April 6, 2009

Institusionalisasi dan Profesionalisasi Melalui Transpolitisasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:32 pm

Tulisan terakhir dari dua tulisan

Fakultas Sebagai Sokoguru Di manakah di lingkungan Universitas Indonesia fungsi institusionalisasi dan profesionalisasi itu dipusatkan? Sudah jelas, pendidikan professional dalam lingkungan sesuatu universitas dilaksanakan di fakultas-fakultas. Karena itu di Universitas Indonesia pun fungsi universitas sebagai kekuatan institusionalisasi dan profesionalisasi dilaksanakan oleh kesepuluh fakultasnya. Dengan demikian, selaku Rektor saya akan bertumpu kepada para Dekan serta pengasuh fakultas pada umumnya.

Sesuai dengan gagasan institusionalisasi dan profesionalisasi itulah saya akan mengembalikan wisuda sarjana dalam arti yang hakiki kepada fakultas-fakultas. (Meskipun istilahnya yang dipakai harus lain, supaya tidak tumpang tindih dengan upacara yang dilakukan oleh Universitas Indonesia. Misalnya dapat dipakai istilah “Upacara Melepas Sarjana Baru”). Sedangkan pada pada upacara Universitas Indonesia yang terpusat, Rektor secara simbolis akan mewisuda para sarjana baru itu.

Juga kegiatan penelitian untuk sebagiannya akan dilaksanakan pada lembaga-lembaga di fakultas sesuai dengan bidang profesi ilmiahnya. Meskipuntetap ada lembaga-lembaga penelitian yang terpusat di Rektorat.

Demikian pula pelaksanaan darma ke-3 dalam rangka Tridarma Perguruan Tinggi,yakni pengabdian kepada masyarakat, meskipun perlu dikoordinasi secara terpusat, namun penyelenggaraannya dapat diserahkan kepada lembaga-lembaga di fakultas-fakultas. Di sini dapat kita konstatasi adanya 2 jenis pengabdian kepada masyarat: 1. Pengabdian kepada masyarakat sebagai keseluruhan 2. Pengabdian berupa pelayanan (service) kepada pelbagai organisasi, kelompok atau individu dalam masyarkat. Jenis yang pertama tertuju kepada masyarakat sebagai totalitas, yang merupakan klien (client) daripada universitas. Pengabdian jenis ini sesungguhnya telah tumbuh sebagai tradisi di kalangan dunia perguruan tinggi di Indonesia, yang tidak pernah mengenal prinsip menara gading. Karena universitas nasional di Indonesia lahir dari rahim Perjuangan Nasional, maka ia merupakan bagian yang tak terpisahkan daripada Perjuangan itu sendiri. Menjadi bagian yang tak terpisahkan, tidak berarti tidak mempunyai kepribadian sendiri. Bahkan universitas dikenal sebagai sumber bagi daya dan tenga bagi Perjuangan.

Namun, setelah selesainya Perang Kemerdekaan, masyarakat kita dilanda oleh gelombang liberalisme yang nyaris menenggelamkan sifat kekelurgaan masyarakat Pancasila. Dalam kegelisahan kurun waktu tahun 50-an itu universitas menjadi ajang pertarungan pelbagai kekuatan politik, yang ingin menguasai sumber brainpower nasional itu. Periode itu disusul oleh antipodenya, yakni jaman Demokrasi Terpimpin yang totaliter yang didominasi oleh PKI dan satelit-satelitnya. Sekali lagi universitas jadi bulan-bulanan untuk dikuasai. Dengan demikian universitas ibaratnya seperti menara air, yang krannya jadi rebutan orang luar yang memutarnya sekehendak hatinya.

Dalam cita-cita saya, universitas termasuk Universitas Indonesia, hendaknya menjadi menara api yang menerangi perairan pantai yang penuh karang pada malam hari yang gelap, agar supaya para nakhoda dapat mengemudikan bahteranya ke Bandar yang ditujunya. Kita memberikan sumbangan yang memang dibutuhkan masyarakat, namun kitalah yang menentukan bagaimana bentuk sumbangan itu berdasarkan kemampuan profesional kita. Kita tidak pernah bersikap masa bodoh terhadap masyarakat, akan tetapi kita minta kepercayaan masyarakat untuk diizinkan menyampaikan sumbangan sesuai dengan apa yang kita anggap baik berdasarkan pemikiran profesional kita. Antara masyarakat dan universitas harus terjadi interaksi positif berdasarkan solidaritas timbal-balik.

Dalam pengabdian jenis kedua kepada masyarakat, yang menjadi klien bukanlah masyarakat sebagai keseluruhan, melainkan unsur-unsur masyarakat itu secara individual. Pelayanan atau service yang diberikan terdapat pada pelbagai bidang profesi ilmiah yang ada dalam lingkungan universitas. Di universitas Indonesia, misalnya saja, dapat diperoleh pelayanan di bidang hokum, bidang manajemen, bidang kesehatan gigi, bidang psikologi, dll.

Dengan para alumni Universitas Indonesia maupun dengan para sejawat melalui organisasi-organisasi profesi (seperti Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Insinyur Indonesia, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Ikatan Sarjana Sastra Indonesia, dls), dilakukan percaturan yang terus menerus antara para teoretisi dan para praktisi di bidang profesi masing-masing demi kemajuan dunia ilmu Indonesia sebagai keseluruhan.Dengan demikian pengabdian kepada masyarakat oleh sivitas akademika Universitas Indonesia, manunggal dengan pengabdian para sejawat yang bertugas di luar lingkungan Universitas Indonesia. Hal ini sudah berjalan, tinggal kita tingkatkan dengan landasan kesadaran, dan dengan sebanyak-banyaknya melibatkan para mahasiswa sebagai kaum junior di kalangan profesi masing-masing. Segalanya itu masih akan kita atur lebih lanjut secara integral.

Bilamana Rencana Terlaksana? Telah ditegaskan, fungsi Universitas Indonesia bersama universitas-universitas lain adalah untuk menjadi kekuatan institusionalisasi dan profesionalisiasi. Dan telah pula kita sadari, upaya institusionalisasi dan profesionaisasi itu dilaksanakan ke dalam maupun ke luar. Bahkan dapat kita nyatakan di sini, sukses dalam upaya ke luar itu tergantung kepada sukses upaya itu ke dalam. Karena itulah kita harus menekuni pelaksanaan upaya itu ke dalam. Kita harus menyukseskan institusionalisasi dan profesionalisasi terhadap Universitas Indonesia sendiri.

Kapankah kita harapkan Universitas Indonesia dapat sepenuhnya terinstitusionalisasi dan terprofesionalisasi? Kapankah Universitas Indonesia sudah dapat melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi secara sempurna.

Sudah saya terangkan, perkembangan Universitas Indonesia (dan semua universitas di Indonesia) tidak dapat dipisahkan dari proses Pembangunan Nasional seluruhnya. Sebabnya ialah karena Universitas Indonesia tidak pernah berdiri dalam suatu vacuum; ia senantiasa teguh berdiri di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Seperti juga Pembangunan Nasional merupakan suatu ongoing proses, suatu proses yang terus menerus, demikian pula proses institusionalisasi dan profesionalisasi Universitas Indonesia akan berjalan terus bersama dengan proses modernisasi masyarakat kita. Dalam lingkup uraian ini, tidak dapat saya membuat prediksi atau ramalan mengenai berapa dasawarsa yang diperlukan oleh Indonesia untuk mencapai kondisi nyak faktor yang negara yang sudah modern, yang sudah developed, yang sudah maju. Karena untuk itu diperlukan analisa yang mendalam terhadap cukup banyak faktor yang mempengaruhi. Demikian pula, tidak dapat dalam lingkup uraian ini dibuat perkiraan mengenai jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proses institusionalisasi dan profesionalisasi Universitas Indonesia. Apabila Rencana Induk Pengembangan 10 tahun Universitas Indonesia yang tahun lalu disiapkan, kelak sudah selesai dilaksanakan, barangkali kita akan lebih dimungkinkan untuk membuat perkiraan yang tepat. Bagi saya yang menurut ketentuan memangku jabatan Rektor Universitas Indonesia selama 4 tahun, tentunya lebih realistis untuk merancang, apa yang saya harapkan dapat dicapai dalam waktu tersebut. Untuk dapat merancang hal itu, sebelumnya saya perlu memastikan persepsi saya mengenai situasi intern Universitas Indonesia dewasa ini. Kalau apa yang saya alami pada waktu saya dilantik dapat dijadikan indikasi (dan banyak rekan yang hadir pada waktu itu mengkonfirmasi anggapan saya), maka yang pertama kali harus saya lakukan adalah membebaskan massa mahasiswa dari sekelompok kecil kaum anarkhis yang menguasai mereka dengan kombinasi terror dan manipulasi. Segenap hadirin yang bersama saya mengalami pengacauan sistematis terhadap upacara pelantikan rektor yang seharusnya berjalan dengan khidmat, yang mengalami sorak-sorai selama jalannya upacara, termasuk pada waktu pengucapan sumpah dan pembacaan doa, niscayalah sependapat dengan saya, bahwa situasi anarkhis seperti itu harus diakhiri. Dalam hal ini perlu kita sadari kedudukan kita sebagai pendidik. Dan perlu pula kita sadari kedudukan kita sebagai pendidik. Dan perlu pula kita sadari, bahwa pendidik bukanlah mengumbar! Mendidik adalah mengembangkan orang secara mental atau moral. Seberapa lama waktu yang saya perlukan untuk mengakhiri siatuasi anarkhis itu? Pastilah dalam kurun waktu 4 tahun saya sudah harus selesai. Namun, saya akan berusaha untuk menyelesaikan tugas itu dalam waktu 1 tahun. Dengan demikian, kita semua dapat mulai dengan upaya kita untuk mengembalikan kewibawaan Alma Mater di tengah-tengah masyarakat sebagai satu diantara dua universitas yang “top” di Indonesia. Kita harus secepatnya mengakhiri dominasi kekuatan-kekuatan anti-Alma Mater, yang tetap ingin menghambat kemajuan Universitas Indonesia, ingin tetap membiarkan Universitas Indonesia menjadi “the sick man of Academia”. Insya Allah tahun depan kita sudah dapat mulai secara sistematis melaksanakan proses institusionalisasi dan profesionalisasi di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sesuai Tridarma Perguruan Tinggi. Dan dengan demikian dalam waktu 3 tahun selebihnya dapatlah kita tegaskan identitas Universitas Indonesia sebagai lembaga ilmiah serta identitas kampus Universitas Indonesia sebagai masyarakat ilmiah.

Manunggalnya Sivitas Akademika Siapakah yang harus melaksanakan upaya institusionalisasi dan profesionalisasi? Bukan hanya Rektor, bukan hanya Dekan, bukan pula hanya para dosen. Upaya Institusionalisasi dan profesionalisasi harus dilaksanakan oleh segenap Sivitas Akademika. Dan dalam hal ini Sivitas Akademika harus manunggal, harus kompak. Hal itu sesuai benar dengan sifat kekeluargaan daripada Pancasila. Saya konstatasi, pada dewasa ini ada suasana kontradiksi dalam lingkungan Universitas Indonesia. Oleh kaum anarkhis dihembus-hembuskan, mahasiswa harus “main sendiri”, harus mempunyai “pemerintah” sendiri, harus berperanan secara lepas dari Alma Mater. Hal itu harus pula kita akhiri. Suasana kontradiksi a la komunisme harus kita ganti dengan suasana serasi sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Kepada mahasiswa harus kita jelaskan, status kemahasiswaannya itu semata-mata diperolehnya karena Alma Mater mengakuinya sebagai mahasiswa. Karena itu ia tidak boleh mengingkari Alma Maternya, jika ia tidak mau menjadi seorang Si Malin Kundang yang mendurhakai ibunya. Selanjutnya perlu pula dijelaskan, di fakultasnya, wakil Alma Mater adalah Dekan. Dekan adalah pembina dosen, karyawan administrative dan mahasiswa. Jangan sampai anak-anak kita terpedaya oleh kaum anarkhis, yang menganggap Ketua Senat Mahasiswa setingkat dengan Dekan! Senat Mahasiswa adalah sarana pendidikan dank arena itu eksistensinya hanya diakui jika diakui oleh unsur pendidik yang diwakili oleh Dekan.

Transpolitisasi dengan Sarana Organisasi dan Komunikasi Sudah dijelaskan di atas, Universitas Indonesia adalah suatu lembaga ilmiah, dan bukan lembaga politik. Demikian pula kampus Universitas Indonesia adalah suatu masyarakat ilmiah bukan suatu masyarakat politik. Hal itu tidak berarti, Sivitas Akademika tidak boleh berpolitik. Hak untuk berpolitik dimiliki oleh setiap warganegara yang tidak kehilangan haknya. Namun, dalam suatu masyarakat yang berdasarkan hokum, segala kegiatan warganya, termasuk kegiatan politik, diatur supaya tidak timbul tubrukan atau kecelakaan. Untuk berpolitik sudah ada wadah-wadahnya yang khusus. Ini juga sesuai dengan asas empan-papan (bertindak sesuai dengan lingkungan). Dengan demikian setiap Sivitas Akademika bebas untuk berpolitik sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Namun kegiatan itu harus dilakukan di luar kampus dan tidak boleh membawa-bawa nama Universitas Indonesia. Di dalam lingkungan Universitas Indonesia, dan di dalam kampus-kampus Universitas Indonesia, tidak boleh dilakukan politicking atau kegiatan politik adalah segala kegiatan yang langsung atau tidak langsung ditujukan kepada usaha mencapai kekuasaan pemerintahan negara oleh sesuatu golongan tertentu atau oleh individu tertentu. Atau sebaliknya: segala kegiatan yang langsung atau tidak langsung ditujukan kepada usaha menyingkirkan sesuatu golongan tertentu atau individu tertentu dari kedudukan memegang kekuasaan pemerintahan negara. Dengan demikian jelas, saya tidak menghendaki politisasi Universitas Indonesia atau kampus Universitas Indonesia, karena politisasi universitas dan kampus Universitas Indonesia akan mengakibatkan desintegrasi Sivitas Akademika Universitas Indonesia dan akhirnya akan membenamkan Alma Mater ke dalam badai anarkhi. Namun, saya juga tidak menghendaki depolitisasi Universitas Indonesia dan kampus Universitas Indonesia, karena tindakan itu akan menghasilkan Sivitas Akademika yang buta politik. Orang yang buta politik akan mudah diperalat atau digiring kearah tertentu oleh pelbagai kekuatan politik.(Kita tahu, kekuatan politik tidak selalu mempunyai wadah yang konkrit dan formal. Ada pula kekuatan politik tanpa bentuk). Yang menurut hemat saya harus dilakukan adalah upaya transpolitisasi, yaitu kegiatan memberi kesadaran politik melalui pendidikan politik (kepada Sivitas Akademika, khususnya para mahasiswa) supaya yang bersangkutan pada satu pihak dapat berpolitik sebaik-biknya jika hak itu memang diinginkan, akan tetapi di lain pihak kegiatan politiknya itu tidak boleh dilakukan di dalam kampus dan tidak boleh mengatasnamakan atau memakai nama Universitas Indonesia atau salah satu unsurnya. Dengan transpolitisasi ingin pula dicapai suatu kondisi, dimana Sivitas Akademika Universitas Indonesia tidak dapat diperalat atau digiring oleh pelbagai kekuatan tanpa mereka menyadarinya. Adapun transpolitisasi dilaksanakan dengan serangkaian program yang interlocking (saling berkaitan) dalam rangka studium generale serta matakuliah dasar universitas (MKDU) seperti Pancasila, Kewiraan dan Agama. Dengan demikian transpolitisasi diselenggarakan sebagai kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler, dan merupakan tanggungjawab penuh universitas. Baik institusionalisasi dan profesionalisasi maupun transpolitisasi memakai dua sarana, yakni sarana organisasi dan sarana komunikasi. Sarana organisasi antara lain adalah Rektorat dan Dekanat, Autoritas kampus, Korpri, Darma Wanita, Senat Mahasiswa, Resimen Mahasiswa, Satuan Pengaman, dll. Sedangkan sarana komunikasi adalah suratkabar, majalah, brosur-brosur (seperti Seri Komunikasi), seminar-seminar, penataran-penataran, spanduk, poster, dll.

Gambaran Masa Depan Gambaran masa depan apabila upaya institusionalisasi dan profesionalisasi melalui transpolitisasi sudah mulai membuahkan hasil, akan memperlihatkan sarjana-sarjana yang juga sujana, yang merupakan educated persons yang refined dan sophisticated, serta sebaliknya tidak semata-mata hanya berpengatahuan saja, dan yang masih kasar dan vulgar. Gambaran masa depan itu akan pula memperlihatkan hasil penelitian yang tidak saja tinggi mutunya, melainkan juga relevan. Dan akhirnya, gambaran masa depan itu akan memperlihatkan pengabdian masyarakat yang orisinal, inovatif serta menentukan bagi Pembangunan Nasional. Maka dengan demikian barulah dapat dikatakan, Universitas Indonesia telah mulai melaksanakan darmanya. Marilah kita bersama-sama bekerja keras dengan ikhlas dan jujur untuk melaksanakan kewajiban itu, yang terlimpah oleh sejarah.