November 24, 2009

Generasi Pemimpin Bangsa Masa Depan

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:07 pm

Pada bulan Oktober ini, kita baru saja menyaksikan peristiwa penting bagi kelangsungan negara Republik Indonesia. Yaitu pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat, Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden serta Pelantikan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2.

Dan pada bulan ini pula kita akan memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober. Sedangkan pada bulan November kita memperingati  Hari Puspa dan Satwa Nasional ( setiap 5 November) serta Hari Pahlawan (10 November).

 

Yang menarik pada peristiwa tersebut di atas adalah adanya tokoh-tokoh muda yang muncul dan mempunyai peranan cukup penting dalam lembaga tersebut serta peranan yang menentukan dalam peristiwa tersebut. Inilah barangkali pesan yang dapat ditarik dari beberapa peristiwa di atas.

 

Jika kita mengenang kembali sejarah masa lalu yaitu hari-hari menjelang kebulatan tekad sumpah pemuda, para pemuda berkelompok-kelompok dalam suatu wadah organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan. Seperti Pemuda Betawi, Pemuda Ambon, Pemuda Batak, Pemuda Sunda dan sebagainya. Ketika Ikrar Sumpah pemuda dicetuskan, maka kelompok-kelompok pemuda itu melebur menjadi satu yang mempunyai tumpah darah, berbangsa dan berbahasa Indonesia. Semangat ini ternyata sangat mempengaruhi dan menjadi perekat semangat untuk merdeka yang menggelora dalam setiap dada segenap lapisan masyarakat Indonesia pada tahun 1945.

 

Pemuda juga selalu tampil pada saat-saat nasib bangsa ini mengalami krisis. Misalnya saja pada saat menumbangkan Orde Lama yang kemudian membentuk Orde Baru. Begitu pula pada saat menumbangkan Orde Baru dan Menggantikan dengan Orde Reformasi. Para pemudalah yang pertama kali bergerak dan turun ke jalan, yang kemudian mendapat dukungan dari rakyat dan kalangan elit.

 

Kalau kita melihat komposisi daripada anggota badan legislatif (DPR), banyak muka-muka baru yang usianya diantara 30 tahun hingga 40 an tahun. Padahal anggota legislatif periode sebelumnya banyak diisi oleh anggota yang usianya di atas 50 an tahun. Begitu pula kalau kita melihat para menteri yang diangkat oleh presiden, banyak diantaranya yang usianya di bawah 50 an tahun. Hal ini mencerminkan bahwa pemuda masa kini sudah dapat tampil ke depan untuk memimpin bangsa ini.

 

Namun demikian, tantangan masa depan akan berbeda dengan tantangan masa kini, karena pengaruh globalisasi, dimana perubahan yang terjadi di berbagai belahan bumi, akan berpengaruh kepada perkembangan yang terjadi di tanah air. Dengan kemajuan di bidang teknologi informasi, sudah tidak ada lagi jarak atau batas antar negara. Karena itulah, sebetulnya pengembangan diri seorang pemuda/remaja masa kini harus berbeda dengan pengembangan pemuda 10 tahun lalu. Salah satu caranya yaitu dengan melibatkan para pemuda dalam pelbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Sehingga dengan demikian dia akan menjadi matang dan kaya akan pengalaman dalam mencari solusi persoalan yang terjadi. Pengetahuan yang didapat  di lingkungan pendidikan, dapat dijadikan sebagai alat analisa dalam melihat persoalan dan mencari solusi. Inilah hakekat daripada memadukan pendidikan dengan persoalan yang terjadi di masyarakat.

 

Kalau jaman ketika Indonesia baru saja merdeka, persoalan utama yang dihadapi bangsa adalah mempertahankan kemerdekaan dan menjaga integrasi bangsa. Maka ketika jaman Orde Lama persoalan utama adalah bagaimana membangun perekonomian dan karakter bangsa. Begitu pula pada jaman Orde Baru,  barangkali isu perekonomian masih menjadi persoalan  untuk mensejahterakan bangsa dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada serta mengembangkan sumberdaya manusia dalam berbagai bidang. Maka ketika jaman beralih ke Orde  Reformasi, selain isu perekonomian untuk kesejahteraan bangsa, juga ada kesadaran baru untuk menjunjung demokrasi, penghargaan terhadap hak asasi manusia serta mengedepankan asas pemerintahan yang bersih, transparan dan akuntabel dengan disertai pemanfaatan kemajuan teknologi informasi, genom, bioteknologi dan nano teknologi.

Isu-isu ini harus menjadi pegangan pokok dan menjadi perhatian bagi generasi muda saat ini, sebagai bekal mau berkiprah dalam bidang apa dan mengembangkan profesionalisme macam apa yang akan digeluti untuk dapat berkiprah di dalam kehidupan masyarakat.

 

Kembali lagi pada persoalan yang dikemukakan pada awal alinea tulisan ini, kita masih menganggap penting untuk memperingati hari-hari penting. Paling tidak untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat terutama generasi muda, peristiwa yang terjadi di masa lalu, kemudian kita ambil maknanya disesuaikan dengan konteks bagi kehidupan di masa datang. Hanya dengan cara demikian, kita bisa melakukan sosialisasi dan alih semangat nasionalisme, nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan kepada generasi berikutnya yang akan memimpin bangsa di masa depan.