April 13, 2009

Ironi BRI

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:11 am

Saat ini bank di Indonesia yang paling besar pemasukan kepada kas negara, sudah pasti Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pada tahun 2008 berhasil meyetorkan keuntungan kepada negara sebesar Rp 5,8 Trilyun. Tidak heran, sebab bank ini paling banyak kantornya sampai ke pelosok tanah air, jumlah karyawannya saja mencapai 40 ribu orang (hampir sama dengan jumlah mahasiswa UI yang mencapai 40 ribu orang juga). Bahkan di tingkat Asia, bank BRI satu-satunya institusi yang masuk dalam 50 perusahaan dunia yang dianggap bagus dan sehat. Hal ini diungkapkan Asmawi Syam, Direktur Bisnis Kelembagaan BRI, saat memberikan pidato sambutan pada acara penandatanganan kerjasama UI – BRI tanggal 8 April lalu di Kampus Depok.

Ada kesamaan misi yang diemban BRI dan UI,misalnya saja dalam hal mencerdasakan dan menyejahterakan rakyat Indonesia. Sama-sama menyandang Indonesia. Tetapi ada perbedaan besar, BRI memberikan jasa layanan dalam hal yang berkaitan dengan uang, sehingga dapat menghasilkan uang yang berlimpah. Sementara UI bergerak dalam bidang jasa layanan yang berkaitan dengan pendidikan dan penelitian, dimana outputnya berupa SDM yang unggul dan buah pemikiran yang dapat diterapkan dalam kehidupan, tetapi hal itu dilakukan dengan keterbatasan dana.Sehingga UI harus terus menerus mencari pendanaan untuk bisa “survive” dan lancar dalam hal mencetak SDM dan menghasilkan buah pemikiran yang bermanfaat.

Namun demikian BRI seperti dituturkan Asmawi Syam merasa resah, terutama dalam hal SDM yang handal untuk mengelola BRI di masa depan. Kekhawatiran ini didasarkan karena tidak banyak lulusan UI yang mau bekerja di BRI. Padahal menurutnya, UI yang menjadi center of Exellence, pastilah para lulusannya hebat-hebat. Tetapi sayangnya hanya sedikit yang mau berkarir di BRI. Apakah hal ini dipengaruhi oleh karena BRI ada embel-embel ‘rakyat’ yang mungkin bagi sebagaian besar lulusan UI berkonotasi negatif? (bandingkan dengan para lulusan UI yang bebondong-bondong melamar ke KPK, padahal dari segi pendapatan mungkin lebih kecil daripada gaji kalau bekerja di BRI. Lihat artikel “wirausaha korupsi” diblog ini).

Tampaknya kekhawatiran pimpinan BRI ini berbanding lurus dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Pada hari itu juga usai menghadiri acara kerjasama UI – BRI, saya dapat kiriman berita dari vivanews, BRI kebobolan dan menderita kerugian sebesar Rp169 milyar. Dibandingkan dengan keuntungan yang mencapai triliyunan rupiah, barangkali tidak terlampau bermasalah. Tetapi ini menunjukkan ada indikasi “ketidakberesan” dalam tubuh BRI, dimana faktor manusia (SDM) sangat berperanan. Memang tidak gampang mengelola suatu institusi, dimana didalamnya ada 40 ribu orang yang harus ‘dibombong’ dan diawasi.