May 28, 2009

Jenderal OSPEK

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:31 pm

Kalau Nagabonar, (dalam film) menjadi jenderal hanya karena keberaniannya dalam menghadapi Belanda di meja perundingan, padahal sebelum meletus perang revolusi melawan penjajah Belanda, pekerjaan utamanya hanya sebagai pencopet kelas teri. Maka cerita di bawah ini, adalah seorang yang melakukan perbuatan membuang bangkai tikus, kemudian jadilah dia seorang jenderal yang mempunyai anak buah sebanyak 200 orang.

Ide tulisan ini muncul, saat seorang teman mahasiswa (kita mempunyai istilah wanwansib/kawan-kawan senasib) se-angkatan di FISIP UI, meninggal dunia pada hari Kamis (28/05), di milis angkatan ramai komentar tentang kepergian teman tersebut. Diantaranya ada yang berkomentar tentang bangkai tikus pembawa berkah. Tulisan ini juga sekaligus untuk mengenang semua wanwansib yang dulu sama-sama mengalami suka duka menjadi mahasiswa baru UI.

Ketika mengetahui diterima menjadi mahasiswa FISIP UI, tiada kata yang dapat mewakili ungkapan perasaan hati. Apalagi waktu itu diantara yang sama-sama diterima tercantum nama Mohammad Guruh Seokarnoputra.(tapi ternyata kemudian tidak mendaftar ulang, maka otomatis gugurlah status dia sebagai mahasiswa baru FISIP UI). Ada juga seorang mahasiswa se angkatan, ternyata berpangkat Letnan Kolonel Tentara Nasional Angkatan Darat (TNI AD) dari Komando Pasukan Khusus (Kopasus). Waktu itu memang belum ada pembatasan usia seorang mahasiswa. (tapi belakangan akhirnya dia meninggal, mendapat musibah pada waktu peresmian pabrik gula di Lampung).

Singkat cerita, para mahasiswa baru FISIP UI dibagi dalam 13 kelompok. Masing-masing kelompok dipilih ketua regu (laki) dan wakilnya (perempuan). Dalam situasi yang baru bertemu itu, tentu saja masing-masing orang akan merasa asing, apalagi berbeda asal sekolah dan dari berbagai pelosok nusantara. Dalam situasi seperti itu dan tekanan dari para senior yang melakukan perpeloncian terhadap mahasiswa baru, dilakukan pemilihan ketua angkatan mahasiswa baru yang bertugas untuk menyiapkan barisan dan mengabsen mahasiswa baru. Masing-masing ketua kelompok dan juga wakilnya “bertarung” untuk meraih jabatan tersebut. Para senior menyebutnya sebagai pemilihan jenderal dan jenderil.

Kepada masing-masing calon diberikan waktu selama lima menit untuk memperkenalkan diri dan melakukan kampanye dihadapan 200 an mahasiswa baru disaksikan para senior dan panitia pelaksana penerimaan mahasiswa baru Senat Mahasiswa FISIP. Dalam situasi seperti itulah mencoba untuk memperkenalkan diri dengan nama sebutan yang mudah diingat orang sambil menceritakan jasa yang telah dibuat, yaitu membuang bangkai tikus dari halaman yang akan dijadikan tempat berkumpul mahasiswa baru. Pada waktu penghitungan suara, ternyata mendapat suara terbanyak. Maka sejak itulah resmi menyandang Jenderal OSPEK (Orientasi dan Pengenalan Kampus) Mahasiswa baru FISIP UI selama kurang lebih dua minggu. Kalau tidak salah ada lagunya, yang dinyanyikan oleh Louis Hutauruk.

Tugas utama Jenderal OSPEK, setiap pagi menyiapkan barisan dan mengabsen seluruh mahasiswa baru FISIP. Dari kegiatan mengabsen ini, sampai hafal diluar kepala teman-teman seangkatan. Kalau dikatakan nama depannya, maka nama belakangnya dapat disebutkan dengan tepat. Dari kegiatan OSPEK ini, para mahasiswa senior dan teman-teman seangkatan lebih mengenal sebutan nama di OSPEK ketimbang nama asli. Ada juga dosen sosiologi, yang hanya tahu nama waktu menjadi jenderal OSPEK daripada nama asli. Bahkan ada seorang teman seangkatan yang kini menjadi staf pengajar, hingga kini kalau menyapa masih memanggil Jenderal sambil mengangkat tangan kanan. Konon katanya, tahun berikutnya setiap ada pemilihan ketua mahasiswa baru OSPEK, sebutannya tidak lagi JENDERAL OSPEK, tetapi turun pangkat dipanggil KOPRAL.