May 29, 2009

Panji Ilmu Berkibar Terus

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:43 pm

Sabtu (23/05) pagi, saya dan anak pertama saya naik motor ke Megamendung Puncak menyusuri jalan Depok Lama, Citayam, Bojonggede, Cilebut, Kebon Pedes, Bogor, Tajur, Ciawi hingga ke salah satu desa di wilayah Kecamatan Megamendung Puncak. Inilah perjalanan pertama anak saya naik motor ke kawasan Puncak. Sengaja naik motor, untuk memberikan pengalaman dan wawasan kepada anak, perjalanan dengan mengendarai motor. Padahal sebetulnya telah disediakan dua bus untuk memudahkan transportasi dari Kampus Depok ke lokasi yang dituju.

Acara yang dihadiri adalah dalam kaitan melepas sekretaris Rektor UI, yang akan menempuh pendidikan doktor (S3) di Jerman pada awal Juni mendatang. Telah lima tahun bertugas sebagai sekretaris sejak Rektor UI masih menjabat sebagai Dekan FISIP UI. Sebelumnya adalah staf pengajar pada Departemen Ilmu Administrasi FISIP. Setelah diangkat sebagai sekretaris dekan, praktis kegiatan mengajarnya untuk sementara diistirahatkan alias tidak aktif. Tahun ini kebetulan ada panggilan dari salah satu universitas di Jerman.

Dalam sejarah UI sejak masa Orde Baru, sekretaris atau lebih tepatnya kepala sekretariat Rektor, yang bertugas untuk melancarkan urusan birokrasi yang berkaitan dengan tugas-tugas kerektoran dijabat hanya oleh beberapa orang saja dan tidak sembarang orang bisa mengisinya, karena disini sangat berperan adanya “chemistry” antara sekretaris dengan Rektor. Faktor ini penting sekali karena tugas sebagai sekretaris rektor unik dan tidak sekedar melulu mengurus urusan birokrasi. (untuk mengetahui tugas-tugas sekretaris ini, ada buku berjudul “Memaknai Kehidupan, Menjelang Delapan Windu UI 1950-2014” karya R.M.Koesmardiono, SH yang akan dibahas tersendiri).

Bagi sebagian orang, mungkin menjadi sekretaris (orang kepercayaan) dari orang nomor satu di salah satu perguruan tinggi suatu hal yang sangat diidamkan. Karena berarti dekat dengan kekuasaan. Kekuasaan identik dengan kemudahan mendapatkan fasilitas, bergelimang dengan materi, dapat kenal dengan banyak orang dari berbagai kalangan, dan tahu banyak tentang sesuatu dimana tidak semua orang dapat mengetahuinya. Tetapi orang lupa atau tidak peduli, penderitaan yang harus ditanggungnya. Sekretaris merupakan cerminan atau representasi dari pimpinan, sehingga dia harus menyimpan rahasia dengan baik, sigap dan cekatan dalam bekerja, mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik, dapat melakukan tugas “intelijen” serta harus siaga terus selama 24 jam untuk melayani pimpinan. Namun demikian, banyak juga hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dengan bertugas sebagai orang yang dekat dengan pimpinan, yang barangkali tidak akan ditemukan dalam buku-buku atau matakuliah manapun dan tidak bisa dinilai secara materi.

Ada hal menarik dari peristiwa ini, dimana karir seorang sekretaris tidak berhenti sampai sekretaris saja, tetapi juga dapat mengembangkan ilmu setinggi-tingginya dan ini tidak lepas peranan dorongan semangat dan kebebasan yang diberikan rektor. Dari peristiwa ini ada hal yang patut ditiru dari teman sekretaris ini, yaitu semangat untuk tetap menuntut ilmu dan mengamalkannya kepada para mahasiswa. Inilah hakekat seorang guru sejati, yang saat ini sangat langka ditemukan. “Selamat jalan Kang Panji!” (jangan lupa “pesenan” saya tea).