April 29, 2009

Presiden…oh…Presiden

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:33 pm

Seusai pemilihan calon legislatif yang telah berlangsung awal april lalu, pemberitaan di berbagai media dan juga pembicaraan umum di kalangan masyarakat, terfokus kepada siapakah gerangan (calon) Presiden dan calon (wakil) Presiden yang akan datang. Inilah topik pembicaraan yang paling ramai, bila dibandingkan dengan pemilihan capres dan cawapres pada tahun 2004. Bursa capres kali ini lebih banyak, diramaikan dengan “para” pendatang baru dalam kancah perpolitikan. Mudah-mudahan saja tidak terulang apa yang terjadi pada acara pemilihan calon legislative. Semoga tidak ada capres dan cawapres yang dirawat karena sakit jiwa. atau bunuh diri.

Tidak pelak lagi, kalau mendengar kata Presiden, yang terbayang adalah suatu jabatan yang prestisius, menjadi pusat perhatian dan dikenal luas bukan saja di tingkat nasional tetapi juga di level regional dan internasional. Selain itu, orang juga membayangkan kalau jadi presiden sudah pasti akan mempunyai kekuasaan yang sangat besar dan penentu hitam/merahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia , mendapatkan berbagai fasilitas yang luar biasa serta tentunya juga mendatangkan keuntungan secara materi. Pendeknya seorang seorang Presiden itu sangat “wah” sekali, tidak teringat bahwa sebetulnya seorang Presiden juga mempunyai kewajiban-kewajiban yang jauh lebih berat dan lebih besar resikonya ketimbang pejabat lainnya di republik ini.

Untuk menggapai hal tersebut di atas, orang terkadang “tubruk” sana, “tabrak” sini, sampai-sampai tidak mengindahkan aturan yang ada. Tetapi ada pula yang mencoba untuk menaati aturan yang ada, dengan mendirikan parpol baru, lalu parpol tersebut mengusung ketua umum/ketua dewan pembinanya menjadi capres. Tetapi ada pula yang mencoba tidak melalui jalur partai melainkan mencalonkan diri menjadi capres independen. Padahal dalam konstitusi yang telah diratifikasi sebanyak 4 kali sejak Orde Baru tumbang, tidak tercantum capres independent.

Bicara tentang capres independen, Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nurwahid, dalam rangka sosialisasi hasil keputusan MPR RI di UI, bercerita bahwa dia mendapat kiriman surat dari “seseorang”. Isinya, supaya MPR RI segera bersidang untuk melakukan perubahan konstitusi, terutama pasal yang berkenaan dengan pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden. Setelah lama tidak ada reaksi, “seseorang” tersebut mengirimkan surat lagi, isi surat tersebut menyatakan, dia mendapat dukungan dari 8 orang pengacara kondang di Ibukota, akan mem PTUN-kan Ketua MPR RI, karena dianggap telah lalai, tidak melaksanakan Rapat dengan para anggota MPR untuk melakukan perubahan pasal pemilihan calon presiden.

Weleh, weleh, weleh. Belum jadi presiden saja sudah main ancam dan membawa-bawa pengacara yang seharusnya tahu tentang hal yang berkaitan dengan hukum. Kalau saja orang tersebut menjadi presiden, apa kata dunia? PRESIDEN…OH…PRESIDEN.!

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment