May 4, 2009

Membangun Sistem Komunikasi Perekat Bangsa

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:38 pm

Saya mengenal Bung M. Alwi Dahlan (AD) pada pertengahan tahun 1950-an di suatu pertemuan di Jalan Blitar 6 Jakarta, yang terdiri atas beberapa aktivis mahasiswa dan wartawan muda. Rumah tersebut ditinggalkan oleh Beb Vuyk, seorang penulis Indo-Belanda yang amat pro-Republik , teman mantan Perdana Menteri Soetan Sjahrir. Dia meninggalkan rumah tersebut dengan koleksi buku-bukunya pada tahun 1958 karena konflik Irian Barat. Di rumah tersebut antara lain juga tinggal Anis Ibrahim, mahasiswa Fakultas Ekonomi yang ikut merintis berdirinya Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). AD sebenarnya tinggal di asrama mahasiswa Pegangsaan Timur 17, tetapi dia sering datang kesana. Dari diskusi-diskusi itulah kami saling berkenalan. Saya tahu bahwa dia juga penulis skenario film, tetapi yang mempertemukan kami adalah kegiatan di bidang pers mahasiswa. Saya aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang mempunyai terbitan sendiri. Pada waktu itu sudah ada Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI). Dari tahun 1950-an itulah, tumbuh persahabatan kami.

Sebagai catatan, pada tahun 1950-an, Bung AD ikut mengasuh majalah Mahasiswa terbitian Dewan Mahasiswa UI yang berbentuk tabloid. Tata letaknya dan mutunya boleh dibanggakan.

AD mendapat kesempatan selama satu tahun ke Amerika Serikat. Saya rasa atas dasar kerja sama antara PPMI dan US National Student Association (USNSA). Tetapi setelah programnya satu tahun selesai, dia putuskan untuk tetap tinggal di sana dan melanjutkan kuliah. Tentunya, dia mulai dari bawah lagi. Saya kemudian bertemu dia di AS, Washington DC pada tahun 1960, yang sambil belajar dia juga bekerja sebagai penjaga malam di KBRI. Walaupun kemudian kami tinggal terpisah, saya di New York dan ia kemudian pindah ke California, tetapi saya tetap mengikuti kegigihannya untuk terus menyelesaikan studi, dari tingka BA hingga ke tingkat MA, sampai Ph.D. Hal itu sungguh tidak mudah, bagaimana mencari pendanaan dan bagaimana menekuni studi, menulis tesis dan disertasi. Sedangkan kesehatannya itu tidak begitu mantap. Jadi, yang saya kagumi adalah tekadnya yang kuat untuk menyelesaikan studi sampai dia mencapai gelar doktor di bawah bimbingan seorang profesor yang pada tahun 1960-an di bidang ilmu Komunikasi paling menonjol di Amerika Serikat, yaitu Prof.Wilbur Schramm.

Kebetulan saya ke Indonesia ketika AD menikah. Pada tahun 1972, saya sempat menghadiri pernikahannya. Kemudian ketika saya menetap lagi di Indonesia pada 1973 dan aktif di Koran Sinar Harapan jadi wakil pemimpin redaksi, kami lanjutkan persahabatan kami.

Apa yang ingin saya tekankan ialah bahwa persahabatan antara sekelompok teman-teman di tahun 1950-an itu bisa berlangsung sampai sekarang bukan hanya karena sentimentalitas pribadi. Namun, karena mendambakan Indonesia supaya bisa tetap bersatu, tetap rukun meskipun agama macam-macam. Prinsip pluralitas itu yang dipegang teguh oleh kami yang didewasakan pada tahun 1950-an dan kemudian merantau ke berbagai penjuru dunia. Kami kemudian juga melihat bangsa lain, bagaimana kesatuan bangsa itu dikoyak-koyakan karena masalah agama, suku bangsa atau, bahasa. Saya rasa, tanpa kami gembar-gemborkan, kami tetap merupakan ikatan. AD dari Minangkabau, beragama Islam dan saya dari Tapanuli, beragama Kristen Protestan.

Mengapa ilmu komunikasi penting? Apakah Ilmu Komunikasi dalam kecanggihannya, seperti teknik, teknologi juga dapat membawa pesan yang melintasi perbedaan suku bangsa, agama, latar belakang sosial, kaya miskin? Hal ini yang seyogyanya merupakan fokus dari ilmu komunikasi sekarang. Justru Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta, begitu beraneka ragam menghuni suatu wilayah negara kepulauan yang unik. Kalau kita letakkan peta Indonesia di atas peta Eropa dengan skala yang sama,, maka akan mencakup wilayah dari London sampai Ankara. Dan 80 persen dari bangsa Indonesia tinggal di pulau Jawa. Sehingga di Indonesia budaya Jawa itu yang dominan.

Apakah ilmu komunikasi yang diterapkan di Indonesia ini dapat membantu meningkatkan kohesi bangsa, ditengah-tengah semua keanekaragaman pada era globalisasi ini? Saya rasa, AD menekuni bidang ini.. Dan itu membuat saya lebih respek pada dia.

Apabila sekarang banyak angkatan muda ingin menekuni ilmu komunikasi agar bisa menjadi wartawan, presenter, itu hanya masalah mencari job saja. Hal ini tentu sah-sah saja. Tetapi, apakah pada tahun-tahun mendatang, komunikasi yang diterapkan dengan kecanggihan teknologi, dapat meningkatkan kohesi bangsa? Atau, apakah karena kecanggihan komunikasi itu, informasi sekarang lebih cepat sampai di berbagai lokasi di Indonesia, atau justru karena itu kerenggangan bahkan perpecahan timbul? Misalnya, diketahui daerah yang satu lebih dimanjakan, lebih kaya dari daripada daerah lainnya. Di satu daerah ada diskriminasi, malahan diskriminasi agama, atau yang lain berontak. Jangan lupa, bahwa salah satu aspek Indonesia ini yang unik adalah adanya gumpalan-gumpalan konsentrasi, dimana ada daerah yang mayoritasnya beragama Hindu-Bali, beragama Protestan, atau beragama Katolik. Kenyataan sosiologis itu memang ada latar belakang sejarahnya. Kalau kita ke Maluku, Sulawesi Utara, Flores, Bali, Tapanuli, puasa praktis tidak ada dampaknya dibanding Natal. Dan saya rasa variasi itu adalah kekayaan nasional. Apakah komunikasi itu bisa mendorong terwujudnya toleransi? Sebetulnya kata toleransi itu terlalu pasif. Saya lebih suka sikap aktif, yakni mendorong rasa saling harga menghargai sebagai bangsa. Kalau kita tidak mampu, maka sebagai bangsa, kualitas kita tidak akan bisa meningkat, dan kalau daya mampu kita tidak meningkat maka kita akan ketinggalan dalam kompetisi globalisasi yang sudah pasti sengit pada abad ke-21. Di sinilah peranan AD sebagai pemikir teori komunikasi amat penting.

Kesadaran apa yang paling penting yang harus kita hadapi sebagai bangsa di awal abad ke-21? Tidak banyak orang yang sadar benar, bagaimana sebenarnya rapuhnya kondisi Indonesia ini. Bentuk negara kepulauan yang demikian luas adalah sungguh unik, dibandingkan bangsa yang tinggal di negara kepulauan lainnya atau dengan bangsa yang tinggal di daratan, seperti Republik Rakyat Tiongkok. Negara kepulauan itu dengan sendirinya juga menimbulkan adat istiadat dan bahasa daerah yang bervariasi, sehingga persoalan yang kita hadapi adalah bagaimana menciptakan suatu budaya komunikasi yang dapat secara bertahap lebih meningkatkan kohesi nasional?

Mengapa setiap kali saya ke Papua, saat mendengar orang Papua berbicara, Bahasa Indonesia-nya lebih rapi dibandingkan yang saya dengar di Pulau Jawa? Kenapa kalau saya mengunjungi Papua selalu timbul kekecewaan dan kebencian terhadap orang yang berasal dari bagian Indonesia lainnya? Apakah karena merasa selalu dikucilkan? Situasi kondisi ini harus dijembatani oleh suatu pola komunikasi yang tepat.

Menurut saya, sebuah citra tidak bisa dibuat-buat. Citra bangsa sangat tergantung dari kualitas kondisi di dalam negeri. Hal ini menjadi masukan saya kepada AD di awal tahun 1998, ketika saya menjadi anggota Tim Konsultasi relawan saat AD menjadi Menteri Penerangan dengan membentuk Tim “Citra Kita”. Namun, perlu dicatat, “Tim Konsultasi” di sini adalah dalam tanda petik, artinya lebih sebagai teman yang memberikan saran, masukan, karena memang tidak ada surat keputusannya. Kita tahu, pada awal 1998 tersebut, masyarakat mulai resah. Dalam ilmu komunikasi dan ilmu politik tercatat bila seorang pemimpin yang sudah begitu lama berkuasa, muncul paling seidkit 2 generasi baru, maka, timbul persoalan urgen bahwa pemimpin tua itu tidak lagi memancarkan wibawa karena kehilangan komunikasi dengan generasi muda. Pada tahun itu pula Presiden Soeharto jatuh. Namun saya rasa, setelah Presiden Soeharto jatuh, AD tidak begitu menjadi sorotan karena citranya di kabinet sebagai seorang profesional yang melakukan tugasnya, dan bukan orang yang pendukung fanatik, dan bukan seorang yang ikut menikmati kekayaan keluarga Soeharto. Saya rasa masyarakat tahu itu.

Kembali berbicara tentang citra, memang pembentukan citra sebenarnya tugas public relations. Namun yang terpenting dalam pencitraan bangsa bukanlah mengupayakan supaya citra kita positif di panggung internasional. Tetapi bagaimana memperbaiki komunikasi dalam segala bentuk. Di sini kuncinya adalah komunikasi dan kondisi sosiologis. Di daerah-daerah tertentu itu rakyat kita menderita kemiskinan ibarat kue yang dibagi kecil padahal yang berhak mendapat bagian jumlahnya banyak. Bagaimanapun canggihnya komunikasi, toh akan ada kesenjangan. Di sini bukan komunikasi saja yang jadi faktor, tetapi juga bagaimana meningkatkan kesejahteraan di suatu daerah. Wartawan misalnya sebagai komunikator harus memahami kondisi sosiologis masing-masing daerah terutama di daerah konflik.

Keanekaragaman sosiologis sebuah masyarakat seperti Indonesia itu memerlukan komunikasi yang selalu mempertimbangkan bagaimana mengupayakan agar keanekaragaman dapat dicapai, dijangkau dan dapat pula dipahami oleh mayoritas masyarakat. Kita sering melihat seorang presenter di sebuah stasiun televisi berbicara asal bicara saja. Mungkin bagi kalangan temannya jelas maksudnya. Tetapi di pelosok Papua sana, tidak jelas maknanya. Soalnya bukan hanya logatnya, tetapi juga kerangka referensinya. Di satu daerah, suatu cerita dianggap lucu, tetapi di bagian Indonesia lainnya sama sekali tidak lucu. Di satu pihak suatu hal dihargai, di lain pihak tidak dihargai. Maksud saya adalah bagaimana kita mendidik para komunikator untuk selalu memperhitungkan kondisi unik Indonesia dan sekaligus harus menyadari tantangan yang harus dihadapi. Dan AD cukup aktif menggumuli masalah ini.

Berkaitan dengan dunia praktisi dan dunia akademisi di bidang komunikasi, sosok AD saya kira dapat berupaya untuk menjembatani bidang-bidang kegiatan yang berlainan. Apalagi didukung pengalamannya sebagai aktivis pers mahasiswa, pers profesional, konsultan dan juga sebagai staf Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Meneg PPLH) Dr. Emil Salim. Semoga dia terus dapat menyumbangkan tenaga dan waktunya untuk mengupayakan penjembatanan ini.

Saya harapkan AD dan rekan-rekannya dapat memprakarsai sebuah program untuk para redaktur yang aktif, karena saya pernah menikmati program semacam itu di Universitas Harvard. Sebagai Nieman Fellow for Journalism (1978-79) saya ikut program yang meluaskan wawasan para redaktur sebagai praktisi tentang aspek-aspek komunikasi dan tentang aspek-aspek masyarakat Indonesia di tengah-tengah globalisasi. Di lain pihak, juga diperlukan suatu program untuk para eksektuif, di pemerintahan maupun di perusahaan yang berupaya memberi penyuluhan tentang liku-liku dan dinamika komunikasi. Mereka patut mengetahui, bahwa di abad modern ini komunikasi adalah penting. Tetapi juga komunikasi itu mempunyai pola dan geraknya. Dan seorang eksekutif perlu memahami hal-hal tersebut.

Tantangan bagi para pemikir teori dan praktisi Ilmu Komunikasi ke depan adalah kembali lagi melihat situasi dan kondisi bangsa ini. Jumlah penduduk yang saat ini mencapai 230 juta dan dengan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi berarti KB mundur. Kita peringkat nomor empat di dunia sebagai jumlah bangsa di suatu wilayah yang begitu luas, 80 persen bermukim di Pulau Jawa. Bagaimana menciptakan dan mengembangkan suatu sistem komunikasi sehingga kohesi bangsa itu tetap utuh dan lebih meningkat lagi? Kohesi bangsa akan mendorong timbulnya tekad nasional untuk melakukan loncatan kuantum supaya Indonesia jangan sampai tercecer dalam kompetisi global di abad ke-21 ini. Itu tantangan Ilmu Komunikasi Indonesia di tengah-tengah dunia yang kompetisinya sengit sekali. ( Judul asli “Seorang Komunikator Berpengetahuan” tulisan Sabam Siagian memperingati 75 tahun M. Alwi Dahlan dalam buku “Manusia Komunikasi Komunikasi Manusia” tahun 2008)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment