April 20, 2009

Tanpa Visa

Filed under: Kampusiana — rani @ 3:32 pm

Globalisasi menyebabkan kaburnya batas satu negara dengan negara lain. Aturan atau ketentuan yang berlaku di satu negara dengan negara lain semakin longgar. Adanya persekutuan antar negara (semisal Uni Eropa) dimana dibuat mata uang bersama yang berlaku dalam persekutuan itu, menambah memudahkan orang dalam melakukan kegiatan lintas batas negara. Efek ini juga ternyata berpengaruh juga terhadap ketentuan lain yang dulunya diberlakukan di suatu negara. Contoh nyatanya yaitu perkara visa. Saat ini kalau orang bepergian ke berbagai  negara Uni Eropa , tidak usah harus mengurus visa berkali-kali.

Ada pengalaman dari mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di perguruan tinggi negara-negara Eropa, puluhan tahun lalu kalau hendak ke negara lain, harus mendapatkan visa dari negara yang akan dikunjunginya. Suatu saat, beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman (Barat) ingin berkunjung ke negara Belanda. Ada yag bisa lolos tanpa adanya  visa, tapi ada juga yang tertahan. Tetapi dasar mahasiswa Indonesia yang banyak akalnya, tidak mau jera walaupun sudah pernah tertangkap basah. Hal ini dikarenakan di Belanda banyak makanan atau bumbu-bumbu masakan khas Indonesia yang tidak bisa didapatkan di Jerman. Satu saat ada seorang mahasiswa Indonesia yang tertangkap pihak berwajib Belanda karena tidak mempunyai visa kunjungan ke Belanda.

Dalam perjalanan sewaktu mau memulangkan mahasiswa Indonesia ke perbatasan Jerman-Belanda, pihak berwajib Belanda banyak memberikan nasihat kepada mahasiswa Indonesia tersebut. Rupanya sang mahasiswa  merasa “panas kuping” juga karena banyak diberikan “kuliah”. Akhirnya dia pun angkat bicara kepada orang Belanda . ”Baru soal tidak punya  visa saja repot amat sih. Dulu saja nenek moyang kamu ratusan tahun tinggal di Indonesia tidak pakai visa!”

April 15, 2009

Era “Ter…” dan yang Terkonto-konto

Filed under: Kampusiana — rani @ 12:11 pm

Bukan  latah karena ada acara “Ter-mehek-mehek” di Trans TV yang mendapat  Penghargaan Panasonic baru-baru ini. Judul tulisan di atas muncul tatkala usai menyaksikan seleksi calon Dekan Fakultas Ekonomi UI, Selasa sore (14/04) di Kampus Depok.

Bahasa Indonesia memang kaya akan perbendaharaan kata. ”Ter” merupakan padanan dari kata ”paling atau yang utama”. Tetapi awalan ”ter” ini tidak bisa berdiri sendiri, harus diikuti dengan kata sifat, kata kerja dan kata benda. Tetapi kalau diberikan  akhiran ”kan/an”, maka mempunyai arti yang lain lagi. Ini pelajaran bahasa di tingkat SMP, yang barangkali diantara kita sudah tidak hirau lagi terhadap aturan/kaidah dalam berbahasa nasional yang baik dan benar. Paling tidak tulisan ini untuk belajar dan menyimak kembali pemakain imbuhan ’ter’.

Setelah melalui proses yang cukup panjang dan melelahkan, dimulai pukul 10.45 WIB, seleksi calon dekan FEUI berakhir pukul 16.15 WIB. Rektor UI menyatakan, pemilihan Dekan FEUI ini merupakan yang ’terakhir’,  setelah ini, tidak akan ada lagi pemilihan dekan, karena masa jabatan para dekan di lingkungan UI saat ini, akan berakhir pada tahun 2013, dimana pada tahun tersebut  Rektor UI  sekarang  masa jabatannya akan berakhir 2012. Pada kesempatan itu Rektor UI juga menyatakan, Dekan Ekonomi sekarang ( Firmanzah, Ph.D) merupakan dekan ’termuda’ (lahir 7 Juli 1976) diantara dekan lainnya. Selain termuda, ’terdepan’ diantara dosen UI BHMN (non PNS), yang menjabat sebagai Dekan. Selain itu, seleksi dekan FEUI kali ini juga merupakan yang ’terlama’ diantara seleksi dekan yang pernah dilakukan UI. Kenapa bisa terlama? Karena acara dimulai ’terlambat’, seharusnya mulai pukul  10.00 WIB. Menurut Rektor UI, bingung untuk mementukan pilihan, karena ada dua calon yang selisih nilainya hanya ’terpaut’ satu saja.

Dalam kepemimpinan Rektor UI Prof. Dr. der Soz Gumilar Rusliwa Somantri, memang penuh dengan hal-hal yang berkaitan dengan ’ter’ ini. Rektor UI sendiri penuh dengan ’ter’. Inilah faktanya. Pada waktu dilantik menjadi Rektor UI berusia termuda diantara Rektor UI lainnya (berusia 40 tahunan). Rektor UI yang pertama kalinya berasal dari FISIP, mendapat skor tertinggi diantara calon Rektor lainnya dan mendapat suara ’terbanyak’ dari anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI.

Dalam periode kepemimpinannya, di Kampus Depok dibuat trek sepeda sepanjang 20 kilometer dan ada area penangkaran rusa, kampus yang terdepan dalam menciptakan lingkungan kampus yang ”go green”. Tahun ini  ada  Seleksi Masuk (SIMAK) UI, suatu sistem yang terpadu (hanya satu kali seleksi untuk masuk program diploma atau progam S1) dan tempat seleksinya tersebar di berbagai tempat di Indonesia serta negara jiran.

Pada saat ini juga UI tengah menggodok konsep remunerasi bagi staf pengajar dan staf administrasi untuk dapat meningkatkan kesejahteraannya. Pada periode Rektor sebelumnya hal ini tidak berani diungkit-ungkit karena sangat sensitif dan rawan. Tetapi sekarang persoalan itu harus segera diselesaikan. Untuk persoalan yang satu ini, apa yang saya rasakan, saya alami dan saya ketahui, tampaknya UI tertatih-tatih dan terengah-engah. Kalau para mahasiswa UI yang pernah tinggal di asrama Daksinapati Rawamangun, menyebutnya dengan istilah TERKONTO-KONTO.

April 14, 2009

Stress, Tension, Panic

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:46 pm

Sudah menjadi tren, kalau pimpinan institusi dalam memberikan kata sambutan dalm suatu acara formal, selalu dibumbui dengan bercerita atau anekdot, humor yang lucu-lucu, terkadang juga bersifat satire. Konon katanya, membuat cerita humor atau anekdot pertanda kedewasaan seseorang serta menjaga keseimbangan dalam melakoni kehidupan ini yang bagaikan panggung sandiwara. Tidak heran, kalau kita amati saat ini, stasiun televisi kita berlomba-lomba membuat program acara yang berkatian dengan perkara ketawa ini.

Dalam suatu kesempatan kegiatan PKS (Penandatanganan Kerja Sama) antara Universitas Indonesia (UI) dengan Departemen Kesehatan (Depkes) di Jakarta Selatan Senin siang (13/04), keluar jurus-jurus ketawa dari kedua belah pihak. Rektor UI misalnya bercerita tentang orang Madura ketika menonton bioskop. Hal ini berkaitan dengan peristiwa sebelumnya, ketika Rektor UI sampai di tempat acara PKS, tidak sempat menyalami semua hadirin yang ada di ruangan tersebut. Berbeda dengan orang Madura ketika masuk ke gedung bioskop. Karena ingin menjalin hubungan keakraban, semua penonton di dalam gedung itu disalami. Ketika salaman mencapai kepada penonton yang terakhir, maka film pun berakhir pula. Walhasil, orang Madura tersebut tidak sempat menikmati film, karena waktunya habis untuk bersalaman.

Pada saat wakil dari pihak Departemen Kesehatan memberikan sambutan, tidak lupa menyelipkan cerita humor juga. Kali ini berkaitan dengan masalah kejiwaan yang memang sedang menjadi pembicaraan ramai di masyarakat, dimana para calon legislatif (caleg) yang mengikuti pemilihan umum (pemilu) banyak yang menderita sakit, karena jumlah suara yang didapat tidak mencapai persyaratan untuk bisa lolos menjadi anggota legislatif. Padahal utang sudah menggunung untuk membiayai kegiatan kampanye. Kata orang Depkes, ada tiga macam penyakit yang masing-masing berbeda kadar kesakitannya. Pertama, seorang suami akan terserang stress kalau selingkuhannya hamil. Kedua, orang akan mengalami tension, kalau istri yang sudah mulai berumur hamil. Dan ketiga sang suami akan dilanda panic kalau selingkuhan dan istrinya mengalami kehamilan secara bersamaan.

April 13, 2009

Ironi BRI

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:11 am

Saat ini bank di Indonesia yang paling besar pemasukan kepada kas negara, sudah pasti Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pada tahun 2008 berhasil meyetorkan keuntungan kepada negara sebesar Rp 5,8 Trilyun. Tidak heran, sebab bank ini paling banyak kantornya sampai ke pelosok tanah air, jumlah karyawannya saja mencapai 40 ribu orang (hampir sama dengan jumlah mahasiswa UI yang mencapai 40 ribu orang juga). Bahkan di tingkat Asia, bank BRI satu-satunya institusi yang masuk dalam 50 perusahaan dunia yang dianggap bagus dan sehat. Hal ini diungkapkan Asmawi Syam, Direktur Bisnis Kelembagaan BRI, saat memberikan pidato sambutan pada acara penandatanganan kerjasama UI – BRI tanggal 8 April lalu di Kampus Depok.

Ada kesamaan misi yang diemban BRI dan UI,misalnya saja dalam hal mencerdasakan dan menyejahterakan rakyat Indonesia. Sama-sama menyandang Indonesia. Tetapi ada perbedaan besar, BRI memberikan jasa layanan dalam hal yang berkaitan dengan uang, sehingga dapat menghasilkan uang yang berlimpah. Sementara UI bergerak dalam bidang jasa layanan yang berkaitan dengan pendidikan dan penelitian, dimana outputnya berupa SDM yang unggul dan buah pemikiran yang dapat diterapkan dalam kehidupan, tetapi hal itu dilakukan dengan keterbatasan dana.Sehingga UI harus terus menerus mencari pendanaan untuk bisa “survive” dan lancar dalam hal mencetak SDM dan menghasilkan buah pemikiran yang bermanfaat.

Namun demikian BRI seperti dituturkan Asmawi Syam merasa resah, terutama dalam hal SDM yang handal untuk mengelola BRI di masa depan. Kekhawatiran ini didasarkan karena tidak banyak lulusan UI yang mau bekerja di BRI. Padahal menurutnya, UI yang menjadi center of Exellence, pastilah para lulusannya hebat-hebat. Tetapi sayangnya hanya sedikit yang mau berkarir di BRI. Apakah hal ini dipengaruhi oleh karena BRI ada embel-embel ‘rakyat’ yang mungkin bagi sebagaian besar lulusan UI berkonotasi negatif? (bandingkan dengan para lulusan UI yang bebondong-bondong melamar ke KPK, padahal dari segi pendapatan mungkin lebih kecil daripada gaji kalau bekerja di BRI. Lihat artikel “wirausaha korupsi” diblog ini).

Tampaknya kekhawatiran pimpinan BRI ini berbanding lurus dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Pada hari itu juga usai menghadiri acara kerjasama UI – BRI, saya dapat kiriman berita dari vivanews, BRI kebobolan dan menderita kerugian sebesar Rp169 milyar. Dibandingkan dengan keuntungan yang mencapai triliyunan rupiah, barangkali tidak terlampau bermasalah. Tetapi ini menunjukkan ada indikasi “ketidakberesan” dalam tubuh BRI, dimana faktor manusia (SDM) sangat berperanan. Memang tidak gampang mengelola suatu institusi, dimana didalamnya ada 40 ribu orang yang harus ‘dibombong’ dan diawasi.

April 11, 2009

Mahasiswa Menggugat 6

Filed under: Mahasiswa Menggugat — rani @ 11:31 am

MAHASISWA MENGGUGAT Alamat Redaksi : Jl. Salemba Raya 4 – Jakarta Pusat

JAKARTA, 11 APRIL 1978 – No. 9/Th I

SALAH SATU KEPRIHATINAN KITA

Salah satu keprihatinan kita dalam bentuk pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran kita mengenai golongan Islam, adalah bahwa kenapa di dalam setiap pergerakan atau perjuangan yang bersifat nasional (umpama: Perjurngan merebut Kemerdekaan, Penumpasan G” 30 S. PKI dsb), andil serta peranan golongan Islam demikian menonjol, tetapi tatkala kemerdekaan telah tercapai atau keadaan sosial kembali pada situasi yang damai, tampak peranan golongan Islam jadi menurun. Keprihatinan ini sesungguhnya tidak hanya berpokok-pangkal pada kebutuhan mendesak terhadap pengembangan Ideologi Islam semata-mata, tetapi juga, atas dasar kenyataan bahwa mayoritas rakyat Indonesia yang beragama Islam perlu di beri kesempatan seluas-luasnya untuk memperkembangkan dirinya. Dengan keluasan kesempatan untuk memperkembangkan dirinya itu, dapatlah diharapkan sumbangan yang lebih memungkinkan dari golongan Islam terhadap pembinaan bangsa dan negara, serta pemeliharaannya terhadap perbendaharaan kulturil dan sosial yang ada. Usaha untuk pengembangan diri ini, tergantung pada dua masalah pokok: Pertama, usaha untuk menciptakan suatu situasi dan kondisi sosial sedemikian rupa, sehingga golongan Islam yang ada dapat turut mempromosikan diri secara lebih wajar, serta bisa ikut membantu memperkembangktm sarana-sarana sosial, ekonomi dan politik, sejajar dengan daya-upaya yang di jalankan Pemerintah. Kedua, usaha golongan Islam untuk membina serta meningkatkan diri sendiri secara lebih terarah, sistematis dan berencana jangka panjang, agar kekuatan sosial Islam yang potensil dapat diwujudkan dalam kenyataan, sehingga dapat memberikan sumbangan terhadap bangsa dan negara secara lebih optimal. Dua masalah ini, meskipun tidak dapat dipisah-pisahkan secara strukturil dan operasionil, namun berdasarkan pengamatan dan pendekatan tertentu, dapatlah disimpulkan adanya karakteristik-karakteristik tersendiri. Dari segi sosial dan politik, penciptaan suatu kondisi dan situasi sosial sangat tergantung pada adanya kesempatan serta perkembangan dari pranata-pranata sosial dalam bentuk organisasi, institusi-institusi sosial dan mekanisme-mekanisme lain yang terdapat di rnasyarakat. Di lain pihak, hal tersebut juga dipengaruhi oleh peranan dan tingkah-laku politik pemerintah terhadap kekuatan-kekuatan sosial-politik yang ada, dan terhadap masyarakat pada umumnya. Adanya kondisi sosial di masyarakat berupa orientasi yang berlebih-lebihan terhadap kekuasaan (power), ditambah dengan kenyataan bahwa pemerintah secara hukum maupun politik adalah pemegang kekuasaan yang syah; maka disadari atau tidak, sebagian besar kekuatan-kekuatan sosial-politik (termasuk kekuatan sosial-politik Islam), baik dalam bentuk organisasi sosial, partai-partai politik, para ulama, kiyai, dan lain-lain, jadi beroriontasi kepada pemerintah. Hal ini tampaknya punya dasar yang logis, bahwa kekuasaan adalah merupakan sarana untuk mewujudkan tingkat mobilitas sosial politik yang tinggi, baik vertikal maupun horizontal. Kenyataan-kenyataan di atas, dalam jangka pendek membuat tingkat ketergantungan yang terus-menerus kepada pemerintah, dan dengan demikian maka pembinaan terhadap lembaga kontrol yang “efektif” serta “institusionil” menjadi sukar untuk dicapai. Akibatnya, sistem-sistem politik tidak tumbuh secara wajar dan searah, tetapi semata-mata sangat tergantung pada kelangsungan suatu orde pemerintahan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperlemah semangat moril golongan Islam sendiri terhadap potensi sosial, dan tingkat, dan tingkat pengaruh mereka terhadap jalan serta perkembangan suatu pembangunan sosial dan politik. Lahirlah cara dan tingkah-laku politik yang tidak matang serta ovonturisme-politik. Terhambatlah proses “institusionalisasi” politik golongan Islam terhadap sumbangan politik yang harus dimainkannya. Pada akhinya, ia menghancurkan prinsip-prinsip politik dan khazanah kebudayaan politik Islam yang sebenarnya harus disumbangkannya untuk modernisasi sosial pada umumnya. Sudah barang tentu pendekatan terhadap masalah pertama tadi, akan menghadapkan kita pada situasi yang dilematis. Sebab, disadari maupun tidak, pemerintah dibuat berhadapan dengan masyarakat politik beserta segenap aparat dan sarana yang ada padanya. Oleh karena itu, sesungguhnya menjadi kewajiban kita agar supaya pendekatan dan penyelesaian masalah di atas tidak semata-mata di tekankan pada faktor-faktor hubungun pemerintah dan masyarakat secara kategoris, melainkan tekanan bahkan harus bisa diberikan dalam rangka hubungan fungsionil diantara keduanya. Ini berarti, bahwa berkembangnya institusi-institusi sosial, ekonomi, politik, beserta sarana-sarananya, ikut menyumbang bagi terbentuknya situasi sosial sedemikian rupa, yang mendorong pula peranan pemerintah serta kemampuan ikut-sertanya golongan-golongan dan kekuatan-kekuatan sosial-politik secara lebih luas. Bagi golongan Islam, yang menjadi masalah disini, adalah bagaimana mencari daerah atau “area of problems” untuk pengembangan diri yang jauh dari campur-tangan politik pemerintah, tetapi yang memungkinkan terciptanya suatu komunikasi politik secara lebih intensif dengan pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Daerah atau “area of problems” ini harus memungkinkan terjelmanya suatu proses “trasformasi-politik” yang berjangka panjang, dan yang mampu memproduk sejumlah kebutuhan sosial-politik secara berencana serta terarah. Dalam hal ini, nampaknya justru masalah yang kedua menjadi semakin penting !


BERI TA-BERITA SEPUTAR KAMPUS

DR. EMMERSON, PENGARANG BUKU ‘INDONESIA’S ELITE” AKAN MENGADAKAN CERAMAH DAN PENGKAJIAN DI INDONESIA

Mm, 11 April 1978 Donald K. Emmerson, seorang sarjana ilmu politik serta antropologi dan pengarang buku “Indonesia’s Elite: Political Cultur and Cultural Politics;” bermaksud mengunjungi Indonesia untuk memberikan ceramah mengenai masalah politik, strategi pembangunan dan pertanian, serta melakukan pengkajian tentang perkembangan perikanan di negeri ini. Dr. Emmerson, guru besar ilmu politik pada Universitas Wisconsin, dewasa ini tengah mengadakan pengkajian mengenai masalah perikanan di Asia dan Pasifik dalam kedudukannya sebagai konsultan pada Bank Dunia. Ia juga pernah melakukan pengkajian tentang proyek-proyek pertanian yang mendapat bantuan Bank Dunia di Indonesia. Dalam perjalanannya antara 4 dan 19 April 1978 ini, Dr. Emmerson merencanakan untuk bertemu dengan para ahli dan pejabat Indonesia di bidang perikanan, pertanian, kependudukan, serta ilmu-ilmu sosial dan politik. Ia juga bermaksud menermui Dr. Soedjatmoko, penasihat pada BAPPENAS dan diharapkan akan dapat bertemu pula dengan Gubenur Muzakir Walad, di Banda Aceh. Ia akan membahas “Kebijaksanaan Politik Luar Negeri Amerika di Asia Tenggara akhir-akhir ini” dalam ceramahnya di Pusat Pengkajian Masalah-masalah Srategis dan Internasional (CSIS) di Jakarta, tanggal 5 April, dan Lembaga Indonesia-Amerika (LIA) di Medan tanggal 18 April 1978. Tanggal 6 April 1978 Ia akan berbicara di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM), Universitas Indonesia, mengenai “Faktor-faktor Sosial dan Kebudayaan yang hendaknya dipertimbangkan dalam strategi pembangunan”. Tanggal 8 April 1978 menurut rencana ia akan membahas “Keterlibatan (Involusi) Pertanian dalam Pembangunan Pedesaan” di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Indonesia. Dan tanggal 15 April 1978 mengenai “Pembangunan Pedesaan di Indonesia” dalam ceramahnya di Lembaga Studi Pedesaan dan Kawasan, Universitas Gajah Mada (Acara di FIS-UI tanggal 8 April, rupa-rupanya batal).

Elite Indonesia BukU Dr. Emmerson tentang elite Indonesia yang baru-baru ini diterbitkan, menelusuri konsep “lndonesia yang berkebudayaan Majemuk.” Buku ini sebagian besar didasarkan atas hasil penelitian yang dilakukannya di negeri ini tahun 1967 sampai 1969. Rancangan naskahnya yang pertama di tulis tahun 1970 sampai 1973, ketika mengajar di Universitas Wisconsin. Ia kembali ke Indonesia tahun 1974 untukk mengadakan penelitian lebih lanjut dan mempersiapkan rancangan naskah yang terakhir. Berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukannya tahun 1967-1969 dan kemudian diuji lagi melalui pengamatannya pada tahun 1974, Dr.Emmerson menyusun dua kelompok yang masing-masing mewakili masyarakat Jawa dan bukan Jawa. Ia berkesimpulan bahwa diantara mereka terdapat perbedaan yang secara politis adalah monyolok dalam asal-usul sosial, latar belakang dan sikap pandangan umumnya. Ia percaya bahwa pengamatannya dapat membantu memperjelas prospek-prospek bagi keserasian antar kebudayaan dalam politik. Walaupun ia dididik sabagai Sarjana ilmu politik, namun perhatiannya tertumpah pada antropologi. Bekerjasama dengan Profesor Koentjoroningrat, seorang antropologi terkemuka di Indonesia, ia kini menulis buku “The Human Aspect of Indonesian Social Research : Voices from the Field.” Ia juga telah menulis berbagai karangan dan hasil pengkajian mengenai Indonesia, seperti yang pernah diterbitkan oleh majalah-majalah Basis, cakrawala, Kiblat dan Prisma.


TEAM SOFT-BALL UI IKUTI KOMPETISI ISL

Mm, 11 April 1978 Team Soft-Ball UI sejak Februari 1978 lalu, telah ikut dalam Kompetisi ISL (Liga Soft-Ball Internasional) di Stadion Cemara Tiga Jakarta. Kompetisi tersebut berlangsung selama 4 bulan, diikuti beberapa gabungan team tangguh Jakata dan orang-orang asing penggemar Soft-Ball. Pertandingan hanya diadakan setiap hari Minggu (sepanjang hari ada 8 kali pertandingan), cukup menarik banyak penonton yang berminat, karena teknik permainan yang disuguhkan cukup tinggi. Demikian juga halnya dengan Team Soft-Ball UI kita itu, kadang-kadang membuat kejutan-kejutan disamping memang kelihatannya cukup bisa mengimbangi permainan tem lawan. Sebenarnya, setiap kegiatan olah-raga di lingkungan mahasiswa UI yang sifatnya mengatasnamakan Universitas, akan dikoordinir oleh DM-UI. Namun untuk team Soft-Ball UI ini, menurut Ketuanya, Syamsul Bakri: “Team Soft-Ball UI berusaha sendiri menutupi pembiayaan yang cukup lumayan, dengan jalan memakai sponsor-sponsor.


IKDIA FIS-UI ADAKAN CERAMAH

Mm. 11 April 1978 Ikatan Keluarga Departemen Ilmu administrasi (IKDIA) FIS-UI, tanggal 10 April 1978, menyelenggarakan ceramah ilmiah berjudul : PERANAN ADMINISTRASI PEMBANGUNAN DALAM PROSES PEMBANGUNAN. Ceramah tersebut disampaikan oleh : Bintoro Tjokroamidjojo, Deputi Bidang Administarsi BAPPENAS, pada pukul 10.00 s/d 12.00 Wib, bertempat di Ruang Seminar FIS-UI Rawamangun Jakarta. Menurut Ketua IKDIA, Arsani, paper ceramah tersebut dapat diperoleh di Bursa Buku FIS-UI.


GARA-GARA PROF. OSMAN RALIBY

Mm. 11 April 1978 Beberapa waktu yang lalu, Prof. Osman Raliby, Guru Besar Studi Islamica UI, menerangkan kepada para mahasiswa tentang jenis Hukum Islam, seperti : Wajib, Sunnah, Muabh, Haram dan Makruh. Masing-masing disertai dengan contoh-contoh konkrit. Misalnya untuk perbuatan makruh, Prof. Osman Raliby memberikan contoh “merokok” (Makruh berarti dikerjakan tidak apa-apa, dan bila ditinggalkan mendapat pahala). Dengan gaya humor, Prof. Raliby di depan para mahasiswa FIS-UI (kebetulan saat itu ada beberapa mahasiswa yang lagi merokok); “Yang merokok tidak apa-apa, jangan dibuang !” Memang tampaknya beberapa mahasiswa yang lagi merokok itu rada nggak enak, ketika Prof. Raliby memberikan contoh “merokok” itu adalah perbuatan makruh. Mereka tetap saja merokok, dan memang tidak ada apa-apa. Beberapa waktu kemudian, kejadian yang tidak apa-apa dan malah dianggap humor yang menyegarkan waktu kuliah tersebut, rupa-rupanya dibangkitkan lagi oleh beberapa mahasiswa yang diserahi tugas untuk memperbanyak DIKTAT mata kuliah Sejarah masyarakat Indonesia. Mereka yang memperbanyak diktat tersebut adalah mahasiswa FIS-UI tingkat II (Angkatan “77), dan diktat yang mereka perbanyak sekitar 120 buah itu Cuma untuk mahasiswa tingkat II saja. Tujuannya menyinggung soal makruh tadi, tampaknya juga untuk humor ditengah-tengah tulisan yang serius tentang sejarah. Isinya antara lain : STOP PRESSS !! “Kuliah Studi Islamica kok nggak boleh merokok yah, asin deh !……… Makruuuuuuuuuuuh !!! uq ……….bursa ide koq mati yah, lesyuuuuuuuu ………., arf AH, gara-gara contoh Prof. Osman Raliby tentang merokok ! Tapi tak apa deh !


PENATARAN PSIKOLOGI SOSIAL 1978 Mm, 11 April 1978 Fakutas Psikologi UI menyelenggarakan Penataran Psikologi Sosial dengan thema : “Teori kognitif, Analisa varians dan Analisa Kovarians”. Penataran yang berlangsung tanggal 3 April 1978 – 15 April 1978 itu, bertempat di Fakultas Psikologi UI Rawamangun, dan diikuti oleh para peserta dari UI, UNPAD, UGM dan sarjana-sarjana Psikologi diluar fakultas-fakultas Psikologi


DEKAN CUP 1978 FIPIA UI

Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Pasti dan Alam melalui Sie Olahraga sedang mengadakan pekan olahraga dengan nama “Dekan Cup 1978.” Pada Pekan Olahraga ini dipertandingkan empat cabang olahraga: Basket, Tenis Medja, Sepakbola, dan Catur. Untuk cabang olahraga: Basket dipertandingkan kelompok Putra/Putri, Tenis Meja Putra/Putri, dan Vollyy Putra/Putri. Pekan Olahraga yang diselenggarakan sejak awal April ini dimeriahkan oleh semua jurusan yang ada di fakultas tersebut. Mereka meliputi : Kelompok Fisika, Matematika, Biologi, Kimia, Farmasi dan Geografi. Pertandingan ini diselenggarakan di beberapa tempat secara terpisah. Sepakbola mengambil tempat; Stadion Utama “Daksinapati” yang rumputnya berwarna colat berdebu. Catur di Ruang Senat dan sisanya di GOR Mahasiswa Kuningan


SURAT PEMBACA

Jakarta, 8 April 1978.

Kepada: Yth. Pimpinan Redaksi Mahasiswa Menggugat Salemba 4 JAKARTA “

Dengan hormat; Pada ruang “Surat Pembaca” Mm no. 8 tahun 1978 yang lalu dimana memuat surat untuk Pimpinan MPM-UI te[:rdapat kekeliruan, yaitu : II. Mengingat Tertulls : a) “Pasal I ayat (1) AD-IKMUI”, seharusnya “Pasal I AD-IKMUI”, jadi tanpa “ayat (1)” b) “Pasal IX ayat (2) ART-IKMUI”, seharusnya : “Pasal IX ART-IKMUI”. Jadi tanpa ayat (2)”. c) “Pasal XV ayat (2) ART-IKMUI”, seharusnya “Pasal XV ART-IKMUI. Jadi tanpa ayat (2)”. Atas bantuan Redaksi untuk memuat ralat ini, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. ‘

atas nama para penanda tangan :

ttd

Arsani (Anggota MPM-UI)


ULASAN : TEORI SNOUCK HOUGRONYE SEDANG DITERAPKAN BAKIN

Mm. 11 April 1978 Polanya sama saja, kalau ada yang “pro” lalu dibikin yang “kontra” atau sebaliknya. Itulah, agak sungkan untuk menyebutkannya sebagai “kemerdekaan untuk berbeda pendapat,” sebab disana ada unsur “permainan.” Toch -tak apalah disini disebut permainan pihak intelijen. Dulu dikenal sebagai Opsus, kini Bakin. Mulai saja dari Parmusi Pimpinana Djarnawi, lalu dibajak oleh Joni Naro dan Mintaredja; NU Subhan ZE dan NU Idham Chalid; PNI Sunawar dengan PNI Isnaeni, dan berobah belakangan menjadi PNIm Sunawar-Isnaeni lawan PNI Sanusi-Oesep. Yang agak lancar “ngerjainya,” cuma golongan buruh yang tergabung dalam Federesi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI). Nah, ketika tiba giliran kaum muda untuk “digarap,” nampaknya susah bagi Bakin tadi. Paling-paling hanya bisa untuk “membina” beberapa orang dengan segala cara, toch bisa diambil dari Snouok Hourgronye yang memecah-belah rakyat Aceh dari dalam. Kalangan Osis (Organisasi Intra Sekolah) telah “dibina” dengan memberikan fasilitas-fasilitas khusus (misalnya di Jakarta dengan menghadiahkan karcis-karcis nonton gratis). Munculnya Ikatan-Ikatan Mahasiswa Frofesi pada awal tahun 1970-an, adalah awal dari “akselerasi 25 tahun” mahasiswa (Hariman Siregar pernah ada dalam Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia, dan ternyata ia balik kiri) – tapi akhirnya organisasi bikinan itu hilang lenyap begitu saja. Tujuan semula ialah untuk menyaingi peranan organisasi ekstra universiter di Perguruan Tinggi, dan sekaligus menumbuhkan “golongan-pemerintah” di kalangan mahasiswa. Di Jakarta, kalangan mahasiswa ini pada waktu itu disebut “Orang Tanah Abang Tiga,” karena di alamat itu bermarkas Opsus (Sekretaris Presiden Bidang 0perasi Khusus, Ali Murtopo, Menteri Penerangan RI sekarang ini). Pada saat Ikatan Mahasiswa Profesi mengalami kegagalan sengaja diforsir pembentukan KNPI, oleh sementara mahasiswa, disingkat menjadi Komite Nasional Mahasiswa Intel” Pencetus ini ternyata datangnya dari Midian Sirait (Golkar). Maka berdirilah KNPl-KNPI secara Nasional, dengan peran khusus dari “atas.” Tak ayal pulalah banyak anggotanya terdiri “golongan-tua” atau “pegawai negeri” atau orang-orang yang mau digaji untuk itu. = Munculnya organisasi-organisasi apa yang mereka namakan “Angkatan Muda Siliwangi,” “Angkatan Muda Mataram,” “Angkatan Muda Diponegoro,” “Angkatan Muda Brawidjaja,” “Angkatan Muda Mulawarman,“ “Pemuda Madura,” “Pemuda Banten,” dan lain-lain, merupakan hasil pencemaran yang telah distel. Buktinya mereka sepakat dan senada dalam suara golongan pemerintah, “Mendukung Suharto dan Hamengkubuwono menjadi Presiden/Wakil Presiden dalam SU MPR 1978, dan mendukung masuknya KNPI dalam GBHN. (Ingat Orde lama dalam memperlakukan Soekarno). Untuk lokal dan insidentil-disaat aksi mahasiswa menjelang SU MPR yang lalu-berdiri pula di Yogyakarta apa yang mereka namakan “Study Group Mahasiswa” (menggunakan mahasiswa Gadjah Mada) dan di Jakarta ada “Mahasiswa Indonesia.” (sengaja menggunakan banyak mahasiswa UI) pimpinD.D Labuan yang menyebarkan pamplet gelap pada Peringatan Tri Tura yang lalu di Jakarta, sebagai “kontra aksi,” (ingat “teror kontra teror”nya Subandrio di zaman Orla). Kelompok di atas telah pula menyatakan dirinya; sebagai pendukung pemerintah dan menyokong masuknya KNPI dalam GBHN. Jelaslah dari mana asal “Oknum” ini. Paling tidak alam menimbulkan opini masyarakat, bahwa “aksi mahasiswa sekarang ini bukanlah keinginan semua mahasiswa, seperti tersirat dalam pamflet gelap mereka: “DM/SM bukan rakyat Indonesia” “DPR dipilih oleh 130 juta rakyat Indonesia” Apakah kesengajaan untuk memecah belah pamuda/mahsiswa merupakan target tertentu dari kalangan Pemerintah? Cobalah lihat “dua pola” pada saat Peringatan Tri Tura yang lalu di Jakarta, Golongan pemerintah memperingatinya di Gedung Olah-Raga Kuningan, dan kalangan mahasiswa di Kampus UI Salemba. Di Kuningan dihadiri oleh Adam Malik, Ali Murtopo, dari eksponen ‘66nya): Abdul Gafur (dokter, perwira Angkatan Udara), David Napitupulu (Golkar/KNPI) , Cosmas Batubara (Golkar), Sofyan Wanandi (nama Cina Liem Bien Koen-Golkar/Pengusaha), Firdaus Waljdi (Bakin/pengusaha), Suwarto (dokter/Golkar), siswa-siswa dari Osis dan beberapa orang mahasiswa Sedangkan di Salemba UI dihadiri oleh para mahasiswa dari Yogya. Bandung dan Surabaya. Eksponen ‘66 menghadirinya, antara lain: Zamroni, Fahmi Idris, Louis Wangge, Adnan Buyung Nasution, Letjen Kemal Idris dan masyarakat. Mengapa mahasiswa/pemuda mau dipecah-belah? Agaknya persoalan sudah menjadi antara ‘”butuh” dan “tidak butuh,” seperti kata David beberapa tahun orang lewat; “Apakah ada Undang-Undang yang melarang orang untuk jadi kaya.?” Bah !


“PINTU GERBANG” KAMPUS UI SALEMBA MASIH DITUTUP

Kampus Universitas Indonesia sejak kemelut melanda universitas ini akibat gerakan kemahasiswaan di awal Januari menjadi sorotan pihak keamanan daerah, dalam hal ini Laksusda Jakarta. Pihak keamanan ini telah berusaha keras menjaga keamanan kampus dan sekaligus melakukan tindak drastis terhadap langkah yang dilakukan mahasiswa. Usaha pengamanan tersebut lebih diperketat bukan hanya untuk lingkungan kampus tetapi seluruh wilayah Jakarta. Ini dilakukan mengingat akan diadakannya SU MPR bulan Maret 1978 (yang lewat) yang kita tahu telah melantik Presiden dan wakil presiden. Demi menjaga kemungkinan tidak diijinkan maka Presidium KMUI menyatakan mogok kuliah yang dilakukan tanggal 6 sampai dengan 26 Maret 1978. Dengan ini praktis Kampus. “ditutup” (?). Ditutupnya kampus untuk sementara mengakibatkan pintu gerbang di tutup pula. Pintu gorbang yang ada di kampus UI Salemba ini terdiri dari dua sayap. Satu boleh dikatakan sayap kanan menuju fakultas kedokteran dan satu lagi sayap kiri menuju rektorat tepatnya di depan Mesjid Arief Rahman Hakim.” Sekarang mogok kuliah telah selesai dan mahasiswa telah “Back to Campus” meminjam istilah kembaliya Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo ke UI (pojok Sinar Harapan – Vivere voricoloso -). Dengan ini berarti pintu gerbang dibuka kembali. Dan memang pintu telah dibuka tetapi hanya yang sebelah kanan (sayap kanan) sedangkan pintu gerbang sayap kiri, masih ditutup. Mungkin menjaga pintu malas membuka atau pak Rektor melarang, kita “enggak” tahu yang jelas pintu sayap kiri masih dikunci. (SNW)

April 8, 2009

Jahiliyah7: Siaran Putra Alma Mater 3

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:46 pm

Siaran Putra Alma Mater No.3/1982

TUNTASKAN PERJUANGAN KITA UNTUK MENYELEMATKAN ALMA MATER TERCINTA!

Telah kurang lebih satu minggu kita berjuang mempertahankan integritas Alma Mater melawan anarkisme. Semakin hari keadaan semakin jelas. Sekarang sudah jelas bagi kita semua, siapa sesungguhnya yang main paksa, main terror, main intimidasi, menindas kebebasan mahasiswa dengan las, semen dan palang pintu. Kita telah mengetahui, bahwa pengrusakan-pengrusakan dan corat-coret jorok bukan sesuatu kebetulan, bukan sesuatu ekses, melainkan sesuatu yang dilakukan secara sistematis. Kita tahu adanya komisi A, Komisi B, dan Komisi C dengan tugasnya masing-masing yang direncanakan pada rapat-rapat gelap yang tidak jarang dilakukan di tengah malam buta. Saya mengetahui segalanya itu, para Dekan mengetahui segalanya itu, para pengajar dan karyawan mengetahui segalanya itu.

Kami Pimpinan Universitas Indonesia yang juga meliputi Pimpinan Fakultas-fakultas, selama ini dengan seksama mengikuti perkembangan situasi.. Saban minggu diadakan rapat Senat Akademis dan hampir saban hari diadakan pertemuan antara Pembantu Rektor III Pembantu Dekan III dengan Rektor. Dan bersama ini kami semua ingin menyatakan saluut kepada segenap mahasiswa Universitas Indonesia yang dengan berani telah menentukan pilihan secara bebas dan tetap mengikuti kuliah, praktikum dan lain-lain kegiatan akademis. Saya pribadi sangat tahu, apa arti keberanian anda itu, karena saya tahu bahwa kaum anarkis menggunakan cara-cara terror dan intimidasi, melontarkan ancaman-ancaman dan maki-makian, baik melalui surat-surat kaleng maupun melalui pesan-pesan gelap melalui telepon.

Dan anda tidak menyerah. Pimpinan Universitas Indonesia juga tidak menyerah !

Kita pun sama-sama mengetahui, bahwa juga masyarakat luas mendukung perjuangan kita. Hal itu terungkap dalam sikap suratkabar-suratkabar dan media-massa lainnya. Kita semuanya dapat mengikuti berita-berita, ulasan-ulasan, tajukrencana, dll pelbagai media. Sejak pelantikan saya menjadi.Rektor Universitas Indonesia (bahkan sejak beberapa hari sebelumnya) sampai kepada hari-hari belakangan ini, pers memberikan dukungan yang luar biasa. Tidak akan mungkin pers mendukunga saya dalam melaksanakan konsepsi saya, jika pers menganggap saya orang bayaran belaka, atau seorang kacung yang stiap tindakannya semata-mata didasarkan atas perintah.

Pers tahu riwayat hidup saya sejak saya masih menjadi mahasiswa Universitas Indonesia tingkat pertama sampai saya menjadi sarjana lulusan Universitas Indonesia, dan seterusnya sampi saya mencapai gelar doctor di Universitas Indonesia dan kemudian diangkat menjadi guru besar. Pers tahu bahwa sikap saya konsepsional dan konsisten. Tentu saja konsepsi konsepsi saya tidak selalu disetujui oleh semua orang. Dalam masyarakat demokratis hal itu tidak perlu. Karena mengenal saya itulah pers mendukung saya serta pelaksanaan konsepsi saya. Dan dalam hal ini dapat kita anggap bahwa pers juga mencerminkan pandangan masyarakat. Adapun konsepsi saya mengenai Universitas Indonesia telah diketahui secara luas, dan bagi rekan-rekan saya di Universitas Indonesia sudah diketahui sejak tahun 50-an ketika saya masih menjadi mahasiswa; suatu konsepsi yang berdasarkan trilogi institusionalisasi – profesionalisasi – transpolitisasi dalam rangka pelaksanaan Tridarma PerguruanTinggi. Dalam konsepsi itu Universitas Indonesia harus ditegakkan sebagai suatu lembaga ilmiah dan merupakan masyarakat ilmiah. Sudah jelas bahwa Universitas Indonesia bukan lembaga politik dan tidak merupakan masyarakat politik. Kiranya tidak ada seorangpun di antara kita yang menentang hal itu, kecuali kaum anarkis. Mengapa? Karena kaum anarkis masuk Universitas Indonesia dengan tujuan lain, bukan untuk menempuh kehidupan ilmiah.

Mengenai persoalan kegiatan politik: saya sudah menjelaskannya secara berulang-ulang. Dalam konsepsi transpolitisasi terkandung pengertian, bahwa setiap mahasiswa harus belajar politik sehingga tidak buta politik. Sudah sebulan ini sesuatu team yang terdiri atas Pembantu Dekan III sedang merancang program transpolitisasi. Setelah selesai, akan dibahas oleh Senat Akademis dan setelah disahkan, pelaksanaannya diselenggarakan oleh Dekan-dekan.

Kecuali team transpolitisasi juga ada team-team lain, termasuk team yang membahas soal kelembagaan mahasiswa. Secara bertahap segala persoalan yang menyangkut penataan kembali Universitas Indonesia selaku lembaga ilmiah dan masyarakat ilmiah akan kita musyawarahkan. Yang sudah relatif tersusun, didahulukan, yang masih memerlukan banyak pembenahan, sudah barang tentu memerlukan persiapan yang lebih lama. Karena itulah misalnya saja, pers-mahasiswa saya dahulukan, karena tidak memerlukan banyak penataan. Namun jelas, bahwa kesemuanya itu memerlukan cukup banyak waktu dan tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa dan secara serampangan.

Segala langkah itu disambut secara positif oleh massa mahasiswa, karena memang sudah ada perasaan jenuh akan situasi yang tidak menentu selama ini. Adalah masuk akal, bahwa kaum anarkis tidak gembira dengan pengangkatan saya menjadi Rektor Universitas Indonesia. Seluruh sivitas akademika serta para tamu menyaksikan sendiri betapa mereka tidak segan-segan merusak kekhidmatan suatu upacara Alma Mater pada waktu pelantikan saya. Sudah jelas bahwa mereka tidak mencintai Alma Mater. Alma Mater mereka korbankan untuk tujuan-tujuan gelap mereka. Bahkan pada waktu pembacaan do’a, mereka berteriak-teriak, yang menyebabkan rasa keagamaan kita tersinggung karenanya.

Selanjutnya dalam acara tatap muka antara saya selaku Rektor baru dengan para mahasiswa, kita semua disuguhi ledakan-ledakan mercon di samping teriakan-teriakan yang terus menerus. Tetapi pada pertemuan tatap muka itu pula massa mahasiswa Universitas Indonesia memperlihatkan jiwa putera Alma Mater yang murni dan sejati. Ketika saya berbicara, saya memperoleh sambutan yang meriah dan kemudian semuanya menyalami saya dengan hangat disertai ucapan-ucapan selamat dan ucapan dukungan, yang terus terang saja merupakan saja merupakan (happy) surprise bagi saya, mengingat suasana yang sudah sedemikan dirusak oleh kaum anarkis. Mereka menyadarai benar, bahwa jika massa mahasiswa Universitas Indonesia sudah bangkit untuk membela Alma Maternya yang sudah sekian lama diinjak-injak oleh kaum anarkis maka kerajaannya akan runtuh dan dominasinya akan berakhir.

Sejak pelantikan saya itu, saya langsung berdialog dengan sivitas akademika, dan khususnya dengan para mahasiswa, Menurut pengamatan semua pihak, dialog itu berlangsung secara terbuka dan terus terang, meskipun kaum anarkis di sana sini mencoba untuk mengacaukannya dengan teknik-teknik “heckling” dan pengeroyokan verbal. Sebelumnya kaum anarkis mencoba menempatkan diri sebagai “perantara” antara Rektoe dengan massa mahasiswa, tetapi saya memilih berbicara langsung dengan para mahasiswa tanpa broker. Selanjutnya pelbagai kesempatan dipakai untuk main kucing-kucingan dengan menyelundupkan “IKM” yang merupakan alatnya bagi politicking. Dan akhirnya mereka melontarkan suatu tantangan terbuka kepada Rektor dengan memasang surat-surat pembaca di dalam majalah Tempo. Patut disesalkan, bahwa para ketua Senat Mahasiswa masuk perangkap anarkis.

Dan akhirnya tibalah “appel siaga” hari Sabtu, tanggal 20 Maret 1982 di mana kaum anarkis sama sekali membuka kedoknya. Dengan terang-terangan mereka melakukan politicking baik secara lisan maupun dengan menyebarkan pamphlet-pamflet. Dalam situasi yang tegang itu mereka bermain api yang dapat membakar dan membinasakan Alma Mater kita.

Maka terjadilah Peristiwa Akhir Maret 1982 baru-baru ini yang telah sama-sama kita ketahui. Terjadilah perbuatan-perbuatan nista seperti pengrusakan gedung-gedung Rektorat dan Fakultas Teknik serta corat-coret dengan kata keji dan kotor terhadap pribadi Rektor. Apa dosa Rektor, maka ia diperlakukan begitu? Karena Rektor menegakkan rule of law, melaksanakan peraturan yang berlaku. Hanya itu, tidak dan tidak kurang. Apa yang dilakukan oleh Rektor Universitas Indonesia tidak ada yang menyimpang dari aturan yang ada.

Tidaklah menjadi soal, bahwa peraturan yang saya laksankan itu bukan saya yang membuatnya, karena peraturan itu adalah peraturan yang sah. Kita akan kehilangan kredibilitas kita, kalau kita tidak menegakkan rule of law dalam lingkungan kita sendiri.

Soal lain yang perlu pula diketahui oleh massa mahasiswa, adalah kebohongan kaum anarkis. Tidak benar bahwa pada hari Selasa tanggal 30 Maret yang lalu saya berjanji akan menerima mahasiswa pada jam 14.00. Pada waktu itu saya sedang memenuhi undangan sesuatu yayasan yang mempunyai program kerjasama dengan Universitas Indonesia. Dan akhirnya saya menerima pimpinan Senat-Senat Mahasiswa pada sore hari jam 19.00. Tidak benar pula saya tidak mau menerima mahasiswa pada hari Rabu keesokan harinya. Pada hari Rabu, tanggal 31 Maret itu saya menghadiri Rapat Kerja Menwa. Dan sekarang pun disebarluaskan desas-desus di kalangan mahasiswa, bahwa saya berjanji akan berbicara dengan senat-senat mahasiswa pada hari Sabtu, tanggal 10 April yang akan datang. Hal itu tidak benar. Saya tidak pernah berjanji akan melakukan hal itu.

Pada waktu senat-senat mahasiswa datang menemui saya di rumah saya pada hari Selasa, tanggal 6 April yang lalu, mereka hanya menyampaikan suatu pernyataan dalam suatu map lalu pergi. Hal itu disaksikan oleh Pembantu Rektor II (Dr. Billy Yudono). Pembantu Rektor III (Ir. Djoko Hartanto) serta Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi (Drs. Moh.Nazief) Fakultas Teknik (Ir. Indradjit), Fakultas Hukum (Harun al Rasjid SH), Fakultas Kedokteran (dr. Merdias Almatsier) dan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial (Drs. Henry Walandow).

Pokok isi pernyataan itu ternyata berupa suatu ultimatum kepada Pimpinan Universitas Indonesia untuk: 1. Paling lambat hari Sabtu, tanggal 10 April 1982 mengadakan “forum resmi” antara pimpinan Universitas dengan pimpinan lembaga-lembaga kemahasiswaan, dst. 2. Merehabilitasi dan mengembalikan status sdr. Biner dan sdr. Peter Sumaryoto sebagai mahasiswa Universitas Indonesia. Kalau tidak dipenuhi, maka mereka akan melakukan sesuatu. (Pernyataan ini kiranya sudah disiarkan, jadi tidak perlu saya kutip di sini)

Sudah jelas bagi segenap sivitas akademika, bahwa Pimpinan Universitas Indonesia tidak dapat membiarkan dirinya diancam atau diultimatum. Yang menjadi taruha yang adalah lembaga Pimpinan Universitas Indonesia, bukan pribadi-pribadi yang kebetulan memangkunya. Dengan demikian segenap sivitas akademika supaya mengetahui apa ang benar dan tidak terkena oleh psywar dan kebohongan.

Akhirnya kami Pimpinan Universitas Indonesia, yang juga meliputi para Pimpinan Fakultas-Fakultas, sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada segenap mahasiswa Universitas Indonesia, putra-putri Alma Mater yang tetap berkuliah. Dengan demikian tidak akan perlu Senat Akademis Universitas Indonesia dalam rapatnya hari Senin yang akan datang mempertimbangkan penutupan fakultas saudara. Dan kepada mereka yang belum masuk kuliah, karena terror dan intimidasi, kami serukan untuk bersikap berani untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, membela yang hak dan melawan yang batil! Karena sesungguhnyalah tiada daya dan kekuatan kecuali yang berasal dari Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Agung.

                                                                                         Jakarta, 8 April 1982
                                                                        REKTOR UNIVERSITAS INDONESIA

                                                                                                   TTD

                                                                        Prof.Dr. NUGROHO NOTOSUSANTO
                                                                                      Nip. 130 428 654

Rindu Kicauan Burung

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:37 am

Rabu  pagi ini (08/04) kebetulan bisa sampai kantor (Gedung Pusat Admnistrasi Universitas) lebih pagi dari biasanya. Cuaca pagi tidak cerah, Gedung Rektorat diselimuti kabut tipis, menambah nuansa kesyahduan suasana kampus. Setelah absen, mampir dulu ke kantin prima untuk sarapan bubur ayam. Sambil mengobrol dengan teman-teman lain tentang nyoblos apa besok tanggal 9 April. Dari hutan karet belakang kantin prima terdengar kicauan burung tekukur saling bersahut-sahutan. Rasanya jadi teringat jaman dulu, ketika masih tinggal nun jauh disana di salah satu wilayah di Bandung selatan.

Waktu itu, kalau hari libur ayah sering mengajak berburu burung di perkebunan teh. Senapan yang dipakai jenis senapan angin 4.5  atau bahkan senapan angin kaliber 5.5. waktu itu tidak terlalu ketat dan tidak harus mendapat ijin untuk memiliki senapan kaliber 5.5. Kalau berburu biasanya selalu berombongan,  tiga sampai empat orang yang membawa senapan angin. Kendaraan yang dipakai yaitu jip willis, yang biasa menjelahi jalanan tidak rata. Ada jenis burung lain (sejenis burung tekukur, tetapi ukuran badannya lebih besar) yang pada musim tertentu sangat banyak, karena pada saat itu ada tanaman yang buahnya sangat disukai burung. Biasanya kalau berburu burung ini, cukup dengan menunggu di bawah pohon tersebut. Pada saat waktu makan biasanya burung tersebut berdatangan. Berburu burung waktu itu bisa sampai seharian, berangkat pagi hari dan pulang menjelang sore hari.

Ketika kesadaran akan lingkungan alam semakin besar, kebiasaan berburu burung ini jarang dilakukan, bahkan dihentikan sama sekali. Kini hanya tinggal kenangan saja, di sudut ruangan rumah dipajang senapan angin kaliber 5.5, yang konon katanya saat ini pemilik senapan kaliber ini harus mempunyai ijin (lisensi) dari pihak berwenang, karena bisa membuat orang mati kalau kena tembak. Lagi pula peluru (mimis) kaliber ini sudah jarang dijual di pasaran, mungkin pula sudah tidak ada.

Tetapi kesenangan untuk mendengarkan kicauan burung tekukur rupanya tidak pernah sirna. Ternyata di pasar banyak dijual burung tekukur. Akhirnya beli sepasang dan disimpan di depan rumah. Setiap pagi dapat mendengar suara burung tekukur. Tetapi sang nyonya rumah rupanya tidak suka, karena bau kotoran burung masuk ke dalam. Baiklah, akhirnya dibuat sarang burung di belakang rumah, kebetulan ada jalan darurat memanjang, yang memang disediakan oleh pihak perumnas. Sempat juga itu burung beranak pinak. Suatu waktu pintu kandang burung terbuka, entah sudah berapa lama. Tetapi itu burung tidak mau keluar. Rupanya sang burung sudah betah di sangkar (kawat besi) daripada di luar yang belum ketentuan dapat makanan (apalagi sekarang sedang krisis dan lahan makin sempit, belum tentu di luar sana dapat makanan).

Lamunan tentang kicauan burung ini barangkali akan hanya tinggal kenangan, karena  tahun depan kalau sedang sarapan di kantin prima tidak akan lagi bisa menikmati kicauan burung tekukur, karena hutan dan lahan tempat burung mencari makan sudah menjadi hutan beton yang tinggi dan kokoh menjadi sebuah perpustakaan  indah nan megah yang akan dinikmati oleh “para pejuang”, pemimpin masa depan, pembangun  peradaban bangsa.

April 7, 2009

Sosialisasi UU BHP: Perubahan Paradigma

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:35 pm

Hari Senin (06/04) Universitas Indonesia kedatangan Prof. Dr.Didik J. Rachbini, Wakil Ketua Komisi X DPR untuk melakukan sosialisasi Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang telah disahkan oleh Presiden SBY pada tanggal 16 Januari 2009. Produk UU BHP nomor 9 tahun 2009 itu terdiri atas 16 Bab yang terurai dalam 69 pasal.

Menurut Prof.Dr. Didik J. Rachbini, semangat yang melandasi pembuatan UU BHP ini jauh berbeda dengan pemikiran sebelumnya yang hanya berdasarkan “input-output” semata. Kini pemerintah mempunyai paradigma baru yang berbalik 180 derajat dari paradigma sebelumnya. Pendidikan dijadikan sebagai sokoguru dalam mengembangkan peradaban bangsa. Dalam waktu dekat, akan dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) atau Perpres untuk mengatur dan menjabarkan lebih lanjut tentang pasal-pasal dalam UU BHP, sehingga tidak menjadi kendala dalam pelaksanaan di lapangan, terutama dengan departemen terkait. Misalnya tentang tunjangan guru/dosen yang telah mendapatkan sertifikasi, yang berkaitan dengan Departemen Keuangan.

Ada beberapa catatan penting tentang UU BHP ini. Misalnya pembiayaan pendidikan di tingkat perguruan tinggi terbagi atas 3 bagian. Jadi beban pembiayaan yang dikenakan kepada peserta didik hanya sepertiga saja dari yang seharusnya. Sepertiga ditanggung pemerintah dan sepertiga lagi dari dana masyarakat. Ada keharusan 20 % kursi yang tersedia diperuntukan bagi peserta didik dari kalangan ekonomi lemah/orang miskin..

Mengenai adanya tuduhan UU BHP bersifat komersial yang ramai digembar-gemborkan di media massa, diakui Prof. Didik J. Rachbini, ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan adanya UU BHP. Dalam UU itu disebutkan usaha pendidikan bersifat nirlaba, kalau pun ada keuntungan, tidak boleh masuk kantong pribadi/yayasan, tetapi harus dikembalikan lagi dalam bentuk fasilitas penunjang pendidikan. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan bagi institusi pendidikan yang dikelola oleh yayasan, karena keuntungan yayasan menjadi berkurang.

April 6, 2009

Institusionalisasi dan Profesionalisasi Melalui Transpolitisasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:32 pm

Tulisan terakhir dari dua tulisan

Fakultas Sebagai Sokoguru Di manakah di lingkungan Universitas Indonesia fungsi institusionalisasi dan profesionalisasi itu dipusatkan? Sudah jelas, pendidikan professional dalam lingkungan sesuatu universitas dilaksanakan di fakultas-fakultas. Karena itu di Universitas Indonesia pun fungsi universitas sebagai kekuatan institusionalisasi dan profesionalisasi dilaksanakan oleh kesepuluh fakultasnya. Dengan demikian, selaku Rektor saya akan bertumpu kepada para Dekan serta pengasuh fakultas pada umumnya.

Sesuai dengan gagasan institusionalisasi dan profesionalisasi itulah saya akan mengembalikan wisuda sarjana dalam arti yang hakiki kepada fakultas-fakultas. (Meskipun istilahnya yang dipakai harus lain, supaya tidak tumpang tindih dengan upacara yang dilakukan oleh Universitas Indonesia. Misalnya dapat dipakai istilah “Upacara Melepas Sarjana Baru”). Sedangkan pada pada upacara Universitas Indonesia yang terpusat, Rektor secara simbolis akan mewisuda para sarjana baru itu.

Juga kegiatan penelitian untuk sebagiannya akan dilaksanakan pada lembaga-lembaga di fakultas sesuai dengan bidang profesi ilmiahnya. Meskipuntetap ada lembaga-lembaga penelitian yang terpusat di Rektorat.

Demikian pula pelaksanaan darma ke-3 dalam rangka Tridarma Perguruan Tinggi,yakni pengabdian kepada masyarakat, meskipun perlu dikoordinasi secara terpusat, namun penyelenggaraannya dapat diserahkan kepada lembaga-lembaga di fakultas-fakultas. Di sini dapat kita konstatasi adanya 2 jenis pengabdian kepada masyarat: 1. Pengabdian kepada masyarakat sebagai keseluruhan 2. Pengabdian berupa pelayanan (service) kepada pelbagai organisasi, kelompok atau individu dalam masyarkat. Jenis yang pertama tertuju kepada masyarakat sebagai totalitas, yang merupakan klien (client) daripada universitas. Pengabdian jenis ini sesungguhnya telah tumbuh sebagai tradisi di kalangan dunia perguruan tinggi di Indonesia, yang tidak pernah mengenal prinsip menara gading. Karena universitas nasional di Indonesia lahir dari rahim Perjuangan Nasional, maka ia merupakan bagian yang tak terpisahkan daripada Perjuangan itu sendiri. Menjadi bagian yang tak terpisahkan, tidak berarti tidak mempunyai kepribadian sendiri. Bahkan universitas dikenal sebagai sumber bagi daya dan tenga bagi Perjuangan.

Namun, setelah selesainya Perang Kemerdekaan, masyarakat kita dilanda oleh gelombang liberalisme yang nyaris menenggelamkan sifat kekelurgaan masyarakat Pancasila. Dalam kegelisahan kurun waktu tahun 50-an itu universitas menjadi ajang pertarungan pelbagai kekuatan politik, yang ingin menguasai sumber brainpower nasional itu. Periode itu disusul oleh antipodenya, yakni jaman Demokrasi Terpimpin yang totaliter yang didominasi oleh PKI dan satelit-satelitnya. Sekali lagi universitas jadi bulan-bulanan untuk dikuasai. Dengan demikian universitas ibaratnya seperti menara air, yang krannya jadi rebutan orang luar yang memutarnya sekehendak hatinya.

Dalam cita-cita saya, universitas termasuk Universitas Indonesia, hendaknya menjadi menara api yang menerangi perairan pantai yang penuh karang pada malam hari yang gelap, agar supaya para nakhoda dapat mengemudikan bahteranya ke Bandar yang ditujunya. Kita memberikan sumbangan yang memang dibutuhkan masyarakat, namun kitalah yang menentukan bagaimana bentuk sumbangan itu berdasarkan kemampuan profesional kita. Kita tidak pernah bersikap masa bodoh terhadap masyarakat, akan tetapi kita minta kepercayaan masyarakat untuk diizinkan menyampaikan sumbangan sesuai dengan apa yang kita anggap baik berdasarkan pemikiran profesional kita. Antara masyarakat dan universitas harus terjadi interaksi positif berdasarkan solidaritas timbal-balik.

Dalam pengabdian jenis kedua kepada masyarakat, yang menjadi klien bukanlah masyarakat sebagai keseluruhan, melainkan unsur-unsur masyarakat itu secara individual. Pelayanan atau service yang diberikan terdapat pada pelbagai bidang profesi ilmiah yang ada dalam lingkungan universitas. Di universitas Indonesia, misalnya saja, dapat diperoleh pelayanan di bidang hokum, bidang manajemen, bidang kesehatan gigi, bidang psikologi, dll.

Dengan para alumni Universitas Indonesia maupun dengan para sejawat melalui organisasi-organisasi profesi (seperti Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Insinyur Indonesia, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Ikatan Sarjana Sastra Indonesia, dls), dilakukan percaturan yang terus menerus antara para teoretisi dan para praktisi di bidang profesi masing-masing demi kemajuan dunia ilmu Indonesia sebagai keseluruhan.Dengan demikian pengabdian kepada masyarakat oleh sivitas akademika Universitas Indonesia, manunggal dengan pengabdian para sejawat yang bertugas di luar lingkungan Universitas Indonesia. Hal ini sudah berjalan, tinggal kita tingkatkan dengan landasan kesadaran, dan dengan sebanyak-banyaknya melibatkan para mahasiswa sebagai kaum junior di kalangan profesi masing-masing. Segalanya itu masih akan kita atur lebih lanjut secara integral.

Bilamana Rencana Terlaksana? Telah ditegaskan, fungsi Universitas Indonesia bersama universitas-universitas lain adalah untuk menjadi kekuatan institusionalisasi dan profesionalisiasi. Dan telah pula kita sadari, upaya institusionalisasi dan profesionaisasi itu dilaksanakan ke dalam maupun ke luar. Bahkan dapat kita nyatakan di sini, sukses dalam upaya ke luar itu tergantung kepada sukses upaya itu ke dalam. Karena itulah kita harus menekuni pelaksanaan upaya itu ke dalam. Kita harus menyukseskan institusionalisasi dan profesionalisasi terhadap Universitas Indonesia sendiri.

Kapankah kita harapkan Universitas Indonesia dapat sepenuhnya terinstitusionalisasi dan terprofesionalisasi? Kapankah Universitas Indonesia sudah dapat melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi secara sempurna.

Sudah saya terangkan, perkembangan Universitas Indonesia (dan semua universitas di Indonesia) tidak dapat dipisahkan dari proses Pembangunan Nasional seluruhnya. Sebabnya ialah karena Universitas Indonesia tidak pernah berdiri dalam suatu vacuum; ia senantiasa teguh berdiri di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Seperti juga Pembangunan Nasional merupakan suatu ongoing proses, suatu proses yang terus menerus, demikian pula proses institusionalisasi dan profesionalisasi Universitas Indonesia akan berjalan terus bersama dengan proses modernisasi masyarakat kita. Dalam lingkup uraian ini, tidak dapat saya membuat prediksi atau ramalan mengenai berapa dasawarsa yang diperlukan oleh Indonesia untuk mencapai kondisi nyak faktor yang negara yang sudah modern, yang sudah developed, yang sudah maju. Karena untuk itu diperlukan analisa yang mendalam terhadap cukup banyak faktor yang mempengaruhi. Demikian pula, tidak dapat dalam lingkup uraian ini dibuat perkiraan mengenai jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proses institusionalisasi dan profesionalisasi Universitas Indonesia. Apabila Rencana Induk Pengembangan 10 tahun Universitas Indonesia yang tahun lalu disiapkan, kelak sudah selesai dilaksanakan, barangkali kita akan lebih dimungkinkan untuk membuat perkiraan yang tepat. Bagi saya yang menurut ketentuan memangku jabatan Rektor Universitas Indonesia selama 4 tahun, tentunya lebih realistis untuk merancang, apa yang saya harapkan dapat dicapai dalam waktu tersebut. Untuk dapat merancang hal itu, sebelumnya saya perlu memastikan persepsi saya mengenai situasi intern Universitas Indonesia dewasa ini. Kalau apa yang saya alami pada waktu saya dilantik dapat dijadikan indikasi (dan banyak rekan yang hadir pada waktu itu mengkonfirmasi anggapan saya), maka yang pertama kali harus saya lakukan adalah membebaskan massa mahasiswa dari sekelompok kecil kaum anarkhis yang menguasai mereka dengan kombinasi terror dan manipulasi. Segenap hadirin yang bersama saya mengalami pengacauan sistematis terhadap upacara pelantikan rektor yang seharusnya berjalan dengan khidmat, yang mengalami sorak-sorai selama jalannya upacara, termasuk pada waktu pengucapan sumpah dan pembacaan doa, niscayalah sependapat dengan saya, bahwa situasi anarkhis seperti itu harus diakhiri. Dalam hal ini perlu kita sadari kedudukan kita sebagai pendidik. Dan perlu pula kita sadari kedudukan kita sebagai pendidik. Dan perlu pula kita sadari, bahwa pendidik bukanlah mengumbar! Mendidik adalah mengembangkan orang secara mental atau moral. Seberapa lama waktu yang saya perlukan untuk mengakhiri siatuasi anarkhis itu? Pastilah dalam kurun waktu 4 tahun saya sudah harus selesai. Namun, saya akan berusaha untuk menyelesaikan tugas itu dalam waktu 1 tahun. Dengan demikian, kita semua dapat mulai dengan upaya kita untuk mengembalikan kewibawaan Alma Mater di tengah-tengah masyarakat sebagai satu diantara dua universitas yang “top” di Indonesia. Kita harus secepatnya mengakhiri dominasi kekuatan-kekuatan anti-Alma Mater, yang tetap ingin menghambat kemajuan Universitas Indonesia, ingin tetap membiarkan Universitas Indonesia menjadi “the sick man of Academia”. Insya Allah tahun depan kita sudah dapat mulai secara sistematis melaksanakan proses institusionalisasi dan profesionalisasi di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sesuai Tridarma Perguruan Tinggi. Dan dengan demikian dalam waktu 3 tahun selebihnya dapatlah kita tegaskan identitas Universitas Indonesia sebagai lembaga ilmiah serta identitas kampus Universitas Indonesia sebagai masyarakat ilmiah.

Manunggalnya Sivitas Akademika Siapakah yang harus melaksanakan upaya institusionalisasi dan profesionalisasi? Bukan hanya Rektor, bukan hanya Dekan, bukan pula hanya para dosen. Upaya Institusionalisasi dan profesionalisasi harus dilaksanakan oleh segenap Sivitas Akademika. Dan dalam hal ini Sivitas Akademika harus manunggal, harus kompak. Hal itu sesuai benar dengan sifat kekeluargaan daripada Pancasila. Saya konstatasi, pada dewasa ini ada suasana kontradiksi dalam lingkungan Universitas Indonesia. Oleh kaum anarkhis dihembus-hembuskan, mahasiswa harus “main sendiri”, harus mempunyai “pemerintah” sendiri, harus berperanan secara lepas dari Alma Mater. Hal itu harus pula kita akhiri. Suasana kontradiksi a la komunisme harus kita ganti dengan suasana serasi sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Kepada mahasiswa harus kita jelaskan, status kemahasiswaannya itu semata-mata diperolehnya karena Alma Mater mengakuinya sebagai mahasiswa. Karena itu ia tidak boleh mengingkari Alma Maternya, jika ia tidak mau menjadi seorang Si Malin Kundang yang mendurhakai ibunya. Selanjutnya perlu pula dijelaskan, di fakultasnya, wakil Alma Mater adalah Dekan. Dekan adalah pembina dosen, karyawan administrative dan mahasiswa. Jangan sampai anak-anak kita terpedaya oleh kaum anarkhis, yang menganggap Ketua Senat Mahasiswa setingkat dengan Dekan! Senat Mahasiswa adalah sarana pendidikan dank arena itu eksistensinya hanya diakui jika diakui oleh unsur pendidik yang diwakili oleh Dekan.

Transpolitisasi dengan Sarana Organisasi dan Komunikasi Sudah dijelaskan di atas, Universitas Indonesia adalah suatu lembaga ilmiah, dan bukan lembaga politik. Demikian pula kampus Universitas Indonesia adalah suatu masyarakat ilmiah bukan suatu masyarakat politik. Hal itu tidak berarti, Sivitas Akademika tidak boleh berpolitik. Hak untuk berpolitik dimiliki oleh setiap warganegara yang tidak kehilangan haknya. Namun, dalam suatu masyarakat yang berdasarkan hokum, segala kegiatan warganya, termasuk kegiatan politik, diatur supaya tidak timbul tubrukan atau kecelakaan. Untuk berpolitik sudah ada wadah-wadahnya yang khusus. Ini juga sesuai dengan asas empan-papan (bertindak sesuai dengan lingkungan). Dengan demikian setiap Sivitas Akademika bebas untuk berpolitik sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Namun kegiatan itu harus dilakukan di luar kampus dan tidak boleh membawa-bawa nama Universitas Indonesia. Di dalam lingkungan Universitas Indonesia, dan di dalam kampus-kampus Universitas Indonesia, tidak boleh dilakukan politicking atau kegiatan politik adalah segala kegiatan yang langsung atau tidak langsung ditujukan kepada usaha mencapai kekuasaan pemerintahan negara oleh sesuatu golongan tertentu atau oleh individu tertentu. Atau sebaliknya: segala kegiatan yang langsung atau tidak langsung ditujukan kepada usaha menyingkirkan sesuatu golongan tertentu atau individu tertentu dari kedudukan memegang kekuasaan pemerintahan negara. Dengan demikian jelas, saya tidak menghendaki politisasi Universitas Indonesia atau kampus Universitas Indonesia, karena politisasi universitas dan kampus Universitas Indonesia akan mengakibatkan desintegrasi Sivitas Akademika Universitas Indonesia dan akhirnya akan membenamkan Alma Mater ke dalam badai anarkhi. Namun, saya juga tidak menghendaki depolitisasi Universitas Indonesia dan kampus Universitas Indonesia, karena tindakan itu akan menghasilkan Sivitas Akademika yang buta politik. Orang yang buta politik akan mudah diperalat atau digiring kearah tertentu oleh pelbagai kekuatan politik.(Kita tahu, kekuatan politik tidak selalu mempunyai wadah yang konkrit dan formal. Ada pula kekuatan politik tanpa bentuk). Yang menurut hemat saya harus dilakukan adalah upaya transpolitisasi, yaitu kegiatan memberi kesadaran politik melalui pendidikan politik (kepada Sivitas Akademika, khususnya para mahasiswa) supaya yang bersangkutan pada satu pihak dapat berpolitik sebaik-biknya jika hak itu memang diinginkan, akan tetapi di lain pihak kegiatan politiknya itu tidak boleh dilakukan di dalam kampus dan tidak boleh mengatasnamakan atau memakai nama Universitas Indonesia atau salah satu unsurnya. Dengan transpolitisasi ingin pula dicapai suatu kondisi, dimana Sivitas Akademika Universitas Indonesia tidak dapat diperalat atau digiring oleh pelbagai kekuatan tanpa mereka menyadarinya. Adapun transpolitisasi dilaksanakan dengan serangkaian program yang interlocking (saling berkaitan) dalam rangka studium generale serta matakuliah dasar universitas (MKDU) seperti Pancasila, Kewiraan dan Agama. Dengan demikian transpolitisasi diselenggarakan sebagai kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler, dan merupakan tanggungjawab penuh universitas. Baik institusionalisasi dan profesionalisasi maupun transpolitisasi memakai dua sarana, yakni sarana organisasi dan sarana komunikasi. Sarana organisasi antara lain adalah Rektorat dan Dekanat, Autoritas kampus, Korpri, Darma Wanita, Senat Mahasiswa, Resimen Mahasiswa, Satuan Pengaman, dll. Sedangkan sarana komunikasi adalah suratkabar, majalah, brosur-brosur (seperti Seri Komunikasi), seminar-seminar, penataran-penataran, spanduk, poster, dll.

Gambaran Masa Depan Gambaran masa depan apabila upaya institusionalisasi dan profesionalisasi melalui transpolitisasi sudah mulai membuahkan hasil, akan memperlihatkan sarjana-sarjana yang juga sujana, yang merupakan educated persons yang refined dan sophisticated, serta sebaliknya tidak semata-mata hanya berpengatahuan saja, dan yang masih kasar dan vulgar. Gambaran masa depan itu akan pula memperlihatkan hasil penelitian yang tidak saja tinggi mutunya, melainkan juga relevan. Dan akhirnya, gambaran masa depan itu akan memperlihatkan pengabdian masyarakat yang orisinal, inovatif serta menentukan bagi Pembangunan Nasional. Maka dengan demikian barulah dapat dikatakan, Universitas Indonesia telah mulai melaksanakan darmanya. Marilah kita bersama-sama bekerja keras dengan ikhlas dan jujur untuk melaksanakan kewajiban itu, yang terlimpah oleh sejarah.

April 5, 2009

Institusionalisasi dan Profesionalisasi Melalui Transpolitisasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:18 pm

Bagian pertama dari dua tulisan

Prakata Sehari setelah hari Jum’at, tanggal 15 Januari 1982, ketika saya (Prof.Dr. Nugroho Notosusanto-pen)  dilantik menjadi Rektor Universitas Indonesia (UI) saya memberikan expose kepada para (calon) Pembantu Rektor, beberapa ex-Pembantu Rektor serta anggota Staf Rektorat. Yang saya sampaikan adalah apa yang saya namakan “Persepsi Umum Mengenai Misi Saya Selaku Rektor 1982-1986”. Expose itu saya lanjutkan dalam rangkaian kunjungan ke fakultas-fakultas selama kurang lebih dua minggu, mulai tanggal 26 Januari sampai dengan tanggal 8 Februari.

Di hadapan forum karyawan, dosen dan mahasiswa pada 10 fakultas Universitas Indonesia itu saya menjelaskan apa yang pada hemat saya harus saya lakukan sebagai Rektor Universitas Indonesia. Saya sampaikan pula, setelah menerima tanggapan dan masukan dari para pendengar, saya akan memantapkan “persepsi” itu menjadi suatu konsepsi.

Dalam makalah ini saya berusaha mengetengahkan konsepsi yang saya janjikan itu, yang singkatannya sudah saya presentasikan di dalam Pidato Dies Natalis Universitas Indonesia pada tanggal 12 Februari yang lalu. Melalui sekian banyaknya wawancara oleh rekan-rekan wartawan, konsepsi itu telah pula saya perkenalkan kepada masyarakat luas. Namun masih terasa perlunya gagasan itu mengenai misi saya di Universitas Indonesia, saya kemukakan secara konsepsional dan integral. Mudah-mudahan makalah ini dapat memenuhi keperluan itu.

Pendahuluan Pada awal pelaksanaan tugas selaku Rektor Universitas Indonesia (UI), sudah selayaknya jika saya menyampaikan suatu persepsi mengenai pelaksanaan tugas itu. Dengan demikian pelbagai pihak yang bersangkutan dengan pelaksanaan tugas itu, tahu persis apa yang ingin saya capai sekalian dengan rencananya, di bagian-bagian mana saja dalam lingkungan Universitas Indonesia rencana itu akan dilaksanakan, bila tahapan-tahapan rencana itu harus terwujud, siapa-siapa saja yang perlu ikut serta dalam usaha itu, mengapa (dengan latar belakang dan landasan apa) hal-hal itu saya rancang, serta juga bagaimana segalanya itu ingin saya selenggarakan.

Saya harapkan dengan penjelasan ini segenap Sivitas Akademika Universitas Indonesia yang cinta alma mater, akan sepenuhnya membantu saya dalam melaksanakan tugas. Karena jelas, saya tidak mungkin akan dapat melaksanakannya seorang diri.

Pembangunan Nasional dan Tridarma Perguruan Tinggi Seyogyanya saya mulai dengan menjelaskan latar belakang serta landasan daripada rencana saya yang akan saya laksanakan sebagai Rektor Universitas Indonesia. Pertama kali perlu saya tegaskan, Universitas Indonesia tidak berdiri dalam suatu vacuum sosial, melainkan merupakan bagian integral daripada masyarakat Indonesia. Karena itu segala kegiatan yang kita lakukan di Universitas Indonesia harus ada relevansinya bagi kehidupan Rakyat, Bangsa dan Negara kita.

Sehubungan dengan itu perlulah kita sadari kondisi masyarakat kita. Dan kondisi masyarakat Indonesia seperti yang telah sama-sama kita ketahui, adalah kondisi sedang berkembang. Dan untuk mengembangkan masyarakat dan negara, kita sedang melaksanakan Pembangunan Nasional atau national development yang tersusun dalam rencana-rencana lima tahun ( Repelita). Proses itu sering pula disebut proses modernisasi. Adapun salah satu ciri yang menonjol daripada sesuatu masyarakat yang sedang berkembang atau sedang menjalani proses modernisasi, adalah belum tegaknya,, atau belum mantapnya institusi-institusi modern. Sehingga dalam rangka pembangunan, pengembangan atau modernisasi itu perlu dilakukan institusionalisasi. Itulah latar belakang daripada rencana yang akan saya laksanakan sesuai dengan persepsi saya.

Adapun landasan daripada rencana saya tak lain tak bukan adalah Tridarma Perguruan Tinggi, yakni: 1.Pendidikan 2.Penelitian 3.Pengabdian Kepada masyarakat. Tridarma Perguruan Tinggi itulah misi Universitas Indonesia bersama dengan segenap universitas lain di Indonesia. Karena perguruan tinggi atau universitas itu adalah lembaga ilmiah, maka dengan sendirinya Tridarma Perguruan Tinggi itu kesemuanya bersifat ilmiah pula, atau dilakukan pada bidang ilmiah. Sehingga dapat kita katakana, bahwa Tridarma Perguruan Tinggi adalah: 1. Pendidikan ilmiah 2. Penelitian ilmiah 3. Pengabdian ilmiah kepada masyarakat. Khususnya mengenai aspek pendidikan, kita mempunyai pegangnan di dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) yang antara lain berbunyi: “Pendidikan Nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan……..”

Institusionalisasi dan Profesionalisasi Apakah fungsi Universitas Indonesia dalam rangka penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi itu? Pertanyaan itu harus dikualifikasi sebagai berikut:” sesuai dengan kondisi nyata masyarakat dan Negara pada kurun waktu sekarang”. Hal itu sesuai dengan prinsip Situationsgebundenkeit yang melihat segala gejala sosial sebagai sesuatu yang dinamis, selalu bergerak dan selalu berubah.

Tadi sudah saya jelaskan, bahwa masyarakat kita sedang ada dalam keadaan berkembang atau dalam proses modernisasi. Sudah pula saya ketengahkan, bahwa salah satu ciri menonjol masyarakat yang sedang berkembang atau masyarakat yang sedang bergerak dari kondisi tradisional ke keadaan modern adalah masih langkanya, atau jikapun ada masih belum mantapnya institusi-institusi modern. Hal itu memberikan kepada masyarakat sesuatu perasaan tidak menentu, perasaan resah, karena nilai-nilai, norma-norma dan ukuran-ukuran perilaku masih terasa belum pasti. Cermin yang sederhana daripada keadaan itu adalah perilaku kita dalam lalu lintas di jalan raya, terutama jika mengendarai kendaraan motor. Keadaan semrawut lalu lintas di jalan raya yang mengakibatkan banyaknya korban yang jatuh karena kecelakaan, merupakan gambaran yang nyata mengenai kondisi kita.

Gambaran yang lebih “tinggi” adalah gejala penyalahgunaan wewenang, sikap “semau gue”, main hakim sendiri, usaha memperkaya diri atas kerugian negara atau masyarakat umum, sikap tidak mentaati hukum atau aturan, dan masih banyak lagi. Memang instabilitas fisik sekarang ini sudah jauh berkurang dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1950-an dan 60-an. Namun instabilitas “mental” yang menyangkut tatanilai, norma dan ukuran perilaku, masih sangat terasa, dan kita semua mendambakan kepastian-kepastian tertentu tertentu seperti yang kita lihat dalam masyarakat-masyarakat yang sudah maju seperti di Dunia Barat dan Jepang.

Sesuai dengan kebutuhan nyata yang sudah mendesak itu, sudah selayaknya jika universitas pada umumnya dan Universitas Indonesia pada khususnya berfungsi sebagai suatu institutionalizing force, suatu kekuatan institusionalisasi. Dalam rangka penyelenggaraan Tridarma Perguruan Tinggi, Universitas harus berdaya upaya secara sadar dan berencana untuk melakukan institutionalization atau institution-building, institusionalisasi atau pembinaan institusi. Termasuk di dalam bidang-bidang yang harus diinstitusionalisasi adalah tatanilai. Karena jika tatanilai yang kita anggap negatif belum berubah, maka pergantian personalia dalam pelbagai jabatan tidak menjamin timbulnya perbaikan, karena pemangku baru daripada sesuatu jabatan atau fungsi akan akan melakukan hal yang sama (yang kita anggap negatif), karena tatanilai masih tetap yang dulu.

Meskipun demikian pada hemat saya tidak tepat anggapan bahwa universitas merupakan suatu moral force, suatu kekuatan moral. Yakni karena dalam masyarakat yang sedang berkembang, moralitas itu sendiri masih dalam keadaan berkembang pula, dalam keadaan berubah dengan cepat, sehingga terasa seolah-olah ada kegoyahan nilai. Universitas sebagai bagian integral daripada masyarakat, yang misinya tidak pada bidang moral, sudah barang tentu tidak dapat menghindarkan hal yang sama. Namun kita sebagai warga universitas dapat berdaya upaya agar supaya isntitusi-institusi yang positif, kita tegakkan dalam lingkungan kita sendiri dulu, dengan harapan bahwa institusi-institusi itu dapat dihayati oleh masyarakat luas melalui pendidikan.

Jika universitas sebagai keseluruhan saja tidak tepat dikatakan merupakan moral force, apalagi mahasiswa. Anggapan bahwa mahasiswa merupakan moral force mengandung dua ketidaktepatan. Pertama, karena sebab yang baru saja saya ketengahkan. Dan kedua, karena mahasiswa pada hakekatnya adalah warga masyarakat yang belum teruji keteguhan moralnya. Kalau dengan istilah populernya “mereka belum pernah digoda dengan uang dan perempuan”. Sebab kita menyaksikan dari pelbagai kasus pengadilan, bahwa ada juga alumni baru yang begitu terjun ke masyarakat, lalu melakukan tindakan yang tercela atau melanggar hukum. Padahal sewaktu masih menjadi mahasiswa gigih menyerang mereka yang melakukan perbuatan yang sama dengan menggurui pelbagai kalangan masyarakat. Kalau sudah menjadi begitu, tentu saja jauh daripada menjadi moral force, malahan menjadi immoral force. Akan tetapi, mahasiswa pun sama juga

dengan sivitas akademika yang lain, dapat menjadi institutionalizing force dengan jalan menegakkan dan menghayati pelbagai institusi modern yang positif.

Dalam pada itu di universitas, termasuk Universitas Indonesia, diperkembangkan pelbagai profesi ilmiah, seperti profesi kedokteran, teknologi, hokum, bahasa, sejarah, ekonomi, psikologi, pelbagai ilmu-ilmu social lainnya, dst. Juga profesi-profesi ilmiah itu termasuk bidang-bidang yang institusionalisasinya masih perlu dimantapkan. Sebabnya ialah karena profesi-profesi ilmiah itu merupakan profesi-profesi modern yang masuk ke Indonesia melalui proses modernisasi yang dimulai pada jaman kolonial.

Profesi bukan sekedar pekerjaan atau vocation, melainkan suatu vokasi khusus, yang mempunyai cirri-ciri: Expertise (keahlian) Responsibility (tanggung jawab) Corporateness ( kesejawatan)

Dari pengalaman kita sendiri sebagai orang profesional di bidang kita masing-masing, jelas bahwa keahlian, tanggung jawab serta rasa kesejawatan dalam rangka profesi-profesi ilmiah di Indonesia masih perlu dimantapkan dalam rangka proses institusionalisasi. Upaya itu disebut profesionalisasi. Dengan demikian, universitas di Indonesia, khususnya Universitas Indonesia harus pula merupakan suatu professionalizing force.

Berdasarkan itu semuanya dapatlah kita simpulkan, bahwa kita harus berusaha, agar supaya Universitas Indonesia dapat berfungsi sebagai institutionalizing and professionalizing force, yang bertugas melakukan institusionalisasi dan profesionalisasi baik ke dalam maupun ke luar. Ke dalam melalui darma pendidikan dan penelitian, ke luar melalui darma pengabdian kepada masyarakat. Meskipun secara tidak langsung dapat kita harapkan, bahwa melalui pendidikan dan penelitian pun gerak institusionalisasi dan profesionalisasi itu “menyebar” ke seluruh masyarakat. Dan dengan demikian Universitas Indonesia bersama kekuatan-kekuatan lain dapat ikut menjadi modernizing force.