI FHUI di Kampus Salemba Jakarta. Keempat, talkshowSatpol PP Konflik, Mau  Diapakan?” kegiatan yang digagas Departemen Kriminologi di Kampus FISIP Depok. Dan kelima peluncuran buku karya Prof.Dr. Saparinah Sadli, Guru Besar Fakultas Psikologi UI, di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta. Ada satu lagi kegiatan peluncuran “my campus” nya perusahaan Apple di kampus Fakultas Ekonomi Depok.

 

Kegiatan-kegiatan tersebut di atas merupakan salah satu bentuk dari rasa tanggung jawab dan pengabdian dunia kampus kepada masyarakat. Nara sumber dan tokoh yang hadir dalam acara tersebut bukan sembarang orang, melainkan pakar dalam bidang ilmunya. Bagi UI mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan peristiwa yang hangat terjadi di masyarakat dengan mengundang nara sumber yang berkompeten merupakan suatu hal yang mudah. Kemudahan ini dimungkinkan karena posisi dan kedudukan UI yang strategis berada di ibukota Negara. Bagi warga kampus ini merupakan suatu keuntungan untuk mendapatkan informasi dari sumbernya atau juga untuk dapat menambah wawasan.

 

Namun nampaknya, dalam perkara mendapatkan informasi dari sumbernya dengan cepat, mendapat saingan keras dari media elektronik terutama televisi. Mereka bisa melakukan wawancara atau talkshow dengan narasumber dengan cepat dan seketika. Pemirsa diberikan informasi tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Bahkan beberapa televisi membuat suatu acara tersendiri untuk dapat mengorek lebih jauh mengenai seseorang atau suatu perkara. Pendek kata, media televisi dapat melakukan talkshow dengan “lebih cepat lebih baik”.

 

Karena itulah, ada usulan jika sivitas akademika UI mau mengadakan suatu kegiatan yang menyangkut atau berhubungan dengan keadaan di masyarakat, hendaknya dibuat format baru yang berbeda yang sudah dilakukan media televisi. Misalnya saja dalam melakukan kegiatan seminat atau talk shaw, ada usulan atau solusi konkrit kepada pihak terkait dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Atau misalnya dibuat usulan konsep dari berbagai sudut pandang ilmu secara komprehensif (semacam naskah akademik yang biasa melengkapi naskah Rancangan Undang Undang). Dengan demikian maka, kegiatan-kegiatan semacam talkshow atau seminat tidak hanya  sekedar untuk mengisi waktu luang, atau menghabiskan anggaran dari sponsor.Tapi betiul-betul menjadi suatu konsep yang dapat diimplementasikan menjadi suatu produk atau jasa yang dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat banyak.

April 20, 2010

Walanda dan Kisah Kerbau

Filed under: Kampusiana — rani @ 6:18 pm

Aya Walanda saparakanca bawa kabar ka Sastra (UI) katanya pada Salasa (20/04) ada “veryaardag” 60 TH pangajaran bahasa Walanda, makanya sang (Dubes) Dr. van Dam ngahaja babaca sagala apa adanya antara Walanda dan Indonesia, kata kang Kabayan sang wartawan.

Ya, betul memang hari selasa ini (20/04) hingga sabtu diperingati 40 tahun pengajaran Bahasa Belanda di Indonesia,  yang bernaung di bawah Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Kegiatan yang akan berlangsung hingga 24 April ini akan diakhiri di rumah Max Havelaar Rangkasbitung. Ada yang menarik pernyataan Dubes Kerajaan Belanda untuk Indonesia Dr. Nikolaos van Dam  yang mengatakan, nama daerah Lebak Banten  merupakan salah satu kota yang paling dikenal kebanyakan masyarakat Belanda, dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

.Hal ini memang tidak mengherankan, karena 150 tahun lalu (1860), terbit sebuah buku karangan Multatuli (nama samaran Max Havelaar, seorang asisten residen yang bertugas di Lebak Banten),  menceritakan tentang sepak terjang pemerintah Kolonial Belanda dan para penguasa pribumi (Bupati dan Demang) yang menindas rakyat pribumi.  Kisah ini pada tahun 1976 kemudian di filmkan dengan judul “Saijah dan Adinda”  yang diproduksi oleh Fons Rademaker Film. Para pemainnya antara lain Peter Faber, Sacha Bulthuis, Krijn ter Braak, Joop Admiraal, Rutger Hauer, Rima Melati dan E.M. Adenan Soesilaningrat.

Bicara perkara Walanda, jadi ingat waktu pembuatan skripsi tahun 1980 an. Waktu itu bingung milih topik apa. Minat ke bidang film tapi matakuliah yang diberikan terbatas. Akhirnya dipilih skenario film,  mengopy dari perpustakaan Sinematek yang waktu itu kepalanya Misbach Yusa Biran (suami artis Nany Wijaya). Supaya berbeda dari yang lain (orsinil) dan tidak ada unsur plagiat dipilihlah skenario film Saijah dan Adinda. Maka jadilah skripsi berjudul “Potret Tiga Tokoh dalam Skenario Film Saijah dan Adinda”. Walaupun menurut penilaian sineas (alm) D.A Peransi film Saijah dan Adinda tidak ada yang istimewa, tetapi secara simbolik ada hal menarik dari cerita film itu. Ketika sampai pada tahap teori komunikasi apa yang akan dipakai untuk menganalisis skenario, timbul kebingungan. Akhirnya dipakailah teori komunikasi yang dikemukakan George Gerbner. Pada masa itu teori dia tidak terlalu populer di kalangan teman-teman mahasiswa komunikasi. Waktu maju sidang  was-was juga, jangan-jangan salah  menerapkan teori.

Kembali ke soal film Saijah & Adinda, sebetulnya ada yang lebih menarik untuk dilihat lebih jauh dari aspek simbolisasi. Cuma karena waktu dulu belum menemukan  teori komunikasi yang tepat sebagai alat untuk menganalisis, maka tidak jadi bahan skripsi. Hal yang menarik tersebut yaitu kerbau yang ada dalam film tersebut. Pada film  digambarkan bagaimana Saijah  begitu lengket dengan kerbau yang terkesan pendiam dan lambat. Tetapi pada sekuen lain sang kerbau berubah menjadi beringas dan perkasa ketika menghadapi harimau yang akan “mengganggu” sang majikannya. Dengan “tandukannya” berhasil mengalahkan sang raja hutan. Dari inspirasi ini (diduga kuat) Raden Saleh membuat lukisan kerbau dan harimau yang legendaris itu. Begitu pula konon katanya, bapak pendiri bangsa ini, mendirikan partai  dengan memakai kepala kerbau (banteng) sebagai lambang partainya.

Rupanya Multatuli sudah sejak dulu membuat perumpamaan/simbol kerbau sebagai penjelmaan dari rakyat kebanyakan.  Dalam cerita-cerita pada beberapa sukubangsa, di Indonesia, kerbau senantiasa muncul. Kita kenal Minangkabau di Suku Minang, atau Mundinglaya Dikusumah pada masyarakat Sunda. Tapi di Belanda rupanya beda lagi, sapilah yang jadi ikon negeri keju itu. Satu lambang kesejahteraan negeri kincir angin tersebut. Rupanya orang Indonesia masih ingat kemakmuran Belanda itu karena hasil kolonialisme di Indonesia. Sehingga muncullah peribahasa KERBAU PUNYA SUSU, SAPI  PUNYA NAMA.

Menyimak SIMAK UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:13 am

Tanggal 11 April 2010 lalu berkesempatan mengikuti pemantauan kegiatan Sistim Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI) ke berbagai sekolah bersama tim dari UI. Lokasi yang dipantau yaitu SMAN 68 Jakarta dan SMAN I Bogor. Dua tempat  dari 52 lokasi  yang menjadi  tempat SIMAK UI. Dua lokasi di luar negeri yaitu di Malaysia dan  China.

 

Di SMAN 68 Jakarta, seorang peserta ketahuan memakai jam tangan, yang ternyata benda tersebut komputer mini, diyakini berisi jawaban soal-soal yang sedang diujikan. Pada jam tangan tersebut terdapat urutan nomor dengan jawaban berupa hurup a, b, c dan d. Dalam keterangan waktu konferensi pers, Rektor UI menyatakan  perbuatan yang dilakukan oknum peserta SIMAK UI tersebut tidak dilakukan sendirian, tetapi bekerja sama dengan yang lain, terutama dengan penyelenggara bimbingan tes. Jawaban yang ada pada komputer mini jam tangan tersebut belum tentu benar, karena tidak mungkin terjadi kebocoran soal, Rektor menjamin pengamanan soal SIMAK UI sangat ketat.

 

Teringat pengalaman masa lalu, saat menjalani ujian masuk UI di Stadion Senayan (Gelora Bung Karno). Tidak seperti ujian SIMAK sekarang, dilakukan di ruangan/kelas ber AC, peserta ujian tahun 1980  yang mencapai enampuluh ribuan  orang memadati kursi di stadion senayan, yang  full angin  kencang sekali. Apalagi kalau sudah menjelang jam sembilan, ketika matahari semakin tinggi, panas terik mulai menyengat sebagian peserta ujian yang mendapat tempat di bagian barat. Beberapa tahunkemudian sempat juga bertugas  sebagai pengawas ujian ketika ujian sudah dilaksanakan di ruangan sekolah-sekolah. Dan sempat juga menjabat sebagai wakil  penanggung jawab lokasi, yang tugas utamanya membawa hasil ujian dari lokasi ujian hingga ke sekretariat pusat panitia ujian dengan aman. Dalam kurun waktu itu, secara kebetulan bertemu dengan orang-orang yang ternyata mempunyai peranan dapat meloloskan peserta masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan. Diantara mahasiswa yang “dibantu” itu ada yang tidak dapat meneruskan pendidikan alias drop out (DO) dan ada pula yang dapat meraih kesarjanaan.

 

Apa hikmah dari pengalaman ini?

Kehidupan ini aneka ragam, berwarna warni, tidak hitam putih serta tidak lurus namun berkelak kelok penuh dengan tikungan tajam. Satu saat barangkali kita terjatuh dalam satu kelokan. Tetapi bukan lantas kita menjadi luluh dan terus menerus mengeluh. Tujuan dan jarak yang harus ditempuh masih jauh. Karena itulah maka dalam diri kita semangat hidup  senantiasa bertumbuh.

April 19, 2010

Runtuhnya Peradaban

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:33 am

Ada yang mengganggu dalam pikiran tatkala media televisi dan berbagai media cetak  menayangkan serta mengulas peristiwa  “Priuk Berdarah” yang terjadi pada minggu kedua di Bulan April 2010. Seperti ada sesuatu yang hilang, ada luka yang  tadinya sudah sembuh dan tertutup rapat, kini luka itu menganga kembali.

 

Bagi generasi muda ibukota Jakarta yang lahir tahun 1970 an, pasti akan mengenal  peristiwa “kerusuhan” yang terjadi di Priuk  pada tahun 1980 an, dan  tokoh sentral masyarakat Amir Biki menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap rezim pemerintahan. Maka kini kita mengenal Mbah Priuk yang “merasuki” warga masyarakat untuk mengadakan “perlawanan” terhadap petugas Satpol PP yang akan melakukan “penertiban” terhadap kompleks pemakaman Mbak Priuk. Walaupun dua peristiwa tersebut sangat berbeda dalam hal substansi  yang menjadi permasalahan sehingga timbul bentrokan, tetapi ada satu kesamaan yaitu  dalam hal tindak kekerasan yang terjadi antara kedua belah pihak yang bertikai.

 

Tindak kekerasan atau lebih tepatnya kebrutalan yang terjadi menunjukkan, betapa kita ini semenjak reformasi  digulirkan tahun 1998, tidak bisa belajar banyak untuk bisa hidup lebih baik dan beradab, melakukan komunikasi timbal balik, peka terhadap permas alahan yang terjadi, menjalankan pemerintahan yang bersih dan menegakkan aturan dengan baik yang tidak menimbulkan konflik dan tindak kekerasan. Menimbang setiap tindakan yang akan dilakukan, tidak hanya dari aspek materi saja melainkan juga aspek sosial budaya. Masihkah kita tetap berpegang atas nama kekuasaan melakukan tindakan sewenang-wenang menindas kaum yang lemah. Atau atas nama agama sambil mengagung-agungkan yang maha pencipta melakukan tindakan kekerasan, menyiksa orang yang sudah tidak berdaya?

 

Apa yang dikatakan Ketua PMI Jusuf Kalla dalam wawancara dengan Metro TV Minggu sore (18/04) mungkin ada benarnya. Masyarakat bertindak brutal sebagai reaksi atas ketidakadilan yang dilihat dan dirasakan selama ini. Jurang kaya miskin yang sangat timpang yang dipertontonkan di media massa, penindakan terhadap orang yang melanggar hukum yang tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat dan lain-lain.

 

Aspek neatif yang timbul karena peristiwa Priuk berdarah ini bisa terjadi seperti berikut ini. Betapa bodoh dan gegabahnya Pemda DKI melakukan suatu tindakan sehingga menimbulkan kerugian korban jiwa, materi mencapai 22 milyar rupiah dan ketidakpercayaan serta menurunkan kewibawaan   di mata masyarakat. Dan di kalangan masyarakat semakin meyakini akan “kesaktian” dari Mbah Priuk, suatu keyakinan yang bisa membelokkan keimanan seorang muslim terhadap Kemahakuasaan Tuhan Allah. Kalau memang  demikian yang terjadi, maka runtuhlah peradaban ini.