May 7, 2009

Kambing Jantan

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:39 pm

Catatan harian difilmkan dengan pemain utama yang membuat catatan harian tersebut, dengan alasan karena sudah dikenal dan punya penggemar tersendiri, karena sempat dibuat blog dan buku dan mempunyia public pembaca yang cukup besar. Bandingkan dengan film slummdog millionare yang mendapat oscar mengangkat satu tema besar dan menyentuh bagi peradaban. Bandingkan pula dengan ide-ide besar rektor UI yang mengambil tema-tema besar berdimensi luar dan jauh ke depan.

Dalam suatu kesempatan membuka-buka internet, diketemukan kata “Kambing Jantan”. Ketika ditelusuri lebih jauh, ternyata judul sebuah catatan harian yang ditulis seseorang, lalu dijadikan sebauh blog tersendiri. Ternyata mendapat respon yang meriah dari kalangan pembaca dan mempunyai penggemar tersendiri. Lalu dibuatlah menjadi satu buku tersendiri dan akhirnya dibuat film. Bagaimana isinya, tidaklah terlalu penting sekali. Tetapi yang jelas dampak dari isi film tersebut ternyata biasa-biasa saja. Tidak terlalu banyak orang mengulas di media atau menjadi wacana public.

Bandingkan dengan buku “Laskar Pelangi”. Tadinya merupakan sebuah catatan seorang anak yang begitu mengagumi guru sekolah dasarnya. Kemudian dibuat buku dan juga dibuat blog tersendiri bernama sastrabelitong. Secara sistematis dan terencana dilakukan publikasi dan bedah buku dari satu tempat ke tempat lainnya. Publik dikondisikan dan dibentuk komunitas tersendiri. Ketika akhirnya dibuat menjadi sebuah film, masyarakat beramai-ramai ingin menontonnya, karena penasaran. Seperti apakah gerangan tokoh-tokoh dalam buku Laskar Pelangi “dihidupkan” dan ditampilkan dalam pita seluloid.

Ada kesamaan antara keduanya, yaitu dalam hal perjalanan dari sebuah catatan harian yang bermetamorposis menjadi buku, blog dan film. Tetapi ada perbedaan yang besar ketika melihat dampak yang diakibatkan setelah orang menonton filmnya. Kenapa bisa terjadi begitu? Karena kelemahan utama dari film Indonesia terletak pada penulisan skenarionya. Demikian kata Misbach Yusa Biran, Penulis Skenario, mantan Ketua Karyawan Film dan Televisi, Anggota Dewan Film Nasional, dan mantan Direktur Sinematek Indonesia.

Skenario seringkali disamakan orang dengan blue print dari suatu rencana bangunan, di mana semua orang yang terlibat melaksanakan pembangunan gedung bersangkutan mengacu kepada blue print tersebut. Karena semua orang yang terlibat pada pembuatan sebuah film harus mengacu pada skenarionya, mulai dari sutradara, juru kamera, art director, sampai ke lightingman, ketika menjelmakan adegan demi adegan harus berpedoman pada petunjuk di skenario. Naskah skenario ini yang mendesain agar penonton nanti akan terus duduk terpana. Sebaliknya berakibat buruk pada kesan penonton kalau skenarionya gagal.

Tugas skenario adalah mendisain penyajian sebuah cerita agar bagus dan menarik disuguhkan secara filmik. Artinya agar cerita bisa bagus dan enak disaksikan sebagai tontonan yang disajikan dengan gambar bergerak (moving image) dan suara. Karena sebuah cerita yang indah sebagai karya sastra, bisa jadi tidak akan bagus kalau disajikan sebagai film. Umpamanya sebuah novel yang sebagian besar berupa percakapan diri sendiri, surat menyurat, akan menjadi film yang membosankan. Kalau ceritanya serupa itu, atau mengandung problema yang tidak menarik, maka penulis skenario tidak bisa mengubah jadi skenario yang hebat. Paling-paling menjadi sekadar enak ditonton, sebagai hiburan.

Semestinya sebuah film yang baik yang dapat membangun karakter bangsa, hendaknya mengandung pesan yang bermutu atau mempunyai central idea, yaitu bahan perenungan yang filosofik yang ingin disampaikan kepada penonton. Hal ini dinamakan juga ide pokok. Ada pun jalan cerita dramatik hanya kemasan agar pemikiran dari central idea dapat diterima secara persuasif oleh penonton. Ide pokok yang bermutu adalah kalau bahan pemikiran itu bisa ditarik pemahaman filosofiknya makin dalam, dan daya jangkaunya luas. Bukan hanya berlaku di Jakarta atau di Jawa saja, tetapi berlaku bagi seluruh bangsa, semua umat manusia. Itulah kenapa misalnya film Slummdog Millionare meraih penghargaan Oscar terbanyak pada Academi Award baru-baru ini. Karena isi ceritanya menyangkut masalah kemanusiaan yang sifatnya universal, walaupun ceritanya mengambil latar belakang yang terjadi di bumi India.