April 5, 2009

Institusionalisasi dan Profesionalisasi Melalui Transpolitisasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:18 pm

Bagian pertama dari dua tulisan

Prakata Sehari setelah hari Jum’at, tanggal 15 Januari 1982, ketika saya (Prof.Dr. Nugroho Notosusanto-pen)  dilantik menjadi Rektor Universitas Indonesia (UI) saya memberikan expose kepada para (calon) Pembantu Rektor, beberapa ex-Pembantu Rektor serta anggota Staf Rektorat. Yang saya sampaikan adalah apa yang saya namakan “Persepsi Umum Mengenai Misi Saya Selaku Rektor 1982-1986”. Expose itu saya lanjutkan dalam rangkaian kunjungan ke fakultas-fakultas selama kurang lebih dua minggu, mulai tanggal 26 Januari sampai dengan tanggal 8 Februari.

Di hadapan forum karyawan, dosen dan mahasiswa pada 10 fakultas Universitas Indonesia itu saya menjelaskan apa yang pada hemat saya harus saya lakukan sebagai Rektor Universitas Indonesia. Saya sampaikan pula, setelah menerima tanggapan dan masukan dari para pendengar, saya akan memantapkan “persepsi” itu menjadi suatu konsepsi.

Dalam makalah ini saya berusaha mengetengahkan konsepsi yang saya janjikan itu, yang singkatannya sudah saya presentasikan di dalam Pidato Dies Natalis Universitas Indonesia pada tanggal 12 Februari yang lalu. Melalui sekian banyaknya wawancara oleh rekan-rekan wartawan, konsepsi itu telah pula saya perkenalkan kepada masyarakat luas. Namun masih terasa perlunya gagasan itu mengenai misi saya di Universitas Indonesia, saya kemukakan secara konsepsional dan integral. Mudah-mudahan makalah ini dapat memenuhi keperluan itu.

Pendahuluan Pada awal pelaksanaan tugas selaku Rektor Universitas Indonesia (UI), sudah selayaknya jika saya menyampaikan suatu persepsi mengenai pelaksanaan tugas itu. Dengan demikian pelbagai pihak yang bersangkutan dengan pelaksanaan tugas itu, tahu persis apa yang ingin saya capai sekalian dengan rencananya, di bagian-bagian mana saja dalam lingkungan Universitas Indonesia rencana itu akan dilaksanakan, bila tahapan-tahapan rencana itu harus terwujud, siapa-siapa saja yang perlu ikut serta dalam usaha itu, mengapa (dengan latar belakang dan landasan apa) hal-hal itu saya rancang, serta juga bagaimana segalanya itu ingin saya selenggarakan.

Saya harapkan dengan penjelasan ini segenap Sivitas Akademika Universitas Indonesia yang cinta alma mater, akan sepenuhnya membantu saya dalam melaksanakan tugas. Karena jelas, saya tidak mungkin akan dapat melaksanakannya seorang diri.

Pembangunan Nasional dan Tridarma Perguruan Tinggi Seyogyanya saya mulai dengan menjelaskan latar belakang serta landasan daripada rencana saya yang akan saya laksanakan sebagai Rektor Universitas Indonesia. Pertama kali perlu saya tegaskan, Universitas Indonesia tidak berdiri dalam suatu vacuum sosial, melainkan merupakan bagian integral daripada masyarakat Indonesia. Karena itu segala kegiatan yang kita lakukan di Universitas Indonesia harus ada relevansinya bagi kehidupan Rakyat, Bangsa dan Negara kita.

Sehubungan dengan itu perlulah kita sadari kondisi masyarakat kita. Dan kondisi masyarakat Indonesia seperti yang telah sama-sama kita ketahui, adalah kondisi sedang berkembang. Dan untuk mengembangkan masyarakat dan negara, kita sedang melaksanakan Pembangunan Nasional atau national development yang tersusun dalam rencana-rencana lima tahun ( Repelita). Proses itu sering pula disebut proses modernisasi. Adapun salah satu ciri yang menonjol daripada sesuatu masyarakat yang sedang berkembang atau sedang menjalani proses modernisasi, adalah belum tegaknya,, atau belum mantapnya institusi-institusi modern. Sehingga dalam rangka pembangunan, pengembangan atau modernisasi itu perlu dilakukan institusionalisasi. Itulah latar belakang daripada rencana yang akan saya laksanakan sesuai dengan persepsi saya.

Adapun landasan daripada rencana saya tak lain tak bukan adalah Tridarma Perguruan Tinggi, yakni: 1.Pendidikan 2.Penelitian 3.Pengabdian Kepada masyarakat. Tridarma Perguruan Tinggi itulah misi Universitas Indonesia bersama dengan segenap universitas lain di Indonesia. Karena perguruan tinggi atau universitas itu adalah lembaga ilmiah, maka dengan sendirinya Tridarma Perguruan Tinggi itu kesemuanya bersifat ilmiah pula, atau dilakukan pada bidang ilmiah. Sehingga dapat kita katakana, bahwa Tridarma Perguruan Tinggi adalah: 1. Pendidikan ilmiah 2. Penelitian ilmiah 3. Pengabdian ilmiah kepada masyarakat. Khususnya mengenai aspek pendidikan, kita mempunyai pegangnan di dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) yang antara lain berbunyi: “Pendidikan Nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan……..”

Institusionalisasi dan Profesionalisasi Apakah fungsi Universitas Indonesia dalam rangka penyelenggaraan Tri Darma Perguruan Tinggi itu? Pertanyaan itu harus dikualifikasi sebagai berikut:” sesuai dengan kondisi nyata masyarakat dan Negara pada kurun waktu sekarang”. Hal itu sesuai dengan prinsip Situationsgebundenkeit yang melihat segala gejala sosial sebagai sesuatu yang dinamis, selalu bergerak dan selalu berubah.

Tadi sudah saya jelaskan, bahwa masyarakat kita sedang ada dalam keadaan berkembang atau dalam proses modernisasi. Sudah pula saya ketengahkan, bahwa salah satu ciri menonjol masyarakat yang sedang berkembang atau masyarakat yang sedang bergerak dari kondisi tradisional ke keadaan modern adalah masih langkanya, atau jikapun ada masih belum mantapnya institusi-institusi modern. Hal itu memberikan kepada masyarakat sesuatu perasaan tidak menentu, perasaan resah, karena nilai-nilai, norma-norma dan ukuran-ukuran perilaku masih terasa belum pasti. Cermin yang sederhana daripada keadaan itu adalah perilaku kita dalam lalu lintas di jalan raya, terutama jika mengendarai kendaraan motor. Keadaan semrawut lalu lintas di jalan raya yang mengakibatkan banyaknya korban yang jatuh karena kecelakaan, merupakan gambaran yang nyata mengenai kondisi kita.

Gambaran yang lebih “tinggi” adalah gejala penyalahgunaan wewenang, sikap “semau gue”, main hakim sendiri, usaha memperkaya diri atas kerugian negara atau masyarakat umum, sikap tidak mentaati hukum atau aturan, dan masih banyak lagi. Memang instabilitas fisik sekarang ini sudah jauh berkurang dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1950-an dan 60-an. Namun instabilitas “mental” yang menyangkut tatanilai, norma dan ukuran perilaku, masih sangat terasa, dan kita semua mendambakan kepastian-kepastian tertentu tertentu seperti yang kita lihat dalam masyarakat-masyarakat yang sudah maju seperti di Dunia Barat dan Jepang.

Sesuai dengan kebutuhan nyata yang sudah mendesak itu, sudah selayaknya jika universitas pada umumnya dan Universitas Indonesia pada khususnya berfungsi sebagai suatu institutionalizing force, suatu kekuatan institusionalisasi. Dalam rangka penyelenggaraan Tridarma Perguruan Tinggi, Universitas harus berdaya upaya secara sadar dan berencana untuk melakukan institutionalization atau institution-building, institusionalisasi atau pembinaan institusi. Termasuk di dalam bidang-bidang yang harus diinstitusionalisasi adalah tatanilai. Karena jika tatanilai yang kita anggap negatif belum berubah, maka pergantian personalia dalam pelbagai jabatan tidak menjamin timbulnya perbaikan, karena pemangku baru daripada sesuatu jabatan atau fungsi akan akan melakukan hal yang sama (yang kita anggap negatif), karena tatanilai masih tetap yang dulu.

Meskipun demikian pada hemat saya tidak tepat anggapan bahwa universitas merupakan suatu moral force, suatu kekuatan moral. Yakni karena dalam masyarakat yang sedang berkembang, moralitas itu sendiri masih dalam keadaan berkembang pula, dalam keadaan berubah dengan cepat, sehingga terasa seolah-olah ada kegoyahan nilai. Universitas sebagai bagian integral daripada masyarakat, yang misinya tidak pada bidang moral, sudah barang tentu tidak dapat menghindarkan hal yang sama. Namun kita sebagai warga universitas dapat berdaya upaya agar supaya isntitusi-institusi yang positif, kita tegakkan dalam lingkungan kita sendiri dulu, dengan harapan bahwa institusi-institusi itu dapat dihayati oleh masyarakat luas melalui pendidikan.

Jika universitas sebagai keseluruhan saja tidak tepat dikatakan merupakan moral force, apalagi mahasiswa. Anggapan bahwa mahasiswa merupakan moral force mengandung dua ketidaktepatan. Pertama, karena sebab yang baru saja saya ketengahkan. Dan kedua, karena mahasiswa pada hakekatnya adalah warga masyarakat yang belum teruji keteguhan moralnya. Kalau dengan istilah populernya “mereka belum pernah digoda dengan uang dan perempuan”. Sebab kita menyaksikan dari pelbagai kasus pengadilan, bahwa ada juga alumni baru yang begitu terjun ke masyarakat, lalu melakukan tindakan yang tercela atau melanggar hukum. Padahal sewaktu masih menjadi mahasiswa gigih menyerang mereka yang melakukan perbuatan yang sama dengan menggurui pelbagai kalangan masyarakat. Kalau sudah menjadi begitu, tentu saja jauh daripada menjadi moral force, malahan menjadi immoral force. Akan tetapi, mahasiswa pun sama juga

dengan sivitas akademika yang lain, dapat menjadi institutionalizing force dengan jalan menegakkan dan menghayati pelbagai institusi modern yang positif.

Dalam pada itu di universitas, termasuk Universitas Indonesia, diperkembangkan pelbagai profesi ilmiah, seperti profesi kedokteran, teknologi, hokum, bahasa, sejarah, ekonomi, psikologi, pelbagai ilmu-ilmu social lainnya, dst. Juga profesi-profesi ilmiah itu termasuk bidang-bidang yang institusionalisasinya masih perlu dimantapkan. Sebabnya ialah karena profesi-profesi ilmiah itu merupakan profesi-profesi modern yang masuk ke Indonesia melalui proses modernisasi yang dimulai pada jaman kolonial.

Profesi bukan sekedar pekerjaan atau vocation, melainkan suatu vokasi khusus, yang mempunyai cirri-ciri: Expertise (keahlian) Responsibility (tanggung jawab) Corporateness ( kesejawatan)

Dari pengalaman kita sendiri sebagai orang profesional di bidang kita masing-masing, jelas bahwa keahlian, tanggung jawab serta rasa kesejawatan dalam rangka profesi-profesi ilmiah di Indonesia masih perlu dimantapkan dalam rangka proses institusionalisasi. Upaya itu disebut profesionalisasi. Dengan demikian, universitas di Indonesia, khususnya Universitas Indonesia harus pula merupakan suatu professionalizing force.

Berdasarkan itu semuanya dapatlah kita simpulkan, bahwa kita harus berusaha, agar supaya Universitas Indonesia dapat berfungsi sebagai institutionalizing and professionalizing force, yang bertugas melakukan institusionalisasi dan profesionalisasi baik ke dalam maupun ke luar. Ke dalam melalui darma pendidikan dan penelitian, ke luar melalui darma pengabdian kepada masyarakat. Meskipun secara tidak langsung dapat kita harapkan, bahwa melalui pendidikan dan penelitian pun gerak institusionalisasi dan profesionalisasi itu “menyebar” ke seluruh masyarakat. Dan dengan demikian Universitas Indonesia bersama kekuatan-kekuatan lain dapat ikut menjadi modernizing force.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment