January 28, 2010

Cerita Lain Tentang Calon Guru Besar

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:49 pm

Siang menjelang sore hari ini (28/01) secara kebetulan bertemu dengan seorang staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI di kantor Bank BNI kampus UI Depok. Seorang teman yang cukup dekat, satu angkatan sama-sama masuk ke UI, tetapi dia kuliah di fakultas kedokteran. Ketika ditanya bagaimana kabarnya, dia langsung melayangkan selembar surat. Ketika dibaca, ternyata surat penolakan terhadap usulan pengangkatan sebagai calon Guru Besar.

 

Di dalam surat itu disebutkan tentang belum adanya keputusan yang jelas dari yang memeriksa (reviewer) berkas berkasnya di tingkat Departemen/jurusan. Dia berang, karena merasa telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Antara lain kum yang telah dikumpulkan mencapai 1050. Padahal persyaratan yang harus dipenuhi cukup dengan mengumpulkan kum 850 saja. Berkali-kali bolak-balik diperiksa di tingkat departemen dan Fakultas. Semua keraguan tentang perkembangan keahliannya telah dijawabnya. Tetapi ternyata akhirnya yang keluar surat penolakan sebagai calon guru besar. Walaupun memang persoalannya belum final, tetapi membuatnya masygul.

 

Baru kali itulah saya melihat ekspresi dia yang tampak loyo. Padahal biasanya selalu optimistis. Saya cuma bisa menghiburnya, barangkali belum waktunya saja. Kalau memang sudah waktunya, siapa pun tidak akan bisa menghalangi.

 

Di beberapa fakultas di lingkungan UI, begitu cepatnya seorang staf pengajar  bisa mencapai jenjang guru besar, seperti yang terjadi di Fakultas Teknik. Tetapi ada fakultas yang pengangkatan guru besarnya sudah cukup umur, seperti di Fakultas Kedokteran.

Sebetulnya kalau teman itu proses  pengangkatan guru besarnya lancar, termasuk guru besar yang terbilang muda di lingkungan fakultasnya, satu prestasi tersendiri.

Selalu Ada Pro dan Kontra

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:22 pm

Membaca berita pagi ini (28/01) di tabloid Tempo, katanya jalan-jalan protokol di ibukota akan dipenuhi dengan para demonstran yang pro dan kontra pemerintahan SBY memperingati 100 hari kabinet bersatu jilid ke-2. Saya jadi teringat kepada peristiwa yang berlangsung kemarin pagi (27/01) di kampus UI Depok.

 

Kemarin telah berlangsung upacara pengukuhan dua orang Guru Besar, yaitu Prof.Dr. Ibnu Hamad, Msi, dosen Ilmu Komunikasi FISIP dan Prof.Dr. Hamdi Muluk, Msi., staf pengajar Fakultas Psikologi. Dua-duanya mempunyai kesamaan tahun kelahirannya yaitu 1966 dan sama-sama masuk UI tahun 1985. Tetapi dalam tulisan ini tidak akan disinggung tentang keduanya, tetapi membicarakan ihwal yang berkaitan seputar guru besar.

 

Kalau dahulu kala, pengangkatan guru besar harus mendapat persetujuan dari presiden, maka pada tahun 2000 an, cukup dengan persetujuan menteri pendidikan nasional. Namun memang harus ada persyaratan tertentu yang masih harus dipenuhi misalnya, dosen yang bersangkutan harus sudah mencapai lektor kepala, mengumpulkan sejumlah kum tertentu dan pernah melakukan publikasi  dalam jurnal ilmiah. Kalau pada jaman dulu yang menjadi guru besar usianya tua-tua, tetapi sekarang cenderung lebih banyak yang muda-muda, karena salah satu  faktor pendorongnya yaitu publikasi ilmiah yang kerap dilakukan oleh para dosen muda.

 

Proses seleksi dan pengusulan dimulai dari Jurusan/departemen, apakah seorang calon sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Setelah itu di tingkat fakultas pun diseleksi lagi, dilihat perkembangan keahlian sang calon, kum yang telah dikumpulkan dan lain-lain. Barulah diusulkan ke tingkat universitas. Di sini pun ada tim guru besar yang memeriksa lagi semua berkas-berkas sang calon. Kalau sudah dianggap tidak ada masalah barulah diusulkan kepada Ditjen Dikti Depdiknas.

 

Walaupun persyaratan menjadi guru besar sekarang (relatif) lebih mudah, tetapi untuk dikukuhkan sebagai guru besar ternyata oleh sebagian orang masih dianggap ribet, misalnya saja faktor biaya dalam upacara pengukuhan, seperti mencetak buku pidato pengukuhan, mencetak undangan, menyediakan konsumsi untuk undangan yang sebagian besar ditanggung oleh calon guru besar.

 

Rupanya  di kalangan para pengajar pun ada juga yang tidak menyukai sistem pengukuhan guru besar yang sudah berlangsung, dengan alasan yang telah disebutkan di atas. Mereka menganggap sudah cukup dengan SK dari Mendiknas, tidak usah ada acara seremonial segala macam. Publiklah yang akan menilai apakah seorang dosen pantas menjadi Guru Besar Sehingga tidak sedikit dosen yang sudah mengantongi SK Guru Besar belum dikukuhkan. Tetapi golongan yang pro terhadap pengukuhan beranggapan, perlu ada seremonial seperti orasi ilmiah, karena dengan demikian publik dapat mengetahui perkembangan keahlian dan keluasan/wawasan bidang ilmu yang digeluti seorang Guru Besar.

Lulusan Fakultas Kedokteran Tahun 1968

Filed under: Lulusan UI — rani @ 9:46 am

Lulusan Fakultas Kedokteran UI Tahun 1968

1.Binsar Parasian Simorangkir;  2. Raden Eman Guratman;  3. Ny. Hariasri Sudjono;  4. Likarti;  5. Narmansjah Daini Rachman;  6. R. Mohammad Dedi Afandi Widjajakusuma;  7. Mohammad Hartono Abdoerachman;  8. Mohammad Iljas;  9. Ratzarwin Nazar;  10. Slamet Wirjosaputro;  11. Surono;  12. Soewarna Adimihardja;  13. Simon Kusnandar (Tan Tjay Sing);  14. Warno Boedi Soemartono;  15. Lukman Mustar;  16. Argo Surip Martosiswojo;  17. Mubarik Achmad;  18. Philip Hasanuddin Panrita;  19. J.M.V. Suwarto;  20. Darmo Sugondo;  21. Fausi Darwis;  22. Ny. Ietje Suharti Soebianto Angoesman Singgih;  23. Ali Imron Mashuri;  24. Ismail Tukimin;  25. Marisi Butarbutar Izaac Zeth;  26. Machrani Siregar;  27. Rekso Santoso;  28. Sadeli Suganda;  29. Slamet Suroso Sugianto;  30. R. Soeharto;  31. Tatang Kartiman;  32. Ny. Tien Chudrin Tirtawinata;  33. Soekarno Soekarban;  34. Moh. Nurhidajat;  35. Haryanto Budi (A.J. Yap Ping Lien);  36. Marsoedi Sumanto Tjorowidjojo;  37. Hasidawaty Achmad;  38. Anida Idram;  39. Abd. Sjukur;  40. Jo Hok An;  41. Mohamad Ali Hanafiah;  42. Hamzah A. Chusni;  43. Loe Sian Nio;  44. Soerjadi Kartosoediro;  45. Bambang Soetjipto Prijosoedarmo;  46. Njoman Kumara Rai;  47. I. Gusti Putu Wiadnjana;  48. Sjamsoewidajat;  49. Mohamad Farid Aziz;  50. Like Sari Handikin;  51. Oei Hwie Ing;  52. Subur Budiman Setjaatmadja;  53. Tri Ruspandji Adisujono;   54. Siswohandojo;  55. Achmad Daurie Mochran;  56. Achmad Muajat Mohammad Natsir;  57. Achmad Tadjuddin Tirtawinata;  58. Ny. Alina Soekandar Amin Soetarto;  59. Anwar Jusuf;  60. Asril Bahar;  61. Aulia Alamsjah;  62. Priutama Aulia-Auw Phoi Siong;  63. Azis Wiriadidjaja;  64. Benjamin Putuhena;  65. Boedi Sadjarwa Anwar Mertawidjaja;  66. Boerman;  67. Boni Manupak Pasaribu;  68. Buchari Abdurrachman;  69. Busjra Muhammad Nur;  70. Dede Kusmana;  71. R. Djoko Simbardjo;  72. Doddy Pramodo Partomihardja;  73. Enud Jaja Surjana;  74. Esti Dwi Sabarati Sujachman;  75. Fachrida Ligi;  76. Fahmi Dja’far;  77. Firman Lubis;  78. Hadi Boedianto;  79. Hasnan Hamid;  80. M. Hatta Sjachrum;  81. Hedi Rosmiati;  82. Hermansjur Kartowisastro;  83. Idris Hadji Mas’ud;  84. I. Ketut Nukarna;  85. I Made Nasar;  86. Ii Supriatna;  87. Indriati Harahap;  88. Irawati Pulungan;  89. Jose Roesma;  90. R. Jubianto Judonarso;  91. Herman Setiawan (Jo Tiong Keng);  92. Junus Sumedi  Gazali;  93. Jusmansjah Idris;  94. Santoso Sumarahardjo (Khouw Lip Tik);  95. Laode Rote Tumada;  96. Asikin Mentari (Lie Kin Siong);  97. Regini Prabandari Soerjadi (liem Gien Nio);  98. Suwandhi Widjaja (LiemTjong Swan);  99. Maulana Mardajat;  100. Muslim Achmad Nathin;  101.Muzakkir Tanzil;  102. Nikmah Bahaudin;  103. Nirwan Arief;  104. J.S. Noerdin;  105. Nur Alam Massile;  106. Nursal Puar Sjahnawi;  107. Nusjirwan Rifki;  108. Ananta Widjaja (Oei Tjong An);  109. Rachman Arifin;  110. R. Rusmono;  111. Sjaiful Fahmi Daili;  112. Sajogo Sastrodihardjo;  113. Sangkot Mardjuki; 114. Santoso Cornain;  115. Felix Pardy Pranta (Siauw Ing Hok);  116. Siti Aisah;  117. Sjahruddin Harun;  118. Soepardi Soedibyo;  119. Sjarifuddin Sjamsuddin;  120. Ra. Soerjandari;  121. Sri Murni Poerwokusumo;  122. Suparman Kartosumitro;  123. Suparmi Ny. I Gusti Putu Wiadnjana;  124. Suparnadi Praptasuganda;  125. Supono;  126. Suprapto;  127. Paulus Kusuma Gunawan;  (The Kian Gie);  128. Taralan Tambunan;  129. Ronald Imam Setiadi (Tio Sie Tik);  130 Eddie Irsan (Thjio Giok Sing);  131.  Djohan Kusnan (Tjia Koen Jauw);  132. David Tirtasetia Agahari (Ng Tjio Sin);  133. Irwan Djajarahardja (Tjoa Khe Goan);  134. Tirto Hardjono Pudjianto (Tjoa Pi Hok);  135. Togar Simandjuntak;  136. R. Undang Iskandar;  137. Vera Pang;  138. Yusdi Haris;  139. Zakiah Balfas:  140. Rachmad Sadeli;  141. Ridhwan Ibrahim;  142. Zulrasjdi Djairis;  143. Anoebowo Moeljono Hardjopuro;  144. Soetjipto.

(sumber: Buku Lulusan UI 1950-1975)