February 4, 2010

“Menangkap” Peristiwa

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:59 pm

Walaupun dalam perkuliahan dahulu diajarkan mengenai hal yang berkaitan dengan dunia jurnalisme, dimana sempat mendapat “pencerahan” antara lain dari Jakob Oetama, Rosihan Anwar, Djafar H. Assegaf, Aristides Katoppo, Ed Zoelferdi dan juga  Masmingar Mangiang, tetapi rasanya masih tetap belum “manteb”, karena belum praktek langsung.  Selain itu wawasan komunikasi menjadi lengkap karena bekal yang diberikan beberapa pakar antara lain seperti Djajusman Tanudikusumah, Harsono Suwardi, Alwi Dahlan, Astrid S Susanto, Haryono Suyono, dan lain-lain. Karena itulah maka ketika  mengikuti matakuliah Teknik Mencari dan Menulis Berita, bersemanat sekali. Apalagi waktu itu ada tabloid Komunikasi Massa yang diterbitkan Departemen Ilmu Komunikasi (dahulu Jurusan Komunikasi Massa) dan surat kabar kampus Warta UI, tempat dimana bisa memuat hasil tulisan.

 

Dari dua media massa itulah banyak belajar bagaimana mempersiapkan suatu sajian berita, topik-topik apa yang akan dimunculkan, apa latar belakang dan alasan pemunculan topik tersebut, siapa-siapa saja yang harus diminta informasi sebagai narasumber. Dari situ juga  sering mengikuti berbagai kegiatan yang ada di lingkungan UI. Bahkan ikut menjadi anggota kelompok minat dan organisasi ekstra,  banyak berinteraksi dengan orang dari berbagai golongan, etnis, kelompok dan latar belakang. Banyak informasi didapat yang tidak bisa ditemukan di bangku kuliah atau kegiatan formal semata. Disinilah kebersamaan terjalin dan keindonesiaan tertanam dalam diri. Suatu hal yang sangat sulit didapat jikalau kita berada di kampus hanya sekedar untuk belajar saja. Dan hal ini juga ternyata kelak kemudian hari sangat bermanfaat , dalam melakukan pekerjaan yang digeluti.

 

Dari kegiatan itulah  kemampuan untuk menangkap suatu peristiwa diasah terus menerus, yang akhirnya melatih intuisi jika akan meliput atau menghadiri suatu kegiatan. Dari latihan ini, menjadi terbiasa untuk memilah mana suatu kegiatan atau peristiwa yang dapat dikembangkan lebih jauh menjadi suatu sajian informasi yang menarik dan mempunyai nilai tambah. Dari sini pula akhirnya berubah haluan dalam memilih medium, dari yang tadinya media cetak sebagai ajang untuk  menampilkan hasil kreasi tulisan, beralih ke media audio visual karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan media cetak.

 

Sebetulnya apa pun media yang jadi  tempat untuk menampilkan suatu hasil karya, tetaplah aspek yang berkaitan dengan  komunikasi harus menjadi dasar pegangan. Hanya dengan berpatokan pada ini, seseorang  memperoleh ”kebebasan” dalam menangkap suatu realita yang terjadi di masyarakat untuk dipindahkan ke dalam media tulisan atau audio visual. Kebebasan ini juga menjadi salah satu prasyarat juga dalam mengembangkan keilmuan dan melakukukan riset-riset, seperti yang dikemukakan oleh B.J. Habibie pada waktu menerima gelar doktor honoris causa dari UI akhir  Januari 2010. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kebebasan yang bertanggung jawab.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment