February 22, 2010

Mengenang Pak Rozy Munir

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:58 am

Seperti kata pepatah, Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Itu barangkali kiasan yang tepat untuk seseorang yang meninggal yang semasa hidupnya berbuat amal shaleh yang baik dan orang mengenangnya karena apa yang dilakukannya sangat bermanfaat.  Hal tersebut telah dilakukan  Almarhum Pak Rozy Munir, staf pengajar Fakultas Ekonomi UI, yang terakhir menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Negara Qatar. Selain sebagai staf pengajar FEUI, Pak Rozy Munir juga adalah  salah seorang tokoh NU, pernah menjadi menteri dalam kabinet pemerintahan Gus Dur.

 

Pembicaraan terakhir kali melalui telepon dengan Pak Rozy Munir adalah pada saat musim haji tahun 2008. Dimana saat itu saya dan isteri tengah melaksanakan ibadah haji, kebetulan pula Pak Rozy Munir pun sama-sama  melaksanakan ibadah haji. Dalam pembicaraan itu disinggung tentang putrinya yang bertugas sebagai dokter haji. Baru pada awal tahun ini, saya sempat ketemu  dan mengobrol dengan putranya yang sedang mengambil S3 lingkungan Program Pasca Sarjana UI Kampus Salemba. Kalau dengan istri Pak Rozy Munir kerap bertemu, karena Ketua Koperasi Dikara Putri UI.

 

Pada akhir tahun 1980 an Pak Rozy Munir sempat menjabat sebagai Ketua Pranata Pembangunan, salah satu pusat Studi di bawah Lembaga Penelitian UI. Menurut seorang teman, pada waktu itu (alm)Gus Dur sering diundang atau sekedar ngobrol-ngobrol dengan Pak Rozy Munir di Pusat Pranata Pembangunan UI. Pada saat itulah sering dibicarakan tentang calon Presiden. Pada akhir masa pemerintahan Orde Baru, memang santer dibicarakan tentang kepemimpinan Pasca Suharto. Salah satu calon yang populer yaitu Benny Murdani (panglima TNI). Berdasarkan hitung-hitungan, kalau Benny Murdani sebagai presiden, figur wakil presiden yang paling cocok untuk mendampingi dan diterima kalangan masyarakat yaitu Gus Dur. Sehingga pada saat berkunjung ke Jepang Gus Dur pernah bicara dihadapan para mahasiswa Jepang,  dia adalah  bakal calon presiden. Hal ini diungkapkan Ayip Rosidi  (waktu itu menjadi pengajar bahasa Indonesia di salah satu universitas di Jepang) dalam buku biografinya.

 

Tetapi rupanya memang “garis tangan” menentukan lain. Alih-alih jadi wakil presiden, yang terjadi adalah menjadi Presiden RI yang ke-4. Karena itulah maka Pak Rozy Munir masuk dalam jajaran kabinet Gur Dur. Kalau saja bisa bicara, maka tembok-tembok kantor Pranata Pembangunan di Gedung Mochtar Kampus UI di Jalan Pegangsaan akan bicara banyak, apa-apa saja yang dibicarakan antara Gur Dur dan Pak Rozy Munir tempo dulu. Tetapi rupanya “pembicaraan’ diantara keduanya terus berlanjut di “alam sana.”

Sesungguhnya kita ini berasala dari padaNya dan akan kembali pula kepadaNya.

 

Selamat Jalan Pak Rozy Munir!

February 19, 2010

Pak Ustad Salman

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:25 pm

Pertama kali kenal melalui tulisan-tulisannya di blog staff.ui.ac.id.  Gaya tulisannya mempunyai ciri tersendiri dan enak dibaca. Kemudian dari obrolan-obrolan dengan para staf pengajar FTUI lainnya jadi tahu lebih jauh. Tetapi belum pernah ketemu secara tatap muka. Jadi selama ini hanya bisa membayangkannya, berdasarkan atas tulisan-tulisannya di blog staf ui.

 

Biasanya setiap shalat jumat selalu diusahakan melakukannya di dekat rumah, karena harus menunggu anak-anak pulang sekolah serta menyediakan makan siang. Tapi jumat ini (19/02) terbersit keinginan untuk shalat jumat di kampus. Sudah lama rasanya tidak mendengarkan khutbah jumat di kampus, yang biasanya selalu menyajikan topik yang menarik untuk disimak, karena khatibnya dari kalangan staf pengajar UI, dimana selalu punya gaya dan analisis berbeda dengan para khatib di mesjid lainnya. Selain itu, ada harapan lagi dengan melakukan shalat di mesjid UI, makan siang bersama para pengurus mesjid di mihrab (belakang mimbar), yang menyediakan sajian yang khas dari tahun ke tahun, seperti sayur lodeh, ayam goreng, goreng tempe dan sambal terasi yang cukup pedas. Biasanya ditambah buah-buahan, kalau tidak pisang atau jeruk.

 

Sehabis pulang bersilaturahmi dengan teman di FISIP, waktu shalat tinggal 10 menit lagi. Kalau shalat di luar kampus pasti tidak ada waktu, karena tidak bawa motor, akhirnya kaki diayunkan dengan mantap menuju mesjid UI. Numpang wudlu di belakang mimbar, karena kalau di tempat umum pasti tidak akan keburu. Masuk ruangan masjid lewat pintu dekat mimbar. Ruangan sudah penuh, tapi barisan kedua di dekat mimbar masih kosong. Segera cepat-cepat menempati ruang yang kosong tersebut. Tampak seseorang mengajak tersenyum dan mengulurkan tangan untuk salaman.. Segera shalat sunat, orang yang mengajak salaman tadi pindah ke barisan paling depan. Dalam hati membatin,wah, jangan-jangan dia pindah karena tempat duduknya sempit ”diserobot” saya. Ketika waktu shalat tiba, orang yang salaman tadi naik mimbar. O…, rupanya pak khatib.

 

Usai shalat, ketika akan makan siang, ketemu lagi dengan Pak Khatib. Penasaran, saya tanya kepada pengurus mesjid, siapa gerangan nama pak Khatib itu. Ternyata Pak Ustad Salman, staf pengajar dari Fakultas Teknik. Akhirnya obrolan pun menjadi semakin lancar hingga membicarakan tulisan di blog staf ui ac id. Rupanya apa yang saya bayangkan dari tulisan dengan kenyataannya memang tidak jauh berbeda sosok Pak Ustad Salman.

February 5, 2010

Makanan Menghubungkan ke Masa Lampau

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:57 am

Pagi ini (05/02) dari rumah sengaja  membawa makanan tradisional harum manis, tetapi tidak memakai benang-benang yang dibuat dari gula itu, yang dibeli pada saat ke Surabaya beberapa waktu lalu. Di kantor tak dinyana ternyata seorang teman bercerita tentang  satu tayangan stasiun televisi yang menyajikan seseorang yang mempunyai hobi makanan ringan /jajanan jaman dahulu kala, termasuk diantaranya  makanan harum manis itu.

 

Obrolan pun beralih kepada suasana jakarta pada awal tahun 1970 an, di seputar Sunter dekat pabrik asembling motor Honda, karena ternyata teman yang diajak ngobrol itu sering bermain di tempat tersebut. Waktu itu kali Sunter masih jernih dimana anak-anak biasa berenang atau memancing. Bahkan di sekitar pabrik honda pesawahan masih terbentang luas dengan banyak pepohonan yang besar dan rindang, masih ada kandang sapi yang ditempatkan di kandang-kandang dengan rapih, danau sunter belum ada dan perumahan pun masih sedikit. Sunter pada tahun itu masih menjadi salah satu tempat tujuan wisata bagi para penduduk jakarta. Di belakang pbarik honda juga waktu itu masih ada sumur bor, yang biasa menjadi tempat bermain bagi penduduk sekitarnya, termasuk juga anak-anak yang tinggal di kompleks Kodam.

 

Pembicaraan pun selanjutnya beralih ke topik tentang HSS, yang baru-baru ini menjadi pemberitaan di media massa. Ayahnya teman ini adalah seorang pemborong rekanan TNI, sering berkontak langsung dengan HSS, yang waktu itu merupakan salah satu petinggi di TNI yang sudah dikenal  bergaya “flamboyan”. Satu saat ayah teman ini ditugaskan untuk membangun rumah di kawasan Puncak. Ternyata HSS mempunyai lahan puluhan hektar. Entah punya dia sendiri ataukah aset punya TNI.

 

Kemudian pembicaraan sampai juga kepada masa-masa sekolah jaman dahulu. Teman ini tahun 1974 sekolah di STMN I  Jalan Budi Utomo Jakarta Pusat. Tahu betul suasana di seputar Budi Utomo. Waktu itu di situ ada STMN 5, ada SKKA dan ada SMAN I. Pernah terjadi siswa STMN I berantem dengan siswa SMAN I Budi Utomo  dan akhirnya untuk melerai supaya tidak terjadi perkelahian yang berkelanjutan di jalan Budi Utomo dijaga panser. Usut punya usut ternyata (waktu itu) di SMAN I , seorang siswanya adalah anak nomor satu penguasa republik ini. Pada waktu peristiwa Malari misalnya, jalanan Budi utomo ditutup dan dijaga oleh para tentara sehingga para siswa yang sekolah di sekolahan jalan Budi Utomo tidak bisa keluar sama sekali. Rupanya memang sengaja jalanan diblokir, karena ternyata di Pasar Baru dan Proyek Senen sudah terjadi penjarahan dan pembakaran. Kalau tidak diblokir, mungkin ada diantara para siswa ikut menjarah, tertangkap dan atau cedera.

 

Belakangan menurut teman itu, sisa-sisa reruntuhan dari Pasar baru dan Proyek Senen, dibuang ke tempat pembuangan sampah, yang sekarang menjadi lokasi ITC Cempaka Putih. Beberapa penduduk ada yang mengais-ngais di tempat sampah tersebut dan banyak ditemukan emas, arlodji dan barang berharga lainnya yang masih bisa dimanfaatkan. Mungkin terinspirasi dari situlah barangkali para pemulung sekarang ini melakukan kegiatan mengais-ngais di tempat sampah. Siapa tahu mendapatkan sebongkah emas/berlian.

February 4, 2010

“Menangkap” Peristiwa

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:59 pm

Walaupun dalam perkuliahan dahulu diajarkan mengenai hal yang berkaitan dengan dunia jurnalisme, dimana sempat mendapat “pencerahan” antara lain dari Jakob Oetama, Rosihan Anwar, Djafar H. Assegaf, Aristides Katoppo, Ed Zoelferdi dan juga  Masmingar Mangiang, tetapi rasanya masih tetap belum “manteb”, karena belum praktek langsung.  Selain itu wawasan komunikasi menjadi lengkap karena bekal yang diberikan beberapa pakar antara lain seperti Djajusman Tanudikusumah, Harsono Suwardi, Alwi Dahlan, Astrid S Susanto, Haryono Suyono, dan lain-lain. Karena itulah maka ketika  mengikuti matakuliah Teknik Mencari dan Menulis Berita, bersemanat sekali. Apalagi waktu itu ada tabloid Komunikasi Massa yang diterbitkan Departemen Ilmu Komunikasi (dahulu Jurusan Komunikasi Massa) dan surat kabar kampus Warta UI, tempat dimana bisa memuat hasil tulisan.

 

Dari dua media massa itulah banyak belajar bagaimana mempersiapkan suatu sajian berita, topik-topik apa yang akan dimunculkan, apa latar belakang dan alasan pemunculan topik tersebut, siapa-siapa saja yang harus diminta informasi sebagai narasumber. Dari situ juga  sering mengikuti berbagai kegiatan yang ada di lingkungan UI. Bahkan ikut menjadi anggota kelompok minat dan organisasi ekstra,  banyak berinteraksi dengan orang dari berbagai golongan, etnis, kelompok dan latar belakang. Banyak informasi didapat yang tidak bisa ditemukan di bangku kuliah atau kegiatan formal semata. Disinilah kebersamaan terjalin dan keindonesiaan tertanam dalam diri. Suatu hal yang sangat sulit didapat jikalau kita berada di kampus hanya sekedar untuk belajar saja. Dan hal ini juga ternyata kelak kemudian hari sangat bermanfaat , dalam melakukan pekerjaan yang digeluti.

 

Dari kegiatan itulah  kemampuan untuk menangkap suatu peristiwa diasah terus menerus, yang akhirnya melatih intuisi jika akan meliput atau menghadiri suatu kegiatan. Dari latihan ini, menjadi terbiasa untuk memilah mana suatu kegiatan atau peristiwa yang dapat dikembangkan lebih jauh menjadi suatu sajian informasi yang menarik dan mempunyai nilai tambah. Dari sini pula akhirnya berubah haluan dalam memilih medium, dari yang tadinya media cetak sebagai ajang untuk  menampilkan hasil kreasi tulisan, beralih ke media audio visual karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan media cetak.

 

Sebetulnya apa pun media yang jadi  tempat untuk menampilkan suatu hasil karya, tetaplah aspek yang berkaitan dengan  komunikasi harus menjadi dasar pegangan. Hanya dengan berpatokan pada ini, seseorang  memperoleh ”kebebasan” dalam menangkap suatu realita yang terjadi di masyarakat untuk dipindahkan ke dalam media tulisan atau audio visual. Kebebasan ini juga menjadi salah satu prasyarat juga dalam mengembangkan keilmuan dan melakukukan riset-riset, seperti yang dikemukakan oleh B.J. Habibie pada waktu menerima gelar doktor honoris causa dari UI akhir  Januari 2010. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kebebasan yang bertanggung jawab.