June 5, 2009

Garda Indonesia Baru 1(GIB)

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:23 am

Ketika Indonesia menginjak usia ke-64, dimana sudah banyak makan asam garam kehidupan, baik dari aspek penerapan demokrasi, ideologi maupun dalam hal mengelola pemerintahan untuk kesejahteraan rakyat, seharusnya kita sudah mulai ancang-ancang berpikir bersama, menyinergikan segala sumberdaya dana, sumberdaya alam dan sumberdaya pikiran untuk kemajuan dan kejayaan bangsa ini. Menghindari pertentangan dan konflik, permusuhan dan dendam kesumat yang kontra produktif.

Pemilihan calon lelgislatif dan presiden seharusnya diarahkan kepada upaya memilih suatu jalan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bangsa secara keseluruhan, bukan untuk mencari keuntungan dan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya saja. Tim sukses capres bukan hanya sekedar mempengaruhi atau mempersuasi massa untuk diarahkan memilih salah satu capres, tetapi lebih berfokus pada bagaimana mengetahui aspirasi akar rumput dan menyalurkannya menjadi suatu kebijakan yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan  yang dihadapi masyarakat.

Begitu pula komunitas di lingkungan pendidikan tinggi, berjuang dan berdaya upaya, menelaah berbagai gagasan dan konsep dari para capres, melihatnya dari berbagai perspektif disiplin ilmu, menyatukan berbagai gagasan itu menjadi suatu rancangan kebijakan yang dapat dilaksanakan, kemudian diusulkan kepada pemerintah, lalu secara periodik mengawasi kebijakan itu apakah sesuai dengan rencana yang telah disusun, apakah terjadi kebocoran dalam pelaksanaannya, berapa persen pencapaiannya dalam kurun waktu tertentu. Dengan pelibatan perguruan tinggi dalam hal pelaksanaan dan evaluasi kebijakan di lapangan, lingkungan kampus menjadi dinamis dari aspek penelitian, mahasiswa dilibatkan dengan permasalahan di masyarakat, dan institusi pendidikan pun tidak menjadi menara gading.

Lemhanas telah mencoba hal tersebut dengan melakukan mengikat kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia, pada jaman menteri pendidikan dijabat Prof. Malik Fadjar, dalam hal pendidikan, penelitian dan penelaahan kebijakan. Tetapi rupanya hanya sebatas di atas kertas, tidak tampak gaungnya secara transparan dan nyata.

Ketika persoalan-persoalan negara semakin rumit karena pengaruh dari luar yang juga semakin kompleks, maka diperlukan pemikiran dan pendekatan suatu persoalan dalam perspektif yang baru sama sekali, jauh melampaui batas-batas kelompok, keilmuan, ataupun ego sektoral. Kalau pikiran kita masih terkotak-kotak dan terkungkung dengan kebanggaan terhadap institusi, matilah negara ini.