April 15, 2009

Era “Ter…” dan yang Terkonto-konto

Filed under: Kampusiana — rani @ 12:11 pm

Bukan  latah karena ada acara “Ter-mehek-mehek” di Trans TV yang mendapat  Penghargaan Panasonic baru-baru ini. Judul tulisan di atas muncul tatkala usai menyaksikan seleksi calon Dekan Fakultas Ekonomi UI, Selasa sore (14/04) di Kampus Depok.

Bahasa Indonesia memang kaya akan perbendaharaan kata. ”Ter” merupakan padanan dari kata ”paling atau yang utama”. Tetapi awalan ”ter” ini tidak bisa berdiri sendiri, harus diikuti dengan kata sifat, kata kerja dan kata benda. Tetapi kalau diberikan  akhiran ”kan/an”, maka mempunyai arti yang lain lagi. Ini pelajaran bahasa di tingkat SMP, yang barangkali diantara kita sudah tidak hirau lagi terhadap aturan/kaidah dalam berbahasa nasional yang baik dan benar. Paling tidak tulisan ini untuk belajar dan menyimak kembali pemakain imbuhan ’ter’.

Setelah melalui proses yang cukup panjang dan melelahkan, dimulai pukul 10.45 WIB, seleksi calon dekan FEUI berakhir pukul 16.15 WIB. Rektor UI menyatakan, pemilihan Dekan FEUI ini merupakan yang ’terakhir’,  setelah ini, tidak akan ada lagi pemilihan dekan, karena masa jabatan para dekan di lingkungan UI saat ini, akan berakhir pada tahun 2013, dimana pada tahun tersebut  Rektor UI  sekarang  masa jabatannya akan berakhir 2012. Pada kesempatan itu Rektor UI juga menyatakan, Dekan Ekonomi sekarang ( Firmanzah, Ph.D) merupakan dekan ’termuda’ (lahir 7 Juli 1976) diantara dekan lainnya. Selain termuda, ’terdepan’ diantara dosen UI BHMN (non PNS), yang menjabat sebagai Dekan. Selain itu, seleksi dekan FEUI kali ini juga merupakan yang ’terlama’ diantara seleksi dekan yang pernah dilakukan UI. Kenapa bisa terlama? Karena acara dimulai ’terlambat’, seharusnya mulai pukul  10.00 WIB. Menurut Rektor UI, bingung untuk mementukan pilihan, karena ada dua calon yang selisih nilainya hanya ’terpaut’ satu saja.

Dalam kepemimpinan Rektor UI Prof. Dr. der Soz Gumilar Rusliwa Somantri, memang penuh dengan hal-hal yang berkaitan dengan ’ter’ ini. Rektor UI sendiri penuh dengan ’ter’. Inilah faktanya. Pada waktu dilantik menjadi Rektor UI berusia termuda diantara Rektor UI lainnya (berusia 40 tahunan). Rektor UI yang pertama kalinya berasal dari FISIP, mendapat skor tertinggi diantara calon Rektor lainnya dan mendapat suara ’terbanyak’ dari anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI.

Dalam periode kepemimpinannya, di Kampus Depok dibuat trek sepeda sepanjang 20 kilometer dan ada area penangkaran rusa, kampus yang terdepan dalam menciptakan lingkungan kampus yang ”go green”. Tahun ini  ada  Seleksi Masuk (SIMAK) UI, suatu sistem yang terpadu (hanya satu kali seleksi untuk masuk program diploma atau progam S1) dan tempat seleksinya tersebar di berbagai tempat di Indonesia serta negara jiran.

Pada saat ini juga UI tengah menggodok konsep remunerasi bagi staf pengajar dan staf administrasi untuk dapat meningkatkan kesejahteraannya. Pada periode Rektor sebelumnya hal ini tidak berani diungkit-ungkit karena sangat sensitif dan rawan. Tetapi sekarang persoalan itu harus segera diselesaikan. Untuk persoalan yang satu ini, apa yang saya rasakan, saya alami dan saya ketahui, tampaknya UI tertatih-tatih dan terengah-engah. Kalau para mahasiswa UI yang pernah tinggal di asrama Daksinapati Rawamangun, menyebutnya dengan istilah TERKONTO-KONTO.