May 27, 2009

Tiada Kata Jera Dalam Perjuangan

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:31 pm

Di bawah ini adalah komentar dari saudara Peter Sumariyoto, mantan Ketua Dewan Mahasiswa UI (1981-1982), yang mengomentari terhadap tulisan berjudul “Jahiliyah 6: Alma Mater Minta Ketegasan Sikap Kita” (lihat http://staff.blog.ui.ac.id/rani) yang merupakan cuplikan dari Buku “Wawasan Alma Mater” yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto.

Di dalam buku “Memaknai Kehidupan, Menjelang Delapan Windu UI (1950-2014)” yang ditulis Kusmardiono, (mantan koordinator staf Pribadi Rektor UI) cetakan UI Press 2009 disebutkan surat skorsing terhadap Ketua Dewan Mahasiswa UI sebetulnya sudah dikeluarkan menjelang masa berakhirnya kepemimpinan (alm)Prof.Mahar Mardjono sebagai Rektor UI. Tetapi konflik antar mahasiswa dengan pimpinan UI “meruncing” saat Rektor dijabat (alm) Prof. Nugroho Notosusanto.

” TIADA KATA JERA DALAM PERJUANGAN “, adalah kata-kata revolusioner mahasiswa Universitas Indonesia yang tergabung dalam IKM UI, untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap penindasan mahasiswa Indonesia oleh cecunguk-2 Regime Otoriter / Diktator Suharto, melalui boneka-2 otoriter dibalik wajah-2 pimpinan Perguruan Tinggi. Manipulasi akhlak berselubung pembenaran prosedural birokrasi, berupa seolah-olah telah mengirimkan surat skorsing, teguran dan penandatanganan Surat Pernyataan, adalah bohong besar. Saya yang membaca tulisan Alm Rektor Prof. Nugroho Notosusanto diatas, meluruskan catatan sejarah Kampus UI agar catatan sejarah ini menjadi benar. Kini perjuangan Mahasiswa masa lalu telah membebaskan kampus dari anasir-2 otoriter regime penguasa. Tidak ada kata sia-2 ketika kita mau berjuang bagi kepentingan publik / orang banyak , tetaplah slogan ” TIADA KATA JERA DALAM PERJUANGAN ” selalu aktual bagi mahasiswa kampus dalam menegakkan kebenaran dan keadilan hakiki. (Peter Sumariyoto; 081586365869)

Robohnya Parpol Kami

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:07 am

Ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil perolehan suara partai yang berlaga dalam pemilihan umum (pemilu) untuk menentukan calon legislatif (caleg) yang akan menuju Senayan menjadi wakil rakyat (DPR), dimana perolehan suara yang didapat oleh partai politik (parpol) pemain lama, kebanyakan menurun secara signifikan, mungkin karena disebabkan adanya konflik internal partai, kurang menarik dari segi program yang ditawarkan, atau adanya perilaku kader partai tidak amanah yang menyebabkan pemilih menjadi antipati, hal ini menjadi salah satu sebab semakin menipisnya kepercayaan rakyat terhadap parpol, maka robohlah parpol kami.

Kemudian ketika SBY sebagai ketua dewan Pembina partai yang mendapat suara yang memenuhi syarat untuk mengajukan sebagai calon presiden (capres), mengumumkan calon pendampingnya sebagai calon wakil presiden (cawapres) Boediono, seorang tehnokrat yang berasal dari lingkungan pendidikan tinggi, bukan dari kalangan parpol. Padahal sebelumnya para parpol yang berkoalisi beramai-ramai mengajukan nama-nama calon cawapres dari parpolnya masing-masing, dengan harapan calon tersebut dilamar SBY sebagai cawapres. Tetapi justru SBY memilih cawapres bukan berasal dari kalangan parpol, maka ributlah para parpol karena merasa tidak diajak berunding, padahal sebagai mitra koalisi semestinya menjadi skondan untuk mengambil keputusan-keputusan yang menentukan. Dengan demikian sudah jelas, usulan parpol tidak dianggap sama sekali, maka robohlah cawapres parpol kami.

Merasa kesal karena usulannya tidak dijadikan pertimbangan dalam menentukan cawapres, maka dicarilah berbagai kelemahan dari cawapres, maka ditiup-tiupkanlah ke media dengan mempertentangkan paham ekonomi kerakyatan dengan ekonomi kapitalis baru yang individualistis. Tetapi isu ini ternyata hanya laku seketika, ketika kemudian dijelaskan hakekat dari sistem ekonomi itu seperti apa, kebijakan ekonomi yang diambil mulai dari pemerintahan reformasi hingga sekarang, maka bungkamlah para pengeritik tidak bisa berkutik. Ternyata taktik kritik picik hanya menggelitik wong cilik yang tidak mengerti politik. Maka robohlah  kritikan dan kepicikan parpol kami.