January 18, 2010

“Jalan Pedang” yang Ditempuh Aktivis Mahasiswa

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:43 am

Jika kita menganalis informasi dan cerita-cerita para senior mahasiswa yang dahulu melakukan aksi-aksi demonstrasi, maka di dapat tiga pola besar yang ditempuh para aktivis tersebut setelah tidak lagi melakukan aksi-aksinya. Tiga jalan atau pola tersebut ternyata berlaku mulai dari jaman aktivis angkatan 1966 hingga sekarang. Hanya ada satu pola yang “anomali” yang dilakukan oleh orang-orang tertentu.  Opini ini masih bisa diperdebatkan, mungkin pula ada pola lain yang belum disebutkan dalam tulisan ini.

Para aktivis angkatan 1966, setelah menumbangkan Orde Baru, akhirnya kembali ke habitat semula, ada yang bekerja di lingkungan swasta (di luar jalur pemerintah dan Kampus)  dan bekerja  di lingkungan kampus sebagai akademisi. Ada pola baru yaitu yang ditawarkan kepada para aktivis pada saat itu, yaitu bekerja sebagai birokrat atau sebagai anggota legislatif (DPR/MPR). Maka banyak para aktivis yang menerima tawaran ini. Waktu itu pemikirannya adalah dengan duduk di lembaga legislatif maka aspirasi dan idealisme sebagai aktivis dapat tersalurkan dengan baik.

Tapi ada pendapat yang dikemukakan oleh Arif Budiman (alumni fakultas Psikologi UI) yang mengatakan, para aktivis itu ibarat seorang jagoan koboi dalam cerita film yang membanteras kejahatan di suatu kota. Begitu para penjahat telah habis ditumpas, maka biarlah sang sherif yang membenahi kota setelah terjadi peperangan,  sedangkan sang jagoan koboi pergi berkelana ke kota lain untuk menumpas kejahatan lainnya. Prinsip ini dipegang teguh oleh Arif Budiman, hingga kini dia tidak terjun dalam pemerintahan ataupun berada di lingkungan akademis. Sementara yang mewakili sang jagoan koboi yang ikut membenahi kota dan menjadi anggota  eksekutif dan legislatif antara lain Cosmas Batubara (alumni FISIP UI) dan Akbar Tanjung (Alumni FTUI)

Lain lagi yang dilakukan oleh Adnan Buyung Nasution (alumni Fakultas Hukum UI). Pada mulanya dia termasuk dalam kelompok  yang ikut masuk ke lembaga legislatif. Di tengah jalan merasa tidak ada kesesuaian dengan idealismenya, maka dia keluar dari lembaga legislatif. Lalu akhirnya bergiat di lingkungan swasta sambil tetap mengkritisi pemerintahan. Selain membuka praktek hukum dia juga dikenal salah seorang pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang membela hak-hak rakyat yang tertindas.  Belakangan dia masuk lagi dalam lingkungan eksekutif (pemerintahan SBY). Inilah yang dimaksud dengan anomali aktivis mahasiswa.