January 19, 2010

MALARI: 1974

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:18 am

Sebuah Episode yang digubah berdasarkan pengalaman

penulis sewaktu duduk di Klas II SMPN XXXV- Gambir.

Bubaran sekolah aku mengikuti rombongan

Yang meneriakan pekik kebebasan dalam kemarahan.

Pada hari itu aku bangga dapat mengempiskan tiga mobil perwira.

Temanku lima bahkan ada yang sepuluh.

Semua berlomba mengumpulkan pentil sebanyak mungkin.

Para perwira terpaksa harus berjalan bersama massa.

Pada hari itu kami bangga dapat mengusir Panser

Kami gembira dapat menghalau robot-robot berpakaian seragam

Pada hari itu, kami menjadi sombong,

Karena berhasil menakuti para birokrat dan aparat.

Di Pejambon,

Aku bergabung dengan serombongan Arek

Yang seakan sedang mementaskan pertunjukan reog.

Mata mereka seperti terpejam.

Hawa mulutnya menebar anggur kebencian

Garang membawa balok dan pentungan.

Sambil berteriak seperti orang kesurupan.

Kami lalu berbelok ke arah Lapangan Banteng

Menuju Proyek Senen.

Di sana, pemilik toko komat-kamit,

Entah berdoa atau ngomel tak karuan.

Para preman Batak ikut sibuk membersihkan perhiasan.

Warga Sentiong, Tanah Tinggi, Kwitang, dan Alamo Kwini

Berebut memusnahkan barang produk Jepang.

Sehari itu, mata kami menjadi ahli membedakan

Barang yang mana yang harus dibuang.

Proyek Senen terbakar,

Jakarta lengang

Semua orang berjalan

Bahkan di jalan orang dapat tiduran.

Iring-iringan rombongan seperti ada perayaan.

Ya, memang ada perayaan menyambut kemenangan

Perayaan menyambut kebencian

Perayaan menyambut kemarahan

Dan perayaan menyambut kecemburuan.

Atas nama sebagian orang yang tidak dapat mencicipi

Harta pampasan perang Jepang.

Di Bunderan Air Mancur,

Mahasiswa bersama massa mendesak aspri mundur

Karena dianggap sebagai antek Tanaka

Yang menjerumuskan masyarakat Indonesia ke jurang romusha.

Brandwier kehabisan air

Untuk memadamkan jiwa-jiwa yang terbakar.

Yang melemparkan kekesalannya melalui batu-batu,

Melalui linggis, dan melalui api.

Baru pada hari itu, aku merasakan menjadi pemilik kota ini

Dan merasakan menjadi pemilik negeri ini.

Setelah berjalan berputar-putar, kami berpencaran.

Di pingir jalan orang bertanya,

Tentang asap yang menghitam di belakang kami.

Menjelang Malam,

Di depan jalan ke rumahku para tetangga bergerombol

Seakan berhasil menjerat mangsa buruan

Mereka mengurungku dan menanyakan peristiwa hari itu.

Ternyata, aku adalah orang pertama yang ditunggunya.

Nah…, aku menjadi pewarta.

Mereka mengikutiku sampai ke serambi rumahku.

Dengan tenang kuurut semua menit kejadian.

Pada hari itu Aku menjadi berita

Aku menjadi pencerita

Aku menjadi  koran dan radio

Aku adalah si pewarta.

Yang bangga dapat mengalahkan Oom Usman dan `Ceu Ety

Yang biasa menjajikan berita kepada para tetangga.

Sampai tengah malam,

Para tetangga masih seperti lalat mengerubungi bangkaiku.

Walaupun berjalan berkilo meter, aku tidak merasa lelah.

Yang tersisa hanya perasaan bahagia

Atas kebebasan, kemenangan, dan keberanian.

Selesai,

Semua telah kuwartakan.

Tapi ada sesuatu yang kulewatkan

Yang tak kuceritakan pada mereka

Dan tak akan pernah kuceritakan,

Bahwa di dalam kantong celanaku

Tersimpan puluhan jam tangan

Dan beberapa emas batangan

Hasil jarahan….

(Dikutip dari buku “dari Batavia sampai Jakarta 1619-1999” karya Zeffry Alkatiri)

  

Tahun 1966

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:14 am

Mahasiswa Indonesia senantiasa menggunakan kampus UI Salemba sebagai basis perjuangannya. Menjelang tahun 1966 suhu politik di Kampus UI sekitar Salemba dan Rawamangun meningkat. Hal itu karena pada tanggal 13 Desember 1965 diumumkan Penetapan Presiden No.27 Tahun 1965 (lembaran Negara RI No.102, 1965) tentang Pengeluaran uang rupiah baru yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah bagi seluruh wilayah  Republik Indonesia dan penarikan uang rupiah lama dari peredaran. Pasal 2, ayat (2) Penetapan Presiden No.27 menetapkan nilai Rp.1.000.000 (uang lama) menjadi Rp 1.000 (uang baru).

 

Penyesuaian nilai tukar uang baru berakibat naiknya harga minyak bumi dan bahan bakar pada tanggal 3 Januari 1966, yang berakibat langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat . Mahasiswa UI kemudian mempersiapkan suatu aksi yang dikoordinasi oleh Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia, yang menjadi tulang punggung KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).

 

Ketidakpuasan masyarakat luas semakin meningkat dan akhrnya meledak dalam bentuk demonstrasi. Pada tanggal 10 Januari 1966, massa mahasiswa Jakarta mengadakan apel besar bertempat di halaman Fakultas Kedokteran Salemba 6. Hadir diantara mahasiswa antara lain Kolonel Sarwo Edhie (Komandan RPKAD) dan Letnan Kolonel Urip Widodo (mewakili Pangdam V/Jaya) yang juga memberikan sambutan pada acara apel tersebut. Sebelum acara apel tersebut dibubarkan, dibacakan Tri Tuntutan Rakyat (TRITURA) yang ditujukan kepada pemerintah, yaitu (1) bubarkan PKI; (2) turunkan harga/perbaikan ekonomi; dan (3) retool Kabinet Dwikora. Para mahasiswa peserta apel kemudian bergerak dengan tertib menuju ke Sekretarian Negara untuk menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah. Mereka tetap bertahan di gedung Sekretariat Negara hingga petang hari, karena tidak ada pejabat tinggi Negara yang mereka. Ketika Chairul Saleh, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri III kembali dari Bogor, ia tidak bersedia menanggapi pernyataan mahasiswa tersebut dengan dalih terserah Presiden Soekarno. Jawaban Chairul Saleh tidak memuaskan massa mahasiswa yang berkumpul sejak pagi, dan dianggap sebagai suatu sikap yang tidak bertanggung jawab.

 

Pada tanggal 11 Januari 1966, mahasiswa melancarkan aksi kedua yang juga dimulai dari Kampus Salemba UI. Aksi tersebut berupa penghadangan lalu lintas, yang dalam waktu singkat meluas di seluruh Ibukota. Meskipun aksi itu mengganggu lalu lintas, aksi tersebut disambut baik oleh masyarakat yang mengetahui tujuan aksi tersebut., yaitu untuk meringankan beban ekonomi rakyat. Pada waktu itu jaket kuning UI menjadi lambang penegak  keadilan dan kebenaran.

(Sumber: Buku Limapuluh tahun UI)