June 3, 2009

Neoliberal dan Mafia Berkeley

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:09 am

Inilah buntut dari olok-olok yang tidak elok, persoalan akhirnya berbelok dari masalah rumor politik menjadi suatu penghinaan dihadapan publik, sehingga permasalahan menjadi pelik. Dari argumentasi ilmiah akhirnya terjerumus menjadi debat kusir yang berkepanjangan.Kali ini rupanya “badai olok-olok”menerpa UGM, dulu UI pun pernah mengalaminya.

Hari ini, di salah satu stasiun televisi swasta, pada info di running text terbaca, Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA) tidak rela salah satu alumninya (Boediono) dicap sebagai antek Neolib (Liberalisme Aliran baru), suatu paham ekonomi yang memberikan kebebasan kepada mekanisme pasar, yang diinterpretasikan dengan suatu bentuk penjajahan baru kaum kapitalis terhadap kedaulatan Negara Republik Indonesia. Ini tentu saja sangat meresahkan, karena istilah itu mempunyai konotasi negatif baik terhadap individunya maupun kepada institusi (khususnya Universitas Gajah Mada).

Tidak ada asap kalau tidak ada api. Siapa yang pertama kali melontarkan tentang neolib ini sebetulnya mudah dilacak dengan melihat kepada pemberitaan di berbagai media. Tetapi bak peluru yang sudah ditembakkan, dalam teori komunikasi begitu informasi sudah ditebar di media, tidak akan bisa ditahan lagi atau pun diralat. Ia akan terus meluncur ibarat bola salju yang makin lama makin membesar. Bisa jadi informasi yang tersebar sudah tidak persis sama dengan informasi awal, karena adanya sudut pandang dan penafsiran yang berbeda dari orang yang berbeda-beda. Maka tidak heran kalau dalam masalah neolib ini pun, pengertian yang ada di masyarakat sudah “melenceng” jauh dari maksud yang sebenarnya oleh si pelempar isu. Tadinya mungkin hanya sekedar guyonan di kalangan terbatas. Tetapi ternyata akhirnya menjadi serius, terbukti dengan adanya istilah baru lawan dari neolib, yaitu ekonomi kerakyatan yang coba dikemukakan dengan berbagai argumentasi yang meyakinkan oleh para tokoh dan kalangan terdidik. Untunglah masih ada sebagian kecil orang yang mengerti tentang teori ekonomi berusaha meluruskan informasi yang menyesatkan itu. Tetapi sangat disayangkan, ternyata beberapa kalangan pengelola media justru sengaja memelihara “kelirumologi” itu, dengan memberitakan tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat (awam). Hal inilah yang membuat runyam persoalan.

Perkara “cap negatif” seperti di atas, tidak hanya dialami oleh alumni Universitas Gajah Mada. Para alumni UI pun sebelumnya pernah juga mendapat pelecehan yang lebih sadis dan negatif, yaitu Mafia Berkeley. Istilah itu ditujukan kepada para alumni UI yang pada jaman orde baru berpartisipasi membangun perekonomian negara. Pada waktu itu ada beberapa menteri dalam kabinet alumni UI lulusan dari universitas Berkeley Amerika Serikat. Bayangkanlah istilah mafia itu, suatu sebutan kepada kumpulan para bandit/penjahat (Mafioso) di Sisilia Italia Selatan. Cerita mafia ini dapat dilihat dalam serial film Godfather (ada 4 seri) yang dibintangi antara lain oleh Marlon Brando, dan Al Pacino dengan sutradara Francis Ford Coppola. Lucunya pula, istilah tersebut dikenakan kepada semua para menteri lulusan alumni UI. “Cap” itu diberikan oleh orang-orang yang tidak senang terhadap dominasi para alumni UI di kabinet. Dan rupanya pihak media pun ‘senang’ dengan istilah itu. Beberapa tokoh politik atau pun kalangan tertentu masih suka menyebut Mafia Berkeley kalau menyinggung tentang perekonomian jaman Orde Baru.

Kita sebagai orang terdidik dan berada di lingkungan pendidikan, semestinya tidak ikut arus untuk memakai suatu istilah yang tidak benar dan menyesatkan, lebih mengedepankan rasionalitas ketimbang emosional. Hanya dengan demikian kita bisa “menyehatkan” masyarakat dari “racun-racun” yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

1 Comment »

  1. Setahu saya julukan mafia berkeley karena tim ekonomi yang bekerja pada awal rezim orde baru semua adalah lulusan Univrsitas Berkeley, Amerika Serikat. Dijuluki sebagai mafia karena tim ini dalam mengambil kebijakan ekonomi bagi Indonesia sangat pro kepentingan barat (pro IMF dan World Bank). Misalnya adalah kebijakan utang luar negeri yang sangat merugikan bangsa Indonesia, kontrak karya sumber daya alam yang sangat menguntungkan perusahaan asing tetapi merugikan bangsa Indonesia juga. Orang-orang lulusan Universitas Berkeley ini kemudian menjadi dosen di Universitas Indonesia, yang kemudian tentu saja mengajarkan kepada mahasiswanya tentang kebijakan ekonomi liberal yang sangat pro barat. Mungkin ini yang kemudian menyebabkan UI dan UGM diterpa “badai olok-olok tadi. CMIIW.

    Comment by Do Do — January 14, 2010 @ 5:24 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment