May 31, 2009

Kukejar Dikau, Lalu kutangkap

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:39 am

Ini kisah bukan seperti dalam film yang dibintangi Dedy Mizwar dan Lidya Kandou “Kejarlah Daku, Kau Kutangkap” puluhan tahun lalu, tetapi cerita tentang anak yang mengejar musisi bintang idolanya. Suatu “perburuan” yang tidak sengaja.

May 29, 2009

Panji Ilmu Berkibar Terus

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:43 pm

Sabtu (23/05) pagi, saya dan anak pertama saya naik motor ke Megamendung Puncak menyusuri jalan Depok Lama, Citayam, Bojonggede, Cilebut, Kebon Pedes, Bogor, Tajur, Ciawi hingga ke salah satu desa di wilayah Kecamatan Megamendung Puncak. Inilah perjalanan pertama anak saya naik motor ke kawasan Puncak. Sengaja naik motor, untuk memberikan pengalaman dan wawasan kepada anak, perjalanan dengan mengendarai motor. Padahal sebetulnya telah disediakan dua bus untuk memudahkan transportasi dari Kampus Depok ke lokasi yang dituju.

Acara yang dihadiri adalah dalam kaitan melepas sekretaris Rektor UI, yang akan menempuh pendidikan doktor (S3) di Jerman pada awal Juni mendatang. Telah lima tahun bertugas sebagai sekretaris sejak Rektor UI masih menjabat sebagai Dekan FISIP UI. Sebelumnya adalah staf pengajar pada Departemen Ilmu Administrasi FISIP. Setelah diangkat sebagai sekretaris dekan, praktis kegiatan mengajarnya untuk sementara diistirahatkan alias tidak aktif. Tahun ini kebetulan ada panggilan dari salah satu universitas di Jerman.

Dalam sejarah UI sejak masa Orde Baru, sekretaris atau lebih tepatnya kepala sekretariat Rektor, yang bertugas untuk melancarkan urusan birokrasi yang berkaitan dengan tugas-tugas kerektoran dijabat hanya oleh beberapa orang saja dan tidak sembarang orang bisa mengisinya, karena disini sangat berperan adanya “chemistry” antara sekretaris dengan Rektor. Faktor ini penting sekali karena tugas sebagai sekretaris rektor unik dan tidak sekedar melulu mengurus urusan birokrasi. (untuk mengetahui tugas-tugas sekretaris ini, ada buku berjudul “Memaknai Kehidupan, Menjelang Delapan Windu UI 1950-2014” karya R.M.Koesmardiono, SH yang akan dibahas tersendiri).

Bagi sebagian orang, mungkin menjadi sekretaris (orang kepercayaan) dari orang nomor satu di salah satu perguruan tinggi suatu hal yang sangat diidamkan. Karena berarti dekat dengan kekuasaan. Kekuasaan identik dengan kemudahan mendapatkan fasilitas, bergelimang dengan materi, dapat kenal dengan banyak orang dari berbagai kalangan, dan tahu banyak tentang sesuatu dimana tidak semua orang dapat mengetahuinya. Tetapi orang lupa atau tidak peduli, penderitaan yang harus ditanggungnya. Sekretaris merupakan cerminan atau representasi dari pimpinan, sehingga dia harus menyimpan rahasia dengan baik, sigap dan cekatan dalam bekerja, mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik, dapat melakukan tugas “intelijen” serta harus siaga terus selama 24 jam untuk melayani pimpinan. Namun demikian, banyak juga hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dengan bertugas sebagai orang yang dekat dengan pimpinan, yang barangkali tidak akan ditemukan dalam buku-buku atau matakuliah manapun dan tidak bisa dinilai secara materi.

Ada hal menarik dari peristiwa ini, dimana karir seorang sekretaris tidak berhenti sampai sekretaris saja, tetapi juga dapat mengembangkan ilmu setinggi-tingginya dan ini tidak lepas peranan dorongan semangat dan kebebasan yang diberikan rektor. Dari peristiwa ini ada hal yang patut ditiru dari teman sekretaris ini, yaitu semangat untuk tetap menuntut ilmu dan mengamalkannya kepada para mahasiswa. Inilah hakekat seorang guru sejati, yang saat ini sangat langka ditemukan. “Selamat jalan Kang Panji!” (jangan lupa “pesenan” saya tea).

May 28, 2009

Jenderal OSPEK

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:31 pm

Kalau Nagabonar, (dalam film) menjadi jenderal hanya karena keberaniannya dalam menghadapi Belanda di meja perundingan, padahal sebelum meletus perang revolusi melawan penjajah Belanda, pekerjaan utamanya hanya sebagai pencopet kelas teri. Maka cerita di bawah ini, adalah seorang yang melakukan perbuatan membuang bangkai tikus, kemudian jadilah dia seorang jenderal yang mempunyai anak buah sebanyak 200 orang.

Ide tulisan ini muncul, saat seorang teman mahasiswa (kita mempunyai istilah wanwansib/kawan-kawan senasib) se-angkatan di FISIP UI, meninggal dunia pada hari Kamis (28/05), di milis angkatan ramai komentar tentang kepergian teman tersebut. Diantaranya ada yang berkomentar tentang bangkai tikus pembawa berkah. Tulisan ini juga sekaligus untuk mengenang semua wanwansib yang dulu sama-sama mengalami suka duka menjadi mahasiswa baru UI.

Ketika mengetahui diterima menjadi mahasiswa FISIP UI, tiada kata yang dapat mewakili ungkapan perasaan hati. Apalagi waktu itu diantara yang sama-sama diterima tercantum nama Mohammad Guruh Seokarnoputra.(tapi ternyata kemudian tidak mendaftar ulang, maka otomatis gugurlah status dia sebagai mahasiswa baru FISIP UI). Ada juga seorang mahasiswa se angkatan, ternyata berpangkat Letnan Kolonel Tentara Nasional Angkatan Darat (TNI AD) dari Komando Pasukan Khusus (Kopasus). Waktu itu memang belum ada pembatasan usia seorang mahasiswa. (tapi belakangan akhirnya dia meninggal, mendapat musibah pada waktu peresmian pabrik gula di Lampung).

Singkat cerita, para mahasiswa baru FISIP UI dibagi dalam 13 kelompok. Masing-masing kelompok dipilih ketua regu (laki) dan wakilnya (perempuan). Dalam situasi yang baru bertemu itu, tentu saja masing-masing orang akan merasa asing, apalagi berbeda asal sekolah dan dari berbagai pelosok nusantara. Dalam situasi seperti itu dan tekanan dari para senior yang melakukan perpeloncian terhadap mahasiswa baru, dilakukan pemilihan ketua angkatan mahasiswa baru yang bertugas untuk menyiapkan barisan dan mengabsen mahasiswa baru. Masing-masing ketua kelompok dan juga wakilnya “bertarung” untuk meraih jabatan tersebut. Para senior menyebutnya sebagai pemilihan jenderal dan jenderil.

Kepada masing-masing calon diberikan waktu selama lima menit untuk memperkenalkan diri dan melakukan kampanye dihadapan 200 an mahasiswa baru disaksikan para senior dan panitia pelaksana penerimaan mahasiswa baru Senat Mahasiswa FISIP. Dalam situasi seperti itulah mencoba untuk memperkenalkan diri dengan nama sebutan yang mudah diingat orang sambil menceritakan jasa yang telah dibuat, yaitu membuang bangkai tikus dari halaman yang akan dijadikan tempat berkumpul mahasiswa baru. Pada waktu penghitungan suara, ternyata mendapat suara terbanyak. Maka sejak itulah resmi menyandang Jenderal OSPEK (Orientasi dan Pengenalan Kampus) Mahasiswa baru FISIP UI selama kurang lebih dua minggu. Kalau tidak salah ada lagunya, yang dinyanyikan oleh Louis Hutauruk.

Tugas utama Jenderal OSPEK, setiap pagi menyiapkan barisan dan mengabsen seluruh mahasiswa baru FISIP. Dari kegiatan mengabsen ini, sampai hafal diluar kepala teman-teman seangkatan. Kalau dikatakan nama depannya, maka nama belakangnya dapat disebutkan dengan tepat. Dari kegiatan OSPEK ini, para mahasiswa senior dan teman-teman seangkatan lebih mengenal sebutan nama di OSPEK ketimbang nama asli. Ada juga dosen sosiologi, yang hanya tahu nama waktu menjadi jenderal OSPEK daripada nama asli. Bahkan ada seorang teman seangkatan yang kini menjadi staf pengajar, hingga kini kalau menyapa masih memanggil Jenderal sambil mengangkat tangan kanan. Konon katanya, tahun berikutnya setiap ada pemilihan ketua mahasiswa baru OSPEK, sebutannya tidak lagi JENDERAL OSPEK, tetapi turun pangkat dipanggil KOPRAL.

May 27, 2009

Tiada Kata Jera Dalam Perjuangan

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:31 pm

Di bawah ini adalah komentar dari saudara Peter Sumariyoto, mantan Ketua Dewan Mahasiswa UI (1981-1982), yang mengomentari terhadap tulisan berjudul “Jahiliyah 6: Alma Mater Minta Ketegasan Sikap Kita” (lihat http://staff.blog.ui.ac.id/rani) yang merupakan cuplikan dari Buku “Wawasan Alma Mater” yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto.

Di dalam buku “Memaknai Kehidupan, Menjelang Delapan Windu UI (1950-2014)” yang ditulis Kusmardiono, (mantan koordinator staf Pribadi Rektor UI) cetakan UI Press 2009 disebutkan surat skorsing terhadap Ketua Dewan Mahasiswa UI sebetulnya sudah dikeluarkan menjelang masa berakhirnya kepemimpinan (alm)Prof.Mahar Mardjono sebagai Rektor UI. Tetapi konflik antar mahasiswa dengan pimpinan UI “meruncing” saat Rektor dijabat (alm) Prof. Nugroho Notosusanto.

” TIADA KATA JERA DALAM PERJUANGAN “, adalah kata-kata revolusioner mahasiswa Universitas Indonesia yang tergabung dalam IKM UI, untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap penindasan mahasiswa Indonesia oleh cecunguk-2 Regime Otoriter / Diktator Suharto, melalui boneka-2 otoriter dibalik wajah-2 pimpinan Perguruan Tinggi. Manipulasi akhlak berselubung pembenaran prosedural birokrasi, berupa seolah-olah telah mengirimkan surat skorsing, teguran dan penandatanganan Surat Pernyataan, adalah bohong besar. Saya yang membaca tulisan Alm Rektor Prof. Nugroho Notosusanto diatas, meluruskan catatan sejarah Kampus UI agar catatan sejarah ini menjadi benar. Kini perjuangan Mahasiswa masa lalu telah membebaskan kampus dari anasir-2 otoriter regime penguasa. Tidak ada kata sia-2 ketika kita mau berjuang bagi kepentingan publik / orang banyak , tetaplah slogan ” TIADA KATA JERA DALAM PERJUANGAN ” selalu aktual bagi mahasiswa kampus dalam menegakkan kebenaran dan keadilan hakiki. (Peter Sumariyoto; 081586365869)

Robohnya Parpol Kami

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:07 am

Ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil perolehan suara partai yang berlaga dalam pemilihan umum (pemilu) untuk menentukan calon legislatif (caleg) yang akan menuju Senayan menjadi wakil rakyat (DPR), dimana perolehan suara yang didapat oleh partai politik (parpol) pemain lama, kebanyakan menurun secara signifikan, mungkin karena disebabkan adanya konflik internal partai, kurang menarik dari segi program yang ditawarkan, atau adanya perilaku kader partai tidak amanah yang menyebabkan pemilih menjadi antipati, hal ini menjadi salah satu sebab semakin menipisnya kepercayaan rakyat terhadap parpol, maka robohlah parpol kami.

Kemudian ketika SBY sebagai ketua dewan Pembina partai yang mendapat suara yang memenuhi syarat untuk mengajukan sebagai calon presiden (capres), mengumumkan calon pendampingnya sebagai calon wakil presiden (cawapres) Boediono, seorang tehnokrat yang berasal dari lingkungan pendidikan tinggi, bukan dari kalangan parpol. Padahal sebelumnya para parpol yang berkoalisi beramai-ramai mengajukan nama-nama calon cawapres dari parpolnya masing-masing, dengan harapan calon tersebut dilamar SBY sebagai cawapres. Tetapi justru SBY memilih cawapres bukan berasal dari kalangan parpol, maka ributlah para parpol karena merasa tidak diajak berunding, padahal sebagai mitra koalisi semestinya menjadi skondan untuk mengambil keputusan-keputusan yang menentukan. Dengan demikian sudah jelas, usulan parpol tidak dianggap sama sekali, maka robohlah cawapres parpol kami.

Merasa kesal karena usulannya tidak dijadikan pertimbangan dalam menentukan cawapres, maka dicarilah berbagai kelemahan dari cawapres, maka ditiup-tiupkanlah ke media dengan mempertentangkan paham ekonomi kerakyatan dengan ekonomi kapitalis baru yang individualistis. Tetapi isu ini ternyata hanya laku seketika, ketika kemudian dijelaskan hakekat dari sistem ekonomi itu seperti apa, kebijakan ekonomi yang diambil mulai dari pemerintahan reformasi hingga sekarang, maka bungkamlah para pengeritik tidak bisa berkutik. Ternyata taktik kritik picik hanya menggelitik wong cilik yang tidak mengerti politik. Maka robohlah  kritikan dan kepicikan parpol kami.

May 26, 2009

Sumpah, Sampah Susah Diolah

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:29 pm

Di suatu sore, saat akan pulang kantor, hujan turun dengan derasnya. Sambil menunggu hujan reda, beberapa orang asik membicarakan tentang sampah. Kebetulan salah seorang diantaranya telah mematenkan hasil temuannya, yaitu berupa mesin pengolah sampah/limbah organik yang dapat diubah menjadi bentuk energi alternatif. Suatu saat dia pernah mencoba mengajukan usulan kepada Pemda DKI Jakarta untuk mengolah limbah/sampah dengan mesin hasil temuannya. Tetapi ternyata terhambat karena masalah birokrasi.

Di sisi lain, dalam skala kecil di UI pun menghadapi persoalan dalam menangani sumpah ini. Suatu saat di pinggir jalan dekat Fakultas Ilmu Komputer UI, ada tempat pembuangan sampah yang baunya sangat menyengat. Rupanya ada warga UI yang mengeritik perkara ini, dengan sigapnya pengelola UI membereskan tempat sampah tersebut. Entah kemana itu tempat sampah diletakkan, yang jelas bau sampah tidak ada lagi. Tetapi tetap akan menjadi masalah selama sampah/limbah itu hanya sekedar pindah tempat, tidak diolah. Dan konon kata si penemu mesin pengolah sampah organik, pihak UI belum pernah meminta bantuan atau memanfaatkan hasil temuannya tersebut untuk mengolah sampah yang ada di kampus.

Bicara sampah, akhirnya sampai juga pembicaraan kepada capres dan cawapres Megawati-Prabowo Subianto, yang dideklarasikan di tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang Bekasi. Deklarasi itu bisa juga dikatakan sebagai “Sumpah Sampah”, karena capres dan cawapres bersumpah di tempat sampah (Bantar Gebang) untuk berbuat yang terbaik bagi kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak.

Seorang teman yang mendengar tentang deklarasi sumpah sampah ini mengandaikan, kalau sumpah sampah itu bisa dilakukan di UI. Tinggal cari saja tempat buangan sampah yang memadai untuk dijadikan tempat mendeklarasikan capres-cawapres. Dengan demikian beberapa keuntungan yang bisa didapat. Pertama deklarasi tetap dilakukan di tempat sampah, masih bisa mencium bau sampah dan bisa mendekati golongan kaum terdidik karena berada di lingkungan kampus. Seperti kita ketahui bersama SBY-Berboedi mendeklarasikan capres-cawapresnya di gedung SABUGA yang berada di lingkungan kampus ITB Bandung. Maka sebetulnya kalau Mega-Pro mendeklarasikan di tempat sampah kampus Depok, berarti juga punya nilai historis dan semangat yang luar biasa, karena setelah reformasi, UI mendapat sebutan sebagai kampus perjuangan rakyat.

Sumpah Sampah telah dilakukan di Bantar Gebang. Kalau saja dilakukan di UI pun belum tentu semua warga UI setuju, karena dengan demikian akan menghilangkan aspek kenetralan dari institusi pendidikan tinggi, mengikis kampus sebagai penjaga gerbang moral bangsa. Tetapi yang lebih utama lagi sebetulnya dikhawatirkan keluarga UI akan terpecah-pecah menjadi partisan salah satu capres-cawapres. Kalau pun UI mau membantu, lebih elegan kiranya kalau dalam bentuk usulan berupa konsep/pemikiran langkah apa yang harus diambil ke depan, yang diberikan kepada ketiga calon capres-cawapres yang akan maju. Konsep ini bukan seperti atau tidak boleh menjadi sampah yang susah diolah.

May 25, 2009

Deklarasi Sampah

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:57 am

Inilah barangkali judul yang tepat untuk kegiatan yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, pada waktu mereka mengumumkan mencalonkan diri sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di tempat pembuangan sampah akhir di Bantar Gebang Bekasi pada hari Minggu (24/05). Inti pesan yang ingin disampaikan dengan deklarasi sampah ini yaitu, komitmennya untuk membela dan menyejahterakan rakyat kecil, membuat kebijakan yang pro rakyat dan akan memperbaiki nasib rakyat yang mayoritas berada di pedesaan. Bantar Gebang sebagai tempat pembuangan sampah itu, ternyata dimanfaatkan oleh  sebagian rakyat kecil sebagai mata pencaharian hidupnya.  Bantar Gebang dijadikan sebagai simbol dari rakyat kecil yang akan dibela oleh capres dan cawapres.

 

Sungguh luar biasa! Para “penggede” yang biasanya naik mobil mewah yang senantiasa ber-AC,  serta keluar masuk ruangan yang nyaman, tiba-tiba mau bersusah payah ke Bantar Gebang (walaupun sudah disetting pembuatan panggung sedemikian rupa yang menghabiskan dana ratusan juta), menahan penderitaan menghirup udara yang berbau sampah, pastilah butuh keberanian khusus. Hal ini perlu dikemukakan, karena ada saudara saya tinggal di Bekasi, jauhnya kurang lebih 7 kilometer dari Bantar Gebang, tetapi bau sampah dari Bantar Gebang tercium menyengat sekali.

 

Dari informasi yang diterima, konon katanya ada kesepakatan antara Mega dengan Prabowo, jika mendapat amanat menjadi Presiden dan Wakil Presiden, akan membuat suatu pembaharuan dalam kebijakan pemerintahan yang berbeda dari pemerintahan sebelumnya. Komitmen inilah yang mempersatukan keduanya dan maju sebagai capres dan cawapres. Seperti apa pembaharuan yang dibuat, apakah akan benar-benar menjadi deklarasi “sampah” ataukah sekedar deklarasi sampah saja, mari kita tunggu bersama-sama.

 

May 22, 2009

Kenapa Melulu Soal Ekonomi?

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:37 pm

Kampanye pemilihan calon presiden (Capres) belum dimulai, tetapi berbagai media (cetak dan elektronik) sudah mulai menggali dan mewawancarai berbagai hal kepada capres dan calon wakil presiden (cawapres). Dan tentunya yang paling hangat adalah perkara ekonomi, karena berkaitan dengan krisis moneter yang saat ini tengah melanda dunia secara mengglobal. Terakhir yang saya dengar adalah Tanya jawab capres SBY di tvone, yang dirisiarkan juga oleh radio delta FM. Pada hari yang sama (21/05) menjelang larut malam, ANTV menayangkan acara ring politik, dengan menampilkan Boediono. Saya kira kalau seorang capres atau cawapres hanya sekedar mengetahui pada tataran kulit-kulitnya saja perkara ekonomi, pastilah akan susah untuk menjawab atau menjelaskan mengenai perkara ekonomi ini. Apalagi bagi orang yang sama sekali tidak menggeluti perkara ekonomi, atau tidak terlibat dalam lingkungan birokrasi, jawabannya pasti akan mengambang dan tidak akan akurat mengatakan berapa persen pertumbuhan ekonomi lima tahun ke depan.

Bagi kalangan terdidik, barangkali jawaban dari capres/cawapres yang bersifat kuantitatif lebih disukai dan menjadi tolok ukur akan kemampuan dan wawasan dari para capres/cawapres terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini. Namun demikian, persoalan bangsa ini tidak melulu masalah ekonomi yang terkuantifisir. Banyak persoalan di bidang lain yang perlu juga mendapatkan perhatian secara serius dan mempunyai dampak terhadap perkembangan bangsa di masa mendatang. Pengalaman masa lalu misalnya jaman Orde Baru, bagaimana pertumbuhan ekonomi begitu mengesankan fundamental ekonomi cukup kuat, swa sembada pangan diakui dan mendapat apresiasi dari kalangan dunia internasional. Tetapi sangat abai terhadap soal lain, misalnya soal HAM, kebebasan untuk menyatakan pendapat, tidak ada otonomi di tingkat daerah, jomplang dalam aspek pembangunan antara Jawa dan luar Jawa, dll. Ternyata semua kelebihan yang disebutkan di atas, dalam waktu singkat runtuh total terkeana badai krisis ekonomi di tahun 1997.

Mengagung-agungkan persoalan ekonomi saat ini oleh para capres/cawapres sangat mengkhawatirkan, karena akan membelokkan perhatian masyarakat, terhadap persoalan lainnya di luar ekonomi. Dalam melihat perkembangan dan kemajuan bangsa ini, kenapa tidak memakai parameter lain, misalnya saja soal pelestarian lingkungan, akses yang mudah terhadap sumber-sumber informasi oleh masyarakat, tingkat kesehatan masyarakat yang tidak hanya sekedar ada posyandu dan puskesamas, tingkat pendidikan masyarakat dan lain-lain.

Jadi, selain mencoba untuk mengurangi ketergantungan financial terhadap bantuan asing, perlu juga dipikirkan bagaimana masyarakat selain dapat memenuhi kebutuhan primernya, juga diperhatikan aspek non-ekonomi lainnya yang dapat dijadikan parameter dalam menilai kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini.

May 18, 2009

Sajak Bulan Mei 1998 (WS Rendra)

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:20 pm

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan Amarah merajalela tanpa alamat Kelakuan muncul dari sampah kehidupan Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan! O, malam kelam pikiran insan! Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan Kitab undang-undang tergeletak di selokan Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan! O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja! Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa Allah selalu mengingatkan bahwa hukum harus lebih tinggi dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan! O, rasa putus asa yang terbentur sangkur! Berhentilah mencari Ratu Adil! Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya! Apa yang harus kita tegakkan bersama adalah Hukum Adil Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara menjadi saksi yang akan berkata: Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana! Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta! Apakah masih buta dan tuli di dalam hati? Apakah masih akan menipu diri sendiri? Apabila saran akal sehat kamu remehkan berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap yang akan muncul dari sudut-sudut gelap telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi Airmata mengalir dari sajakku ini.

(Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998)

Kenangan Terhadap Ali Nurdin

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:29 pm

Sembilan hari sudah kepergian Drs. Ali Nurdin (66) yang meninggal pada hari Jum’at (08/05) karena berbagai komplikasi penyakit yang diidapnya cukup lama. Meninggalkan seorang istri dan satu anak perempuan dan satu cucu. Jabatan terakhir sebelum pensiun, almarhum menjabat Kepala Biro Administrasi Umum pada periode kepemimpinan Rektor Prof.Dr.dr. A. Budisantoso R.

Pada masa itu, adalah priode transisi dimana UI akan beralih kepada  perguruan tinggi negeri yang berstatus Badan Hukum Milik Negara (PTN BHMN), dimana etos kerja para pegawai UI dituntut untuk berubah dari gaya yang bersifat birokrasi kepada gaya yang  bersifat korporasi. Pada masa transisi itulah Drs. Ali Nurdin bersama almarhum Sumanto SH yang menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI), merupakan dua orang tenaga administrasi (non-akademik) yang berhasil menjabat sebagai eselon II di lingkungan Universitas Indonesia. Prestasi staf administrai yang menduduki jabatan eselon II ini merupakan tonggak penting, yang tidak mungkin bisa dicapai oleh staf administrasi lainnya di lingkungan UI.

Setelah pola PTN BHMN diterapkan, tidak ada lagi sistem eselonisasi, jenjang Kepala Biro, Kepala Bagian, dan kepala subbagian tetapi diganti menjadi jenjang direktur, Kepala Subdit dan manajer. Hal ini juga berpengaruh pada pengisian jabatan tersebut. Hampir selalu jabatan tersebut kebanyakan diisi oleh tenaga akademik. Dengan sistem baru ini juga tidak terlihat adanya pola yang jelas untuk penjenjangan jabatan atau karir bagi tenaga non-akademik. Pengembangan SDM untuk tenaga  non-akademik juga tidak jelas dan tidak terarah. Berbeda misalnya ketika masih memakai pola birokrasi, penjenjangan pengembangan SDM masih ada  seperti misalnya  Administrasi Umum (ADUM), Sekolah Pendidikan Administrasi Pertama (SPAMA), Sekolah Pendidikan Administrasi Menengah (SPAMEN) dan Sekolah Pendidikan Administrasi Tinggi (SPATI).

Untuk jangka panjang, keadaan di atas akan menimbulkan masalah besar. Karena layanan pendidikan tanpa ditopang oleh tenaga non-akademik ( istilah sekarang supporting staff atau tenaga penunjang pendidikan) yang handal dan profesional akan menyebabkan ”jomplang”. Di satu sisi, tenaga pendidik dikembangkan sedemikan rupa, sementara tenaga penunjang pendidikan tidak berkembang, akan menyebabkan layanan kepada peserta didik menjadi kurang maksimal. Inilah ironi di bidang pendidikan kita.