November 26, 2009

DKI… oh…DKI

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:01 am

Seorang teman menceritakan pengalamannya berhubungan dengan pihak Pemda DKI wilayah Jakarta Timur, untuk mengurus mengenai keabsahan tanah yang dimiliki UI di kawasan Rawamangun Jakarta Timur. Pengesahan dari Pihak Pemda  DKI sangat penting, berhubung ada pemeriksaan dari KPK mengenai aset-aset negara yang dikelola atau dititipkan kepada UI.

 

Dalam perjalanan mengurus surat-surat itu, ternyata banyak hambatan yang dialami. Untuk memfoto copy di kantor Pemda saja perlu biaya sampai ratusan ribu. Kemudian untuk bisa mendapatkan paraf  dari salah seorang petugas di salah satu meja, minta uang sampai jutaan. Dan itu dikatakan terang-terangan didengar oleh pegawai di ruangan tersebut. Padahal ada beberapa meja lagi sebelum sampai kepada pejabat yang berwenang. Inilah salah satu ”potret” wajah aparat pemerintah DKI Jakarta. Padahal UI adalah bagian dari pemerintah juga, sama seperti pemerintah DKI Jakarta. Bayangkanlah bagaimana kalau yang punya tanah itu pihak swasta atau perorangan.

 

Kita menjadi sedih dan marah, karena UI yang selalu mengedepankan slogan ”penjaga moral bangsa”, masuk dalam lingkaran yang justru bertentangan dengan slogan itu. Dan UI ”terjerumus” serta tidak berdaya menghadapi oknum aparat seperti itu. Lebih menyedihkan lagi karena Gubernur DKI Fauzi Bowo adalah anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI.  Kenapa bisa terjadi demikian?

 

Cara berpikir orang bawahan memang berbeda dengan cara berpikir para bos-bos. Aparat di lingkungan  Pemda DKI  mungkin tidak tahu, kalau bos dia itu orang yang mempunyai kedudukan dan dihormati di lingkungan UI, sehingga apa yang dia perbuat terhadap orang UI, dia anggap sama dengan orang lain, perlu diminta ”uang pelicin” untuk jasa yang dia berikan. Sementara ”bos-bos” di UI pun segan untuk melaporkan kasus ini kepada Fauzi Bowo, karena dianggapnya masalah kecil.

 

Tetapi jangan lupa, perbuatan menghambat dan meminta ”uang pelicin” kepada orang yang memerlukan pelayanan oleh aparat, secara moral tidak dibenarkan   apapun alasannya. Karena mental seperti inilah yang membuat rusak negara dan bangsa tidak maju.

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment