May 26, 2009

Sumpah, Sampah Susah Diolah

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:29 pm

Di suatu sore, saat akan pulang kantor, hujan turun dengan derasnya. Sambil menunggu hujan reda, beberapa orang asik membicarakan tentang sampah. Kebetulan salah seorang diantaranya telah mematenkan hasil temuannya, yaitu berupa mesin pengolah sampah/limbah organik yang dapat diubah menjadi bentuk energi alternatif. Suatu saat dia pernah mencoba mengajukan usulan kepada Pemda DKI Jakarta untuk mengolah limbah/sampah dengan mesin hasil temuannya. Tetapi ternyata terhambat karena masalah birokrasi.

Di sisi lain, dalam skala kecil di UI pun menghadapi persoalan dalam menangani sumpah ini. Suatu saat di pinggir jalan dekat Fakultas Ilmu Komputer UI, ada tempat pembuangan sampah yang baunya sangat menyengat. Rupanya ada warga UI yang mengeritik perkara ini, dengan sigapnya pengelola UI membereskan tempat sampah tersebut. Entah kemana itu tempat sampah diletakkan, yang jelas bau sampah tidak ada lagi. Tetapi tetap akan menjadi masalah selama sampah/limbah itu hanya sekedar pindah tempat, tidak diolah. Dan konon kata si penemu mesin pengolah sampah organik, pihak UI belum pernah meminta bantuan atau memanfaatkan hasil temuannya tersebut untuk mengolah sampah yang ada di kampus.

Bicara sampah, akhirnya sampai juga pembicaraan kepada capres dan cawapres Megawati-Prabowo Subianto, yang dideklarasikan di tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang Bekasi. Deklarasi itu bisa juga dikatakan sebagai “Sumpah Sampah”, karena capres dan cawapres bersumpah di tempat sampah (Bantar Gebang) untuk berbuat yang terbaik bagi kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak.

Seorang teman yang mendengar tentang deklarasi sumpah sampah ini mengandaikan, kalau sumpah sampah itu bisa dilakukan di UI. Tinggal cari saja tempat buangan sampah yang memadai untuk dijadikan tempat mendeklarasikan capres-cawapres. Dengan demikian beberapa keuntungan yang bisa didapat. Pertama deklarasi tetap dilakukan di tempat sampah, masih bisa mencium bau sampah dan bisa mendekati golongan kaum terdidik karena berada di lingkungan kampus. Seperti kita ketahui bersama SBY-Berboedi mendeklarasikan capres-cawapresnya di gedung SABUGA yang berada di lingkungan kampus ITB Bandung. Maka sebetulnya kalau Mega-Pro mendeklarasikan di tempat sampah kampus Depok, berarti juga punya nilai historis dan semangat yang luar biasa, karena setelah reformasi, UI mendapat sebutan sebagai kampus perjuangan rakyat.

Sumpah Sampah telah dilakukan di Bantar Gebang. Kalau saja dilakukan di UI pun belum tentu semua warga UI setuju, karena dengan demikian akan menghilangkan aspek kenetralan dari institusi pendidikan tinggi, mengikis kampus sebagai penjaga gerbang moral bangsa. Tetapi yang lebih utama lagi sebetulnya dikhawatirkan keluarga UI akan terpecah-pecah menjadi partisan salah satu capres-cawapres. Kalau pun UI mau membantu, lebih elegan kiranya kalau dalam bentuk usulan berupa konsep/pemikiran langkah apa yang harus diambil ke depan, yang diberikan kepada ketiga calon capres-cawapres yang akan maju. Konsep ini bukan seperti atau tidak boleh menjadi sampah yang susah diolah.