May 18, 2009

Sajak Bulan Mei 1998 (WS Rendra)

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:20 pm

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan Amarah merajalela tanpa alamat Kelakuan muncul dari sampah kehidupan Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan! O, malam kelam pikiran insan! Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan Kitab undang-undang tergeletak di selokan Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan! O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja! Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa Allah selalu mengingatkan bahwa hukum harus lebih tinggi dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan! O, rasa putus asa yang terbentur sangkur! Berhentilah mencari Ratu Adil! Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya! Apa yang harus kita tegakkan bersama adalah Hukum Adil Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara menjadi saksi yang akan berkata: Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana! Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta! Apakah masih buta dan tuli di dalam hati? Apakah masih akan menipu diri sendiri? Apabila saran akal sehat kamu remehkan berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap yang akan muncul dari sudut-sudut gelap telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi Airmata mengalir dari sajakku ini.

(Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998)

Kenangan Terhadap Ali Nurdin

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:29 pm

Sembilan hari sudah kepergian Drs. Ali Nurdin (66) yang meninggal pada hari Jum’at (08/05) karena berbagai komplikasi penyakit yang diidapnya cukup lama. Meninggalkan seorang istri dan satu anak perempuan dan satu cucu. Jabatan terakhir sebelum pensiun, almarhum menjabat Kepala Biro Administrasi Umum pada periode kepemimpinan Rektor Prof.Dr.dr. A. Budisantoso R.

Pada masa itu, adalah priode transisi dimana UI akan beralih kepada  perguruan tinggi negeri yang berstatus Badan Hukum Milik Negara (PTN BHMN), dimana etos kerja para pegawai UI dituntut untuk berubah dari gaya yang bersifat birokrasi kepada gaya yang  bersifat korporasi. Pada masa transisi itulah Drs. Ali Nurdin bersama almarhum Sumanto SH yang menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI), merupakan dua orang tenaga administrasi (non-akademik) yang berhasil menjabat sebagai eselon II di lingkungan Universitas Indonesia. Prestasi staf administrai yang menduduki jabatan eselon II ini merupakan tonggak penting, yang tidak mungkin bisa dicapai oleh staf administrasi lainnya di lingkungan UI.

Setelah pola PTN BHMN diterapkan, tidak ada lagi sistem eselonisasi, jenjang Kepala Biro, Kepala Bagian, dan kepala subbagian tetapi diganti menjadi jenjang direktur, Kepala Subdit dan manajer. Hal ini juga berpengaruh pada pengisian jabatan tersebut. Hampir selalu jabatan tersebut kebanyakan diisi oleh tenaga akademik. Dengan sistem baru ini juga tidak terlihat adanya pola yang jelas untuk penjenjangan jabatan atau karir bagi tenaga non-akademik. Pengembangan SDM untuk tenaga  non-akademik juga tidak jelas dan tidak terarah. Berbeda misalnya ketika masih memakai pola birokrasi, penjenjangan pengembangan SDM masih ada  seperti misalnya  Administrasi Umum (ADUM), Sekolah Pendidikan Administrasi Pertama (SPAMA), Sekolah Pendidikan Administrasi Menengah (SPAMEN) dan Sekolah Pendidikan Administrasi Tinggi (SPATI).

Untuk jangka panjang, keadaan di atas akan menimbulkan masalah besar. Karena layanan pendidikan tanpa ditopang oleh tenaga non-akademik ( istilah sekarang supporting staff atau tenaga penunjang pendidikan) yang handal dan profesional akan menyebabkan ”jomplang”. Di satu sisi, tenaga pendidik dikembangkan sedemikan rupa, sementara tenaga penunjang pendidikan tidak berkembang, akan menyebabkan layanan kepada peserta didik menjadi kurang maksimal. Inilah ironi di bidang pendidikan kita.