November 23, 2009

Habibie dan Pengembangan Teknologi di Indonesia

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:13 am

Ada yang menarik pada upacara pengukuhan tiga Guru Besar Fakuktas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) yang berlangsung Rabu pagi (07/10) di gedung Balaisidang Kampus Depok. Acara tersebut dihadiri oleh Prof.Dr.Ing. B.J. Habibie (74), mantan Presiden Republik Indonesia ke-3.

 

Pada saat Rektor UI Prof.Dr.der.Soz.Gumilar Rusliwa Somantri akan menutup acara, disebutkan alasan kehadiran Habibie, karena ternyata 17 tahun yang lalu ketika Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Pengembangan Teknologi (Menristek) pernah berkunjung ke UI dan memberikan ceramah di tempat yang sama (gedung Balaisidang) dengan tema ”Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Tinggal Landas, dalam Menghadapi Globalisasi Teknologi.”

 

Seorang penanya pada ceramah tersebut adalah mahasiswi Teknik Elektro Fakultas Teknik UI. Mahasiswi tersebut dan juga teman-teman segenerasinya sangat mengidolakan Habibie. Kalau pada tujuhbelas tahun lalu mahasiswi tersebut duduk sebagai pendengar, maka kini mahasiswi tersebut yang justru menjadi pembicara dan Habibie sebagai pendengar dari pidato  berjudul ”Rekayasa Protokol Jaringan Informasi dan Kematangan Sistem Informasi di Era Jaringan Sosial” sebagai orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Prof.Dr.Ir. Riri Fitri Sari, MM. MSc. Dalam kesempatan ramah tamah dengan pimpinan UI dan para Guru Besar, Habibie menyatakan, sebetulnya dia ingin duduk bersama dengan para Guru Besar UI. Tetapi sayang, atribut Guru Besarnya ketinggalan di Bandung.

 

Habibie adalah ikon pengembangan teknologi di Indonesia. Tahun 1954 tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Teknik UI di Bandung. Kemudian melanjutkan pendidikan di Jerman hingga meraih gelar Doktor dan bekerja di Industri Pesawat terbang Jerman. Tahun 1974 dipanggil Presiden Soeharto untuk mengepalai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kemudian diangkat menjadi Menteri Riset dan teknologi (Menristek). Pada era inilah di Indonesia dikembangkan berbagai industri strategis antara lain Pabrik kapal di Surabaya, pabrik senjata angkatan darat (Pindad) dan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) di Bandung. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya, maka dilakukan program percepatan insinyur di Indonesia dimana para mahasiswa Indonesia disekolahkan ke berbagai perguruan tinggi di luar negeri untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri. Puncak dari pengembangan teknologi di Indonesia adalah ketika berhasil dibuat pesawat terbang ”Tetuko CN 235”, satu jenis pesawat terbang kecil berpenumpang 35 orang, cocok untuk melayani penerbangan komuter seperti kepulauan di Indonesia. Tetapi setelah tahun 1998, industri strategis yang dirintis Habibie satu persatu mengalami kemunduran dan bahkan banyak tenaga ahlinya yang keluar dan bekerja di berbagai perusahaan di luar negeri.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment