April 8, 2009

Jahiliyah7: Siaran Putra Alma Mater 3

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:46 pm

Siaran Putra Alma Mater No.3/1982

TUNTASKAN PERJUANGAN KITA UNTUK MENYELEMATKAN ALMA MATER TERCINTA!

Telah kurang lebih satu minggu kita berjuang mempertahankan integritas Alma Mater melawan anarkisme. Semakin hari keadaan semakin jelas. Sekarang sudah jelas bagi kita semua, siapa sesungguhnya yang main paksa, main terror, main intimidasi, menindas kebebasan mahasiswa dengan las, semen dan palang pintu. Kita telah mengetahui, bahwa pengrusakan-pengrusakan dan corat-coret jorok bukan sesuatu kebetulan, bukan sesuatu ekses, melainkan sesuatu yang dilakukan secara sistematis. Kita tahu adanya komisi A, Komisi B, dan Komisi C dengan tugasnya masing-masing yang direncanakan pada rapat-rapat gelap yang tidak jarang dilakukan di tengah malam buta. Saya mengetahui segalanya itu, para Dekan mengetahui segalanya itu, para pengajar dan karyawan mengetahui segalanya itu.

Kami Pimpinan Universitas Indonesia yang juga meliputi Pimpinan Fakultas-fakultas, selama ini dengan seksama mengikuti perkembangan situasi.. Saban minggu diadakan rapat Senat Akademis dan hampir saban hari diadakan pertemuan antara Pembantu Rektor III Pembantu Dekan III dengan Rektor. Dan bersama ini kami semua ingin menyatakan saluut kepada segenap mahasiswa Universitas Indonesia yang dengan berani telah menentukan pilihan secara bebas dan tetap mengikuti kuliah, praktikum dan lain-lain kegiatan akademis. Saya pribadi sangat tahu, apa arti keberanian anda itu, karena saya tahu bahwa kaum anarkis menggunakan cara-cara terror dan intimidasi, melontarkan ancaman-ancaman dan maki-makian, baik melalui surat-surat kaleng maupun melalui pesan-pesan gelap melalui telepon.

Dan anda tidak menyerah. Pimpinan Universitas Indonesia juga tidak menyerah !

Kita pun sama-sama mengetahui, bahwa juga masyarakat luas mendukung perjuangan kita. Hal itu terungkap dalam sikap suratkabar-suratkabar dan media-massa lainnya. Kita semuanya dapat mengikuti berita-berita, ulasan-ulasan, tajukrencana, dll pelbagai media. Sejak pelantikan saya menjadi.Rektor Universitas Indonesia (bahkan sejak beberapa hari sebelumnya) sampai kepada hari-hari belakangan ini, pers memberikan dukungan yang luar biasa. Tidak akan mungkin pers mendukunga saya dalam melaksanakan konsepsi saya, jika pers menganggap saya orang bayaran belaka, atau seorang kacung yang stiap tindakannya semata-mata didasarkan atas perintah.

Pers tahu riwayat hidup saya sejak saya masih menjadi mahasiswa Universitas Indonesia tingkat pertama sampai saya menjadi sarjana lulusan Universitas Indonesia, dan seterusnya sampi saya mencapai gelar doctor di Universitas Indonesia dan kemudian diangkat menjadi guru besar. Pers tahu bahwa sikap saya konsepsional dan konsisten. Tentu saja konsepsi konsepsi saya tidak selalu disetujui oleh semua orang. Dalam masyarakat demokratis hal itu tidak perlu. Karena mengenal saya itulah pers mendukung saya serta pelaksanaan konsepsi saya. Dan dalam hal ini dapat kita anggap bahwa pers juga mencerminkan pandangan masyarakat. Adapun konsepsi saya mengenai Universitas Indonesia telah diketahui secara luas, dan bagi rekan-rekan saya di Universitas Indonesia sudah diketahui sejak tahun 50-an ketika saya masih menjadi mahasiswa; suatu konsepsi yang berdasarkan trilogi institusionalisasi – profesionalisasi – transpolitisasi dalam rangka pelaksanaan Tridarma PerguruanTinggi. Dalam konsepsi itu Universitas Indonesia harus ditegakkan sebagai suatu lembaga ilmiah dan merupakan masyarakat ilmiah. Sudah jelas bahwa Universitas Indonesia bukan lembaga politik dan tidak merupakan masyarakat politik. Kiranya tidak ada seorangpun di antara kita yang menentang hal itu, kecuali kaum anarkis. Mengapa? Karena kaum anarkis masuk Universitas Indonesia dengan tujuan lain, bukan untuk menempuh kehidupan ilmiah.

Mengenai persoalan kegiatan politik: saya sudah menjelaskannya secara berulang-ulang. Dalam konsepsi transpolitisasi terkandung pengertian, bahwa setiap mahasiswa harus belajar politik sehingga tidak buta politik. Sudah sebulan ini sesuatu team yang terdiri atas Pembantu Dekan III sedang merancang program transpolitisasi. Setelah selesai, akan dibahas oleh Senat Akademis dan setelah disahkan, pelaksanaannya diselenggarakan oleh Dekan-dekan.

Kecuali team transpolitisasi juga ada team-team lain, termasuk team yang membahas soal kelembagaan mahasiswa. Secara bertahap segala persoalan yang menyangkut penataan kembali Universitas Indonesia selaku lembaga ilmiah dan masyarakat ilmiah akan kita musyawarahkan. Yang sudah relatif tersusun, didahulukan, yang masih memerlukan banyak pembenahan, sudah barang tentu memerlukan persiapan yang lebih lama. Karena itulah misalnya saja, pers-mahasiswa saya dahulukan, karena tidak memerlukan banyak penataan. Namun jelas, bahwa kesemuanya itu memerlukan cukup banyak waktu dan tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa dan secara serampangan.

Segala langkah itu disambut secara positif oleh massa mahasiswa, karena memang sudah ada perasaan jenuh akan situasi yang tidak menentu selama ini. Adalah masuk akal, bahwa kaum anarkis tidak gembira dengan pengangkatan saya menjadi Rektor Universitas Indonesia. Seluruh sivitas akademika serta para tamu menyaksikan sendiri betapa mereka tidak segan-segan merusak kekhidmatan suatu upacara Alma Mater pada waktu pelantikan saya. Sudah jelas bahwa mereka tidak mencintai Alma Mater. Alma Mater mereka korbankan untuk tujuan-tujuan gelap mereka. Bahkan pada waktu pembacaan do’a, mereka berteriak-teriak, yang menyebabkan rasa keagamaan kita tersinggung karenanya.

Selanjutnya dalam acara tatap muka antara saya selaku Rektor baru dengan para mahasiswa, kita semua disuguhi ledakan-ledakan mercon di samping teriakan-teriakan yang terus menerus. Tetapi pada pertemuan tatap muka itu pula massa mahasiswa Universitas Indonesia memperlihatkan jiwa putera Alma Mater yang murni dan sejati. Ketika saya berbicara, saya memperoleh sambutan yang meriah dan kemudian semuanya menyalami saya dengan hangat disertai ucapan-ucapan selamat dan ucapan dukungan, yang terus terang saja merupakan saja merupakan (happy) surprise bagi saya, mengingat suasana yang sudah sedemikan dirusak oleh kaum anarkis. Mereka menyadarai benar, bahwa jika massa mahasiswa Universitas Indonesia sudah bangkit untuk membela Alma Maternya yang sudah sekian lama diinjak-injak oleh kaum anarkis maka kerajaannya akan runtuh dan dominasinya akan berakhir.

Sejak pelantikan saya itu, saya langsung berdialog dengan sivitas akademika, dan khususnya dengan para mahasiswa, Menurut pengamatan semua pihak, dialog itu berlangsung secara terbuka dan terus terang, meskipun kaum anarkis di sana sini mencoba untuk mengacaukannya dengan teknik-teknik “heckling” dan pengeroyokan verbal. Sebelumnya kaum anarkis mencoba menempatkan diri sebagai “perantara” antara Rektoe dengan massa mahasiswa, tetapi saya memilih berbicara langsung dengan para mahasiswa tanpa broker. Selanjutnya pelbagai kesempatan dipakai untuk main kucing-kucingan dengan menyelundupkan “IKM” yang merupakan alatnya bagi politicking. Dan akhirnya mereka melontarkan suatu tantangan terbuka kepada Rektor dengan memasang surat-surat pembaca di dalam majalah Tempo. Patut disesalkan, bahwa para ketua Senat Mahasiswa masuk perangkap anarkis.

Dan akhirnya tibalah “appel siaga” hari Sabtu, tanggal 20 Maret 1982 di mana kaum anarkis sama sekali membuka kedoknya. Dengan terang-terangan mereka melakukan politicking baik secara lisan maupun dengan menyebarkan pamphlet-pamflet. Dalam situasi yang tegang itu mereka bermain api yang dapat membakar dan membinasakan Alma Mater kita.

Maka terjadilah Peristiwa Akhir Maret 1982 baru-baru ini yang telah sama-sama kita ketahui. Terjadilah perbuatan-perbuatan nista seperti pengrusakan gedung-gedung Rektorat dan Fakultas Teknik serta corat-coret dengan kata keji dan kotor terhadap pribadi Rektor. Apa dosa Rektor, maka ia diperlakukan begitu? Karena Rektor menegakkan rule of law, melaksanakan peraturan yang berlaku. Hanya itu, tidak dan tidak kurang. Apa yang dilakukan oleh Rektor Universitas Indonesia tidak ada yang menyimpang dari aturan yang ada.

Tidaklah menjadi soal, bahwa peraturan yang saya laksankan itu bukan saya yang membuatnya, karena peraturan itu adalah peraturan yang sah. Kita akan kehilangan kredibilitas kita, kalau kita tidak menegakkan rule of law dalam lingkungan kita sendiri.

Soal lain yang perlu pula diketahui oleh massa mahasiswa, adalah kebohongan kaum anarkis. Tidak benar bahwa pada hari Selasa tanggal 30 Maret yang lalu saya berjanji akan menerima mahasiswa pada jam 14.00. Pada waktu itu saya sedang memenuhi undangan sesuatu yayasan yang mempunyai program kerjasama dengan Universitas Indonesia. Dan akhirnya saya menerima pimpinan Senat-Senat Mahasiswa pada sore hari jam 19.00. Tidak benar pula saya tidak mau menerima mahasiswa pada hari Rabu keesokan harinya. Pada hari Rabu, tanggal 31 Maret itu saya menghadiri Rapat Kerja Menwa. Dan sekarang pun disebarluaskan desas-desus di kalangan mahasiswa, bahwa saya berjanji akan berbicara dengan senat-senat mahasiswa pada hari Sabtu, tanggal 10 April yang akan datang. Hal itu tidak benar. Saya tidak pernah berjanji akan melakukan hal itu.

Pada waktu senat-senat mahasiswa datang menemui saya di rumah saya pada hari Selasa, tanggal 6 April yang lalu, mereka hanya menyampaikan suatu pernyataan dalam suatu map lalu pergi. Hal itu disaksikan oleh Pembantu Rektor II (Dr. Billy Yudono). Pembantu Rektor III (Ir. Djoko Hartanto) serta Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi (Drs. Moh.Nazief) Fakultas Teknik (Ir. Indradjit), Fakultas Hukum (Harun al Rasjid SH), Fakultas Kedokteran (dr. Merdias Almatsier) dan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial (Drs. Henry Walandow).

Pokok isi pernyataan itu ternyata berupa suatu ultimatum kepada Pimpinan Universitas Indonesia untuk: 1. Paling lambat hari Sabtu, tanggal 10 April 1982 mengadakan “forum resmi” antara pimpinan Universitas dengan pimpinan lembaga-lembaga kemahasiswaan, dst. 2. Merehabilitasi dan mengembalikan status sdr. Biner dan sdr. Peter Sumaryoto sebagai mahasiswa Universitas Indonesia. Kalau tidak dipenuhi, maka mereka akan melakukan sesuatu. (Pernyataan ini kiranya sudah disiarkan, jadi tidak perlu saya kutip di sini)

Sudah jelas bagi segenap sivitas akademika, bahwa Pimpinan Universitas Indonesia tidak dapat membiarkan dirinya diancam atau diultimatum. Yang menjadi taruha yang adalah lembaga Pimpinan Universitas Indonesia, bukan pribadi-pribadi yang kebetulan memangkunya. Dengan demikian segenap sivitas akademika supaya mengetahui apa ang benar dan tidak terkena oleh psywar dan kebohongan.

Akhirnya kami Pimpinan Universitas Indonesia, yang juga meliputi para Pimpinan Fakultas-Fakultas, sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada segenap mahasiswa Universitas Indonesia, putra-putri Alma Mater yang tetap berkuliah. Dengan demikian tidak akan perlu Senat Akademis Universitas Indonesia dalam rapatnya hari Senin yang akan datang mempertimbangkan penutupan fakultas saudara. Dan kepada mereka yang belum masuk kuliah, karena terror dan intimidasi, kami serukan untuk bersikap berani untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, membela yang hak dan melawan yang batil! Karena sesungguhnyalah tiada daya dan kekuatan kecuali yang berasal dari Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Agung.

                                                                                         Jakarta, 8 April 1982
                                                                        REKTOR UNIVERSITAS INDONESIA

                                                                                                   TTD

                                                                        Prof.Dr. NUGROHO NOTOSUSANTO
                                                                                      Nip. 130 428 654

Rindu Kicauan Burung

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:37 am

Rabu  pagi ini (08/04) kebetulan bisa sampai kantor (Gedung Pusat Admnistrasi Universitas) lebih pagi dari biasanya. Cuaca pagi tidak cerah, Gedung Rektorat diselimuti kabut tipis, menambah nuansa kesyahduan suasana kampus. Setelah absen, mampir dulu ke kantin prima untuk sarapan bubur ayam. Sambil mengobrol dengan teman-teman lain tentang nyoblos apa besok tanggal 9 April. Dari hutan karet belakang kantin prima terdengar kicauan burung tekukur saling bersahut-sahutan. Rasanya jadi teringat jaman dulu, ketika masih tinggal nun jauh disana di salah satu wilayah di Bandung selatan.

Waktu itu, kalau hari libur ayah sering mengajak berburu burung di perkebunan teh. Senapan yang dipakai jenis senapan angin 4.5  atau bahkan senapan angin kaliber 5.5. waktu itu tidak terlalu ketat dan tidak harus mendapat ijin untuk memiliki senapan kaliber 5.5. Kalau berburu biasanya selalu berombongan,  tiga sampai empat orang yang membawa senapan angin. Kendaraan yang dipakai yaitu jip willis, yang biasa menjelahi jalanan tidak rata. Ada jenis burung lain (sejenis burung tekukur, tetapi ukuran badannya lebih besar) yang pada musim tertentu sangat banyak, karena pada saat itu ada tanaman yang buahnya sangat disukai burung. Biasanya kalau berburu burung ini, cukup dengan menunggu di bawah pohon tersebut. Pada saat waktu makan biasanya burung tersebut berdatangan. Berburu burung waktu itu bisa sampai seharian, berangkat pagi hari dan pulang menjelang sore hari.

Ketika kesadaran akan lingkungan alam semakin besar, kebiasaan berburu burung ini jarang dilakukan, bahkan dihentikan sama sekali. Kini hanya tinggal kenangan saja, di sudut ruangan rumah dipajang senapan angin kaliber 5.5, yang konon katanya saat ini pemilik senapan kaliber ini harus mempunyai ijin (lisensi) dari pihak berwenang, karena bisa membuat orang mati kalau kena tembak. Lagi pula peluru (mimis) kaliber ini sudah jarang dijual di pasaran, mungkin pula sudah tidak ada.

Tetapi kesenangan untuk mendengarkan kicauan burung tekukur rupanya tidak pernah sirna. Ternyata di pasar banyak dijual burung tekukur. Akhirnya beli sepasang dan disimpan di depan rumah. Setiap pagi dapat mendengar suara burung tekukur. Tetapi sang nyonya rumah rupanya tidak suka, karena bau kotoran burung masuk ke dalam. Baiklah, akhirnya dibuat sarang burung di belakang rumah, kebetulan ada jalan darurat memanjang, yang memang disediakan oleh pihak perumnas. Sempat juga itu burung beranak pinak. Suatu waktu pintu kandang burung terbuka, entah sudah berapa lama. Tetapi itu burung tidak mau keluar. Rupanya sang burung sudah betah di sangkar (kawat besi) daripada di luar yang belum ketentuan dapat makanan (apalagi sekarang sedang krisis dan lahan makin sempit, belum tentu di luar sana dapat makanan).

Lamunan tentang kicauan burung ini barangkali akan hanya tinggal kenangan, karena  tahun depan kalau sedang sarapan di kantin prima tidak akan lagi bisa menikmati kicauan burung tekukur, karena hutan dan lahan tempat burung mencari makan sudah menjadi hutan beton yang tinggi dan kokoh menjadi sebuah perpustakaan  indah nan megah yang akan dinikmati oleh “para pejuang”, pemimpin masa depan, pembangun  peradaban bangsa.